Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 70



Crystal duduk dihadapan Karina setelah ia berhasil membuat Damian menjauh dari mereka, agar ia dan Karina dapat berbincang dengan leluasa. Mereka kini tengah berada di Café Perusahaan dengan beberapa minuman dan makanan ringan yang sudah tersaji di depan mereka.


"Jadi, benarkan kalau kau punya hubungan dengan Mr. Duanovic?" Tanya Karina setelah menyeruput kopi di tangannya.


"Aku juga tidak tau hubungan kami seperti apa." Ujar Crys bingung.


"Apa kalian sudah tidur bersama? Kau tau maksudku bukan tidur seperti biasanya bukan?" Tanya Karina memastikan agar Crystal benar-benar mengerti maksud pertanyaannya.


Seketika pipi Crys merona dengan warna merah muda. Jujur saja ia sedikit malu memberitahu Karina. Karina yang melihat reaksi malu-malu yang ditampilkan Crys membuat ia langsung tau jawabannya.


"Apa kau tidak pernah berpacaran sebelumnya?" Tanya Karina heran dengan reaksi polos yang selalu Crys tunjukkan.


Crystal menggeleng sambil menatap Karina lekat. Karina membuang nafas pasrah. "Santai saja, zaman sekarang siapa yang tidak pernah melakukan hal itu." Tambah Karina.


"Kira-kira sudah berapa lama kalian mulai dekat secara intens?" Tanya Karina lagi.


"Mungkin satu bulan." Jawab Crys ragu.


"Dan dia belum mengatakan apapun tentang kelanjutan hubungan kalian?" Tanya Karina sedikit meninggikan nada dengan mata membulat geram.


Crys mengangguk. Karina membuang nafas gusar sambil mengusap pelipisnya. "Mr. Duanovic mempunyai track record jelek dengan wanita. Dia sering bermain-main dengan wanita, kau tau bukan?" Crystal mengangguk lagi.


"Sebenarnya aku melihat banyak perbedaan antara wanita-wanitanya selama ini denganmu. Letta sangat polos, tidak seperti wanita murahan yang selalu berada disampingnya. Wanita-wanita itu juga hanya mengejar harta dan paras Mr. Duanovic yang luar biasa." Kata Karina panjang lebar.


"Benarkah?" Tanya Crys tak yakin.


Karina mengangguk. "Dan perbedaan yang paling besar adalah wanita-wanita itu hanya dekat dengannya tidak lebih dari satu hari. Setelah itu, mereka akan dicampakkan olehnya."


"Kau tau, bahkan anak Perdana Menteri saja ditolak olehnya." Kata Karina sedikit mengecilkan suaranya.


"Pokoknya, Letta benar-benar sangat berbeda dengan wanita Mr. Duanovic yang selama ini aku lihat. Apa kau menyukainya?" Tanya Karina lagi.


Crys terdiam sejenak. Selama ini ia selalu menyangkal perasaannya. Ia tidak ingin perasaannya menghambat tujuan utamanya sekarang. Namun lebih dari itu, ia tau bahwa Kenzo tidak mungkin menyukainya, karena pria itu sudah memiliki Nathalie.


"Hei, Kenapa diam?" Panggil Karina menyadarkan Crystal dari lamunannya.


Crys menggeleng dan menatap Karina dengan senyuman tipis. "Sebenarnya, ada banyak hal rumit yang sudah terjadi diantara kami, sampai aku bingung harus menjelaskannya dari mana. Sejak awal, hubungan diantara kami bahkan dimulai dengan tidak baik. Kalau Karina bertanya bagaimana perasaanku padanya, aku hanya bisa bilang kalau dia adalah sosok penting dalam hidupku." Crystal bercerita dengan senyuman lembut, namun sirat matanya terlihat sayu dan sendu.


"Aku mungkin akan berakhir seperti wanita-wanitanya selama ini." Kata Crys lagi.


"Apa kau tidak akan berjuang untuk perasaanmu sendiri?" Tanya Karina frontal, membuat Crys menatap Karina lekat.


"Aku memang tidak tau apa yang sudah kalian lalui. Kalau kalian memulainya dengan tidak benar, bukan artinya akan berakhir dengan buruk kan?"


"Letta, ingat perkataanku. Apapun yang terjadi nantinya, jangan sampai membuat pilihan yang akan kau sesali. Pikirkan saja kebahagiaanmu sendiri." Ujar Karina.


Crys tak membuka suara, lalu mengangguk pelan dengan raut wajah ragu. Karina meraih tangan Crys, menggenggamnya untuk memberikan wanita itu kekuatan. "Terimakasih Karina." Ujar Crys melempar senyum hangat pada Karina, lalu mereka kembali berbincang-bincang ringan, sebelum akhirnya Karina harus kembali bekerja.


***


Crystal turun dari mobil yang ia naiki dengan raut wajah mengerut bingung. Matanya menatap pada sebuah bangunan asing di depannya. Kenzo bilang mereka akan kembali ke Mansion, tapi mereka malah berakhir ditempat lain.


"Bukannya kita akan pulang ke Mansion?" Tanya Crys menatap Kenzo yang sudah berdiri di sampingnya.


"Iya." Jawab Kenzo singkat, lalu berjalan santai memasuki bangunan tersebut.


Crys mengejar langkah Kenzo dengan wajah bingung. "Ini bukan Mansionmu." Ujar Crys menyelaraskan langkahnya dengan langkah lebar Kenzo.


"Siapa yang bilang ini bukan milikku?" Tanya Kenzo masih terus berjalan.


Crys menarik lengan Kenzo agar pria itu berhenti melangkah, karena ia cukup kesulitan untuk menyeimbangi langkahnya. "Berhenti sebentar, jelaskan dulu apa maksudnya!" Ucap Crys kesal.


Kenzo menghentikan langkahnya dan menatap Crys yang berdiri dihadapannya. "Kita pindah." Jawab Kenzo sangat singkat. Crys sangat geram dengan sikap pria di depannya itu.


"Kau tidak akan menjelaskan lebih panjang dan lebih jelas lagi?" Tanya Crys menatap Kenzo geram.


"Tidak." Setelah mengatakan satu kata tersebut dengan wajah dingin, Kenzo menarik tangan Crys, menggenggamnya dan melangkah kembali. Crystal mendengus pasrah, membiarkan Kenzo membawanya entah kemana.


Mereka menaiki anak tangga, menyusuri koridor dan berhenti di sebuah pintu. Kenzo membuka kamar tersebut, lalu memasukinya.


"Kamarku, tapi kau bisa tidur disini kalau kau mau." Jawab Kenzo santai.


Crys langsung menoleh dengan mata memicing. "Mesum." Desis Crys kesal.


Kenzo sedikit tersenyum mendengar ucapan Crys, lalu kembali keluar dari kamarnya. Mereka kembali berjalan menuju kamar tepat disamping kamar Kenzo. "Ini kamarmu." Ujar Kenzo.


Crys masuk ke dalam, menatap penjuru kamarnya dan mendapati beberapa barang yang dulu ada di kamar lamanya, kini sudah berada di kamar ini. Seperti benda-benda yang berada di meja riasnya, baju-baju, sepatu, dan beberapa aksesoris lainnya.


"Kita benar-benar pindah ke sini?" Tanya Crys menatap Kenzo lekat. Kenzo yang sejak tadi bersandar di pintu kamar sambil menatap pergerakan Crys dengan lekat, kini mengangguk santai.


"Pasti ada alasannya bukan? Kau tidak akan memberitahuku?" Tanya Crys mendekati Kenzo.


Kenzo diam tak membuka suara. Mereka hanya saling menatap satu sama lain seakan sedang berbicara melalui tatapan mata mereka. Cryspun membuang nafas pasrah.


"Baiklah, tidak apa-apa kalau memang itu untuk kebaikan bersama." Ujar Crys mencoba mengerti keputusan Kenzo.


"Kalau begitu, aku akan bersiap untuk acara malam ini." Tambahnya lagi.


Kenzopun keluar dari sana masih dengan mulut tertutup, sedangkan Crys masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


***


Crystal menatap pantulan dirinya di depan cermin sambil beberapa kali bergerak ke kanan dan kiri untuk melihat seluruh penampilannya.



Crys merasa tidak percaya diri memakai gaun yang membentuk postur tubuhnya tersebut. Apalagi setiap kali ia melangkah, kaki jenjangnya terpampang begitu jelas dikarenakan belahan gaun tersebut terlalu panjang hingga ke pahanya.


"Anda terlihat sempurna Nona." ujar wanita yang Kenzo suruh datang untuk meriasnya dengan senyuman bangga.


"Terimakasih." ujar Crys sambil tersenyum kecil.


Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, menampilkan sosok Kenzo yang sudah rapi dengan setelan suitnya.



Crys menoleh menatap pintu kamarnya, dimana sosok Kenzo berdiri disana sambil menatapnya lekat.


Wanita perias tersebut segera keluar dari sana setelah Kenzo memasuki kamar. Kenzo mendekati Crys yang terlihat sangat cantik dan menawan dengan balutan dress yang membentuk tubuhnya.


Kenzo berhenti tepat di depan Crystal, menatap keindahan wanita itu dari jarak yang begitu dekat.


"Kenapa?" tanya Crys grogi melihat tatapan Kenzo yang begitu menusuknya. Pria itu terlihat akan segera memangsanya sekarang juga.


"Cantik."


Crystal merona. Ia menatap Kenzo yang juga terlihat sangat tampan. Ia menggeleng cepat agar tidak jatuh dalam rayuan pria itu.


"Ayo pergi." Crys meraih clutch bagnya, lalu berjalan beriringan dengan Kenzo sambil mengamit lengan pria itu.


Para pelayan menatap takjub pada Crys dan Kenzo yang terlihat menawan ketika mereka menuruni anak tangga. Para pelayan terlihat berbisik-bisik pelan melihat betapa serasi dan menawannya majikan mereka.


***


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sebuah hotel, dimana acara peresmian pembukaan cabang barunya diadakan.


Mereka memasuki hall hotel tempat acara berlangsung. Para tamu menatap ke arah sang pemilik acara yang baru saja datang dengan seorang perempuan yang ia gandeng mesra di sampingnya.


Beberapa tamu langsung menghampiri mereka, menyapa dan berbasa-basi dengan ucapan selamat dan lain sebagainya. Crys hanya tersenyum tipis ketika beberapa dari mereka menganggapnya ada dan tidak ada.


Hingga akhirnya, seorang pria datang mendekati mereka dengan sebuah gelas Champagne di tangannya.


"Selamat untuk cabang barumu Kenzo." Jantung Crys seketika berdetak kencang setelah melihat wajah pria yang mendatangi mereka dengan senyum bersahabat.


Desmond Archer Killian, kini berada di depan matanya dan hanya berjarak satu meter dari tempatnya berdiri.


Bersambung....