
Crys menatap sebuah foto dimana kakaknya sedang bekerja dan sesekali berkeliling di daerah kampus dan tempat ia bekerja dulu. Hari ini Ansell tidak datang mengirim foto kakaknya secara langsung kepadanya, namun menyuruh orang suruhannya untuk memberikan foto itu pada Rose dan Rose memberikannya pada Crys.
Pikiran Crys kalut. Tidak bisa, ia tidak bisa menahan diri lagi dan hanya berdiam diri melihat kakaknya seperti ini. Crys takut kan terjadi sesuatu pada kakaknya karena mencari dirinya dimanapun. Crys takut memikirkan hal-hal buruk yang selalu menghampiri kepalanya.
Tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah sosok Rose yang masuk sambil membawa makan siangnya. Hidupnya berjalan seperti ini setiap hari. Bangun, makan, tidur tanpa melakukan apapun.
Crys menatap pintu yang masih terbuka dengan lekat. Kesempatannya datang.ย Crys menatap gerak-gerik Rose yang tengah meletakkan nampan ke atas nakas. Ia menghitung waktu yang tepat, lalu langsung beranjak dengan cepat dan berlari keluar dari kamar tersebut.
"NONA." Rose terkejut sambil berteriak dan ikut menyusul Crys yang berlari dengan cepat keluar dari kamar.
Crys menghiraukan teriakan Rose yang menggema dan berlari menyusuri koridor rumah yang terlihat sepi. Crys sesekali melihat ke belakang, dimana Rose tengah mengejarnya. Crys berlari semakin cepat, hingga matanya tiba-tiba menangkap gerombolan penjaga dari arah depannya.
"Tangkap dia!" ujar penjaga tersebut.
Crys menoleh ke kanan dan kiri untuk mencari jalan, lalu berbelok menuruni anak tangga dengan cepat. Nafas Crys memburu dan jantungnya berdegup kencang. Setelah turun, ia langsung berbelok ke kiri dan mencari pintu keluar. Dari arah kiri, kanan serta belakangnya, tiba-tiba terdapat banyak penjaga dan beberapa pelayan yang ikut mengejarnya.
Crys berlari semakin kencang hingga matanya mulai berbinar ketika melihat sebuah pintu besar. "Akhirnya." batinnya girang. Crys berlari dengan tak sabar sambil tersenyum lebar, lalu mendorong pintu tersebut kencang. Ia berlari keluar, namun setelahnya ia menabrak tubuh seseorang yang berada di balik pintu tersebut.
Tubuh Crys terdorong dan langsung terjatuh di atas lantai. "Aws." ringis Crys.
Bunyi derapan kaki langsung memenuhi telinganya. Crys menoleh ke belakang saat para penjaga dan pelayan yang mengejarnya berdiri di belakangnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Maaf Tuan." Crys menatap mereka yang menunduk dengan wajah takut. Kening Crys mengerut, lalu ia berbalik menatap seseorang yang ia tabrak.
Kepalanya terangkat dan menatap sosok Kenzo yang berdiri menjulang dengan wajah dinginnya. Mata Kenzo menatap lekat mata Crys yang juga menatapnya. Crys meneguk ludah kasar saat melihat ekspresi dingin tak bersahabat itu.
"Menjaga satu gadis saja kalian tidak becus." ujar Kenzo dingin masih menatap Crys, lalu menatap para penjaga dibelakang Crystal dengan tajam.
"Siapa yang membiarkannya lolos?" tanya Kenzo.
Mereka terdiam. "Maaf Tuan, saya tidak menutup pintu dengan baik." ujar Rose angkat bicara sambil menundukkan kepalanya.
"Jadi, kau yang membiarkannya lolos."
"Hukum dia dengan seratus cambukan, kurungan satu malam dan jangan beri dia makan!" ujar Kenzo pada pengawalnya. Mulut Crys terbuka lebar mendengarnya.
Rose terkejut dan langsung berlutut di atas lantai. "Ampuni saya Tuan, saya melakukan kesalahan. Ampuni saya." ujar Rose memohon ampun dengan wajah takut.
Crys menggigit bibir dan menatap ke arah Rose dengan wajah khawatir. Ia menatap ke arah Kenzo yang tak tersentuh sama sekali.
"BAWA DIA!" Crys tersentak saat suara teriakan Kenzo yang terdengar mengerikan seperti petir.
"Baik Tuan." Para pengawal itu beranjak menghampiri Rose dan hendak menyeretnya, namun Crys langsung bergerak menutupi tubuh Rose dengan tubuhnya.
"Aku yang kabur dan melakukan kesalahan, bukankah seharusnya aku yang dihukum?" ujar Crys menatap Kenzo lekat. Kenzo balas menatap gadis yang kini sok menjadi pahlawan kesiangan itu dengan datar.
"Biar aku yang menggantikan hukumannya." tambah Crys lagi setelah memantapkan hatinya. Bagaimana bisa ia membiarkan mereka menyakiti Rose yang selalu menemaninya dan merawatnya di rumah ini.
"Apa dengan memberimu hukuman kau akan berhenti berulah? Ingat, setiap kali kau melarikan diri dan berbuat kesalahan, mereka yang lalai yang akan membayar perbuatanmu. Dengan kata lain, kaulah yang menyebabkan mereka menderita." kata Kenzo menatap Crys lekat dengan senyum miringnya. Crys menggeram sambil mengepalkan tangannya.
"Kau Iblis." teriak Crys marah. Kenzo tak tersentuh sama sekali dan melirik pengawalnya untuk menjalankan tugas mereka lagi.
Rose menangis kencang. Crys berusaha mendorong para pengawal yang mencoba membawa Rose. "Menjauh kalian!" Crys memberontak marah, hingga menggigit tangan salah satu pengawal yang sempat memegang tangan Rose. Crys bertahan sekuat tenaga karena para pengawal itu juga tidak berani menyentuh Crys.
Tiba-tiba tangan Crys ditarik sangat kencang, memaksanya untuk bangkit berdiri. Ternyata itu adalah perbuatan Kenzo untuk menjauhkannya dari Rose.
"Hiks, tolong saya Nona." Isakan Rose dan teriakan Crys memenuhi rumah tersebut. Crys memberontak, namun tenaganya sama sekali tak berdaya oleh kekuatan Kenzo.
Mata Crys memanas saat menatap tubuh Rose yang dibawa semakin menjauh. "BERHENTI!" Crys berteriak kencang sambil mendorong tubuh Kenzo darinya.
Air matanya menetes saat teriakan dan tindakannya sama sekali tidak membuahkan hasil. Crys berbalik dan menatap Kenzo dengan mata tajam.
"Berhenti menyakiti orang yang tidak bersalah! Seharusnya kau menghukumku." ujarnya menatap Kenzo tajam. Kenzo sama sekali tidak berkutik dan Crys semakin hilang harapan.
Crys menunduk sambil menangis. "Tolong, lepaskan dia." ujarnya menunduk kalah.
"Aku akan melakukan apapun asal kau melepaskannya." tambahnya benar-benar putus asa. Tangan Crystal meremas kerah jas Kenzo sambil menangis dengan kepala menunduk.
"Aku mohon, hiks." ucapan terakhir yang lolos dari mulutnya dengan nada tak berdaya.
Kenzo masih diam, lalu beberapa menit kemudian ia mulai angkat bicara. "Beritahu mereka hukuman dibatalkan!" ujar Kenzo pada pengawal lainnya. Crys tersentak mendengarnya, lalu hatinya mulai lega dan tenang.
"Baik Tuan." ujar pengawal itu, lalu pergi dari sana.
Crys menyeka pipinya dan matanya yang penuh air mata, lalu menatap ke arah Kenzo yang masih memasang wajah dingin. Crys tak memberontak saat tangannya ditarik kencang dan ia melangkah dengan begitu cepat. Crys berusaha berjalan mengimbangi dan akhirnya mereka masuk ke dalam sebuah kamar yang tak asing.
Mata Crys membulat saat menyadari mereka ada dimana. Ini adalah kamar dimana Kenzo membunuh seorang wanita di depan matanya. Tubuh Crys bergidik dan keringat dingin langsung melingkupi tubuhnya.
Apa ia akan dibunuh sama seperti wanita itu?
Crys menatap ke seluruh penjuru kamar dimana terdapat sebuah lemari yang penuh dengan pajangan pisau. Terdapat juga pajangan borgol dan alat-alat yang tidak Crys ketahui kegunaannya.
Crys meneguk ludah saat Kenzo mengambil borgol dan mendorong tubuhnya ke atas ranjang.
Kenzo memborgol tangan dan kaki Crys dengan tiang ranjang dengan bentuk X. Bentuk yang sama saat wanita itu akan dibunuh. Apa akhirnya ia akan mati?
"Kau dikurung disini selama beberapa hari hingga kau bisa kembali ke kamarmu." ujar Kenzo. Crys bernafas lega karena setidaknya ia tidak dibunuh.
Crys tak mengatakan apapun dan hanya diam mendengar ucapan Kenzo. Kenzo berdiri diam beberapa saat sambil menatap Crys lekat, hingga akhirnya kakinya mulai melangkah keluar dari kamar tersebut.
Belum sampai disana, Kenzo tiba-tiba mematikan lampu kamar tersebut. Tidak ada pencahayaan dari manapun, bahkan jendela kamar. Crys tersentak saat matanya tidak mendapat cahaya. Crys melihat ke satu-satunya sumber cahaya dimana pintu yang masih terbuka dan sosok Kenzo yang berdiri di sana.
"Hhh, jangan mematikan lampunya!" ujar Crys panik sambil menatap Kenzo dengan pandangan memohon. Kenzo terdiam di depan pintu, lalu Perlahan-lahan menutup pintu yang menjadi sumber cahaya terakhir kamar tersebut.
"Aku mohon."
"JANGAN!" Crys berteriak saat pintu tersebut sepenuhnya tertutup dan ruangan tersebut gelap gulita. Matanya tidak bisa menangkap apapun.
Crys memberontak dan perlahan nafasnya mulai tidak teratur. Crys tidak bisa melihat apapun. Tubuhnya mulai gemetar ketakutan. Sesak. Rasanya Crys tidak bisa bernafas dengan baik.
Tidak ada yang bisa dia perbuat. Tidak ada yang akan menolongnya. Tangan dan bibirnya bergetar hebat. Ia menutup matanya erat saat isakan mulai keluar dari mulutnya
Dengan menutup mata, Crys dapat menenangkan dirinya dari situasi gelap ini. Crys menangis berusaha menahan dirinya dan mengatasi rasa takutnya.
"Hiks, aku takut."
Bersambung....
Ngomong-ngomong aku lupa ucapin Happy Valentine day semuanya๐๐๐. Ini cokelatnya ya, hehehe ๐ซ๐ซ๐ซ๐ซ๐ซ