Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 59



Kenzo perlahan membuka matanya yang terasa begitu berat. Ia merasa seperti bangun dari tidur yang begitu panjang. Matanya mengerjab menatap ke sekeliling ruangan dimana ia berada. Otaknya mulai mencerna bahwa ini bukanlah kamarnya.


Kenzo mengernyit merasakan tangan kirinya yang terasa kebas dan berat. Perlahan ia melirik ke samping dan terkejut mendapati Crystal yang tertidur di atas lengannya dengan mata tertutup rapat dan damai.


Mata Kenzo menatap tubuhnya dan tubuh Crys yang berbalut selimut yang sama. "Sial." Kenzo mulai menyerapah ketika merasakan bahwa tubuhnya tidak berbusana sama sekali di balik selimut tebal tersebut.


Dengan gerakan pelan, Kenzo menarik tangannya yang menjadi bantal kepala Crys agar gadis itu tidak terbangun. Setelah itu, ia menyibak selimut dan turun dari atas ranjang dengan gerakan pelan.


Tubuh polos Kenzo terlihat dengan begitu jelas ketika ia mulai bangkit berdiri dari atas ranjang. Kenzo meraih pakaiannya yg berserakan di atas lantai, mengenakannya dengan cepat, lalu keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Crys yang masih tidur dengan lelap.


...****************...


Kenzo masuk ke dalam kamarnya dengan wajah gusar. "Sialan kau Levin, kenapa kau memperkosanya?" teriak Kenzo di depan cermin, tempat ia sering berkomunikasi dengan alter egonya.


"Kau yang sialan, bangun disaat yang tidak tepat." ujar Levin yang terpantul di cermin.


"Ini tubuhku." Kata Kenzo marah.


"Kami melakukannya tanpa paksaan." ujar Levin tersenyum miring.


"Aku adalah pria pertamanya." Tambah Levin lagi dengan sangat bangga.


PRANG


Tiba-tiba cermin dengan pantulan sosok Levin pecah dan hancur dengan mengerikan. Sebuah kepalan tangan masih tertempel di titik tengah retakan kaca tersebut. Wajah Kenzo memerah padam dengan urat-urat yang mencuat dari kepalan tangannya. Entah sudah berapa kali cermin tersebut menjadi sasaran kemarahannya pada Levin.


Darah perlahan mulai mengalir dari kepalan tangan tersebut yang sudah meninju cermin di depannya dengan sekuat tenaga. Kenzo tidak meringis, namun nafas pria itu menderu dengan cepat dan tatapan matanya sangat tajam dan dingin.


Levin terlihat tertawa di cermin yang sudah tak berbentuk tersebut. "Kenapa? Kau marah karna kau bukan yang pertama?" tanya Levin sambil tertawa sumbang mengejek Kenzo dengan puas.


"Kau bisa melakukannya dengan kekasih lamamu yang kau bawa ke rumah ini. Kau sangat mencintainya bukan?"


Kenzo diam dengan pandangan tajam penuh kemarahan dan kebencian. "Tenang saja, aku tidak mengganggu wanita itu selama kau tidur. Ya, walaupun beberapa kali aku ingin melenyapkannya." Tambah Levin lagi.


"Kau tertidur cukup lama, banyak hal yang sudah terjadi dan kau lewatkan. Kalau kau tidak ingin melakukan kesalahan, dengarkan semua rencanaku." ujar Levin yang kini berubah menjadi serius.


...****************...


Crys mengernyit merasakan tubuhnya yang terasa sangat sakit dan pegal. Matanya mulai mengerjab pelan dan mulai memproses apa yang sudah terjadi. Tangannya menggenggam erat selimut yang membalut tubuhnya ketika ia mulai mengingat segalanya.


Ia bisa merasakan bahwa tubuhnya tidak menggunakan sehelai benangpun di balik selimut tersebut. Kilatan panas semalam muncul lagi di otaknya membuat wajahnya merah padam seketika. Sesungguhnya ia tidak ingin ini terjadi, namun semua akal sehatnya semalam seakan mati untuk berfungsi.


Ia tidak bisa menyalahkan Levin karena ia juga menerima pria itu untuk menyentuhnya, walaupun dengan pikiran yang tidak jernih. Yang jelas, kesalahan juga ada padanya.


Crys mencoba untuk duduk, namun meringis seketika merasakan rasa nyeri dan ngilu di antara pahanya. "Shhh."


Crys juga baru menyadari tidak ada wujud Levin di dalam kamarnya. Pria itu benar-benar langsung meninggalkannya sendirian di dalam kamar setelah kejadian semalam.


Crys menyibak selimutnya dan terkejut dengan mulut menganga mendapati banyaknya bercak merah disekujur tubuhnya. Bahkan terdapat juga di paha dan betisnya.


"Levin berengsek." geram Crys kesal dan marah. Ia tau betul betapa liarnya Levin semalam sampai tubuhnya benar-benar lelah dan kaku ketika bangun. Namun, pria itu malah meninggalkannya sendirian setelah apa yang terjadi membuat Crys semakin bertambah kesal.


Crys mencoba bangkit berdiri dan berjalan dengan sedikit tertatih menuju kamar mandi. Crys memutuskan untuk mandi, membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.


...****************...


Crys berjalan keluar dari kamarnya dengan balutan dress simple berwarna peach. Crys mencoba berjalan dengan santai walaupun masih terasa sedikit nyeri di bagian bawahnya. Ketika Crys berjalan melewati kamar Levin, Crys menatap pintu kamar pria itu yang setengah terbuka.


Telinga Crys juga mendengar suara perbincangan dari dalam sana. Crys berhenti berjalan dan melirik ke dalam kamar Levin yang terbuka. Matanya menatap Levin yang duduk di atas ranjang dengan Nath yang berjongkok di lantai, tepat di depan pria itu sambil membalut tangan Levin dengan perban.


"Aku tidak suka melihatmu terluka." Ujar Nath sambil membalut tangan Levin dengan telaten.


Setelah selesai membalut luka di tangan Kenzo, Nath membereskan peralatan P3K tersebut dengan rapi, lalu berdiri tegak di hadapan Kenzo yang masih duduk di ujung ranjang.


Tangan Nath terulur ke pipi Kenzo dan mengelus pipi pria itu lembut. Kenzo tidak bergeming, ia juga tidak menolak perlakuan Nathalie padanya.


"Apa kau akan terus mendiamiku seperti ini?" tanya Nath lirih dengan nada sedih.


Kenzo terlihat membuang nafasnya yang terasa berat. "Kau tau, kau bisa menceritakan semuanya padaku." Ujar Nath lirih seakan mengerti Kenzo sedang mengalami kesulitan.


Kenzo meraih tangan Nath di pipinya dan menggenggam tangan wanita itu erat. Mata Crys menatap setiap adegan di dalam sana dengan begitu lekat. Sampai akhirnya, Kenzo menarik Nath ke dalam dekapan pria itu dan memeluk wanita itu dengan sangat erat.


Crys dengan cepat memutar tubuhnya, tidak ingin melihat lebih jauh apa yang akan terjadi di antara dua anak manusia tersebut. Raut wajah Crys seketika berubah menjadi sendu, rasanya seperti sesak dan tertusuk di daerah dadanya.


Pria di dalam sana baru saja melewati malam dengannya. Crys ingat betul bagaimana hangatnya Levin ketika menggoda dirinya dan memujinya. Crys bahkan masih bisa merasakan sentuhan pria itu, namun ia harus menghadapi dinginnya Kenzo yang tak pernah bisa ia lelehkan.


Karena hati pria itu hanya untuk Nath, cinta pertamanya. Crys menggeleng kencang. Tidak, dia tidak boleh jatuh cinta pada pria itu, baik Levin maupun Kenzo. Entah apa yang ia rasakan saat ini adalah cinta atau bukan, Crys tidak ingin perasaan apapun itu menghalangi tujuannya untuk mengetahui semua hal tentang kematian orang tuanya.


Crys melangkah menjauh dari pintu tersebut menuju ruang makan untuk sarapan dan mengisi kembali tenaga serta mengalihkan pikirannya.


...****************...


Crys memakan sarapannya dalam diam. Pikirannya berkecamuk. Nyatanya ia tidak bisa fokus dan kehilangan moodnya. Suara langkah kaki terdengar mendekati meja makan.


"Crys, kau sarapan duluan?" Crys menoleh ke sumber suara, mendapati sosok Nath dan Kenzo yang berjalan beriringan menuju meja makan.


"Iya." jawab Crys singkat.


Crys dengan sengaja tidak menatap ke arah Kenzo dan melanjutkan sarapannya. Kenzo menyadari hal itu, namun tidak bergeming dan hanya mengambil tempat duduk di depan Crystal dan Nath duduk di sebelah Kenzo.


Crys memakan sarapannya dalam diam dan sebisa mungkin tidak menatap kedua insan di depannya, terutama Kenzo.


Crystal yakin, Kenzo bangun di pagi hari dan menyadari bahwa Levin dan dirinya sudah melakukan hubungan 'itu', lalu pergi meninggalkannya sendirian di dalam kamar.


"Aku akan menyuapimu karna tanganmu terluka." ujar Nath setelah para pelayan mengantar sarapan mereka berdua.


"Aku masih bisa." ujar Kenzo lembut, tidak seperti Levin yang selalu ketus terhadap Nathalie.


"Baiklah." ujar Nath.


Crys dengan cepat meminum air di gelasnya, lalu beranjak dari tempat duduknya.


"Aku sudah selesai sarapan, aku pergi duluan." ujar Crys cepat sambil menjauh dari sana.


Kenzo menatap punggung Crystal yang perlahan mulai menjauh dari pandangannya, namun ia bisa melihat bagaimana gadis itu berjalan. Terlihat sedikit aneh karena ia yakin Crystal mencoba menahan rasa sakitnya.


"Kau tidak berkerja hari ini?" tanya Nath tiba-tiba mengalihkan perhatiannya dari Crystal.


"Tidak." jawab Kenzo sambil menggeleng singkat.


"Baguslah, aku tidak pernah keluar dari mansion ini semenjak aku datang. Bagaimana kalau hari ini kita pergi keluar bersama?" Tanya Nath excited.


Kenzo tampak diam mencoba berpikir apa ia terima atau tidak ajakan dari Nath.


"Tidak bisa, ada tamu yang harus kusambut hari ini." jawab Kenzo yang berhasil membuat bahu Nath lemas tak kecewa.


"Kita bisa pergi kapan-kapan." ujar Kenzo sambil mengelus kepala Nath dengan senyum lembutnya. Nath akhirnya terlihat memasang senyumnya dengan ceria.


"Janji ya?" Kenzo hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Nathalie.


Bersambung...