
"Tuan Ansell." sapa Rose sambil menunduk hormat.
Crys mengernyit mendengar ucapan Rose dan akhirnya ia tersadar bahwa pria ini yang sudah menolongnya saat ia sakit.
"Aku Ansell, teman Kenzo." ujar pria itu memperkenalkan diri.
Crys terdiam sejenak, lalu memutuskan untuk menjawab. "Aku Crystal." ucap Crys.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" kata Ansell pada Rose. Rose menunduk mengerti, lalu keluar dari kamar tersebut.
Crys menyiapkan diri untuk berjaga-jaga jika pria itu ada niatan buruk padanya. Jika bukan karena sikap baik pria itu padanya ketika ia sakit, Crys tidak akan membiarkan pria yang baru ia kenal berada di kamarnya seorang diri.
"Ada apa?" tanya Crystal to the point.
"Kau tidak suka berbasa-basi ternyata." kata Ansell memasang wajah takjub.
Crystal tidak menjawab, namun ia membenarkan ucapan Ansell. "Aku hanya datang untuk mengingatkanmu." Crys terdiam menatap Ansell lekat, begitupun pria itu.
"Kau ingin membunuh Kenzo bukan?" tanya Ansell menantang. Crys masih terdiam tidak membantah, yang artinya ucapan Ansell memang benar.
"Kenzo memang kejam. Dia berdarah dingin. Dia membuang nyawa manusia dengan mudah, tetapi nyawanya tidak semudah itu untuk diambil. Jadi, hilangkan niatmu untuk membunuhnya, karena jika kau masih tidak berhenti, aku yang akan menggantikan dia untuk membunuhmu." ujar Ansell panjang lebar.
Crys meneguk ludah kasar. Seharusnya sejak awal dia tidak hidup dalam dendam ini. Namun rasa sakit itu terus muncul setiap kali ia melihat tato Kenzo.
"Ingat kecelakaan semalam? Aku datang ke lokasi kecelakaan secepat mungkin dan aku melihat hal yang aku pikir tidak akan pernah terjadi seumur hidupku selama aku mengenal Kenzo. Aku melihat Kenzo menyelamatkan nyawamu didalam mobil. Dia melindungimu." ujar Ansell. Crys terdiam karena ia juga menyadari hal itu.
"Aku tidak berniat membunuhnya lagi." ujar Crys lemah.
"Aku hanya ingin bebas dan bertemu dengan Kakakku." tambahnya lagi.
"Bebas? Kenzo tidak akan membiarkanmu bebas." ujar Ansell datar.
Crys meremas tangannya dengan perasaan sedih. "Aku merindukan Kakak." ujar Crys menahan tangis.
Ansell terdiam sejenak, menimbang sejak awal bahwa keputusan yang ia ambil selanjutnya adalah yang terbaik. Ia menyerahkan sebuah foto kepada gadis itu.
Crys terdiam bingung, lalu akhirnya menatap foto tersebut lekat. "Kakak."
Crys menatap foto Kakaknya yang tampak lelah dan lemah membagikan selebaran pada orang-orang. Bibir Crys bergetar, matanya memanas dan air telah berkumpul di pelupuk matanya, siap untuk meluncur.
Air bening itu meluncur di pipi mulusnya ketika ia mengedipkan matanya. Crys mengelus foto tersebut lembut. "Dia pasti tidak tidur dengan cukup, dia tidak makan dengan teratur. Kenapa Kakak terlihat kurus?" ucap Crys menangis pilu.
"Kakakmu mencarimu kemanapun. Dia tidak menyerah mencarimu. Aku akan memberitahumu bagaimana keadaan Kakakmu setiap harinya." ujar Ansell, lalu menoleh untuk pergi meninggalkan kamar gadis itu.
Crystal bingung. Kenapa Ansell berbuat baik padanya? Apa ada niat lain? Crys menggeleng pelan. Setidaknya ia bisa mengetahui keadaan Kakaknya, ia sudah puas.
"Ansell, Terimakasih." langkah Ansell sempat terhenti mendengarnya, namun akhirnya ia melanjutkan kembali langkahnya dan menghilang dibalik pintu.
Ansell menutup pintu kamar tersebut pelan, hingga sosok Kenzo yang sudah menunggu diluar kamar berhasil membuat Ansell terkejut. Ansell memegang jantungnya yang terasa ingin lompat dari tempatnya.
"Kau, kenapa berdiri di sini seperti patung?" tanya Ansell mengusap dadanya naik turun.
"Kenapa kau masuk ke dalam?" tanya Kenzo dingin.
"Tidak ada. Aku hanya mencari barangku yang ketinggalan di kamar mandi saat aku membantunya mandi air dingin ketika dia demam." ujar Ansell santai, namun terkandung nada memprovokasi didalamnya.
Kenzo menatap Ansell tajam, namun akhirnya pergi dari sana tanpa membuka mulut.
Ansell mengernyit. "Kenapa kau pergi? Bukannya kau ingin bertemu dengan gadis itu?" tanya Ansell sedikit berteriak sambil mengejar Kenzo yang mulai menjauh.
***
Pintu terbuka dan terlihat lah Rose yang membawa obat-obatan ke dalam kamarnya. "Nona, saya akan mengoleskan salep untuk luka anda." ujar Rose.
Crys mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya. Infus di tangannya sudah dilepas. Perban di kepalanya belum terlepas, luka di tubuh Crys juga masih belum kering.
Rose mengoleskan salep di luka Crys dengan lembut hingga selesai. Rose membereskan peralatannya kembali dan Crys hanya duduk diam di atas ranjang.
"Bagaimana dengan Kenzo?" tanya Crys pada Rose.
Rose tersentak saat mendengar Crys menyebut nama Tuannya untuk pertama kali. "Tuan berada di kamarnya Nona." jawab Rose.
Crys sadar Kenzo tidak pergi bekerja, karena tidak melihat mobil pria itu keluar dari pekarangan.
"Ehmmm... Apa aku bisa bertemu dengan Kenzo?" tanya Crys sambil menggigit bibir ragu.
"Akan saya tanyakan Nona." ucap Rose, lalu pergi dengan peralatannya itu.
"Tunggu!" Crys melangkah mendekati Rose yang hampir sampai di daun pintu.
Rose menoleh, Crys meraih salep lukanya dan menyimpannya. "Aku simpan ini." ujar Crys pada Rose.
Rose mengangguk mengerti, lalu melanjutkan langkahnya.
Rose melangkah ke kamar Tuannya. Mengetuk beberapa kali, hingga terdengar suara sautan dari dalam untuk menyuruhnya masuk. Rose masuk ke dalam dengan kepala menunduk.
"Tuan, Nona ingin bertemu dengan anda." ujar Rose.
Kenzo yang sedang mengurus berkas-berkas kantor di meja kerjanya, menoleh ke arah Rose dengan tatapan datar.
"Kenapa?" tanya Kenzo.
"Saya tidak tau Tuan, Nona hanya mengatakan ingin bertemu dengan anda." ujar Rose.
Kenzo terdiam dengan segala pikirannya. Rose dapat melihat Tuannya terdiam dengan wajah dingin, namun ia yakin Tuannya itu sedang berperang batin di dalam dirinya. Hanya Kenzo dan Tuhan yang tau apa yang dipikirkan oleh pria itu.
"Keluar!" ujar Kenzo dengan suara berat dan dinginnya yang terdengar menakutkan.
Rose menunduk sebentar, lalu pergi dari sana secepat mungkin. Rose kembali ke kamar Crys untuk memberitahu gadis itu.
"Nona, sepertinya kondisi hati Tuan saat ini sedang tidak baik, jadi tidak bisa menemui Nona." ujar Rose pada Crys yang terduduk di atas ranjang.
Crys menghela nafas kecewa, lalu mengangguk pelan. "Kalau begitu, Terimakasih sudah membantuku." ujar Crys tersenyum kecil.
"Sama-sama Nona." Setelah itu Rose memutuskan untuk meninggalkan kamar tersebut.
Crys menunggu. Ia masih berharap didalam kamarnya yang terasa sangat sepi tersebut. Terkurung seorang diri di sebuah kamar, sama seperti seorang putri dongeng yang dikurung di sebuah menara. Tinggal di tempat yang indah dan menawan, namun hidup tak bebas, kesepian dan sengsara.
Hingga langit berubah warna menjadi hitam. Angin malam yang terasa menusuk hingga ke tulangnya, bahkan tak berhasil membuat Crys segera masuk ke dalam kamar dan menghangatkan diri.
Suara pintu terdengar. Crys yang berdiri di balkon tidak menoleh ke arah pintu karena ia yakin bahwa itu adalah Rose.
Gaun tipisnya yang terbang diterpa angin dan surai rambutnya yang tampak menyapu kulit lembutnya yang diterpa cahaya bulan. Crys memeluk tubuhnya sendiri sambil menikmati pemandangan dari balkon kamarnya.
"Berdirilah disana sepanjang malam, lalu mati membeku seperti orang bodoh."
Crys menoleh cepat ke sumber suara saat mengenali suara berat tersebut. Masih dengan rambut dan gaun yang berterbangan, Crys menatap sosok Kenzo yang berdiri menjulang di tengah kamarnya.
Bersambung....