
Desmond kembali tertawa kencang. "Sekarang, apa kau sudah sadar telah berhadapan dengan siapa? Setelah aku membunuhnya, kau bisa membunuhku Levin." Ujar Desmond.
"Pergilah ke neraka!" bisik Desmond bersiap menarik pelatuk dengan jari telunjuknya.
DOR
Jantung Crystal berdetak begitu kencang dengan kelopak matanya yang tertutup begitu erat. Ketika suara tembakan tersebut dilepaskan, ia telah bersiap untuk menjemput ajalnya.
Apa kematian memang tidak sesakit itu?
Ia tidak merasakan apapun yang membuat tubuhnya kesakitan, bahkan ia tidak merasakan benda asing apapun yang menembus tubuhnya. Atau memang kematian datang terlalu cepat, sehingga ia tidak perlu merasakan sakitnya terlalu lama?
Beberapa detik setelah suara tembakan tersebut dilepaskan hingga memekakkan telinga, terdengar suara seperti benda jatuh ke atas lantai.
Crystal tersentak, ketika ia dapat merasakan benda tersebut menimpa tubuhnya.
Tembakan-tembakan lainnya mulai menyusul, beriringan dengan suara-suara benda yang juga jatuh ke lantai. Crystal dengan cepat membuka matanya, lalu melihat keadaan sekitarnya dengan raut panik dan kaget.
Crystal akhirnya menyadari, benda yang menimpa tubuhnya ternyata adalah tubuh berat dan kaku Desmond. Mata pria itu terlihat tertutup rapat dengan darah yang merembes dari kepalanya.
"Eghh." Crystal melenguh merasakan betapa beratnya tubuh Desmond diatas tubuhnya. Ia mencoba mendorong tubuh yang tak lagi bernyawa itu untuk menjauh darinya.
Crystal yang terlihat bersusah payah sekuat tenaga untuk mendorong tubuh Desmond, tiba-tiba terdiam ketika sebuah uluran tangan yang tak asing menjauhkan tubuh Desmond dari atas badannya.
Manik mata Crystal menatap pada sosok Levin yang kini berada di depannya, tengah melempar tubuh tak bernyawa Desmond dengan sembarang di atas lantai.
Bibir wanita itu seketika bergetar, masih tak bisa membuka mulut setelah apa yang sudah ia lalui.
Levin berjongkok di depan Crystal, lalu menopang tubuh wanita itu agar dapat duduk menghadapnya.
Netra Levin menelisik seluruh lekuk wajah Crys yang kini begitu dekat dengannya. Kedua tangan pria itu menangkup pipi Crystal dengan lembut.
Mata Crys memanas, hingga akhirnya tangisnya pecah ketika Levin menariknya ke dalam pelukan pria itu.
Crystal terisak kencang sambil menyenderkan kepalanya di bahu tegap Levin yang mendekapnya begitu erat, seakan pria itu tidak akan membiarkannya lagi pergi dari sisinya.
"Ah, apa aku menggangu waktu kalian?" Seorang pria tak diundang masuk ke dalam ruangan tersebut sambil menatap sepasang anak manusia yang sedang berpelukan tersebut.
Crystal mencoba menghentikan tangisannya sambil menatap ke arah pintu, dimana seorang pria paruh baya terlihat memasuki ruangan tersebut dengan para pengawalnya yang menggunakan penutup wajah layaknya seorang tentara.
Wajah Levin seketika berubah menjadi dingin ketika suara tak asing tersebut kembali terdengar di telinganya setelah sekian lama.
Crystal mengusap air matanya dan baru menyadari bahwa pengawal Levin maupun Desmond sudah tersungkur tak bernyawa di atas lantai.
Levin melepaskan pelukannya, lalu menatap Crys begitu dalam. Mata merah Crys yang sembab ikut menatap mata Levin begitu dalam.
"Kau bisa berjalan?" Tanya Levin.
Crystal terdiam beberapa saat, mencoba menelisik ekspresi Levin yang terlihat aneh.
Crystal menggeleng sambil meremas tangan Levin yang sejak tadi menggenggam tangannya yang berada di atas paha.
Hati Crys seketika tidak tenang. Ada apa sebenarnya? Siapa pria yang berada di depan pintu tersebut?
"Ada apa?" Tanya Crys pelan sambil menatap Levin dengan wajah khawatir.
Levin menggeleng kecil. "Bertahanlah sebentar lagi, setelah itu, kita akan pulang." Ujar Levin membuat hati Crys semakin cemas tanpa alasan, namun ia hanya bisa mengangguk mempercayakan semuanya kepada pria itu.
Levin menatap Crystal beberapa saat, lalu tangannya terulur untuk mengusap sisa-sisa air matanya.
Setelah itu, Levin bangkit dari posisi jongkoknya, lalu berbalik badan untuk menatap pria paruh baya tersebut.
"Lama tidak bertemu Levin."
Levin menatap tajam pria paruh baya gagah dan bertato tersebut. "Untuk apa kau menunjukkan dirimu Sergio?"
Pria paruh baya bernama Sergio tersebut mengembangkan senyumnya ketika melihat ekspresi dingin tak bersahabat yang dipancarkan oleh Levin.
Bukannya menjawab, Sergio malah menurunkan tatapannya ke arah Crystal yang terduduk di atas lantai sambil menatap ke arahnya.
Menyadari arah tatapan Sergio, Levinpun segera menggeser tubuhnya untuk menutupi Crystal dari pandangan Sergio.
Sergio kembali menaikkan tatapan matanya kepada Levin, setelah pria itu menutupi wanita yang berada di belakang tubuhnya. Sergio kembali tersenyum melihat sikap Levin yang begitu melindungi wanita tersebut.
"Katakan apa tujuanmu?" Tanya Levin tanpa berbasa-basi.
"Kau sudah tau apa tujuanku Levin." Ujar Sergio.
"Jawabanku masih sama, aku tidak akan melakukannya." Balas Levin tajam.
"Kau akan melakukannya." Sergio dan Levin saling berpandangan, menusuk manik mata satu sama lain yang memancarkan keteguhan diri mereka.
Sergio mengangkat tangan kanannya, memberikan kode kepada bawahannya yang berada di belakang badannya.
Bawahannya tersebut terlihat menundukkan kepala, seakan mengerti dengan maksud Sergio.
Sergio masih memasang senyumnya yang terlihat tidak hangat sama sekali, yang malah memberikan kesan mengerikan.
Beberapa saat kemudian, terdengar sahutan tembakan dari seluruh penjuru gedung hingga suara ledakan kencang yang memekakkan telinga.
"Kau tidak punya pilihan selain mengikutiku Levin, seluruh anak buahmu sudah tidak ada lagi yang tersisa." Ujar Sergio.
Crystal yang sejak tadi mencoba menelaah percakapan kedua pria tersebutpun terkejut mendengar ucapan Sergio.
Jadi suara ledakan dan tembakan itu ternyata ditujukan kepada seluruh pengawal Levin untuk menghilangkan nyawa mereka.
Matanya menoleh ke arah mayat Desmond. Jadi, ini ulah dari Sergio.
"Ikut aku Levin! Kau harus menjadi penerusku!"
Crystal kembali menatap Sergio dengan pandangan bertanya, sedangkan Levin masih terdiam dengan segala pikirannya.
Levin menatap Sergio yang sedang tersenyum kemenangan sambil menatapnya.
"Ah, jika kau mengkhawatirkan wanita yang berada di belakangmu itu, kau bisa membawanya juga." Tambah Sergio lagi.
Ia tidak punya pilihan lain. Keberadaan Crystal membuatnya tidak bisa melawan Sergio. Ia tidak bisa bertarung dengan anak buah Sergio yang sudah memenuhi seluruh sudut gedung sambil melindungi Crystal yang bahkan tidak bisa berjalan.
"Jadi, apa jawabanmu?" Tanya Sergio lagi.
Rahang Levin mengeras. "Kau tidak memberikan pilihan apapun Sergio, untuk apa kau bertanya jawabanku? Tunjukkan jalannya!" Senyum Sergio semakin mengembang sempurna.
"Siapkan mobilnya!" Titah Sergio yang langsung diangguki oleh para bawahannya.
Levin kembali menatap Crystal, lalu menggendong tubuh wanita itu ala bridal. Crystal segera melingkarkan tangannya di leher Levin.
Sergio melangkah keluar dari ruangan tersebut, diikuti Levin dan para pengawal Sergio yang berada di belakang mereka.
Crystal menatap lekuk wajah Levin yang terlihat begitu dingin. Tangan Levin terasa merengkuh pinggangnya dengan begitu erat. Ia tidak ingin bertanya apapun padanya, karena pundak Levin maupun Kenzo terlihat sudah memikul beban yang begitu berat selama ini. Ia hanya ingin merengkuh pria itu untuk bisa membagikan sedikit beban yang sudah ia pikul sendirian kepadanya.
Ditengah perjalanan keluar dari gedung tersebut, Crystal terhenyak ketika matanya melihat pemandangan yang begitu mengerikan. Ratusan mayat terlihat tergeletak bersimbah darah hingga saling menimpa. Sergio ternyata tidak bermain-main dengan ucapannya.
Crys bahkan tidak sanggup untuk melihatnya. Ia menenggelamkan wajahnya di pundak Levin sambil menutup matanya dengan perutnya yang mulai terasa mual. Tak terasa, mereka sampai di luar gedung dengan jejeran mobil yang sudah berbaris rapi.
Levin membawa Crystal masuk ke salah satu pintu mobil penumpang yang terbuka, lalu memasangkan seatbelt pada wanita itu masih dengan wajah dinginnya yang terlihat menahan emosi.
"Kau satu mobil denganku Levin!" Kata Sergio yang berada di mobil depan mereka.
Levin tak menjawab dan menyelesaikan kegiatannya untuk memasang seatbelt Crystal dengan teliti, mengecek semuanya tanpa terlewat dari pandangannya.
Crystal menatap lekat Levin yang begitu fokus dengan kegiatannya, hingga akhirnya mata Levin terangkat untuk bertemu dengan mata Crystal.
Sepasang anak manusia itu saling bertatapan begitu dalam. "Setelah ini kita akan ke rumah sakit." Ucap Levin.
Crystal mengangguk sambil menangkup pelan pipi Levin. "Terimakasih sudah menyelamatkanku." Ujarnya sambil tersenyum tipis.
Levin terdiam, lalu meraih tangan Crys yang berada di pipinya untuk ia bawa ke depan bibirnya.
Bibir lembut Levin mengecup telapak tangan Crystal sambil menggenggam erat tangannya. Crystal dapat melihat sorot mata Levin berubah menjadi sayu dan raut wajahnya dinginnya yang ikut luntur.
Dada Crystal seketika terasa nyeri dan sesak melihat raut wajah Levin, seakan hatinya ikut tau apa yang sedang Levin resahkan.
Crystal mengecup punggung tangan Levin yang masih menggenggam tangannya.
"Jangan khawatir, aku akan bertahan." Ujar Crystal mencoba tersenyum untuk menenangkan Levin.
Levin menatap Crystal, lalu mengangguk kecil dan mulai menjauhkan tubuhnya. Sepasang anak manusia itu, masih terus saling menatap, hingga akhirnya pintu mobil tersebut ditutup oleh sang supir.
Levin menoleh ke arah Sergio yang sudah berdiri di samping mobilnya. Levin pun melangkah ke arah mobil tersebut dan masuk melalui pintu sebelah kiri, sedangkan Sergio masuk dari pintu sebelah kanan.
Setelah semua pintu tertutup, puluhan mobil tersebut mulai melaju menyusuri jalanan menuju Mansion besar Sergio yang cukup jauh.
Tanpa sadar setelah berjam-jam perjalanan, mataharipun mulai menyapa. Sinarnya membias dihamparan air laut yang mereka lewati.
Puluhan mobil tersebut kini melewati area jalanan tebing dengan pemandangan laut di sebelah kiri mereka. Area ini tertanam dengan jelas di dalam ingatan Levin. Jalanan yang selalu ia lewati dulu ketika menuju Mansion besar Sergio.
Crystal berada di dalam mobil yang ia naiki dengan tiga orang lainnya. Satu supir dan dua pria pengawal lainnya yang duduk di samping dirinya dan di samping supir.
Pengawal-pengawal tersebut masih menggunakan penutup wajah mereka dengan senjata api yang berada di dalam dekapannya masing-masing.
Crystal menoleh ke arah hamparan laut dan langit yang mulai cerah berwarna kejinggaan. Ditengah keasikannya tersebut, raut wajah sang supir kini berubah menjadi panik ketika kakinya yang sedang menginjak rem tidak berfungsi.
Mengetahui kepanikan sang supir, dua pengawal lainnya menatap supir tersebut dengan tatapan bertanya.
"Ada apa?" Tanya pengawal di samping Crystal.
Crystal ikut menatap pada supir yang panik. "Rem tidak berfungsi, mobil bergerak tanpa kehendak saya." Jawab supir tersebut yang berhasil mengundang kepanikan dari seluruh penumpang mobil.
Ketika tangan sang supir memutar stir mobilpun, mobil tersebut tidak bergeming sesuai dengan pergerakan supir.
"Sialan, mereka mengendalikannya dari jarak jauh."
Pengawal di samping Crystal terlihat ingin membuka pintu di sampingnya, namun tidak bisa.
Dengan begitu cepat, tanpa aba-aba dan perhitungan apapun, mobil tersebut membanting stir dengan sendirinya ke arah kiri, menabrak pembatas jalan tebing, lalu terjun ke laut lepas yang berada di bawah tebing tersebut.
BRAK
Levin yang sejak tadi terdiam tak membuka suara di dalam mobil bersama dengan Sergio, tersentak ketika telinganya menangkap suara seperti tubrukan kencang yang berasal dari arah belakang mobilnya.
Levin segera menoleh dengan cepat ke arah belakang dan seketika matanya membulat ketika mobil yang Crystal naiki keluar dari pembatas jalan yang sudah hancur karena tertabrak dan mobil tersebut terjun bebas dari atas tebing.
Sergio yang berada disamping Levin seketika mengembangkan senyum miringnya yang terlihat begitu bahagia karena akhirnya, seluruh rencana pria itu telah berjalan dengan mulus.
Bersambung...
Karena agak lama muncul, upnya aku banyakin ya👀