
Duanovic' Mansion | 03.57 PM
Crys melempar sandal rumahnya ke arah taman luas yang berada di depan balkonnya dengan sekuat tenaga.
"Whoopsie." ujarnya dengan wajah pura-pura kaget sambil tersenyum kecil dan menutup mulutnya dengan sebelah telapak tangannya.
Ia segera berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya dengan wajah panik.
"Damian, sandalku jatuh ke taman." ujarnya panik layaknya aktris handal.
Damian menatap gadis itu dengan wajah curiga. "Aku tidak sengaja melemparnya ke sana karena seekor lebah gemuk memasuki kamarku." ujarnya lagi dengan wajah sedih.
"Bantu aku mencarinya di taman." ucapnya sambil menarik pria itu pergi dari sana dengan satu kakinya yang tak menggunakan alas apapun.
"Biar saya saja yang mengambilnya." ujar Damian yang berhasil membuat Crys terkejut tak setuju.
"Tidak, aku ikut. Yang tau tempat jatuhnya adalah aku." ujarnya sambil menggeleng cepat.
"Kalau begitu biarkan saja. Rose akan membelikan yang baru." kata Damian.
"Tetapi aku menyukai sandal itu." ujarnya tak habis akal.
Damian menatap kaki gadis itu yang setengah beralas, lalu kembali menatapnya.
"Sebaiknya anda menggunakan alas kaki yang lain terlebih dahulu sebelum pergi ke luar." ujar Damian.
Crys pun langsung berlari kembali menuju kamarnya dan meraih sandal rumah lainnya yang berada di kamarnya. Setelah itu, ia langsung berlari kembali ke arah Damian.
"Ayo."
***
Damian sibuk memencarkan matanya ke segala penjuru taman demi mencari sandal milik gadis tersebut, sedangkan gadis itu malah sibuk duduk di kursi taman sambil melihat ke sekelilingnya dengan senyuman lebar.
"Akhirnya, udara segar." batin Crys sambil menikmati semilir angin sejuk yang menerpa wajahnya dengan menutup matanya.
Damian menoleh ke arah gadis itu dan terdiam melihat tingkahnya. Saat itu juga Damian sadar bahwa gadis itu telah menipunya.
Sandal tersebut hanyalah sebuah alasan agar gadis itu bisa ke luar dari Mansion yang menyesakkan tersebut. Damian pun mengurungkan niatnya untuk mencarinya lagi dan berjalan mendekat pada gadis itu.
Ia melihat sebuah daun kering yang jatuh di rambut gadis itu dan meraihnya dengan gerakan pelan. Namun setelahnya, mata Crys malah terbuka lebar dan menatap Damian lekat.
"Tubuhmu menghalangi anginnya Damian." ujar Crys menatap pria di depannya itu dengan bibir cemberut.
"Duduk di sebelahku saja." tambahnya lagi, lalu menarik pria itu untuk duduk di sebelahnya.
Damian kali ini juga tidak menahan dirinya dan duduk di samping gadis itu dalam diam.
Crystal kembali tersenyum saat semilir angin tersebut kembali menerpa wajahnya dengan lembut hingga ia tidak bisa menahan diri untuk menutup matanya dengan tenang sambil menikmati hari yang cerah ini.
Beberapa saat terdiam, Damian menoleh ke arah samping dan menangkap lekuk wajah Crystal yang menawan. Pria itu tak membuka mulutnya dan hanya duduk sambil menatap gadis itu dalam.
"Apa anda masih ingin keluar dari tempat ini?" tanya Damian tiba-tiba membuai suaranya.
Crystal yang sedang menikmati sekitarnya seketika langsung membuka matanya lebar dan menatap Damian kaget.
"Apa katamu?" tanyanya memastikan dengan wajah tak yakin.
"Anda meminta bantuan saya untuk bisa keluar dari tempat ini, apa anda benar-benar ingin melakukannya?" tanya pria itu jelas.
Crystal menatap Damian dengan penuh harapan, lalu mengangguk cepat. "Iya, bantu aku pergi dari sini."
"Anda yakin? Di luar sana mungkin lebih berbahaya daripada tempat ini." ujar pria itu seakan memperingatinya.
"Selama ini aku tinggal di luar sana dan hidup dengan aman dan damai."
"Namun kedamaian itu tidak akan sama lagi setelah anda keluar dari tempat ini." kata Damian.
Damian pun hanya bisa terdiam setelah mendengarnya. Pria itu menatap dalam mata bercahaya Crystal yang memancar lembut padanya.
Sampai akhirnya terdengar suara letusan yang memekakan telinga. Crys tersentak sambil menoleh ke sumber suara dengan wajah panik.
"Itu suara apa?" tanya Crys khawatir sambil bangkit berdiri.
Damian tak menjawab bahkan tak memasang wajah panik sekalipun. Pria itu dengan santai bangkit berdiri, lalu berdiri dihadapan Crystal dengan badan menjulang.
Setelah suara ledakan tersebut terdengar, suara ledakan lainnya ikut bersautan dari arah sumber suara. Suara itu terdengar seperti suara tembakan senjata api.
"Apa musuh Kenzo?" tanya Crys curiga.
Damian pun menarik tangan gadis itu dengan langkah lebar untuk masuk ke dalam Mansion mewah dan besar tersebut. Crystal hanya bisa menurut sambil melihat ke sekitar mereka dengan raut penasaran.
Para pengawal yang tadinya menjaga seluruh kawasan Mansion kini terlihat sedang berlari menuju satu arah yang sama.
"Nona, anda baik-baik saja." ujar Rose yang tiba-tiba muncul sambil berlari dengan wajah panik.
"Ada apa? Apa yang terjadi di luar?" tanya Crys.
"Nona, sekelompok orang menerobos masuk kawasan Mansion, anda harus bersembunyi." ujar Rose sangat panik.
"Apa mereka mencari Kenzo? Pria itu sudah beberapa hari tidak kembali ke Mansion ini." kata Crys lagi.
"Nona, tidak ada waktu berdebat. Kita tidak tau siapa yang mereka incar. Lebih baik Nona bersembunyi sekarang."
"Bawa dia pergi bersembunyi!" kata Damian tegas pada Rose sambil menyerahkan gadis itu pada wanita paruh baya tersebut.
Crystal menatap Damian kaget. "Kau akan menghadapi mereka?" tanya Crys dengan raut khawatir.
"Saya akan bergabung dengan yang lainnya untuk menghentikan mereka." ujar Damian.
"Ayo Nona, tidak ada waktu lagi sebelum mereka berhasil masuk kemari." kata Rose menarik-narik gadis itu tak sabar.
Crystal terlihat tak ingin bergerak dari tempatnya sambil menatap Damian dengan wajah khawatir. "Kalau kau terluka, siapa yang akan menjagaku?" kata gadis itu menatap Damian lekat dengan wajah tak rela.
"Siapa yang akan menjadi teman bicaraku lagi di Mansion ini." tambahnya lagi dengan mata berkaca-kaca.
Rosepun menatap gadis itu dengan wajah terdiam dan akhirnya mengendurkan tarikannya yang terburu-buru. Sedangkan Damian hanya bisa menatap gadis yang kini menatapnya dengan wajah hangat dan akrab.
Damian bisa merasakan sesuatu di dadanya yang seperti tersetrum aliran listrik. Ia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Tidak pernah ada orang yang menatapnya seperti tatapan gadis itu padanya.
Suara sautan tembakan tersebut perlahan mulai terdengar sangat dekat. Mereka bertiga sadar bahwa tidak ada waktu lagi untuk terus berada di sana sampai sang musuh sampai.
Cryspun menatap pria itu dengan mata tajam dan penuh keyakinan. Raut wajah khawatirnya perlahan mulai berubah dan berganti dengan raut wajah percaya bahwa pria itu akan baik-baik saja.
"Jangan terluka!" kata Crys penuh penekanan seakan kata-katanya adalah perintah yang harus pria itu jalankan.
Setelah mengucapkan hal itu, Crystal menarik tangan Rose untuk pergi dari sana dan menjauh entah kemana. Sedangkan Damian masih berdiri diam di tempatnya, hingga sudut bibirnya perlahan mulai terangkat ke atas dengan lekukan tipis.
"Yo Damian, di mana gadis itu?"
Damian membalikkan tubuhnya ke arah sumber suara dan mendapati seorang pria tak asing yang menatapnya dengan senyum miring sedangkan Damian memasang wajah dingin tak tersentuh.
"Bukankah itu tugasmu untuk menangkap gadis itu?" kata Damian menatap pria itu dengan senyum miring yang juga terpasang di bibirnya.
"Lakukan tugasmu dengan baik. Jangan melibatkanku dan membuat orang-orang di tempat ini mencurigaiku." tambahnya lagi dengan nada dingin dan tajam, lalu pergi meninggalkan pria itu di sana.
Bersambung...
Next Up : mungkin besok atau lusa, antara itu ya.
Jangan lupa like, comment, vote dan share.
Bye😘