Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 33



Di sebuah ruangan kerja yang terlihat sedikit remang, terdapat seorang pria yang duduk di kursi kebesarannya sambil menyesap rokok di antara jari telunjuk dan tengahnya.


Pria itu menatap ke arah dua orang pria yang berdiri di hadapannya dengan wajah datar.


Dia mengangkat sebelah bibirnya ke atas setelah mendengar seluruh informasi yang ia dapat dari salah satu pria di depannya tersebut.


"Jadi dia putri dari keluarga itu." ujar pria tersebut dengan wajah tertarik. Ia tertawa kencang mengisi seluruh penjuru ruangan dengan suaranya.


"Apakah selama ini dia yang menyembunyikan keberadaan mereka sehingga kita tidak bisa menemukannya." lanjutnya lagi menatap kedua pria di depannya dengan wajah bertanya.


"Mungkin saja Tuan. Saya mencari tahu semua informasi mereka, namun seluruh data diri mereka tidak dapat diakses. Seluruh data masuk dalam daftar tersembunyi dan terlindungi oleh negara." ujar pria satu lagi yang sejak tadi menunduk takut.


Pria yang duduk di kursi tersebut tersenyum miring menatap pria yang baru saja berbicara.


"Apa kau berhak untuk angkat bicara saat ini? Kau tidak bisa menemukannya, lalu kenapa dia bisa?" tanya pria tersebut sambil menunjuk pria yang sejak tadi berdiri dengan wajah datar tak tersentuh.


Pria itu menunduk takut. "Itu karena kau tidak mampu. Aku tidak membutuhkan orang tidak berguna sepertimu, keluar!" lanjut pria itu lagi dengan nada dinginnya.


"Maaf Tuan." Pria tersebut menundukkan kepalanya takut, lalu pergi dari ruangan tersebut dengan terburu-buru.


"Seperti biasa, kau selalu berguna walau kau tidak banyak bicara." ujar pria yang duduk di kursi kebesarannya dengan senyum bangga.


"10 tahun yang lalu, aku tidak mempercayaimu untuk ikut ambil bagian karena kau masih sangat muda. Sekarang aku akan mempercayakan misi ini untukmu." ujarnya dengan senyum miring penuh misteri.


"Sebelum itu, aku harus merubah penampilanmu."


Pria urakan yang sejak tadi berdiri dengan wajah datar itu hanya menatap lekat dengan mata tajam yang tersembunyi di balik rambut yang menutupi sebagian matanya.


"Kuharap kau tidak mengecewakan kepercayaanku padamu, Damian."


***


Crys membuka matanya perlahan saat sebercak cahaya masuk melalui kaca balkonnya dan menyiram wajahnya. Kening Crys mengerut tak nyaman sambil menutup wajahnya dengan selimut tebalnya agar cahaya pagi itu tidak menggangu tidur nyenyaknya. Crys hanya ingin kembali menyatu dengan bunga tidurnya dan melekat di atas ranjangnya sepanjang hari. 


Sayup-sayup Crys dapat mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Dalam tidur setengah sadarnya, Crys mendesah kasar karena Rose selalu berhasil menggangu tidur nyenyaknya. Crys bergelung di dalam selimut sambil menutup matanya erat. 


Rose masuk ke dalam kamar dan menatap gundukan selimut di atas ranjang. Rose berjalan ke arah pintu balkon dan membuka tirai balkon tersebut sehingga seluruh cahaya pagi menerpanya. Tak sampai di sana, Rose menarik selimut yang membungkus seluruh tubuh Crys sehingga selimut tersebut jatuh ke lantai.


"Akhhh." gerutu Crys kesal saat cahaya matahari itu menusuk tubuhnya.


"Nona, Tuan Kenzo sudah menunggu anda untuk sarapan di bawah." ujar Rose.


Crystal membuka matanya dengan wajah bantalnya. Crystal menatap Rose dengan wajah malas. "Aku ingin sarapan di kamar." ujar Crys menatap Rose dengan wajah memelas. Crystal tidak ingin bertatapan dengan Kenzo dulu setelah kejadian semalam. 


Rose menghela nafasnya dengan wajah pasrah. Mengingat gadis itu juga baru saja melewati hari yang sulit semalam membuat Rose iba.


"Semoga saja Tuan mengijinkan." gumam Rose sambil meninggalkan kamar gadis itu.


Namun sebelum ia keluar dari sana dengan sempurna, Rose kembali membalikkan badannya pada Crys yang masih memasang mata tertutup sambil duduk dengan ekspresi mengantuk.


"Anda tidak boleh tidur lagi! Ketika saya kembali membawa sarapan, saya harap anda sudah berdiri dari tempat tidur." ujar Rose dengan nada layaknya seorang Ibu yang sedang memperingati anaknya.


Crystal membuka matanya dan menatap Rose dengan wajah berkerut. "Hmm." dehem Crys singkat dan terkesan ogah-ogahan.


Setelah itu Rose pergi dari kamar tersebut, lalu Crystal beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit, Crys keluar dari kamar mandi dengan bathrope dan rambut basahnya. 


Crystal menatap nampan yang sudah terletak di atas nakas samping ranjang. Crystal tersenyum kecil, lalu membawa nampan tersebut ke kursi dan meja di balkon. Crystal meletakkan sarapannya di atas meja, lalu duduk di sana sambil menatap pemandangan dari atas balkon.


Saat ia mengunyah sandwichnya, ia bisa merasakan rasa ngilu di rahangnya akibat tamparan James. Dengan susah payah Crystal mencoba mengunyah dan menghancurkan makanan tersebut di mulutnya.


"Apa dia masih hidup atau tidak?" tanya Crystal lagi sambil bergidik bahu ngeri.


"Berhenti Crystal! Jangan memikirkannya lagi! Lagipula dia pantas menerima itu semua." ujar Crystal menenangkan dirinya sendiri.


Pintu kamarnya lagi-lagi terbuka dan lagi-lagi menunjukkan sosok Rose yang masuk ke dalam.


Crystal menatap Rose dengan wajah heran. Pasalnya Rose masuk dengan terburu-buru dan wajah panik.


"Nona, anda harus turun dalam waktu 5 menit, kalau tidak Tuan Kenzo akan menghukum anda lagi." ujar Rose panik dengan nafas ngos-ngosan.


Crystal yang masih memakai bathrope dan belum memakai pakaian sama sekali langsung bangkit berdiri dan berlari ke dalam walk in closet. Ia membuka lemari dengan kasar dan mengambil acak terusan yang tergantung di dalamnya.


"Sial!." gerutunya kesal sambil memakai terusannya dengan asal-asalan.


"Dua menit lagi Nona." ujar Rose yang malah membuat Crys semakin panik.


Crystal keluar dari walk in closet dengan terusannya yang terpasang tidak rapi ditambah rambut basahnya yang masih berantakan.


"Rambut anda...."


"Tidak ada waktu lagi, ayo turun." ujar Crystal masa bodoh sambil menarik tangan Rose keluar dari kamarnya.


Crystal berlari di koridor, lalu menuruni anak tangga dengan tergesa-gesa. "Hati-hati langkah anda Nona." ujar Rose khawatir saat Crys menuruni anak tangga demi anak tangga dengan begitu cepat.


"Bukannya dia harusnya sudah pergi bekerja sekarang?" tanya Crystal pada Rose dengan langkah panik.


"Saya juga tidak mengerti kenapa Tuan Kenzo belum berangkat sejak tadi." ujar Rose ngos-ngosan.


"Di mana dia?" tanya Crys sambil menuruni anak tangga.


"Meja makan." jawab Rose dengan napas tersengal-sengal.


Crystal mempercepat langkahnya dan berlari ke arah ruang makan. Crystal berhenti tepat di samping meja makan dimana Kenzo sudah selesai memakan sarapannya dan pria itu sedang memainkan ponselnya.


Crystal menarik nafas ngos-ngosan sambil memegang dadanya yang naik turun. Kakinya lemas seketika setelah ia sampai disana.


Pria itu menatap ke arah Crystal dengan senyum miring yang terpatri di bibirnya. Crystal melirik ke arah Kenzo yang sedang tersenyum kemenangan.


Mata Crystal menangkap seorang pria berpakaian hitam-hitam yang berdiri di belakang Kenzo. Crystal mengerutkan keningnya saat matanya berjumpa dengan mata pria tersebut.


Dalam otaknya Crystal bertanya-tanya mengapa Kenzo harus dijaga oleh pengawal di dalam Mansionnya sendiri yang sudah dikelilingi oleh ratusan pengawal.


"Kau terlambat 2 detik." ujar Kenzo sambil melirik jam yang ia kenakan.


Crystal menatap Kenzo dengan wajah melongo. Hanya dua detik, kenapa pria ini terlalu mempermasalahkan dua detik itu. Crystal mencibir dalam hati sambil menatap Kenzo dengan tatapan tajam.


"Maaf. Ada apa?" tanya Crystal sambil berdiri dengan wajah berkeringat habis olahraga mendadak.


"Dia akan menjadi pengawal pribadimu." ujar Kenzo melirik ke arah pria di belakangnya.


Crystal menatap ke arah belakang Kenzo guna melihat pria yang akan menjadi pengawalnya. Mata Crys bertemu dengan mata dingin dan datar pria itu dan seakan terkunci di sana.


Crystal terlihat terdiam sejenak ketika menyadari ada sesuatu yang tak asing saat mata mereka beradu pandang. Mata dingin dan tajam itu seakan membongkar memorinya dan memaksanya untuk mengingat, namun tidak berhasil.


Entah kenapa pancaran mata itu terlihat tidak asing.


Bersambung...