
⚠️Warning : terdapat beberapa adegan kekerasan.
Dalam ruangan gelap dan sunyi tersebut hanya terdengar suara rantai yang bertubrukan, ditambah suara geraman tertahan dari seseorang yang terdengar menyakitkan. Ia seolah ingin berteriak namun tidak bisa.
Terlihat seorang pria yang tangan dan kakinya dirantai, lebih kejamnya lagi tangannya tergantung diatas hingga kakinya tidak menyentuh tanah. Mulutnya tertutup oleh kain yang terikat sangat kencang sampai rasanya mulutnya ingin robek.
Ia lagi-lagi menggeram saat merasakan sayatan demi sayatan di atas kulitnya. Matanya terpejam dengan keringat yang mengucur di seluruh tubuhnya.
Bau amis darah yang sangat pekat mengisi ruangan tersebut. Setiap kali mata pisau itu menyentuh tubuhnya, pria itu menggeram dengan nada menyakitkan.
Tubuhnya lemas, bahkan untuk menggerakkan jarinya saja ia tidak bisa. Tangannya rasanya ingin putus dari tempatnya karena digantung selama satu jam.
Sebercak cahaya masuk saat pintu ruangan tersebut terbuka. Masuklah sesosok pria dengan mata tajam dan dingin serta auranya yang sangat gelap.
Lampu ruangan tersebut dinyalakan dan tampaklah sosok Kenzo yang masuk ke dalamnya dengan tampang membunuh.
Pria yang tergantung itu menatap ke arah Kenzo dengan pandangan sayu dan lemah.
Mata Kenzo menatap ke arah bawahannya yang sedang menguliti pria tersebut. Darah mengucur dengan deras dan daging pria itu terlihat dengan jelas. Kenzo menatap datar, lalu melangkah mendekati pria tersebut.
Pria tersebut terlihat bergerak-gerak seakan ingin mengucapkan sesuatu pada Kenzo yang kini berada dihadapannya. Bunyi rantai yang mengikat tubuhnya terdengar berbenturan keras.
Kenzo menatap ke arah bawahannya seakan memberikan kode yang langsung dimengerti olehnya. Bawahannya yang tadi asik menguliti tubuh pria itu, kini membawa pisaunya ke arah wajah pria tersebut.
Pisau tersebut memotong kain yang menutup mulutnya dengan kasar, hingga mata pisaunya melukai kulit wajah pria tersebut dengan dalam.
Kain tersebut lepas bersamaan dengan kulit wajahnya yang juga terkelupas. "Arghh." jerit pria itu kesakitan.
Bagian tubuhnya yang dikuliti serasa sangat pedih. Matanya menatap ke arah Kenzo dengan ekspresi takut.
"Ampuni aku, aku tidak akan menyentuh gadis itu lagi. Aku akan melakukan apapun asal kau mengampuniku kali ini." ujar pria tersebut memohon ampun.
Pria itu adalah James yang kini terlihat sekarat dengan wajah layu dan tubuh lemahnya. Ia kini menyadari betapa berbahayanya mencari masalah dengan pria dihadapannya ini.
"Serahkan nyawamu, maka akan kuampuni." ujar Kenzo dingin dengan tatapan tajam menusuknya.
James terdiam sambil menelan ludahnya yang terasa sulit ditelan. Mana bisa ia melakukannya, ia disini ingin meminta ampun agar hidup bukan untuk menyerahkan nyawanya dan mati. Tubuhnya gemetar merasakan hawa membunuh tersebut yang terasa hingga ke tulangnya.
Kenzo menatap datar dengan pandangan tak tersentuh. Ia mengulurkan tangannya pada pengawal dibelakangnya. Pengawal tersebut dengan sigap langsung memberikan sebuah katana di atas tangan Kenzo yang terulur.
"Kau harusnya bersyukur karena kau sedang berhadapan denganku, bukan dengannya. Aku akan membuat kematianmu dengan sedikit lebih mudah. Jika kau berhadapan dengan dia, kau akan melewatkan kematian dengan cara yang menyakitkan hingga kau sendiri yang memohon untuk dibunuh." ujar Kenzo panjang lebih dengan senyum miringnya yang merekah.
Kenzo membuka sarung pelindung pedang tersebut dan mengeluarkannya dari sana. Ia menatap mata pedang tersebut yang terlihat berkilat dengan tajam.
"Tanganmu adalah dosa terbesar karena telah menyentuh tubuhnya." ujar Kenzo mengarahkan pedang ke arah tangan pria itu yang tergantung dengan rantai.
Kenzo tiba-tiba melayangkan pedangnya dengan sekali tebasan panjang, hingga tangan tersebut putus dan menggantung di rantai sedangkan tubuhnya jatuh ke tanah. Darah langsung muncrat ke penjuru ruangan hingga mengenai Kenzo.
"AAKHH..ARGHHH." James menjerit kesakitan dengan darah yang mengucur deras dari pergelangan tangannya yang sudah putus. Ia menatap ke arah tangannya yang sudah tidak ada dengan wajah gemetar.
Rasa sakit tersebut menyerang hingga ke seluruh tubuhnya. James menangis kencang menyadari bahwa bagian tubuhnya sudah hilang.
Badannya semakin bergetar hebat mengingat bahwa sebentar lagi ajalnya akan datang.
Kenzo menatap James yang tersungkur di tanah dengan darah yang memenuhi tubuhnya. Ia menatap datar dengan ekspresi tak tersentuh, lalu memberikan pedang tersebut pada bawahannya.
"Penggal kepalanya dan berikan tubuhnya menjadi santapan harimau!" ujar Kenzo dingin.
"Argh...akkhhhh..aaaaa..." James berteriak kencang sambil menangis menyesali perbuatannya. Jika ia tidak melakukan ini, ia masih bisa hidup dengan tenang. Meminta ampun pun sudah tidak berguna, yang bisa ia lakukan hanya berteriak kencang mengeluarkan emosinya.
Kenzo membalikkan badannya dan pergi dari sana dengan suara teriakan James yang menggema di seluruh penjuru ruangan.
***
Duanovic's Mansion | 11.32 PM
Crystal membuka matanya perlahan saat ia merasakan tidurnya terusik. Ia merasa kesulitan bernafas dan ada sesuatu yang bergerak di atasnya.
Matanya terbuka dengan wajah mengantuk dan tersentak saat mendapati Kenzo berada di atas tubuhnya sambil mel*mat bibirnya dengan penuh nafsu.
Crystal dengan panik mendorong tubuh tersebut sambil meringis merasakan bibirnya yang terluka kembali terasa pedih.
Pangutan mereka terlepas. Crystal menarik nafas dalam-dalam sambil menatap Kenzo yang berada diatasnya dengan pandangan berkabut.
Pria itu menatap lekat wajah Crys dengan mata tajamnya. Crystal ingin beranjak dari sana dan menjauh, namun pria itu dengan tenaganya yang besar menarik tangan Crystal ke atas kepalanya dan menahan kedua tangan gadis itu di atas ranjang.
Crystal mencoba memberontak dengan sisa-sisa tenaganya yang tentu saja tidak berguna. Pria itu menatap Crys lekat dengan mata terbakar nafsu. Crys menyadarinya makna tatapan tersebut. Tatapan ini sama seperti tatapan James yang mencoba memperkosanya, namun tatapan Kenzo lebih menakutkan seperti api yang terbakar.
"Kenzo." desis Crys menatap Kenzo yang sepertinya terlihat berbeda.
Mata Crys menatap lekat pada mata amber Kenzo yang menyala. "Shh, sakit." ringis Crystal saat genggaman tangan Kenzo di pergelangan tangannya semakin mengerat.
Satu tangan Kenzo yang bebas menjalar ke leher Crystal yang masih memerah dengan bekas cekikan, lalu menjalar ke arah tengkuk gadis itu.
Dengan sekali gerakan dan hentakan, tangan pria itu mendorong tengkuk Crys ke atas dan bibirnya dengan cepat menyambar bibir Crystal.
Pria itu mel*mat dengan penuh nafsu, lidahnya dengan cepat masuk ke dalam mulut Crys yang terbuka dan mengabsen tiap jejeran gigi gadis tersebut dan mengajak lidah Crys untuk berperang.
Kepala Crystal pusing, pria di atasnya ini terlalu dominan dan ciuman ini terasa sangat intim. Crystal belum pernah merasakan hal seintim ini selama hidupnya. Mulut dan lidah Kenzo dengan ahli memporak-porandakan mulutnya.
Tangan Kenzo semakin menekan tengkuknya dan memperdalam pangutannya. Tubuh Crystal tidak siap menerima semua ini, ditandai dengan tubuhnya yang bergetar.
Namun ada rasa aneh yang menjalar di dalam dirinya. Rasanya seperti terbakar dan memberontak ingin keluar. Ada sengatan listrik yang menjalar di seluruh tubuhnya hingga ke otaknya. Gejolak panas yang memenuhi tubuhnya hingga tanpa sadar ia mengerang disela pangutan mereka.
Crystal bahkan tidak menyadari ia akan mengeluarkan suara laknat* seperti itu. Mendengar suara yang keluar dari mulut Crys, membuat pria itu semakin bersemangat.
Hingga akhirnya Crystal merasa kesulitan bernafas, bahkan hidungnya kesulitan untuk menarik udara. Crys menggerakkan tubuh dan tangannya memberikan kode pada pria di atasnya untuk menyudahi ini.
Crystal bergerak semakin kencang saat ia rasa nafasnya mulai tercekat, Crys menggeram tertahan namun pria itu masih semangat melakukan kegiatannya.
Crys tidak bisa bertahan lebih lama, rasnaya seperti ia sedang tenggelam di dalam air. Dengan cepat Crys menggigit bibir Kenzo, hingga pangutan mereka terlepas.
Crys menarik nafas dalam-dalam dengan dadanya yang naik turun. Jarak wajah Crys dan Kenzo sangat dekat, bahkan hidung mereka bersentuhan satu sama lain.
Crys dapat melihat bibir Kenzo berdarah akibat perbuatannya, namun itu jalan satu-satunya, kalau tidak ia yang akan mati kehabisan nafas.
Pria itu sama sekali tidak membuka suaranya sejak tadi, bahkan pria itu sama sekali tidak kesakitan saat ia menggigit bibirnya dengan keras.
Pria itu menatap bibir Crys yang mengkilat dengan air liur yang membasahi bibir pinknya. Matanya menatap ke arah itu dengan lekat. Benda itu seakan menjadi candu untuknya, seperti narkoba.
Setelah Crya mengisi dadanya kembali dengan udara, Kenzo kembali menarik tengkuk gadis dibawahnya dan kembali ingin memakannya. Namun Crys langsung berucap dan menghentikan kegiatannya.
"Kenzo." ujar Crys menghentikan pria itu.
"Kumohon jangan lanjutkan lagi." pinta Crya dengan mata memohon.
Pria diatasnya itu terdiam. "Tatapan matamu sama seperti tatapan pria itu saat mencoba menyentuhku." ujar Crys dengan pandangan takut.
Ia baru saja melewati kejadian mengerikan yang berusaha mengambil kesucian tubuhnya yang ia jaga. Crystal masih berusaha menghapus kejadian itu dari ingatannya. Ia masih dihantui perasaan ketakutan tersebut.
"Aku mencoba menghapus itu dari ingatanku, kumohon jangan lakukan ini." ujar Crys dengan putus asa dan mata memohon.
Pria itu terdiam beberapa detik, lalu ia menarik kembali tengkuk Crys dan mempertemukan bibirnya dengan milik Crystal.
Bibirnya kembali memangut bibir manis itu, namun tidak sekasar sebelumnya. Lidahnya dengan ahli membelai dan menuntun dengan gerakan teratur.
Hingga akhirnya pria itu melepas pangutannya dan beranjak dari atas tubuh Crystal. Tangannya melepas tangan Crystal yang ia tahan dan menatap gadis itu dengan lekat.
Crystal menatap pria di depannya dengan ekpresi tak menyangka. Pria itu memasang senyum miring dengan sudut bibirnya yang terangkat ke atas.
"Masih ada hari lain untuk mencicipinya lagi. Kali ini aku melepaskanmu, jangan harap selanjutnya akan kuampuni." ujar pria itu.
"Dan lagi, aku tidak suka kau memanggil nama 'Kenzo' saat bersama denganku." Pria itu beranjak dari atas ranjang, lalu berjalan keluar dari kamar gadis itu.
Meninggalkan Crys yang terdiam dengan wajah heran dan bingung. Ia tidak mengerti apa maksud perkataan pria itu. Crys menggerakkan tangannya ke atas bibirnya yang terasa bengkak.
Jarinya mengusap bibirnya yang terasa masih bersentuhan dengan bibir pria tersebut. Ia masih bisa merasakan bagaimana pria itu menyentuh bibirnya.
Crystal menggeleng cepat, lalu memutuskan untuk kembali tidur dengan kesulitan karena kejadian barusan yang membuatnya tidur dengan tidak nyaman.
Bersambung....
Hai semuanya, terimakasih yang sudah menunggu dengan sabar.
Aku baca komentar yang bilang aku sebenarnya niat nggak sih buat cerita ini karena jarang update?
Kalau aku nggak niat, aku nggak akan sampai nyari visual karakter yang cocok dengan cerita ini. Aku nggak akan sampai memikirkan tiap kata yang terhubung dan tersambung dengan baik hingga menyusun kalimat penuh emosi yang bisa membuat kalian nangis, senyum sendiri, marah, dan kesal supaya masuk ke dalam cerita. Aku nggak akan sampai membuat diriku menjadi seperti karakter yang aku tulis supaya mendapatkan feel yang sama seperti tokoh di dalamnya. Aku nggak akan sampai repot-repot searching setiap berita tentang tempat di negara orang yang nggak pernah kukunjungi ataupun mencari setiap pertolongan pertama bahkan obat yang biasa dokter pakai untuk ngobati pasien sesuai dengan kebutuhan mereka. Betapa susahnya ngebuat cerita bertema dark Romance dan action seperti ini yang terbilang berat dibawakan.
Aku niat ngebuat cerita ini untuk kalian, terus kenapa jarang update?
Karena aku juga punya kehidupan di dunia nyata. Aku mahasiswa, aku udah mulai jarang update karena aku harus ngurus jadwal perkuliahan semester ini. Aku udah mulai kuliah lagi, dan kuliah itu berat dan bahkan menguras pikiran. Disaat kepala kalian suntuk dengan pelajaran, apa kalian bisa menulis cerita dengan baik? Jujur aku nggak bisa, aku bisa dapat feel apapun dan imajinasi apapun disaat suntuk. Aku juga nggak bisa menyepelekan kuliah karena aku nggak mau ngulang di pelajaran apapun.
Jadi tolong mengerti aku jika kalian ada di posisiku. Maaf kalau aku tidak memuaskan hasrat keinginan kalian dan jarang update. Maaf juga udah ngoceh panjang lebar.
See you in next chapter.
Bye..