
Flashback On
Seorang pria paruh baya dengan keadaan terikat di sebuah kursi dan mulutnya yang juga ditutup oleh sebuah kain, kini meronta dari tali yang menjeratnya. Ia berada tepat di bawah sebuah lampu remang di tengah gelapnya ruangan tersebut.
Ia menatap tajam pada seorang pria muda yang muncul dari kegelapan dengan senyum miringnya.
"Kita berjumpa lagi Professor Adam." kata pria muda itu dengan seringai yang terlihat menyeramkan, seperti harimau yang siap menerkam mangsanya.
Pria paruh baya yang disekap tersebut ternyata adalah Adam Alterio dan sosok dihadapannya yang telah menyekapnya adalah Desmond Killian.
Desmond memberikan kode pada anak buahnya untuknya melepaskan ikatan pada mulut Adam.
"Mengapa anda menyekap saya seperti ini?" tanya Adam setelah ikatan tersebut lepas dari mulutnya.
Desmond tersenyum miring, lalu berjalan memutari kursi pria paruh baya itu dengan senyuman mengerikan.
"Aku ingin kau melanjutkan proyek itu!" kata Desmond berhenti di samping kursi pria paruh baya tersebut.
Adam menoleh dengan tatapan tajam. "Saya sudah bilang proyek ini tidak bisa dilanjutkan. Chip itu membahayakan dunia." kata Adam menolak keras dan berpegang teguh pada pendiriannya.
Namun Desmond malah tersenyum santai, lalu mengeluarkan satu lembar foto ke hadapan Adam.
"Putri bungsumu ini sangat cantik. Dia pasti akan sangat laku di rumah bordil." Adam menatap foto putrinya yang keluar dari area sekolahnya.
"Kami bisa menculiknya kapanpun, bahkan detik ini juga. Lalu apa yang akan kau lakukan Professor Adam? Kau akan membiarkan putri kecilmu ini menjadi pelacur di usia mudanya?" kata Desmond tersenyum kemenangan melihat wajah panik Adam dan keringat dingin yang mengucur di tubuh pria itu.
"Apa kau akan tetap bersikeras menyelematkan dunia dan mengorbankan putrimu?"
"Jangan menyentuh keluargaku!" kata Adam menatap Desmond begitu tajam dan penuh kebencian.
Desmond tertawa kencang, lalu berjalan dan berdiri dihadapan Adam dengan wajah gembira tanpa rasa bersalah. Desmond menatap lekat mata Adam sambil menundukkan sedikit tubuhnya, lalu berhenti tertawa dan menyisakan senyum miringnya.
"Lanjutkan proyek itu, maka keluargamu akan selamat." kata Desmond penuh penekanan dan senyum lebar.
Desmond menegakkan tubuhnya kembali, lalu berbalik dan mulai berjalan menjauh.
"Aku akan berikan waktu lima menit untuk menentukan pilihanmu." kata Desmond sebelum akhirnya ia tenggelam di gelapnya ruangan tersebut.
Adam tidak bisa melakukan apa-apa. Ia tidak mungkin mengorbankan keluarga yang begitu ia cintai. Anak-anaknya masih sangat muda untuk kehilangan segalanya.
Pria paruh baya itu terjebak di antara pilihan yang sulit. Namun akhirnya ia tetap memilih untuk menyelamatkan keluarganya. Ia memilih untuk melanjutkan kembali proyek tersebut.
Desmond tentu saja tersenyum gembira penuh kemenangan setelah mendengar keputusan tersebut. Akhirnya proyek yang begitu ia inginkan tersebut kembali berlanjut. Proyek yang akan menghasilkan ratusan juta dolar untuknya.
Proyek tersebut telah ia dapatkan, kini rencana selanjutnya akan dijalankan. Rencana yang akan menjatuhkan salah satu pesaing besarnya—Kenzo.
Flashback Off
Dua hari setelah kejadian mengerikan itu, Crystal menjalani hidupnya di Mansion besar tersebut dengan kesepian. Ia benar-benar tidak memiliki siapapun untuk diajak berbicara. Tidak ada lagi Rose dan Damian yang senantiasa mengikutinya.
Kenzo juga tidak pernah lagi mengajaknya ke kantor dan pria itu selalu pulang sangat malam dimana ia sudah tertidur.
Mansion itu sudah tidak ada kehidupan lagi, bahkan Crystal yang mulai mewarnai Mansion tersebut kini ikut redup cahayanya.
Gadis itu lagi-lagi duduk di tepi kolam ikan sambil melihat ikan-ikan tersebut yang berenang dengan sangat menawan. Ia melihat banyak wajah baru dari para pelayan maupun pengawal.
Saat gadis itu termenung dengan dunianya, ia tidak menyadari bahwa seseorang berjalan mendekatinya dari belakangnya.
"Hai."
Crystal menoleh ke belakang setelah mendengar sapaan dan tepukan pelan di pundaknya. Gadis itu terpaku ketika mendapati seorang wanita cantik dan senyum manis yang menawan.
Crystal membalas jabatan tangan tersebut dengan ragu-ragu.
"Mommy." Crystal menatap dua anak laki-laki kembar yang tak asing berlari ke arah wanita di depannya sambil berteriak memanggil mamanya. Crystal ingat mereka adalah Vian dan Vano yang pernah ia jumpai ketika Levin mengambil alih tubuh Kenzo.
"Mommy, uncle Ken dan kakak Crystal tidak ada." kata Vian dengan suara yang begitu nyaring.
"Kakak Crystal." kata Vian terkejut melihatku yang berada di depan mommynya.
Crystal tersenyum tipis. "Hai." kata Crystal sambil melambai kecil.
Vania tersenyum lembut dan menatap Crystal lekat. "Mereka sering sekali menceritakanmu setelah Ansell lagi-lagi menculik mereka ke sini." kata Vania tertawa kecil.
Crystal ikut tertawa sedangkan Vian mendekat dan memeluk kaki Crystal dengan begitu menggemaskan. "Kakak bilang akan bermain ke rumah kami, tapi kakak tidak pernah datang." kata Vian dengan wajah cemberut.
"Maaf ya, kakak lupa." kata Crystal dengan wajah bersalah sambil mengelus rambut bocah itu dengan penuh sayang.
"Bagaimana kalau kita mengobrol di luar?" tanya Vania menatap Crystal yang terlihat begitu jelas bahwa gadis itu sangat tertekan.
"Luar? Di taman?" tanya Crystal meyakinkan.
"Bagaimana kalau kita pergi ke cafe terdekat, anak-anak juga ingin bermain."
"Tapi.... Kenzo...."
"Tenang saja, suamiku akan mengurusnya." kata Vania tersenyum geli, lalu menarik tangan gadis itu untuk pergi dengan mobilnya bersama dengan kedua anaknya.
***
Crystal menatap ke arah Vian dan Vano yang bermain di area permainan anak-anak yang sudah disediakan oleh cafe yang mereka datangi. Vian sangat aktif bermain dengan anak-anak lainnya sedangkan Vano terlihat tidak seaktif Vian.
"Vano sama seperti papanya, pendiam dan anti sosial." kata Vania ikut menatap anak-anaknya.
"Tetapi mereka menggemaskan." kata Crystal.
Vania akan selalu tersenyum jika mendengar pujian orang-orang tentang anak-anaknya. Beberapa detik kemudian, wajah Vania berubah menjadi sedikit serius dan menatap gadis di depannya dengan lekat.
"Aku tau Kenzo menyekapmu di Mansionnya."
Crystal mendongak dan menatap Vania dengan tubuh menegang. "Bagaimana anda tau?" tanyanya.
"Suamiku memberitahuku bahwa Kenzo menyekap seorang gadis di Mansionnya saat ia menjemput Vian dan Vano."
Crystal menunduk sambil tersenyum miris. "Dia bukan hanya menyekapku, dia juga membunuh orang tuaku."
Vania terkejut bukan main mendengarnya. Matanya membulat tak menyangka bahwa ini lebih parah dari apa yang dia pikirkan.
"Kau yakin?" tanya Vania yang dibalas anggukan singkat.
"Sepuluh tahun yang lalu, di rumahku sendiri dan di depan mata kepalaku."
Vania benar-benar tak habis pikir dan menatap Crystal dengan tatapan iba. Namun Kenzo tidak membunuh sembarang orang layaknya psikopat haus darah. Ia membunuh seseorang yang memang pantas untuk dibunuh. Vania meraih tangan Crystal dan menggenggamnya erat.
"Aku akan menyuruh suamiku untuk mencaritahu kebenarannya. Bertahanlah!"
Bersambung...
Next Up : lusa