
Levin menatap jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Pria itu kini mengambil alih tubuh Kenzo dengan segala pertimbangan agar mereka bisa menghadapi Desmond. Ia berada di dalam helikopter menuju markas besar Desmond yang cukup membuang banyak waktu jika menggunakan mobil.
Dilain sisi, puluhan mobil yang sudah berangkat lebih dulu daripada dirinya terlihat melaju memenuhi jalanan. Puluhan mobil tersebut terlihat sudah sangat siap untuk menyerbu dan menyelesaikan misi mereka.
Sampai akhirnya, terlihat sebuah bangunan besar dengan tembok serta pagar yang mengelilingi gedung tersebut.
Mata nyalang Levin menatap tajam pada bangunan besar di bawahnya, sedangkan puluhan mobil pasukannya, terlihat sudah mulai mengeluarkan timah panas ke arah para penjaga gerbang, untuk dapat menerobos masuk ke dalam area bangunan.
"Tuan, tali sudah diturunkan." Ujar bawahannya angkat bicara.
Levin melepas sabuk pengamannya, lalu bangkit berdiri menuju pintu helikopter yang sudah terbuka lebar.
Seakan sudah terbiasa, Levin langsung mengambil tali pengaman dan mengaitkannya kepada rompi yang sudah ia kenakan sebelumnya.
Setelah itu, ia melompat turun dengan tali tersebut, diikuti dengan bawahannya yang lain.
Ketika kakinya mendarat dengan sempurna di atas lantai rooftop, ia segera melepas kait pengamannya, lalu melepas rompi tersebut dari tubuhnya dan melemparnya ke atas tanah.
"Dimana Crystal?" Tanya Levin sambil menekan alat earpiece kecil yang berada di telinganya untuk berkomunikasi dengan Ansell.
"Di ruang bawah tanah." Jawab Ansell yang kini berada di depan komputer besarnya di markas mereka sendiri bersama dengan Davin yang juga berada di sana.
Mendengar jawaban tersebut, Levin segera melangkah menuju pintu rooftop sambil mengeluarkan pistol dari balik jasnya, diikuti dengan para bawahannya yang mulai menyerbu masuk ke dalam gedung dengan senjata api laras panjang mereka.
***
Desmond menatap para bawahannya yang sudah ia kumpulkan. Ratusan orang tersebut berdiri tegap sambil melipat kedua tangan mereka di belakang badan.
Terdengar suara baling-baling helikopter yang mulai mendekat. Desmond yakin bahwa orang yang ditunggu-tunggu akhirnya telah datang.
Setelahnya, terdengar suara tembakan yang dilepaskan dari arah depan gedung. Senyuman miring terbit di bibir Desmond.
Pria itu semakin yakin bahwa wanita yang telah ia sekap benar-benar sangat berarti bagi Kenzo, hingga pria itu datang langsung ke markasnya.
"Bunuh siapapun yang mencoba menghalangi, kecuali Kenzo. Jangan membunuhnya, kalian hanya perlu melumpuhkannya dan membawanya kehadapanku." Ujar Desmond.
"Baik Tuan." Jawab para bawahannya serentak dengan nada yang begitu tegas.
Setelah itu, ratusan bawahannya langsung menyebar ke seluruh penjuru gedung dengan seluruh senjata yang mereka punya, sedangkan Desmond berjalan menuju ruang bawa tanah sambil memantik cerutu yang ia bawa dengan wajah tak gentar, seakan yakin bahwa ia akan menang.
Mata Levin terlihat liar ke depan. Derap langkah kakinya terdengar di sepanjang lorong yang terlihat sepi. Raut wajah pria itu terlihat sangat dingin dan datar dengan aura gelap yang terasa menyelimuti pria itu.
Langkahnya tak memelan sedikitpun, bahkan ketika beberapa orang mulai muncul dari balik lorong dengan senjata mereka, dengan sigap pengawal pria itu menembaki orang-orang tersebut dengan brutal.
Levin bahkan tidak perlu menodongkan pistol miliknya, karena para pengawalnya dengan sigap berdiri di hadapannya untuk melindunginya.
Dilain sisi, baku tembak juga tak terelakkan dari para pasukan Levin dan Desmond. Begitu banyak mayat yang tergeletak di atas lantai dengan darah yang sudah mengenangi tempat tersebut.
Terlihat, pasukan Desmond terpojokkan oleh para pengawal Levin. Mereka kalah jumlah dan keahlian, jelas sekali orang-orang Levin terlihat sangat terlatih.
Levin melewati bahkan tak mempedulikan, bahwa ia menginjak beberapa mayat di bawah kakinya dengan genangan darah mereka.
"Berbelok di lorong kanan, kau akan menemukan sebuah pintu. Dibalik pintu itulah Crystal disekap." Suara Ansell kembali terdengar untuk memberikan informasi ke arah ruangan yang akan membawanya pada Crystal.
"Hati-hati, Desmond juga berada di dalam sana dengan enam pengawalnya." Tambah Ansell.
Levin tetap tak membuka mulutnya dan semakin mempercepat langkah kakinya. Ketika kakinya berbelok di lorong yang Ansell arahkan, mata Levin langsung menangkap satu-satunya pintu yang berada disana.
"Dobrak!" Titah Levin dingin.
Para pengawalnya segera mendobrak pintu tersebut. Sedetik setelah pintu tersebut dibuka, para bawahan Desmond langsung menodongkan senjata api mereka ke arah Levin dan para pengawalnya.
Di dalam ruangan tersebut kini terdapat Levin dengan 3 pengawalnya, serta Desmond dengan 6 bawahannya.
Desmond dan Levin sama sekali tak menodongkan Pistol mereka, berbeda dengan para pengawal mereka yang saling menodongkan senjata mereka untuk melindungi atasan mereka masing-masing.
"Kau sampai cukup lama, untungnya dia masih belum mati." Ujar Desmond menatap Levin.
Mata Levin teralih ke arah Crystal yang terbaring meringkuk di atas lantai dengan tubuh serta pakaiannya yang terlihat berantakan dan kotor.
Mata wanita itu terbuka setengah, seperti berada di ambang kematian. Matanya terlihat sangat sayu menatap pada Levin yang berdiri menjulang.
Rahang Levin mengeras. Bisa-bisanya Crystal menatapnya dengan pandangan khawatir disaat kondisinya sendiri terlihat sangat buruk. Mata Levin menatap sekujur tubuh Crys hingga mendapati bahwa wanita itu terantai.
Mata Levin terangkat menatap Desmond dengan tajam. "Apa yang kau inginkan?" Tanya Levin tanpa berbasa-basi.
Desmond tertawa begitu kencang mendengar ucapan pria itu. "Sekarang kau terlihat sangat menyedihkan Kenzo. Kau bahkan memberikan penawaran untuk menyelamatkan wanita ini." Tatapan Desmond terlihat meremehkan Levin.
"Apa kau akan melakukan apapun untuk menyelamatkannya?" Tanya Desmond lagi dengan nada mengejek.
Pandangan Levin terlihat sangat tajam dengan aura membunuh. "Ah, jika aku menyuruhmu untuk menghabisi nyamamu sendiri, apa kau akan melakukannya?" Tanya Desmond lagi.
Tangan Levin terkepal penuh emosi, namun ia tidak boleh menghadapi Desmond dengan pikiran tidak tenang, dikarenakan Crystal masih berada digenggaman tangan pria itu.
Setidaknya sampai ia memastikan wanita itu aman, ia akan segera membunuh Desmond dengan tangannya sendiri. Mengantarkan pria itu ke neraka yang paling dalam.
"Bawa wanita itu!" Titah Desmond. Seorang bawahannya langsung melakukan perintahnya. Ia melepas gembok di rantai wanita itu, lalu menyeretnya ke depan kaki Desmond dengan begitu kasar.
Melihat hal itu, Levin semakin ditelan oleh emosi. Crystal meringis dengan tubuh rapuhnya yang kembali tersungkur di atas lantai yang kotor.
Desmond menurunkan tubuhnya sambil meraih pistol dari balik jasnya dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya menarik kasar rambut wanita itu hingga kepalanya terangkat dengan ringisan yang keluar dari mulutnya.
Desmond menodongkan pistol tersebut tepat di kepala Crystal yang kini menangis kesakitan dan ketakutan.
Levin menggertakkan giginya, lalu ikut menodongkan pistol di tangannya ke arah Desmond yang tersenyum penuh kemenangan.
"Lepaskan dia!" Geram Levin tajam.
"Yang aku inginkan adalah kehancuranmu Kenzo. Kau harus tetap hidup untuk melihat kematian dari orang yang kau cintai ini." Ujar Desmond dengan matanya yang melotot tajam. Desmond terlihat kehilangan akal dengan senyum lebar dan suara tawanya yang menggelegar.
Desmond mendekatkan mulutnya ke telinga Crystal.
"Aku akan memberimu kesempatan untuk mengucapkan kata-kata terakhir pada pria yang kau cintai itu." Bisik pria itu sambil menatap Levin dengan tatapan menantang.
Crystal menatap lekat wajah Levin dengan air mata yang membuat pandangannya memburam. Ia menatap dalam mata Levin yang juga menatapnya lekat.
Beberapa detik kemudian, Crys baru menyadari bahwa Levinlah yang sekarang mengambil alih tubuh Kenzo. Crystal tersenyum tipis dengan bibirnya yang bergetar.
"Le...vin."
Seketika dada Levin terasa sesak seakan tertimpa berton-ton batu ketika mendengar lirihan wanita itu dengan senyum tipis dan mata sayunya. Genggaman tangan Levin di pistolnya juga ikut mengerat.
"Ah, ternyata kau Levin. Apa kau juga mencintai wanita ini? Kau dan Kenzo sama-sama dibuat lemah dan bodoh karna cinta." Ujar Desmond dengan senyuman mengejek yang tidak pernah luntur dari bibirnya.
"A..pa kau yang mem..bunuh kedua or...ang tuaku?" Desmond menundukkan tatapannya pada Crystal yang mengajukan pertanyaan tersebut.
Senyum miring Desmond terbit. "Tentu saja. Aku tidak akan membunuh mereka kalau ayahmu menyelesaikan penelitiannya." Ujar Desmond kembali mengingat masa itu.
"Iblis." Desis Crys geram.
"Akhh." Crys meringis semakin kencang ketika Desmond menarik rambutnya semakin keras.
"Aku memberimu kesempatan untuk mengucapkan kata-kata terakhir padanya, tapi kau malah menggunakan mulutmu untuk memancing kesabaranku. Ternyata mulut sialanmu sudah seharusnya tertutup rapat di dalam tanah." Desmond menekan muncung pistolnya di kepala Crys dengan tatapan marah.
Dengan sisa-sisa tenaga dan keberaniannya, Crys menggigit bibirnya kencang dengan tatapan tajam.
"Kau juga akan segera menyusulku setelahnya." Desis Crys tersenyum kemenangan.
Rahang Desmond mengeras. "Tidak heran aku membencinya, dia sangat cocok untuk menjadi wanitamu. Mulutnya sangat ahli untuk membuatku segera mengantar nyawanya ke malaikat maut." Ujar Desmond mengangkat matanya ke arah Levin.
"LEPASKAN DIA, AKU AKAN MELAKUKAN APAPUN!" Teriak Levin.
Desmond kembali tertawa kencang. "Sekarang, apa kau sudah sadar telah berhadapan dengan siapa? Setelah aku membunuhnya, kau bisa membunuhku Levin." Ujar Desmond.
"Pergilah ke neraka!" bisik Desmond bersiap menarik pelatuk dengan jari telunjuknya.
DOR
Bersambung....