Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 61



Setelah menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan kakaknya, Crystal kembali menuju kamarnya bersama dengan Nathalie yang berjalan beriringan di sampingnya.


Ia sebenarnya belum puas mengobrol dengan Aric, namun ia tidak bisa juga mengobrol dengan luwes karena ada sosok Nathalie diantara mereka.


Tak ada percakapan apapun diantara dua wanita itu. Keduanya sama-sama diam terhanyut dengan pikiran mereka sendiri sambil terus melangkah.


Tiba-tiba mata Nath menangkap sosok familiar di ujung lorong. Perlahan bibirnya mulai terangkat membentuk senyuman tipis. Saat itu juga Nath mempercepat langkahnya sambil sedikit berlari ke arah sosok itu.


Crys yang tadi terhanyut, langsung tersadar ketika Nath berjalan mendahuluinya dengan penuh semangat. Matanya ikut tertuju pada seseorang yang sedang Nath hampiri.


"Kenzo." panggil Nath, lalu memeluk lengan pria itu mesra.


Seketika Crys menghentikan langkahnya. Tubuhnya berhenti dengan otomatis, rasanya ia tidak ingin mendekat dan hanya menatap dua insan tersebut dengan tatapan dalam.


"Kenapa kau disini?" tanya Nath pada pria di depannya.


Kenzo hanya diam tak membuka suara sambil menatap Nath sebentar, lalu matanya terangkat melihat sosok Crys yang terdiam cukup jauh dari mereka dengan tatapan dalam tak terbaca.


Kedua netra tersebut bertemu, hanya saling menatap tanpa membuka suara. Crys perlahan mulai melanjutkan langkahnya sambil membuang tatapan matanya ke sembarang arah.


"Aku ke kamarku duluan." ujar Crys pada Nath setelah ia melewati mereka berdua, tanpa sedikitpun melihat ke arah Kenzo.


"hmm, hati-hati." Balas Nath sambil melambaikan tangannya.


Crys dan Kenzo saling memunggungi satu sama lain ketika wanita itu melewatinya dengan begitu dingin. Tak ada yang menoleh ke belakang dan tetap bertahan dengan ego masing-masing.


"Berhenti!"


Nada dingin dan dalam itu seketika membuat langkah Crys lagi-lagi berhenti di tempat. Ia tidak menoleh ke sumber suara. Ia ragu ucapan itu bukan tertuju padanya, padahal jelas sekali perintah itu Kenzo ucapkan untuknya.


"Ada apa Ken?" tanya Nath lagi dengan wajah sedikit khawatir sambil mengelus dada bidang Kenzo lembut.


"Datang ke kamarku!" ujar Kenzo dingin, tegas tak terbantah. Ucapan darinya bagai perintah mutlak yang harus dilakukan.


Kenzo berbalik, lalu melangkah menuju kamarnya tanpa menghiraukan Nath yang terdiam kaku. Ia melewati Crystal yang masih mematung di posisinya, tanpa berucap apapun lagi.


Crystal meremas jari-jarinya gugup. Nath menatap tajam punggung Crystal, lalu berjalan melewati wanita itu tanpa mengatakan apapun padanya.


***


Crys mengetuk pintu di depannya dengan begitu pelan. Tak ada jawaban. Kening Crys berkerut, kembali mengetuk dengan sedikit keras, namun lagi-lagi tidak ada jawaban.


Tangannya menggenggam gagang pintu, mencoba membukanya dan ternyata benar saja pintu besar tersebut tidak terkunci.


Crystal mendorong pelan pintu di depannya, lalu masuk ke dalam kamar Kenzo dengan langkah ragu. Matanya memendar mencari sosok Kenzo di dalam ruangan yang begitu minim pencahayaan tersebut. Sampai akhirnya, matanya menangkap siluet tubuh seseorang di dalam balkon.


Crystal berjalan menuju balkon untuk menghampirinya. Gorden terlihat berterbangan dengan cahaya bulan yang entah kenapa malam itu terasa sangat terang.


Punggung Kenzo yang tegap terlihat menyenderkan lengannya di pagar balkon. Crystal dapat melihat kepulan asap yang ikut terbang bersama angin, yang artinya Kenzo sedang merokok.


"Kenzo." panggil Crys ketika kakinya sampai di area balkon.


Kenzo tak menoleh, kepulan asap muncul dan terlihat terbang lagi bersama angin. "Kenapa kau menyuruhku kesini?" tanya Crys tak ingin basa-basi.


Ia benar-benar tak tahan dengan sikap Kenzo yang tampak mencuekinya. Kenzo masih diam di tempatnya tanpa suara. Crys mendengus kesal, lalu membalikkan tubuhnya.


"Aku akan kembali ke kamar jika tak ada yang ingin kau bicarakan." Kata Crys dingin sambil berbalik dan mulai melangkah pergi.


"Keluar dari sini dan lihat apa yang akan terjadi pada Kakakmu." Kata-kata itu sukses membuat langkah Crystal terhenti. Tentu saja ia marah mendengar ancaman pria itu.


Apa yang sebenarnya Kenzo inginkan darinya?Crystal kembali menoleh menatap punggung tegap Kenzo.


"Kau baru membuka mulut dan langsung mengancamku. Apa yang sebenarnya kau inginkan?" Tanya Crys frustasi dengan sikap Kenzo.


Kenzo terlihat membuang puntung rokoknya ke atas lantai, menginjaknya kasar, lalu berbalik menatap Crystal. Kenzo berjalan menuju Crys dengan tatapan menusuk dan mengintimidasi.


Crystal terlihat hampir memundurkan langkahnya dengan raut wajah takut. Namun ia tak ingin menunjukkannya pada Kenzo, sehingga kakinya terpaku ditempat walaupun langkah Kenzo semakin mendekat padanya.


Kenzo berhenti di hadapan Crys, menatap mata wanita itu dalam, lalu mencengkram dagu Crys untuk mendongak.


Crys meringis kecil, namun ia tetap menatap Kenzo tajam. "Berikan tubuhmu padaku!" Mata Crys memicing tajam tak habis pikir dengan perkataan Kenzo.


Ia dengan kasar menghempas tangan Kenzo dari dagunya. "Kau gila?" ujar Crys marah, lalu berbalik hendak meninggalkan kamar tersebut yang membuatnya penuh emosi.


"Kau pikir ucapanku tentang Kakakmu main-main?" ucap Kenzo lagi masih dengan sikap tenang namun dingin.


Crys tak jadi melangkah, ia kembali menatap Kenzo dengan penuh amarah. Ia tau Kenzo tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.


"Lalu aku harus menyerahkan tubuhku padamu dengan sukarela?" tambah Crys menantang.


"Apa kau punya pilihan?" Jawab Kenzo yang berhasil membuat Crys tak habis pikir pada pria di depannya itu.


"Aku tak akan melakukannya denganmu!" Tekan Crys menatap Kenzo tajam.


Kenzo mengangkat sebelah bibirnya sambil menatap Crystal. "Kenapa? Kau memberikan tubuhmu pada Levin secara sukarela bukan?"


Tubuh Crys seketika membeku. Ia terdiam seperti patung dan jantungnya mulai berdetak dengan kencang.


"Levin dan aku adalah raga yang sama. Tubuh ini yang bercinta denganmu semalam, kau mau bersikap sok suci?" ujar Kenzo dengan senyum miringnya yang merendahkan Crystal.


Tangan Crystal mengepal kencang. "Kau bisa melakukannya dengan Nathalie, dia kekasihmu bukan? atau dengan para wanitamu di luar sana. Kau tidak kekurangan wanita untuk ditiduri Kenzo, jangan membuat dirimu terlihat menyedihkan seperti sekarang." Kata Crystal panjang lebar, berhasil membuat rahang Kenzo mengeras dengan tatapan sedingin es dan tajam seperti seorang pembunuh.


Siapa wanita ini yang berani menyebut dirinya menyedihkan. Dengan gerakan cepat Kenzo menarik tubuh Crystal, lalu membanting tubuh kecilnya ke atas ranjang dengan kasar.


Crys meringis dengan wajah panik. Ia menatap Kenzo yang mulai menaiki ranjang dan mendekat ke arahnya seperti seekor singa yang siap melahap mangsanya.


Kenzo menarik tengkuk Crys kasar, menabrak bibir wanita itu dan melum*tnya dengan rakus. Tangan Crystal berusaha mendorong tubuh Kenzo dengan sekuat tenaga sambil memberontak.


Plak


Hingga akhirnya suara tamparan terdengar sangat kencang bersamaan dengan wajah Kenzo yang terlempar ke samping.


"BERENGSEK." Teriak Crys di depan wajah Kenzo dengan telapak tangannya yang memerah karena begitu kerasnya ia menampar wajah pria itu.


Wajah Kenzo berubah sangat dingin, berubah lebih bengis seperti ingin membunuh Crystal saat itu juga. Kenzo menatap wajah Crystal, lalu mencengkram dagu wanita itu.


"Aku bisa meniduri siapapun termasuk tubuhmu."


Kenzo merobek baju yang Crys kenakan dengan mudah, lalu kembali memangut sepihak bibir Crystal.


Mata Crys mulai berair ketika Kenzo benar-benar memaksa kehendaknya tanpa memikirkannya. Bibir Kenzo perlahan turun menuju lehernya, memberikan tanda kemerahan disana dengan begitu ganas.


Crystal menggigit bibirnya kencang untuk menahan suara aneh keluar dari mulutnya. Tangannya terus mendorong bahu Kenzo, namun tubuh kekar itu sama sekali tak berpengaruh dengan dorongannya.


"Ken...zo." Crys memanggil nama itu dengan isakan tak tertahan ketika pria itu mulai bermain di area sensitifnya.


"Aku mohon berhenti." Wanita itu terisak sambil memukul dada Kenzo dengan wajah frustasi.


Tangan Kenzo dengan lihai membuka kaitan pembungkus terakhir di bagian atas tubuh Crystal, melemparnya asal bersamaan dengan baju wanita itu yang sudah robek tak berbentuk.


Tangis Crystal semakin mengeras kencang. "Hiks, Levin." Bibir Crys bergetar, menutup matanya rapat sambil memanggil nama pria itu, berharap bahwa Levin mendengarnya dan akan bangun dari tidurnya.


Kegiatan Kenzo seketika berhenti mendengar nama tersebut keluar dari mulut wanita di bawahnya yang akan ia tiduri paksa.


Mata Crystal terlihat tertutup rapat dengan wajahnya yang penuh air mata. Kenzo menggeram marah dengan tangan terkepal di atas sprei kasurnya.


Ia tidak pernah memaksa wanita manapun untuk tidur dengannya. Wanita-wanita itu selalu datang dan menyerahkan tubuhnya dengan sukarela. Melihat Crys menangis, membuat harga dirinya serasa terinjak-injak.


"Aku mohon, hiks." gumam Crystal pelan dengan tangisan pilunya.


Crystal mencengkram erat pundak Kenzo, tak berani membuka matanya untuk melihat apa yang Kenzo lakukan di atas tubuhnya.


Crystal tersentak ketika tangan pria di atasnya meraih tangannya dengan pelan. Kenzo membawa tangan wanita itu ke depan bibirnya dan mengecupnya lembut.


"Crystal."


Jantung Crys seakan berhenti sebentar mendengar namanya dipanggil dengan begitu lembut.


Ini bukan Kenzo.


Crys perlahan membuka matanya yang masih terisak. Menatap ke arah pria di atasnya dengan dalam.


"Levin." Crystal memanggil lirih nama tersebut.


Pria di atasnya terlihat tersenyum tipis, lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup lembut kedua mata Crys yang memerah karena menangis.


Crystal semakin menangis kencang, bukan karena sikap lembut pria itu, namun sosok yang ia rindukan kini berada di hadapannya.


"Shh, i'm here." ujar Levin menenangkan tangisan wanita itu yang semakin kencang.


Dengan perasaan menggebu-gebu, ia langsung memeluk erat leher Levin penuh kerinduan. Wajahnya tenggelam di leher pria itu sambil menangis.


"Hiks, aku takut." Levin memeluk erat punggung Crys yang tidak terbalut apapun. Tangannya mengusap punggung polos gadis itu lembut dengan penuh perhatian.


"Sekarang tidak ada yang perlu kau takutkan." ujarnya membelai rambut panjang Crystal yang tergerai.


Levin melepas dekapan mereka, menatap wajah Crys lekat, menyatukan kening mereka sambil mengusap pipi Crys yang basah dengan air mata.


Perlahan tapi pasti, bibir Levin memangut lembut bibirnya. Crystal tidak menolak. Wanita itu malah ikut membalas pangutan Levin sambil memeluk lehernya.


Ketika tangan Levin perlahan mulai turun menuju dadanya, Crys langsung menghentak bahu Levin, sehingga pangutan mereka terlepas.


"Kenapa?" tanya Levin lembut dengan raut kaget.


"Aku takut kau akan menghilang lagi besok?" Jawabnya. Levin tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Crys dengan tatapan penuh cinta.


"Aku tidak akan menghilang dalam waktu dekat." Jawab Levin membuat hatinya sedikit tenang.


Levin kembali memangut bibir Crys dengan tak sabar. Tangannya mulai bergerilya menjelajahi tubuh wanita di bawahnya. Malam itu untuk kedua kalinya, kedua tubuh insan tersebut bergelut di atas ranjang dengan alunan desah*n yang saling sahut menyahut memenuhi kamar remang pria itu.


Sepanjang malam, Levin bergerak begitu liar, tidak seperti pertama kali mereka melakukannya. Sampai Crys terlihat begitu kelelahan, tak bisa mengimbangi permainan buas pria itu. Crystal akhirnya terjatuh di atas dada Levin dengan nafas memburu dan perlahan-lahan mulai teratur.


Tangan Levin membelai pelan rambut Crystal yang berada dalam dekapannya. Tubuh polos mereka terbalut dengan selimut, sedangkan tangan Levin yang satu lagi digenggam dengan begitu erat oleh Crystal.


Matanya menatap wajah tenang Crys yang tertidur di atas dadanya. Hingga perlahan, raut wajah lembut dan tulus dari pria tersebut pudar, terganti dengan senyum miring penuh kemenangan.


Nyatanya sampai sekarangpun, Crystal masih tidak mengenal dan mengerti lebih dalam tentang Levin dan Kenzo. Wanita itu dengan mudahnya tertipu hingga merelakan tubuhnya pada Kenzo yang sedang menjelma menjadi sosok Levin.


Bersambung....


Gimana nih part ini?


Satu kata dong buat Kenzo di part ini😆


Jangan lupa Like, vote, Comment dan share


See you♥️