
Apa dia masih bermimpi?
Kenzo menatap lekat sosok Crystal yang tiba-tiba berada di hadapannya. Ia terlihat terdiam seribu bahasa, sedangkan otaknya masih mencoba memproses segalanya dikala semua sel-selnya seketika membeku.
Crystal yang masih mengerucutkan bibirnya, melangkah mendekati ranjang Kenzo sambil membawa nampan berisi sarapan di atasnya.
"Hahh, aku yakin pasti kau melupakan kejadian semalam." Ujar Crys menghela nafas.
Crystal meletak nampan tersebut di atas meja nakas dan berdiri di samping ranjang sambil melihat ke arah Kenzo.
"Kau mematung lagi Kenzo." Tambah Crys lagi sambil menatap Kenzo yang masih terdiam dengan wajah terkejut.
Seketika senyum geli Crys muncul melihat ekspresi wajah Kenzo yang terlihat sangat shock.
Crystal tertawa kecil, lalu mengulurkan tangannya untuk kembali meraih kedua pipi Kenzo seperti tadi malam. Punggung Crys sedikit membungkuk, menyesuaikan posisi Kenzo yang masih duduk di atas ranjang.
Kenzo dapat merasakan hangat dan lembut sapuan tangan Crystal di pipinya.
"Aku nyata, kau masih tidak percaya?" Tanya Crystal begitu dekat menatap wajah Kenzo.
Seketika dada Kenzo berdetak begitu kencang seakan ingin meledak seperti bom waktu. Dengan perasaan membuncah, Kenzo menarik pinggang Crystal hingga wanita itu ikut berbaring di atas ranjangnya.
Crystal sedikit tersentak kaget menerima perlakuan Kenzo. Ia terbaring di atas kasur, sedangkan Kenzo berada di atas tubuhnya dengan kedua tangan yang menahan beban badannya, agar tidak sepenuhnya menindih wanita itu.
Kenzo menatap lekat lekuk wajah Crystal yang berada di bawahnya, lalu menunduk dan melekatkan telinganya ditengah dada wanita itu.
Seketika Crystal menahan nafas dengan jantungnya yang mulai berdetak tak karuan ketika Kenzo tiba-tiba melakukan hal absurd tersebut.
Berbeda dengan pikiran Crystal yang melayang entah kemana dengan warna merah muda yang mulai muncul di pipinya, Kenzo terlihat begitu serius mendengarkan detak jantung wanita itu, memastikan bahwa Crystal yang berada di hadapannya ini masih hidup dan benar-benar bukan khayalannya lagi.
Kenzo meremas sprei kasurnya ketika ia dapat mendengar jelas detak jantung Crystal, bahkan dada wanita itu yang bergerak naik turun seiring dengan aliran pernapasannya.
"A..ada apa?" Tanya Crys gugup masih dengan pipinya yang merona.
Kenzo mengangkat kembali kepalanya untuk melihat Crystal dengan pandangan tak terbaca.
Crystal terdiam melihat ekspresi Kenzo yang tak bisa ia jelaskan. Pria itu terlihat terguncang, bahagia, lega, sedih, semuanya bercampur menjadi satu, terlihat jelas dari sorot matanya.
Crystal melingkarkan tangannya ke leher Kenzo dengan senyuman manisnya.
"Maaf membuatmu menunggu terlalu lama." Ujar Crystal menatap lekat manik mata Kenzo yang juga menatapnya dalam.
Kenzo membuang nafasnya yang sejak tadi terasa berat, lalu menarik tengkuk Crystal untuk mempertemukan bibir mereka.
Crys memejamkan matanya, menerima tautan bibir Kenzo yang terasa tergesa-gesa. ******* pria itu semakin mendalam, mengekspresikan seluruh perasaannya melalui tautan bibirnya.
Crystal memeluk leher Kenzo erat, lalu perlahan jari-jemarinya mulai merambat ke rambut Kenzo yang mengisi sela-sela jarinya.
Tangan Kenzo yang lain meremas pinggul Crystal dengan bunyi decapan dan nafas yang terdengar jelas dari kedua anak manusia tersebut.
Crystal menjambak kecil rambut Kenzo ketika ia mulai merasakan nafasnya tersendat. Wanita itu mulai menggeliat kecil di bawah kukungan badan Kenzo, lalu membuka matanya dan melenguh sesak.
"Emhh."
Tangan wanita itu turun untuk mendorong tubuh Kenzo dengan tak sabar.
Kenzo melepas pangutannya, sedangkan Crystal terlihat membuka mulut ngos-ngosan sambil meraup udara sebanyak mungkin.
Mata Kenzo menatap lekat wajah Crystal dengan pandangan berkabut, hingga akhirnya menjatuhkan kembali kepalanya di atas dada wanita itu sambil memeluk erat pinggangnya.
Crystal tersenyum kecil, lalu ikut memeluk tubuh Kenzo yang berada di atas tubuhnya.
"Bagaimana dengan makananmu?" Tanya Crys.
Kenzo masih diam tak membuka suaranya. Kening Crystal mengerut heran.
"Apa kau kehilangan suaramu?" Tanya Crys kesal.
"Tidak." Jawab pria itu singkat.
Crystal mendengus, lalu mencoba melepaskan diri dari pelukan pria itu.
"Ah, lepas dulu, aku mau ke kamarku sebentar." Ujarnya sambil memukul pelan punggung Kenzo yang masih memeluknya erat.
Mendengar hal itu, Kenzo malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya yang membuat Crys merasa sesak.
"Kenzo, aku hanya pergi ke kamarku sebentar." Geramnya.
Kenzo tidak ingin melepasnya, karena ia takut wanita itu akan kembali menghilang.
Crystal memberontak kesal, lalu memukul punggung pria itu lebih kencang.
"Sakit, kau memelukku terlalu erat." Ringis Crys.
Kenzopun melepas pelukannya, lalu menjauhkan wajahnya untuk saling bertatapan dengan Crystal yang sedang memicingkan mata tajam.
"Makan sarapanmu, lalu mandi!" Titah wanita itu dengan tegas.
"Kau tidak akan pergi lagi?" Tanya Kenzo.
"Tidak, kamarku berada di samping kamarmu, aku akan segera kesini setelah urusanku selesai. Lagipula banyak yang perlu kita bicarakan, jadi bisakah kau tidak pergi bekerja hari ini?" Kata Crystal panjang lebar.
Kenzo mengangguk. "Aku tidak akan bekerja selama sebulan." Bibir Crystal mendatar sambil menatap Kenzo dengan wajah tak habis pikir.
"Aku hanya memintamu untuk tidak bekerja hari ini." Desis Crys.
Crystal membuang nafas pasrah, lalu mendorong tubuh Kenzo dari atas tubuhnya untuk mengambil posisi duduk di atas ranjang.
Kenzo dengan cepat mengalah dan membiarkan Crystal lepas dari kurungan badannya.
Crystal bangkit berdiri dari atas ranjang, sedangkan pandangan mata Kenzo masih melekat sempurna pada sosok wanita itu dan mengikuti setiap pergerakannya dengan begitu dalam.
"Habiskan sarapanmu ya, hari ini aku yang memasaknya khusus untukmu." Ujar Crys tersenyum begitu manis.
Kenzo tidak menjawab dan Crystal langsung pergi keluar dari kamar pria itu setelah melambai kecil.
Kenzo menatap nampan di atas meja nakasnya, lalu tanpa berbasa-basi memakannya hingga tak bersisa, setelah itu ia pergi ke kamar mandi dan bersiap.
Setelah beberapa menit, Kenzo keluar dari walk in closet dan menemukan Crystal sudah berada di dalam kamarnya lagi, membuatnya seketika lega ditengah kekhawatirannya yang masih saja tidak percaya akan semua yang sudah terjadi.
Kenzo duduk di atas sofa singlenya, sedangkan Crystal duduk di atas ranjang yang berhadapan dengan sofa tersebut.
Crystal menatap lekat wajah Kenzo yang sudah segar.
"Kau menghabiskan sarapanmu, apa masakanku enak?" Tanya wanita itu semangat.
Kenzo mengangguk, lalu berkata "Aku baru tau kau bisa memasak." Ujarnya.
Crystal tertawa renyah. "Damian yang mengajariku. Sebelumnya aku memang tidak pandai memasak, kak Allaric selalu mencela masakanku." Katanya panjang lebar, namun nama 'Damian' seketika membuat sebelah alis Kenzo terangkat ke atas.
"Apa maksudmu dengan Damian?"
Crystal meneguk ludahnya kasar ketika suara dingin dan tatapan tajam Kenzo terlempar padanya.
"Ehmm, ini yang sebenarnya ingin aku ceritakan padamu, bagaimana aku bisa selamat dari kecelakaan itu." Ujar Crystal.
Flashback On
BRAK
Mobil yang ia tumpangi seketika menabrak pembatas jalan dan terjun ke dalam lautan.
Crystal merasakan tubuhnya terguncang hebat di dalam mobil, hingga akhirnya seisi mobil mulai terisi oleh air dan perlahan mobil tersebut mulai tenggelam.
Kondisi tubuh Crystal yang saat itu sedang buruk diakibatkan kecelakaan mobil yang disebabkan oleh Desmond, membuatnya tidak bisa bergerak lebih luwes untuk segera menyelematkan diri.
Tangannya mencoba membuka pintu di sampingnya, namun tidak bisa terbuka. Dengan mata yang perih diakibatkan oleh air laut, wanita itu sekuat tenaga menahan nafasnya sambil berusaha untuk keluar.
Crystal menatap kepada para pengawal dan supir yang juga berusaha menyelamatkan diri.
Tatapan mata mereka seketika tertuju pada pengawal yang berada di kursi samping supir, telah berhasil memecahkan jendela mobil.
Seketika supir dan pengawal di samping Crystal bergerak keluar dengan cepat dari jendela mobil tersebut hingga berebutan.
Crystal yang masih berada di dalam mobil berusaha untuk terus menahan nafasnya sambil menunggu giliran keluar.
Namun sayang, waktunya harus terbuang percuma dikarenakan supir dan pengawal itu berebutan untuk keluar lebih dulu, membuat Crystal semakin frustasi dikarenakan nafasnya mulai terasa tercekat dan habis.
Pengawal yang memecahkan kaca dan sudah berada di luar mobil tiba-tiba mengeluarkan pistolnya di dalam air, lalu mengulurkan tangannya dan menempelkan muncung pistol tersebut ke kepala supir dan menembaknya, setelah itu juga melayangkan timah panas tersebut ke pengawal satunya, hingga dalam waktu singkat kedua orang tersebut langsung meninggal.
Crystal membulatkan matanya dengan pandangan ketakutan, namun detik selanjutnya ia terkejut ketika pistol di tangan pria itu dibuang dan malah mengulurkan tangan kanannya ke dalam mobil.
Crystal menatap uluran tangan tersebut yang ternyata tertuju padanya. Dengan nafas yang semakin tercekat, Crystal segera menerima uluran tangan pria itu tanpa berpikir panjang.
Pengawal pria tersebut menariknya dan mulai berenang ke atas permukaan air. Crystal mencoba menahan nafasnya yang sudah mulai habis sambil menatap ke arah permukaan air yang semakin dekat.
Hingga akhirnya, ketika kepala mereka muncul di atas air, Crystal langsung meraup udara sebanyak mungkin sambil terbatuk karena beberapa air sudah terhirup dan tertelan olehnya.
Sibuk dengan nafasnya yang tersengal, Crystal kembali menoleh ke arah pria yang menyelamatkannya dan terkejut ketika pengawal dibalik topeng tersebut adalah Damian.
"Damian." Ujarnya.
Damian menatap Crystal beberapa saat.
"Kita harus segera ke daratan." Ujar Damian cepat.
Crystal mengangguk kecil, lalu berusaha untuk berenang ke tepian dibantu oleh Damian.
Ketika sampai di daratan, mereka beristirahat disana sambil memikirkan apa yang harus mereka lakukan selanjutnya.
"Kenapa kau berada di dalam mobil juga?" Tanya Crystal menatap Damian.
"Aku menyamar menjadi salah satu anak buah Sergio setelah mereka mengepung seluruh bangunan." Saat itu ternyata Damian juga berada di dalam gedung dan mengetahui bahwa kelompok Sergio mulai menyebar masuk ke dalam gedung.
Damian pun menghabisi salah satu bawahan Sergio, lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian pria itu.
Damian juga dengan sengaja ikut masuk ke dalam mobil yang Crystal kendarai ketika mereka keluar dari bangunan tersebut.
"Terimakasih sudah menyelamatkanku." Ujar Crystal lagi.
Damian terdiam. "Terlalu cepat untuk berterimakasih." Katanya.
Kening Crystal berkerut bingung. "Mulai saat ini kau sudah mati." Ujar Damian menatap Crystal.
"Sergio sudah merencanakan untuk menghilangkan nyawamu dengan kecelakaan ini. Jika dia mengetahui bahwa kau masih hidup, dia akan segera menyusun rencana untuk membunuhmu lagi dan lagi. Berita kehidupanmu harus dirahasiakan dari siapapun!" Ujar Damian panjang lebar dan Crystal hanya dapat terdiam sambil mencerna semuanya.
"Siapapun?" Tanya Crystal memastikan.
"Iya." Jawab Damian tegas.
"Sampai kapan?" Tanya Crystal lagi.
"Sampai semua ancaman menghilang." Ujar Damian.
Crystal terdiam beberapa saat, lalu mengangguk paham.
"Mulai hari ini aku juga sudah dinyatakan mati." Tambah Damian.
"Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Crystal lagi.
"Hidup dalam persembunyian, dimulai dari mengubah identitas." Ujar Damian.
Crystal mengangguk lagi. "Sekarang kemana kita akan pergi?" Tanya Crystal.
"Desa terpencil di luar kota ini." Ujar Damian.
"Baiklah." Crystal tidak punya pilihan lain demi keselamatannya sendiri.
...****************...
Beberapa minggu semenjak kejadian itu, Crystal dan Damian kini tinggal di salah satu rumah disebuah desa terpencil, dengan jumlah penduduknya yang juga kebanyakan lansia. Rumah tersebut disewa oleh Damian.
Saat itu Damian dan Crystal berperan sebagai sepasang suami istri yang baru saja pindah ke wilayah tersebut.
Crystal menatap ke arah layar televisi yang kini tengah memberitakan kabar pernikahan Kenzo yang akan berlangsung bulan depan dengan putri dari Sergio.
Dada Crystal seketika merasa sesak sambil menatap wajah Kenzo yang berada di layar televisi dengan begitu lekat.
Tiba-tiba Crystal menutup mulutnya ketika gejolak aneh muncul dari perutnya. Crystal bangkit dengan wajah panik ke arah closet, menunduk, lalu memuntahkan seluruh isi perutnya.
HOEK...HOEK
Mata wanita itu memerah dan sedikit berair akibat gejolak mual tersebut. Setelah beberapa menit, Crystal kembali bangkit berdiri, menekan tombol flush, lalu membalikkan badannya untuk keluar dari kamar mandi.
Crys tersentak kaget ketika sosok Damian sudah berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menatap ke arahnya yang sejak tadi sedang muntah.
"Sepertinya aku tidak enak badan." Ujar Crys pada Damian.
"Sebaiknya kau pergi ke dokter." Balas Damian.
Crystal menggeleng cepat. "Tidak, setelah minum obat aku pasti akan lebih baik." Ujarnya lagi.
"Bagaimana jika kau hamil?" Pertanyaan Damian seketika membuat Crystal membatu.
"Aku akan pergi ke dokter." Ujar Crystal. Ia harus segera mengetahui jawabannya.
"Aku akan mengantarmu." Kata Damian, lalu membalikkan tubuhnya untuk bersiap dan segera pergi ke Rumah Sakit terdekat dari desa itu.
......................
Crystal menatap bangunan Rumah Sakit di depannya yang tidak terlalu besar dan sebagus yang ada di kota. Setelah registrasi dan mengurus semuanya, Crystal duduk di salah satu kursi untuk menunggu gilirannya dipanggil.
"Mrs. Letta, silahkan masuk ke dalam ruangan."
Mendengar namanya dipanggil, Crystal segera bangkit berdiri, sedangkan Damian menunggu diluar.
Crystal masuk ke dalam ruangan dokter kandungan, berbincang sebentar dengan seorang dokter wanita di dalam ruangan tersebut, hingga akhirnya Crystal disuruh untuk berbaring di atas ranjang.
Crystal mengikuti semua intruksi dokter tersebut yang kini sedang menyuruhnya untuk mengangkat bajunya agar perutnya terpampang jelas.
Dokter tersebut mengoleskan sebuah cairan dingin di atas perutnya, lalu meletakkan sebuah alat dan menggerakkannya naik turun dan melingkar.
"Ah, ini dia, anda bisa melihat gumpalan ini, selamat atas kehamilan anak pertama anda." Ujar sang Dokter.
Crystal menatap ke arah monitor dengan mata berkaca-kaca.
"Dilihat dari bentuknya, usia kandungan anda kurang lebih sudah 3 minggu." Ujar Dokter itu lagi.
Crystal mengusap air mata yang jatuh dari sudut matanya. Dari sisi lain, seorang suster memberikan lembaran kertas kepada dokter tersebut.
"Hasil tes urin juga mengatakan anda positif hamil." Ujar Dokter setelah membaca lembaran di tangannya.
"Terimakasih dokter." Ujar Crystal sambil mengangguk kecil.
Dokter tersebut mengangguk dan tersenyum hangat. "Usia kehamilan anda masuk di trimester pertama, jadi jangan terlalu banyak pikiran dan terlalu capek ya Mrs. Letta." Ujar Dokter itu lagi.
"Baik dok." Jawab Crystal.
...****************...
Semenjak kabar kehamilannya terungkap, setiap pagi Crystal akan mengalami morning sick dan Damian sebagai pria single yang belum pernah menikah, juga tidak mengetahui apapun untuk menangani wanita hamil.
Damian tentu saja kebingungan, belum lagi ia harus pergi bekerja dan meninggalkan Crystal seorang diri di rumah.
Suatu hari, Crystal duduk di kursi depan teras rumah sambil menatap hamparan hijau yang berada di depannya.
Mata Crystal menatap pada mobil Damian yang baru saja datang dan memasuki pekarangan rumah.
Crystal bangkit berdiri sambil tersenyum tipis. Damian keluar dari dalam mobil dan betapa terkejutnya ia ketika satu orang lagi keluar dari sisi mobil yang lain.
"Nathalie." Desis Crystal terkejut bukan main.
Nathalie melangkah ke arah Crystal, sedangkan Damian terlihat menurunkan beberapa tas dari bagasi mobil.
"Hai." Sapa Nath sambil tersenyum manis.
"Bagaimana bisa?" Tanya Crys masih shock.
"Pria itu tiba-tiba menelponku dan menceritakan semua yang sudah terjadi padamu. Kau sedang hamil anak Kenzo bukan?" Tanya Nath setelah menunjuk ke arah Damian.
Crystal mengangguk. "Iya."
"Pria itu memintaku untuk menemanimu selama hamil, karena dia tidak tau apa yang harus diperbuat pada wanita hamil. Dia mengatakan setidaknya kau bisa punya teman berbincang sesama wanita agar kau tidak kesepian." Kata Nathalie panjang lebar.
Crystal menatap pada Damian dengan begitu lembut. Damian benar-benar sangat baik padanya, entah apa yang harus ia lakukan untuk membalas kebaikan pria itu.
"Terimakasih." Ujar Crys pada Nathalie.
"Aku yang harusnya berterimakasih, karena tanpa sadar kau sudah menyelamatkan nyawaku dari Desmond." Kata Nathalie.
Crystal mengernyit bingung dengan ucapan Nathalie. Melihat hal itu Nath pun terkekeh kecil.
"Tidak usah dipikirkan, kata-katamu dulu juga sudah menyadarkanku." Kata Nathali lagi.
Damian terlihat melangkah sambil membawa barang bawaan Nathalie ke dalam rumah.
"Diluar dingin, seharusnya kau berada di dalam." Ujar Damian setelah sampai di hadapan kedua wanita itu.
"Hehehe, aku baru keluar sebentar kok." Kata Crys sambil terkekeh canggung karena mendapat omelan dari Damian.
"Tidak, kau masih hamil muda, ayo masuk!" Kini Nathalie menariknya untuk masuk kembali ke dalam rumah.
Crystalpun hanya bisa berjalan pasrah mengikuti keinginan mereka yang semakin hari semakin protektif kepadanya.
Namun hari-harinya jadi terasa lebih berwarna dengan kehadiran Nathalie yang kini terasa hangat, tidak seperti dirinya dulu yang berpura-pura dan menyembunyikan perasaannya sendiri.
Sejujurnya, Damianlah yang paling terampil di rumah ini. Kedua wanita disana tidak ada yang pandai di dapur dan Damian satu-satunya yang bisa memasak makanan yang layak untuk dimakan.
Karena itulah beberapa kali Crystal akan meminta diajari atau menonton Damian ketika pria itu sedang memasak, agar suatu saat ia bisa memasak untuk mereka dan meringankan beban pekerjaan Damian.
Nathalie juga tidak membiarkannya untuk menonton televisi, dikarenakan berita saat itu sedang penuh dengan perbincangan pernikahan Kenzo dan calon istrinya. Nathalie melakukannya agar ia tidak kepikiran dan stress sehingga dapat mengganggu janinnya.
Sampai akhirnya, setelah sembilan bulan mengandung, Crystalpun melahirkan putra kecilnya dengan normal dan lancar di Rumah Sakit.
Saat itulah Damian dan Nathalie baru menceritakan apa yang sudah terjadi di dunia luar, yang selama ini mereka tutupi darinya.
Crystal duduk di atas sofa sambil menggendong bayi kecilnya yang sedang tertidur setelah menyusu dengan lahap.
"Di hari pernikahannya, pria itu membunuh Sergio dan istrinya yang baru saja ia nikahi." Ujar Damian.
"Dan itu sudah 8 bulan yang lalu." Ujar Crys tak habis pikir.
"Iya."
"Sampai saat ini dia masih melakukan pencarian untuk menemukanmu." Kata Nath.
"Kami melakukannya untuk memastikan bahwa nyawamu benar-benar sudah tidak terancam, karena kau menanggung satu nyawa lagi yang masih berada di dalam dirimu, karena itulah kami memutuskan untuk mengulur sampai kau melahirkan bayimu dengan selamat." Tambah Nathalie.
"Benar, sekarang kau sudah bisa kembali padanya." Kata Damian.
Crystal menunduk sambil menatap wajah damai bayi laki-laki yang meringkuk dengan mata tertutup.
"Sudah hampir satu tahun setelah kecelakaan itu terjadi bukan?" Tanya Crystal yang dibalas anggukan oleh Damian.
Crystal menimbang dalam kepalanya. Apa benar ia sudah bisa kembali? Apa sekarang hidupnya dan bayi laki-lakinya sekarang akan terjauh dari bahaya? Sekarang ia tidak bisa egois dengan hanya memikirkan perasaannya sendiri, disaat keselamatan anaknya kini menjadi nomor satu baginya.
Dunia Kenzo begitu berbeda dengan dunianya.
"Aku akan memikirkannya dulu. Aku tidak bisa memutuskannya sekarang, setidaknya sampai aku bisa memastikan bahwa Kenzo benar-benar bisa menjadi tempatku dan bayiku berlindung." Ujarnya.
Nathalie dan Damian pun menghormati segala keputusan Crystal dan membiarkan wanita itu untuk memutuskan apa yang terbaik bagi hidupnya.
...****************...
Enam bulan kemudian, Crystal dan Nathalie kini sedang berada di ruang keluarga, sedangkan bayi laki-lakinya sedang tertidur pulas di dalam kamar.
"Crys, apa kau sudah tau masa lalu Kenzo? Apa pria itu pernah menceritakannya?" Tanya Nathalie tiba-tiba membahas mengenai Kenzo.
Crystal menggeleng. "Tidak banyak yang kutau tentang masa lalunya." Ujarnya.
"Aku juga hanya tau garis besarnya dari Desmond. Kau mau mendengarnya?" Tanya Nath yang dibalas anggukan oleh Crystal.
"Jadi, Kenzo tinggal bersama ibunya sejak dia lahir, tanpa sosok seorang Ayah. Ibunya tidak pernah menyayanginya seperti hubungan anak dan orang tua lainnya. Ketika beranjak remaja, dia dijual sebagai alat pemuas na*su kepada para kenalan ibunya." Crystal menutup mulut dengan wajah kaget dan sedih. Ia tidak habis pikir bagaimana badan kecil Kenzo sudah menerima pelecehan seksual, bahkan pelakunya adalah Ibunya sendiri.
"Karena itulah, sisi lain Kenzo akhirnya tumbuh yaitu Levin. Levin memprovokasi untuk membunuh ibunya dan akhirnya membakar seluruh rumah yang saat itu terdapat istri Sergio di dalamnya. Saat itulah Kenzo masuk ke dalam dunia gelap Sergio, sampai akhirnya ia memilih untuk mengikuti Davin Raveno."
"Sergio memang merelakan kepergiannya, namun tidak akan pernah melepaskan Kenzo dari ikatannya. Sergio memanfaatkan Desmond untuk membawa Kenzo kembali kepadanya dalam waktu dekat maupun tidak, sampai akhirnya semua kejadian ini terjadi."
"Desmond memberiku misi untuk membuat Kenzo mencintaiku dan ternyata berhasil, sehingga kami akhirnya berpacaran. Sampai ketika proyek ayahmu terpapar dihadapan publik, pria itu jadi tergila-gila untuk menguasainya, karena itulah dia berinvestasi pada perusahaan ayahmu, begitupula dengan Kenzo."
"Ketika ayahmu memutuskan untuk tidak melanjutkan penelitiannya, Desmond saat itu benar-benar menggila. Pria itu akhirnya menyusun rencana agar ayahmu mau melanjutkan penelitiannya dengan mengancam seluruh nyawa keluargamu. Ayahmu setuju untuk melanjutkannya, namun Desmond menjadi tamak dan ingin menjalankan penelitian itu sendiri."
"Saat itulah Desmond membuat bukti palsu bahwa ayahmu sudah mengkhianati para investor. Desmond memprovokasi Kenzo untuk membunuh seluruh keluarga pengkhianat, karena sejak awal begitulah cara kerja di dunia gelap mereka."
"Namun Kenzo saat itu menolak dan akan menerima ganti rugi dari ayahmu seperti yang tertulis di dalam kontrak. Tapi Desmond tidak kehilangan akal, dia malah menggunakan hubungan diantara aku dan Kenzo untuk membuat Kenzo setuju dengan usulannya."
"Saat itulah Desmond menyuruhku untuk menghilang dari hadapan Kenzo tanpa kabar apapun. Karena kepergianku, Kenzo jadi tidak bisa berpikiran jernih, karena itulah ia berhasil diprovokasi oleh Desmond untuk ikut membunuh seluruh keluargamu."
Crystal mendengar begitu seksama.
"Tapi kau pasti tau bahwa Kenzo tidak membunuh satupun keluargamu dengan tangannya. Itu semua adalah perbuatan Desmond." Crystal mengangguk mengiyakan ucapan Nathalie.
Nathalie menatap Crystal sambil tersenyum tipis.
"Kenzo adalah pria yang baik dan orang yang setia kepada wanita yang dia cintai. Kau tidak perlu meragukan cintanya, bahkan dia akan melakukan apapun untukmu. Dia hanyalah pria yang sejak kecil tidak tau bagaimana rasanya dicintai dan dia mendapatkan semua itu darimu, karena itulah kau sangat berharga untuknya. Yang dia butuhkan hanyalah kehadiranmu di sisinya." Kata Nathalie yang seketika membuat Crystal tertampar dengan dadanya yang ikut menyesak.
Ia merasa bersalah karena tidak memikirkan bagaimana kondisi Kenzo yang sampai saat ini tidak tau mengenai keadaannya yang sebenarnya. Berbeda dengan dirinya, walaupun ia tidak berada di sisi Kenzo, ia tau bahwa pria itu masih menjalani hidupnya, sedangkan Kenzo menjalani harinya dengan menanamkan harapan bahwa Crystal masih hidup.
Ucapan Nathalie seketika menyadarkan dirinya bahwa ia telah egois tanpa memikirkan betapa kehilangannya Kenzo saat ini.
Crystal bangkit berdiri dari sofa dengan wajah memerah menahan tangis.
"Nathalie, aku ingin kembali padanya." Ujar Crystal pada Nathalie yang mendongak menatapnya dengan wajah terkejut.
Seketika wajah terkejut Nathalie berubah menjadi senyuman hangat.
"Aku ingin berada di sisinya. Aku ingin hidup dengannya dalam keadaan dan kondisi apapun dan berjuang bersamanya walaupun dunia kami berbeda." Ujarnya lagi dengan nada bergetar.
"Aku... Aku ingin memberikan semua cinta yang kupunya. A...ku ingin meminta maaf padanya." Tangis Crystal pun pecah saat itu juga dengan dadanya yang terasa begitu sesak.
Nathalie ikut bangkit berdiri, lalu memeluk tubuh Crystal yang tengah menangis.
"Kau ingat perkataanmu dulu padaku? 'Pikirkan saja kebahagiaanmu sendiri!' Kau mengatakan itu kepadaku. Kau berhak untuk mengejar kebahagiaanmu." Kata Nathalie sambil mengelus punggung Crystal yang bergetar.
Crystal mengangguk masih tetap menangis didalam pelukan Nathalie, sampai tangisannya reda.
Setelah itu, Crystal berkemas, begitupula dengan Nathalie dan Damian yang ikut dengannya. Crystal memaksa kedua orang itu untuk kembali ke kota dan memulai kehidupan baru lagi disana.
Flashback Off
Setelah bercerita panjang lebar, Crystal menatap ke arah Kenzo yang kini menunduk sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
Crystal mendekati Kenzo dengan wajah bersalah. "Maaf." Hanya itu kata-kata yang bisa terucap dari mulut Crystal.
"Ada apa? Lihat aku!" Ujar Crys panik ketika Kenzo masih menunduk dan menyembunyikan wajahnya.
"Siapa namanya?" Lirih Kenzo sambil mengangkat kepalanya untuk menatap Crystal dengan pandangan berkaca-kaca.
"Anak kita." Sambung Kenzo lagi.
Crystal tertegun mendengarnya, lalu tersenyum lembut.
"Kenneth Matteo, yang arti hadiah dari Tuhan. Ah, Kenneth artinya tampan, karena aku berharap dia bisa setampan Ayahnya." Ujar Crystal terkekeh sambil meraup kedua pipi Kenzo dan menyatukan kening mereka.
"Sekarang bisakah aku menambah nama belakangmu untuknya?" Tanya Crys lagi.
"Tentu saja, diakan anakku." Balas Kenzo cepat.
"Anak kita." Revisi Crystal tak kalah cepat.
Kenzo menarik Crystal untuk duduk di atas pangkuannya, lalu memeluk kembali wanita itu dan Crystal ikut membalas memeluk Kenzo erat.
"Terimakasih karena sudah kembali untukku." Ujar Kenzo.
"Terimakasih juga sudah menungguku." Balas Crystal.
"Maaf karena tidak menemanimu selama hamil." Desis Kenzo.
Crystal menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, itu salahku karena tidak memberitahumu. Lagipula selama di dalam perut, Kenneth tidak rewel, dia benar-benar anak yang baik." Ujar Crystal.
"Tetap saja kau pasti kesulitan melahirkan seorang diri." Ujar Kenzo lagi.
"It's okay, karena Nathalie dan Damian selalu membantuku."
Kenzo mengangkat wajahnya untuk menatap Crystal dengan pandangan berbinar. Crystal seketika dapat menebaknya dengan cepat.
"Kau ingin bertemu dengan Kenneth?" Tanya Crystal yang dibalas anggukan oleh Kenzo.
"Dia ada di kamarku, sedang tidur setelah minum susu." Ujar Crystal lagi.
"Aku hanya akan melihatnya saja, tidak akan membuatnya terbangun." Kata Kenzo.
"Janji?" Tanya Crys.
"Sure, I promise you." Balas Kenzo.
"Baiklah." Cryspun mengiyakan sambil bangkit berdiri dari pangkuan Kenzo dan pria itu ikut menyusul langkah Crystal untuk segera menemui putranya, anaknya dan Crystal, hasil dari buah cinta mereka yang bahkan tidak pernah terpikirkan olehnya.
Extra Chapter 2 End.
Next Extra Chapter 3, benar-benar chapter terakhir dan cerita ini akhirnya akan benar-benar selesai.
Jangan lupa like dan Comment
See you 🥰