
Raveno's Hospital | 11.00 AM
Manhattan
Levin melangkah ke sebuah ruangan rumah sakit dan memasukinya dengan santai. Setelah masuk, pria itu langsung menangkap sosok Damian yang terbaring di atas ranjang dengan baju rumah sakitnya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Damian dibawa ke rumah sakit bersama dengan para pengawal yang juga terluka. Damian mengalami beberapa luka memar di tubuhnya dan satu luka sayatan di lengannya.
Sekarang Damian sudah terlihat sehat dan bugar. Pria itu bangkit berdiri dari ranjangnya dan menghadap ke arah Levin yang memasang wajah datar.
"Kau terlihat sudah sehat." kata Levin basa-basi.
"Iya Mr. Duanovic." kata Damian dengan wajah sopan.
"Kalau begitu kau bisa kembali bekerja." kata Levin, lalu duduk di sofa ruangan tersebut.
"Baik Mr. Duanovic."
Levin mengeluarkan sebuah foto dan meletakkannya di atas meja. Damian menatap foto tersebut dengan wajah dingin. Matanya menangkap sosok Desmond yang menjadi objek dari lembaran foto itu.
"Dia target selanjutnya, Desmond Archer Killian." kata Levin sambil mengambil sebuah rokok dari dalam jasnya. Ia menyulut rokok tersebut dengan api, lalu menghisapnya dengan santai.
"Misinya adalah mengambil Allaric Alterio dari tangannya."
Damian bahkan tidak memasang wajah kaget sedikitpun. Ekspresinya masih sama datarnya sejak tadi. Damian hanya menjawab singkat sambil menundukkan kepalanya.
Levin menatap lekat wajah Damian seakan mempelajari setiap ekspresinya. Beberapa menit kemudian setelah satu putung rokoknya habis, pria itu bangkit berdiri dan beranjak keluar dari ruangan tersebut.
"Datanglah besok untuk bekerja." kata Levin sebelum tubuhnya ditelan oleh pintu dan menghilang.
Setelah Levin pergi, Damian segera mengangkat kepalanya dan menatap pintu tersebut dengan pandangan tajam.
***
Duanovic's Mansion.
Crystal menatap dengan mata memicing pada sebuah makanan yang tersaji dihadapannya.
"What is this?" tanya Crys pada Nath sang juru masak yang sedang melakukan percobaannya di dapur.
Setelah menghabiskan waktu 1 jam di dapur, akhirnya Nath membawakan sepiring hasil masakannya untuk dicicipi oleh Crystal.
"Omelet." jawab Nath santai dengan senyum bangga.
"Kau menghabiskan satu jam di dapur hanya untuk membuat ini?" tanya Crystal melihat telur orak-arik tersebut dengan pandangan heran.
Nath mengangguk sambil tertawa renyah. "Aku memang payah dalam hal memasak."
Crystal pun menggeleng, lalu mengambil garpunya dan mencicipi telur tersebut. Satu suapan masuk ke dalam mulutnya, sedangkan Nath menunggu tanggapan Crys dengan antusias.
Crys mengunyah perlahan dengan kening mengernyit, ya rasanya seperti telur, tidak ada yang spesial.
"Enak." kata Crys mencoba berbaik hati.
Nath bertepuk tangan ria dengan wajah girang. Crys melanjutkan memakan masakan Nath dengan perlahan, begitu pula Nath yang ikut mencicipi masakannya sendiri.
Sampai akhirnya seorang pria masuk ke dalam Mansion dan melewati meja makan dimana kedua wanita itu berada. Crystal menoleh demi menatap kedatangan Levin dengan wajah dingin dan datarnya.
"Kenzo, aku memasak makanan, kau mau mencicipinya?" tanya Nath semangat. Levin menoleh sebentar dengan wajah tak tertarik, lalu melanjutkan kembali langkahnya menaiki anak tangga.
Crystal melirik raut wajah Nath yang terlihat kecewa dengan sikap dingin Levin. "Biar kita yang habiskan saja." kata Crystal sambil memakan kembali masakan Nath.
Nath pun menoleh menatap Crys dengan senyum tipis, lalu ikut melanjutkan makannya.
Setelah makan, Crystal masuk ke dalam kamarnya sambil menguncir kuda rambutnya. Gadis itu tersentak kaget saat tangannya tiba-tiba ditarik oleh seseorang untuk masuk ke dalam, lalu memojokkan tubuh Crys ke daun pintu yang sudah tertutup rapat.
"Levin." kata Crystal kaget tak jadi mengikat rambutnya sambil menatap Levin dengan raut kesal. Levin tersenyum tipis melihat wajah kaget Crystal yang lucu.
Levin menghimpit tubuh Crystal di daun pintu dengan jarak yang begitu dekat. Kedua tangannya mengurung Crystal di antara kedua sisi kepala gadis itu. Crystal seketika merasa gugup melihat wajah Levin yang tersenyum nakal. Gadis itupun mendorong tubuh Levin menjauh, namun pria itu tetap mempertahankan posisinya.
Crystal mendengus kesal. "Kenapa kau bersembunyi di kamarku?" tanyanya.
"Just wanna see you."
Lagi-lagi Crystal mendengus dengan mata memicing curiga. "Wajahmu terlihat seperti merencanakan sesuatu." kata Crystal yang berhasil membuat Levin tertawa kecil.
Tangan Levin berpindah untuk mengelus wajah Crystal dengan jempolnya. Crystal menatap mata Levin yang seakan menyerap seluruh perhatiannya.
"Aku sudah mengganti bajuku." kata Levin.
"Tetap saja, aku tidak suka bau rokok." mencoba mendorong Levin dengan raut tak senang. Namun Levin tetap bertahan di posisinya dan tak bergerak sedikitpun yang berhasil membuat Crystal menatap pria itu kesal.
"Kau terlalu kasar pada Nath, dia bisa curiga kalau kau bukanlah Kenzo." kata Crys angkat bicara.
Levin mendecih. "Kau tidak bisa melihatnya bermain peran di depanmu?" tanya Levin mengubah wajahnya menjadi dingin.
"Dia pasti sudah tau bahwa aku bukanlah Kenzo." kata Levin sambil menjauhkan jemarinya dari wajah cantik Crystal.
"Tidak mungkin." kata Crystal tak percaya.
"Dia adalah serigala berbulu domba."
"Dia sangat mencintai Kenzo."
"Ya, mencintai hartanya, mungkin."
"Tetapi untuk apa dia pergi kalau memang menginginkan harta Kenzo?"
"Karena dia semakin tamak." Crystal semakin mengernyit mendengar perkataan Levin yang tidak bisa ia cerna dengan baik.
"Kau harus berhati-hati dengannya, dia tidak sebaik kelihatannya." kata Levin lagi sambil menyingkirkan rambut Crystal ke belakang telinga gadis itu.
Jika memang Nathalie seburuk yang dikatakan Levin, apakah Kenzo juga tau sifat wanita itu sebenarnya?
"Apa Kenzo tau?" tanya Crys.
Levin menggidikkan bahunya. "Mungkin iya, mungkin tidak." kata Levin lebih membingungkan lagi.
Crystal mendecak, lalu mendorong tubuh Levin lagi dan akhirnya ia berhasil keluar dari perangkap pria itu. Crystal berjalan ke arah ranjangnya lalu duduk di sana.
"Kalau memang Nath tidak baik, kau harusnya membantu Kenzo menyadarinya." kata Crys.
"Aku sudah melakukannya, itu pilihannya untuk percaya atau tidak."
Levin berjalan ke arah Crystal, lalu tiba-tiba mendorong gadis itu untuk berbaring di atas ranjang dan menindih tubuhnya.
"Levin."
Levin lagi-lagi tersenyum miring. "Berhenti membahasnya, aku tidak suka." kata Levin menatap Crys dengan pandangan tajam.
Crystalpun menepuk dada pria di atasnya berulang kali karena merasa terhimpit. "Kau berat."
Levin tiba-tiba menarik tengkuk Crys, lalu menabrak bibir gadis itu yang sejak tadi menggoda dirinya untuk mencicipinya.
Bibir Levin yang panas bergerak di atas bibir Crystal dengan penuh kelembutan. Crystal terlihat menutup matanya dan entah kenapa ia terdiam seakan menikmati permainan pria itu.
Tanpa sadar tangan gadis itu merambat ke rambut Levin dan menjambaknya pelan. Sedangkan Levin yang merasakan bahwa Crystal mulai menerima dirinya ikut tersenyum senang di balik pangutan mereka.
Perlahan-lahan Crystal juga mulai membalas gerakan bibir Levin dengan ragu-ragu. Namun pria itu menciumnya seakan menuntunnya dengan sangat ahli.
Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu yang berhasil menyadarkan Crystal dan membuat gadis itu dengan cepat mendorong tubuh Levin sekuat tenaga dengan wajah gugup.
"Crys, ayo bermain di taman." teriak Nath dari luar kamarnya.
Crystal menatap wajah Levin yang kini memasang raut menahan emosi. Rasanya pria itu ingin langsung membunuh wanita di luar sana yang sudah mengganggu kegiatan menyenangkannya.
"Crys."
"Sebentar, aku sedang ganti baju." jawab Crys setengah berteriak sambil bangkit berdiri dari atas ranjang.
"Jangan keluar!" tekan Crys menatap Levin tajam, lalu masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaiannya.
Sedangkan seseorang di luar sana kini sedang tersenyum sinis kemenangan. "Aku tidak akan membiarkanmu berlama-lama dengan Levin di dalam sana." batin Nathalie tidak senang.
Bersambung...
Next Up : Lusa
Kalau Levin tau Damian pengkhianat, kira2 kenapa ya dia nyuruh Damian untuk nyelamatin kakak Crys dari Desmond?? ada yang tau?
Jangan lupa like, share, dan Comment😘