
Damian menatap seorang wanita yang sedang asik dengan dunianya sendiri. Wanita itu adalah Crystal yang kini berada di taman Mansion sambil membaca lembaran-lembaran kertas di tangannya.
Damian hanya berdiri di samping Crystal, karena sudah tugasnya untuk selalu mengawal dan menjaga wanita itu.
Damian jelas tau apa yang sedang Crystal baca. Itu adalah berkas-berkas mengenai kejadian 10 tahun yang lalu. Damian yakin berkas tersebut diberikan oleh Kenzo.
"Sudah waktunya jam makan siang Nona." Ujar Damian setelah melirik jam di pergelangan tangannya.
"Sebentar lagi." Ujar Crys tak mengalihkan matanya sedikitpun. Ia sangat fokus dengan bacaannya. Damian diam dan hanya bisa patuh dengan perkataan Crystal.
Tiba-tiba sebuah pesan terdengar di ear piece yang Damian gunakan. Damian refleks menyentuh telingannya dan mendengar ucapan seseorang dari seberang sana.
"Kau diperintahkan untuk membawa Nona Alterio ke kantor Mr. Duanovic."
"Baik." Jawab Damian, lalu tidak ada lagi percakapan antara mereka.
"Saya diperintahkan untuk membawa anda ke Perusahaan Mr. Duanovic." Seketika kepala Crys menoleh dan menatap Dmaian dengan mata membulat.
"Benarkah?" Tanya Crys tak percaya.
"Ya Nona." Crys membereskan berkas di tangannya dengan cepat, lalu beranjak dengan semangat.
"Kalau begitu ayo pergi." Crystal berjalan mendahului Damian menuju teras, dimana mobil mereka sudah siap untuk berangkat.
***
Crystal keluar dari lift setelah kotak besi tersebut berhenti di sebuah lantai yang ia tuju. Crys berjalan menuju ruangan Kenzo, bersama dengan Damian yang selalu berjalan di belakangnya.
"Letta." Crys menatap sosok Karina yang sudah cukup lama tidak ia temui.
Crys tersenyum manis sambil melambai menghampiri sosok Karina yang baru keluar dari ruangan Kenzo.
"Kau jarang sekali datang ke kantor." Ujar Karina sambil mengerucutkan bibirnya setelah mereka berhadapan.
"Salahkan Kenzo." Kata Crys.
Karina menatap Crys lekat. "Aku benarkan kalau kalian memang punya hubungan?" Cecar Karina memicingkan matanya menatap Crys curiga.
Karina sedikit terkejut ketika Crystal menyebut nama Atasan mereka dengan begitu frontal, karena itulah ia langsung mencecar Crys.l dengan pertanyaannya.
Crystal menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil memasang ekspresi yang mencurigakan.
"Tidak ada hubungan apapun." Jawab Crys menatap mata Karina yang masih menatapnya tajam.
Jika dipikir-pikir, Crys juga tidak berbohong. Sejujurnya ia tidak mengerti hubungan seperti apa yang ia jalani dengan Kenzo. Pria itu tidak pernah mengajaknya berhubungan secara resmi.
Karina mendengus, namun beberapa detik kemudian matanya membulat. "Apa jangan-jangan dia tidak memberimu kepastian?" Tanya Karina dengan wajah kaget.
Crystal terdiam membenarkan perkataan Karina di dalam hatinya. Karina langsung mengetahui jawabannya dari keterdiaman wanita di depannya itu. Kirana menyimpulkan bahwa Kenzo tidak memberi kepastian tentang hubungannya dengan Crystal.
Karina mendekatkan wajahnya dan berbisik pada Crystal. "Kita harus berbincang berdua jika kau ingin tau lebih banyak tentang masalah percintaan." Ujar Karina yang berhasil membuat Crystal tertarik dan penasaran karena ia memang tidak pernah tau hal-hal seperti itu.
Karina menjauhkan wajahnya, lalu melambai pada Crystal dengan senyuman penuh makna.
"See You Letta." Ujarnya.
Crystal melambai singkat, lalu ia mengulurkan tangannya untuk membuka pintu ruangan Kenzo yang tertutup rapat. Damian berdiri di luar, tepat disamping pintu, sedangkan Crystal masuk ke dalam.
Crys menatap Kenzo yang sedang memeriksa berkasnya, lalu mengangkat wajahnya setelah Crystal berjalan mendekati mejanya.
"Ada apa?" Tanya Crystal langsung.
"Malam ini akan ada acara peresmian cabang baru perusahaanku. Tunggulah disini, kita akan pergi bersama." Ujar Kenzo.
"Aku tidak punya baju." Ujarku terkejut setelah mendengarnya.
"Kita akan pulang setelah pekerjaanku selesai. Aku sudah menyuruh orang untuk datang ke Mansion dan meriasmu nanti malam." Jawab Kenzo lagi yang berhasil membuat kening Crystal mengerut.
Jika mereka akan pulang kembali ke Mansion, lalu untuk apa Kenzo repot-repot menyuruh Crys datang ke kantornya.
"Lalu untuk apa menyuruhku datang ke kantor kalau kita bakalan ke Mansionmu lagi?" Tanya Crys bingung.
Kenzo hanya menaikkan bahunya santai. "Bukannya kau bosan di Mansion terus menerus?" Ujar Kenzo menatap Crys lekat.
"Iya sih, tapi aneh saja karena terlalu tiba-tiba." Kata Crystal yang berdiri di depan meja Kenzo.
Crystal menatap mata Kenzo yang masih menatapnya lekat. "Kalau begitu, boleh aku berbincang dengan Karina?" Tanyaku lagi.
Kenzo mengangguk. "Hanya di area kantor." Ujarnya singkat.
Crystal mengangguk sambil tersenyum senang. "Kalau begitu aku pergi ya, aku akan kembali lagi nanti, Bye." Ujar Crys kegirangan, lalu melangkah pergi begitu saja meninggalkan sosok Kenzo yang masih menatap wanita itu sampai menghilang ditelan pintu.
Setelah Crys pergi, Kenzo segera mengambil ponselnya dan mendial nomor Ansell.
"Lakukan sekarang!" Ujar Kenzo setelah panggilannya tersambung, lalu meletakkan ponselnya kembali di atas meja.
Hari ini Kenzo sengaja menyuruh Crystal datang ke kantornya agar wanita itu tidak berada di Mansion. Kenzo menyuruh Ansell untuk memindahkan seluruh pengawal dan pelayan ke Mansionnya yang baru, termasuk Allaric dan Nathalie.
Mulai hari ini, mereka akan pindah ke Mansion yang baru saja ia beli dan sudah ia rombak sebagai penjara tak kasat mata.
Kini, tembok tidak hanya punya telinga, namun juga sudah punya Mata. Tidak ada satu sudutpun di Mansion ini yang tidak terlihat oleh kamera tersembunyi yang sudah dipasang oleh Ansell.
Kenzo tau bahwa Nathalie dan Damian akan segera curiga dan waspada setelah kejadian hari ini. Tapi memang itulah yang ia inginkan, agar mereka sadar bahwa kini seluruh pergerakan mereka di Mansionnya, berada di bawah pengawasan matanya.
Bersambung...