
Crystal menatap sebuah gedung tinggi dan besar yang berada dihadapannya dengan takjub. Ia mendongakkan wajahnya ke atas, sampai kepalanya pening saat matanya ingin melihat puncak gedung tersebut.
Crys tersadar dari ketakjubannya, lalu melangkah mengikuti Kenzo yang sudah masuk ke dalam gedung tersebut. Crystal ikut menunduk saat para penjaga menyambut kedatangan Kenzo disana. Lagi-lagi ia menatap takjub saat para karyawan menunduk ketika pria itu lewat.
Crystal menatap punggung lebar Kenzo yang terlihat kokoh dengan lekat. Entah kenapa matanya melekat sempurna saat ia menyadari cara berjalan Kenzo yang terlihat sangat bermartabat.
Pria itu tidak banyak bicara, matanya sangat tajam dan menusuk, wajahnya juga selalu datar dan auranya sangat dingin dan kejam. Punggung tegap dan kokoh itu entah kenapa terlihat menyedihkan di mata Crystal.
Crystal berjalan melamun dan tak lagi memperhatikan sekitarnya, ia hanya memperhatikan Kenzo dari belakang dengan segala pikirannya.
Bruk.
"Aws." Crystal meringis sambil mengusap hidungnya yang baru saja tertabrak sesuatu yang lumayan keras. Kenzo menoleh ke belakang saat ia merasakan punggungnya ditubruk oleh seseorang, yang pastinya ia tau siapa pelakunya.
Kenzo menatap tajam dan dingin pada Crys yang menunduk bersalah di belakangnya. "Maaf." ujar Crys tak berani menatap mata Kenzo. Crystal mengutuk dirinya sendiri karena tidak fokus berjalan, hingga ia tanpa sadar menabrak punggung kokoh pria dihadapannya itu.
'Lagipula kenapa dia tiba-tiba berhenti sih?' batin Crys berteriak kesal.
Crystal menggeser kepalanya ke samping untuk melihat ke arah depan karena matanya ditutupi oleh badan besar Kenzo.
"Ah, Lift sialan." gerutu Crys pelan. Ternyata Kenzo berhenti karena menunggu lift terbuka.
Kenzo kembali berjalan dan masuk ke dalam lift khusus yang kini sudah terbuka. Crystal ikut masuk dan berdiri di belakang Kenzo tanpa membuka suaranya.
Di dalam kotak besi tersebut, dua anak manusia itu hanya diam tak buka suara. Hingga mereka sampai ke lantai tujuan, lalu keluar dari kotak besi itu dan berjalan masuk ke sebuah ruangan dengan pintu besar dan mewah.
Crystal ikut masuk ke dalam dan menatap takjub sekelilingnya. Crystal menatap kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota dan gedung-gedung tinggi yang indah. Sedangkan Kenzo berjalan santai dan duduk di kursi kebesarannya.
"Buatkan aku kopi!" Crys menoleh singkat ke arah Kenzo saat pria itu memberinya perintah. Setelah itu, ia mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan dan menemukan mesin pembuat kopi di sebuah meja.
Crystal melangkah ke meja tersebut, memasukkan bubuk kopi ke dalam mesin, lalu meletakkan sebuah cangkir di tempat keluarnya kopi. Crys berdiri sambil menunggu cangkir tersebut terisi penuh.
'Oh iya, dia suka kopi manis atau pahit ya?' batin Crys bertanya.
Crys mencoba mencari tempat gula di meja tersebut dan tidak menemukannya. 'Ahh, berarti dia tidak suka kopi manis.' lanjutnya lagi dalam hati sambil tersenyum yakin.
Setelah cangkir tersebut terisi, Crystal membawa secangkir kopi buatannya ke arah Kenzo, lalu meletakkannya di atas meja. "Ini kopi anda Tuan." ujar Crys sopan sambil tersenyum lembut.
Kenzo yang mendengarnya langsung menatap wajah Crys lekat. Terlihat jelas gadis didepannya ini memaksakan untuk tersenyum dan berbicara sopan padanya.
Kenzo memalingkan wajahnya lagi ke arah berkas yang sejak tadi ia baca. "Duduk diam disana!" titah Kenzo.
Crys melunturkan senyumnya setelah mendengar nada penuh perintah tersebut. Crystal mencebik bibir kesal, lalu berjalan ke arah sofa ruangan tersebut dan duduk disana.
Crystal menatap wajah Kenzo yang terlihat sangat fokus dengan berkasnya. Matanya tanpa sadar menyusuri tiap lekuk pahatan wajah Kenzo yang sempurna. Matanya, hidungnya, hingga bibirnya. Crys menggeleng cepat saat menyadari bahwa ia tengah mengagumi seorang iblis.
'Sadarlah Crys.' batin Crys berteriak sambil memukul pipinya beberapa kali.
Tiba-tiba bunyi ketukan pintu terdengar nyaring dan menginterupsi kegiatan mereka. Crys menoleh ke arah pintu tersebut dengan penasaran. "Masuk!" Setelah mendengar perintah Kenzo, pintu terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik dengan balutan baju kerjanya.
'Woah, cantik.' batin Crys terpukau. Wanita itu masuk ke dalam dan berjalan ke arah Kenzo dengan berkas ditangannya.
"Mr. Duanovic, ini berkas rapat hari ini." ujar wanita itu sopan sambil menyerahkan berkas yang ia bawa kepada Kenzo.
"Baik." jawab Kenzo singkat tanpa menoleh sedikitpun.
"Saya akan memfotocopy berkasnya setelah anda mengecek kembali berkasnya." ujar wanita itu lagi.
"Tidak perlu, keluar!" kata Kenzo dingin masih tak menolehkan wajahnya dari berkas.
'Ck, dasar pria dingin hati.' batin Crys mendecak kesal.
"Baik."
Wanita itu menunduk sebentar, lalu berjalan kembali keluar dari ruangan. Namun sekilas wanita itu menoleh dan menatap ke arah Crystal dengan raut tak terbaca.
"Kemari!" Crys menoleh saat mendengar suara Kenzo.
Crys bangkit berdiri dan berjalan ke arah meja Kenzo. Setelah sampai, Kenzo meletakkan berkas yang tadi dibawa wanita sebelumnya kepadanya.
"Lantai 76, fotocopy masing-masing seratus rangkap!" mataku membulat mendengarnya.
Seratus rangkap? yang benar saja? Satu berkas saja bisa 20 lembar, bagaimana bisa dia membawa semuanya sekaligus nanti. Apa Kenzo mencoba mengerjainya?
Dan ini ada tiga berkas yang harus ia kerjakan. Crystal menghela nafas pasrah. "Baik Tuan." ujar Crys terdengar ogah-ogahan, lalu ia membawa berkas tersebut dan berjalan keluar dari ruangan itu dengan langkah setengah hati.
Crystal masuk ke dalam lift, menekan angka 76 dan keluar dari lift tersebut. Crys menatap para karyawan yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka. Mereka terlihat sibuk di kubikel masing-masing dengan tugas masing-masing juga.
Crystal mengedarkan pandangannya mencari mesin fotocopy dan akhirnya menemukannya. Crys berjalan ke sana dan langsung mengerjakan tugasnya. Mulai dari berkas pertama, meletakkan satu-persatu lembar kertas ke atas kaca, lalu menyetel mesin untuk menyalinnya menjadi seratus rangkap.
Selagi menunggu, Crystal mengedarkan matanya ke seluruh penjuru ruangan. Matanya menatap setiap orang yang benar-benar sibuk dengan kerjaan masing-masing.
'Oh jadi begini kehidupan orang yang bekerja kantoran.' Batin Crys
"Permisi, anda siapa?" Crys langsung menoleh ke sumber suara dengan wajah terkejut.
Crys menatap seorang pria dengan setelan jasnya yang rapi dan ia dapat melihat kartu pegawai yang tergantung di lehernya. "Ah, saya bawahan pribadi Mr. Duanovic. Saya disuruh untuk memperbanyak beberapa berkas." ujar Crys terbata-bata.
Pria itu mengernyit heran, satu alis matanya naik ke atas. "Biasanya Ms. Karina yang melakukan tugas ini." ujar Pria itu yang kini kubalas dengan kernyitan bingung.
'Karina? Apa jangan-jangan wanita yang mengantar berkas itu?' batin Crys berpikir keras.
"Allan, tinggalkan dia, dia memang bawahan Mr. Duanovic." ujar seseorang yang tiba-tiba datang dan masuk ke dalam percakapan mereka.
"Ms. Karina." ujar pria bernama Allan itu kaget.
Crys menoleh ke sumber suara dan mendapati wanita yang ia lihat di ruangan Kenzo tadi. Wanita yang dipanggil Karina itu melangkah mendekati Crystal dan berdiri di hadapan gadis itu dengan kaki panjangnya. Wanita itu tersenyum lembut padanya.
"Perkenalkan aku Karina." ujar wanita itu sambil mengulurkan tangannya di depan Crystal.
Crystal menatap ukuran tangan tersebut dengan pandangan bertanya, lalu akhirnya menjabat tangan tersebut dengan ragu-ragu. "Saya Cry.... Ahh maksudnya nama saya Letta." ujar Crystal menggeleng cepat saat ia hampir memberitahu nama depannya.
Sebaiknya Crystal menyembunyikan identitas aslinya dulu saat ini karena ia masih dalam pengawasan Kenzo.
"Salam kenal." ujar Karina sambil tersenyum manis. Crystal membalas dengan tersenyum kikuk.
"Allan, kembalilah bekerja!" ujar Karina menatap Allan sebentar. "Baik." ujar Allan menunduk singkat, lalu berjalan ke arah kubikelnya.
Karina menatap Crystal lekat, lalu mengajak gadis itu untuk duduk di sofa yang berdada di ruangan itu. "Ayo duduk!" ajak Karina sambil melangkah mendahului Crystal. Crystal tanpa banyak bicara mengikuti langkah Karina dari belakang dan duduk dengan sopan.
"Bagaimana kalau siang ini kita makan siang bersama di kantin?" tanya Karina tiba-tiba setelah mereka duduk disana.
Crystal memasang wajah kikuk dan bingung harus mengatakan apa. "Ahh, saya harus meminta ijin dulu dengan Mr. Duanovic." ujar Crystal gugup.
Karina terdiam dan menatap lekat mata Crys dengan matanya yang terlihat tajam menelisik seperti singa yang sedang mengintai musuhnya. "Apa kau keberatan jika aku bertanya tentang hubunganmu dengan Mr. Duanovic?" tanya Karina dengan mata tajamnya, namun ia tersenyum manis layaknya wanita polos.
Crystal memilin jari-jarinya sambil memutar otak. Entah kenapa tubuhnya jadi berkeringat dan seisi ruangan terasa panas. "Hubungan atasan dan bawahan." jawab Crystal singkat, padat dan jelas. Terlihat jelas Crystal risih dengan pembicaraan ini.
Mendengar jawaban itu Karina melebarkan senyumnya, lalu bangkit berdiri. "Sepertinya aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi. Kuharap lain kali kita bisa berbincang sepuasnya dengan nyaman dan menjadi lebih dekat." ujar Karina sopan masih dengan senyumnya yang terlihat lembut, lalu ia melangkah menjauhi tempat dimana Crystal duduk.
Crystal masih terdiam sambil menatap punggung wanita tersebut yang mulai menjauh dan akhirnya perlahan menghilang. Setelah itu, ia mengernyitkan keningnya heran dan otaknya terus berputar karena merasakan ada yang aneh dengan wanita itu. Crystal menggeleng mencoba menghilangkan prasangka buruknya tentang wanita itu.
'Mulai sekarang aku harus memakai identitas palsu di kantor ini.' batin Crys lagi setelah mengingat bahwa ia harus memantapkan diri untuk tidak mengakui identitas aslinya di depan orang banyak.
Bersambung...
Appreciated Me with your Love, Vote, and Comment. Share cerita ini ke teman kalian biar lapak ini makin ramai ya.
Next Chapter : Sabtu (27/2)