
Dor
Dor
Suara tembakan itu menggema di dalam kamar. Gadis kecil yang bersembunyi di dalam lemari tersebut tersentak kaget sambil berusaha terus menutup mulutnya rapat. Keringat bercucuran dari kening dan pelipisnya, berbarengan dengan air hangat yang mengucur dari pelupuk matanya ketika ia melihat tubuh Mamanya yang terbaring tak bernyawa.
Air matanya menetes. Tidak ada suara apapun selain petir yang menyambar dan suara gemuruh guntur serta kilat yang masuk melalui jendela dan balkon. Crys mencoba membuka matanya menatap ke celah lemari sambil terisak dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Mama." batinnya berteriak dengan dada yang begitu sesak sambil meggigit bibirnya keras agar ia tak mengeluarkan suara apapun.
Kilat kembali menyambar, memperlihatkan sosok pria yang berdiri dengan pistol di tangannya dan wajahnya yang tidak terlalu jelas karena berdiri menyamping. Gadis kecil tersebut hanya bisa melihat sebuah tato di bawah telinga kanannya, tepat di bagian leher.
Tato seperti huruf P namun cekungannya terdapat di tengah garis. Pria tersebut terlihat berdiri tegap tanpa membuka suara dan menatap tubuh tak bernyawa Mamanya dengan dingin.
Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang pria itu dan berdiri berdampingan dengannya sambil menatap mayat wanita paruh baya tersebut dengan wajah datar.
"Sudah mati."
Crystal kecil semakin terisak mendengar ucapan tersebut. Pria yang baru muncul tersebut jongkok dan menatap tubuh tak bernyawa Mamanya, lalu tangannya terulur untuk menarik kalung yang Mamanya pakai.
Kalung dengan bentuk sayap kupu-kupu, namun terdapat sepasang pria dan wanita di tengahnya seperti sedang terbang dengan sayap tersebut.
"Kita bisa membuatnya bicara dengan menggunakan putra-putrinya." ujar pria yang baru datang tersebut sambil menatap Kenzo lekat yang masih berdiri diam di tempatnya.
"Mereka tidak ada di sini." ujar Kenzo dingin, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut setelah mengucapkan kalimat tersebut.
Namun satu hal yang tidak pria itu sadari adalah, setelah Kenzo membalikkan badannya, sudut matanya melirik ke arah lemari yang berada di dalam ruangan tersebut. Lemari dimana Crystal kecil bersembunyi.
Setelah Kenzo pergi dari sana, pria satu lagi yang ada disana ikut pergi menyusul Kenzo.
Crystal mengintip dari celah lemari guna memastikan tidak ada siapapun lagi di kamar tersebut. Setelah memastikan dengan yakin, Crystal kecil langsung membuka pintu dengan wajah yang penuh air mata.
Ia menangis sambil berlari ke arah tubuh Mamanya yang sudah tak bernyawa dan darah yang mengucur di lantai.
Crystal terduduk lemas di atas lantai sambil memeluk tubuh Ibunya dengan erat. "Mama bangun! Ayo kita kabur! Mama, hiks, Crystal takut." gadis kecil itu terlihat sangat menyedihkan sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ibunya.
Tak ada sahutan apapun. Ruangan tersebut sangat sunyi dan hanya terdengar suara gemuruh dan suara tangisnya yang terdengar menyakitkan.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang perlahan mulai mendekatinya. Crystal langsung mendongak dengan wajah takut ke arah sumber suara.
Wajahnya yang penuh air mata dan pandangannya yang terlihat memburam, menatap sosok pria yang masuk ke dalam ruangan tersebut dengan sebuah pistol di tangannya.
Bibir Crystal bergetar ketika menyadari bahwa kini nyawanya sedang terancam. Crystal mengusap air matanya dan menatap pria itu dengan wajah menyedihkannya.
Matanya memerah dan air mata tak henti-hentinya turun membasahi pipinya. "Tolong selamatkan Mamaku." desis gadis kecil itu tak berdaya dengan ekspresi memohon. Kini ia bahkan tidak peduli lagi dengan nyawanya. Jika dia mati saat ini, maka dia akan segera menyusul Ibunya. Memikirkan hal itu membuat hati gadis kecil itu sedikit tenang.
Pistol pria itu perlahan-lahan mulai terangkat dan tertuju kepadanya. Crystal kecil hanya dapat terduduk pasrah sambil menggenggam erat tangan Ibunya. Dalam hati ia berkata bahwa ia sebentar lagi akan menyusul Ibunya.
Dor
"Hughh." Tubuh Crystal terhentak dari atas ranjang sambil membuka matanya lebar dengan ekspresi terkejut. Keringat dingin mengucur di pelipisnya dan nafasnya terdengar ngos-ngosan.
Crystal terduduk di atas ranjang sambil menarik nafas dalam-dalam seakan ia kesulitan bernafas dalam sekejab. Ia menatap ke sekelilingnya dengan wajah panik.
Ketika menyadari bahwa ia berada di dalam kamarnya, perlahan-lahan gadis itu mulai tenang. Gadis itu merenggut rambutnya yang berantakan sambil menutup matanya untuk menenangkan dirinya sendiri.
"Huhh." Ia membuang nafasnya kasar, lalu meraih segelas air di atas nakas dan meneguk habis isinya dalam sekejab.
Mimpi itu lagi. Mimpi buruk yang selalu menghantuinya sejak ia kehilangan kedua orangtuanya. Mimpi yang selalu datang dan mengingatkannya untuk membalas dendam pada pria yang telah membunuh orang tuanya. Mimpi itu seakan alarm yang selalu menghantuinya untuk terus mengingat kejadian berdarah tersebut. Memaksanya untuk tidak melupakan pembunuhan keji yang terjadi tepat di depan matanya.
Crystal menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 6 pagi. Ia menyingkirkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, lalu beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi.
Ia butuh mandi untuk menyegarkan kembali pikirannya yang kini dipenuhi oleh rasa bersalah. Entah kenapa kini ia merasa sangat bersalah setelah mimpi itu kembali menghantuinya.
***
Crystal menuruni anak tangga satu persatu, lalu berjalan menuju ruang makan. Matanya menangkap sosok Levin yang sudah duduk di meja makan sambil memakan sarapannya dengan tenang.
Crystal duduk di sebelah pria itu tanpa menyapanya sedikitpun. Gadis itu dengan diam juga memakan sarapannya. Suasana di meja makan tersebut terasa sangat dingin dan tak tersentuh karena tidak ada percakapan apapun.
Wajah Levin pun terlihat datar-datar saja sejak tadi. Beberapa menit kemudian, Crystal mulai menyadari sedikit kejanggalan.
Gadis itu melihat ke sekitarnya dan tak mendapati Damian sejak ia keluar dari kamar. Sejak kemarin pria itu tidak terlihat batang hidungnya semenjak Levin membawanya pulang dari kantor dalam keadaan tertidur. Dimana pria itu?
"Dimana Damian?" tanya Crystal sambil menatap Levin lekat.
Gerakan tangan pria itu langsung terhenti setelah mendengar suara Crystal, lalu setelahnya mata dinginnya terangkat guna menatap balik gadis itu.
"Damian?" tanya pria itu.
"Hmm, dimana dia? Semenjak kejadian percobaan pembunuhan kemarin di dalam mobil, aku tidak melihatnya setelah itu." kata Crystal.
Levin terlihat terdiam sambil menatap wajah Crystal lekat.
"Siapa Damian?"
Mata Crystal menatap sorot dingin pria di depannya dengan sorot heran. Mata gadis itu seakan menusuk lebih dalam pada mata dingin pria di hadapannya. Kening Crystal mengerut, namun setelahnya mata gadis itu membola dengan lebar dan mulutnya ikut menganga kaget.
"Kenzo?"
Bersambung...