Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chaper 72



Tangan Crys tanpa sadar bergetar diatas meja. Vania menatap seluruh pergerakan wanita itu dengan lekat. “Ada apa Crys?” Tanya Vania khawatir.


Crystal tersadar dari lamunannya dan beralih menatap Vania dengan senyuman yang terlihat dipaksakan.


"Tidak apa-apa." Jawabnya sambil menggeleng. Tangannya yang kini terasa dingin saling bertaut di atas meja. Crystal memejamkan matanya, mencoba untuk menghilangkan pikiran-pikiran buruk dari kepalanya.


Crys membuka matanya kembali sambil membuang nafasnya yang terasa berat. “Maaf, saya permisi ke toilet sebentar.” Ujar Crys sambil bangkit berdiri dari kursinya, lalu pergi dari sana.


Vania menatap kepergian Crystal dengan raut khawatir. Ia takut terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu. Vania dengan cepat menggendong Vano, lalu menghampiri Davin dan Kenzo.


“Dave, maaf aku mengganggu waktu berbincang kalian.” Ujar Vania pada suaminya setelah ia sampai di tempat mereka.


“Ada apa sayang?” Tanya Dave menatap raut wajah Vania yang terlihat panik. Pria itu meraih Vano dari gendongan Vania dan beralih menggendong anaknya.


“Sepertinya ada sesuatu yang terjadi pada Crystal, tiba-tiba dia terlihat pucat dan bergetar.” Ujar Vania menatap Kenzo.


Dengan cepat Kenzo menoleh ke arah tempat duduk mereka dan tidak mendapati Crystal disana. Seketika Kenzo kembali menatap Vania lekat.


“Dimana dia?” Tanya Kenzo cepat sambil menurunkan Vian di atas lantai.


“Dia bilang ke toilet.”


Kenzo segera pergi menuju ke arah toilet untuk menemukan Crystal. Ia tidak tau apa yang terjadi pada wanita itu, namun yang membuatnya panik adalah dikarenakan keberadaan Desmond yang juga berada di hotel ini. Desmond bisa saja merencanakan sesuatu pada Crystal disaat ia lengah.


Kenzo berjalan di area koridor toilet, melangkah menuju toilet wanita dan langsung masuk begitu saja sambil mendorong pintu tersebut dengan kasar.


Beberapa wanita yang sedang berdiri di depan cermin, terkejut mendengar suara pintu yang dibuka dengan kasar dan seorang pria yang muncul dari sana. Disaat mereka ingin berteriak, mulut mereka malah bungkam ketika sosok Kenzolah yang masuk ke dalam toilet.


“Keluar!”


Mereka buru-buru keluar dari toilet dengan wajah menunduk, ketika melihat raut tak bersahabat dari pria itu. Setelah beberapa wanita tersebut keluar, tidak ada siapapun yang tersisa di dalam sana.


“Crystal.” Kenzo memanggil namanya sambil berjalan semakin dalam ke dalam toilet.


Setelah memanggil nama wanita itu, sebuah pintu paling pinggir terbuka dengan pelan. Kenzo menatap pintu tersebut dan muncullah sosok Crys dengan wajahnya yang terlihat pucat dan dingin.


Setelah melihat keberadaan Crystal tepat di depan matanya, raut tegang Kenzo perlahan mulai tenang.


“Ada apa?” Kenzo mendekat, lalu mencoba meraih pipi Crys, namun dengan cepat tangannya ditepis kasar oleh wanita itu.


Kenzo bingung dan terkejut dengan respon wanita itu. Ia menatap Crys dalam.


“Berapa lama lagi kau akan menipuku Kenzo?” Crys menatap Kenzo tajam.


Kenzo akhirnya tau apa yang sudah terjadi. Kedoknya sudah terbongkar. Sandiwara yang selama ini ia mainkan akhirnya terkuak. Tatapan Crys yang akhir-akhir ini terlihat sangat bersahabat dan hangat, kini berganti dengan tatapan dingin dan penuh kebencian.


Crystal tidak membenci Kenzo seperti ia membenci Desmond. Yang ia rasakan saat ini adalah perasaan kecewa karena Kenzo berhasil membodohi dirinya dan menipunya dengan menjadi sosok Levin. Ia pikir selama ini ia sudah bisa membedakan sosok Levin maupun Kenzo dengan baik, namun nyatanya ia salah besar.


Kenzo menarik tangan wanita itu untuk keluar dari sana, namun Crystal menghempasnya kasar dan menatap Kenzo tajam.


Kenzo menatap Crys tajam. "Kau tidak menyangkalnya, artinya perkataanku memang benar." ujar Crys.


Seketika raut wajah Kenzo kembali seperti pertama kali ia bertemu dengan pria itu. Kenzo masih menutup mulutnya dengan raut tak tersentuh.


"Kau akan terus diam tanpa menjelaskan apapun?" Tanya Crys geram dengan tangan terkepal.


"Tidak ada yang perlu dijelaskan." Kenzo berucap dengan begitu dingin.


"Kita pergi dari sini." Tambah Kenzo, lalu kembali menarik tangan Crystal, namun lagi-lagi ditepis olehnya.


Crystal menatap ke arah Vania dan menghampiri wanita itu beserta anak-anaknya. Kenzo mengikuti langkah wanita itu, sambil menatap punggung Crys yang terasa dingin.


"Crys, kau tidak apa-apa?" Tanya Vania setelah menatap Crystal yang kini berada di hadapannya.


Crystal menggeleng sambil tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja." Jawab Crys.


"Kak Crys sakit?" Tanya Vian dengan wajah menggemaskan.


Crys menunduk menatap Vian, lalu mengelus kepala Vian dengan senyum manis. "Tidak kok." Jawab Crystal tersenyum begitu hangat.


"Aku pulang duluan." Kenzo tiba-tiba mengangkat suaranya, sambil kembali menarik tangan Crys untuk pergi dari sana.


Crys menatap Kenzo dengan raut kesal, hendak kembali menepis tangan pria itu, namun tidak berhasil, karena kali ini Kenzo mencengkram pergelangan tangannya dengan begitu kuat.


"No Uncle, Vian mau bermain dengan kakak Crys." Vian menahan tangan Crys yang bebas sambil menatap Kenzo dengan wajah cemberut.


Kenzo berhenti ditempat, lalu mengusap kepala Vian dengan senyum lembut.


"Besok Uncle akan membawa Crystal ke rumah Vian dan Vano untuk bermain." Ujar Kenzo.


"Really?" Tanya Vian dengan mata berbinar, lalu dibalas anggukan oleh Kenzo.


"Baiklah." Ujar Vian sambil melepas tangan Crys.


"Bagaimana bisa pemilik acara pergi sebelum acara selesai." Kata Davin sambil menatap Kenzo.


"I don't care, there's something more important than this." Jawab Kenzo santai, lalu pergi dari sana sambil terus menarik Crys yang masih memberontak.


Kenzo mendorong Crys untuk masuk ke dalam mobil, setelah itu disusul olehnya untuk duduk di samping wanita itu.


"Jalan!"


Kenzo berucap begitu dingin, sehingga supir tersebut tanpa berbasa-basi langsung melajukan mobilnya.


D tengah perjalanan menuju Mansion, tidak ada percakapan apapun diantara mereka. Suasana di dalam mobil terasa begitu dingin. Crystal hanya menatap keluar jendela mobil, sedangkan Kenzo bertahan dengan wajah datarnya.


Hingga akhirnya mereka sampai di pekarangan Mansion, lalu mobil berhenti tepat di depan teras pintu masuk. Crys dengan cepat melepas sabuk pengamannya, lalu membuka pintu mobil dan menutupnya dengan kasar.


Ia berjalan begitu cepat menuju Mansion, tanpa menunggu Kenzo yang berada di belakangnya. Crystal berjalan menyusuri Mansion besar tersebut, namun langkahnya tiba-tiba berhenti ketika ia berpapasan dengan Nathalie.


Nathalie menatap lekat raut wajah Crystal yang terlihat tak bersahabat. Setelah itu, matanya menatap ke arah Kenzo yang baru saja muncul di belakang wanita itu.


Langkah Kenzo terhenti ketika matanya menangkap sosok Nathalie yang sudah beberapa hari ini ia hindari dikarenakan perannya. Crystal masih terdiam di tempat, lalu menoleh ke arah Kenzo dengan tatapan tajam.


"Kenzo, sudah berapa hari ini kita tidak bertemu." Ujar Nathalie menghampiri Kenzo dengan penuh kerinduan. Nathalie tidak tau siapa yang sedang ia hadapi, Kenzo atau Levin. Entah siapapun itu, ia akan segera tau jawabannya dari respon pria itu ketika ia mendekatinya.


Levin akan segera menepis dirinya dengan tatapan tajam membunuh, sedangkan Kenzo tidak.


Setelah Nathalie memeluk lengan Kenzo dengan manja, senyum wanita itu seketika terbit. Pria tersebut tidak menghempasnya atau melontarkan kata tajam seperti Levin, yang artinya dia adalah Kenzo.


Crystal menatap kedua insan tersebut dengan lekat. Semuanya semakin jelas, Kenzo tidak akan pernah menepis Nathalie dari hidupnya. Kenzo masih terpaku di tempatnya, sedangkan Nathalie terlihat tersenyum begitu bahagia.


Crystal membuang wajahnya dari pemandangan yang membuat dadanya terasa begitu sesak. Ia dengan cepat menaiki anak tangga, meninggalkan Kenzo dan Nathalie disana, tanpa mengatakan apapun.


Bersambung....