
Karina terlihat merapikan kursi ruang rapat dan Crystal yang ikut membantu seadanya. Sambil merapikan, mata Karina melirik pada Damian yang juga ada bersama mereka berdua di ruangan tersebut. Damian terlihat berdiri diam dan mengawasi mereka dengan wajah datar yang menusuk.
Karina mendekat pada Crystal dan berbisik di telinga gadis itu. "Letta, dia siapa?" tanya Karina dengan suara yang begitu kecil.
Crystal melirik pada arah mata Karina yang menunjuk pada Damian. "Mr. Duanovic memberikanku pengawal pribadi setelah kejadian hari itu." jawab Crystal dan Karina ber-oh ria sambil mengangguk-angguk.
"Namanya Damian. Damian diperintahkan untuk menjagaku dimanapun dan kapanpun." tambahnya lagi.
Karina masih mengangguk-angguk paham. "Jadi sebenarnya kau punya hubungan apa dengan Mr. Duanovic sehingga ia sangat melindungimu?" tanya Karina lagi dengan wajah penasarannya.
"Aku tidak punya hubungan apapun. Aku hanya bekerja padanya saja." jawab Crystal yang tentu saja tidak dipercaya oleh Karina.
"Kalau begitu, kenapa dia harus repot-repot memberikan pengawal pribadi untuk bawahan yang tidak memiliki hubungan apapun padanya?" tanya Karina dengan raut menyelidik.
"Tanya saja dia." ujar Crystal sambil menggidik bahu santai.
Karina mendengus kesal karena Crystal masih saja tidak memberitahunya. Karina tidak sebodoh itu untuk langsung percaya dengan kata-katanya yang tidak masuk akal. Karina yakin gadis itu pasti menyembunyikan sesuatu.
Tiba-tiba suara pintu terbuka terdengar dan langsung menyadarkan mereka. Sontak kedua gadis itu menoleh ke arah sumber suara yang menunjukkan sosok seorang pria yang masuk ke dalam ruangan rapat tersebut.
"Selamat datang Mr. Killian, silahkan masuk." ujar Karina refleks berjalan mendekati pria tersebut dan menuntunnya menuju tempat duduk yang sudah disediakan.
Crystal berdiri diam sambil menatap ke arah pria yang dipanggil sebagai 'Mr. Killian' tersebut. Karina menunduk sebentar, lalu menarik tangan Crystal untuk keluar dari ruangan tersebut.
Damian ikut melangkah mengikuti kemanapun Crystal pergi. Setelah sampai di luar ruangan, Karina meraih pundak Crystal erat.
"Aku harus mengurus beberapa hal lain sebelum rapat dimulai. Kau kembali ke ruangan Mr. Duanovic saja." ujar Karina.
Crystal mengangguk paham, lalu Karina langsung pergi meninggalkannya dengan langkah cepat.
Crystal berdiri diam di depan pintu ruangan tersebut dengan wajah polos. Beberapa menit gadis itu hanya berdiri seperti patung tanpa bergerak sedikitpun setelah Karina pergi dari sana.
"Aku tidak mau bertemu dengan pria itu." ujarnya tiba-tiba angkat bicara entah pada siapa.
Crystal menoleh ke arah Damian dan menatap pria itu lekat. "Aku tidak akan kembali ke ruangannya. Setidaknya kalau tetap bersama denganmu aku tidak akan mendapat masalahkan?" ujar Crystal menatap mata Damian dalam, sedangkan pria itu hanya diam tak mengerti.
"Aku tidak pergi sendiri kok, aku pergi denganmu. Pria itu harusnya tidak marah karena aku tidak berniat untuk kabur." ujar Crystal lagi-lagi seperti orang kesurupan yang berbicara sendiri namun matanya menatap pada Damian yang sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan gadis itu.
"Pria itu pasti sibuk dengan pekerjaannya. Aku harus melakukannya hari ini." tambah gadis itu lagi dengan ekspresi yakin, lalu menarik tangan Damian untuk pergi dari sana.
Namun sayangnya pria itu sama sekali tidak bergerak saat gadis itu menarik tangannya. Pria itu masih diam di tempatnya dengan wajah tenang.
Crystal menatap Damian dengan wajah kesal. "Ayo!" ujarnya cemberut sambil menarik-narik tangan pria itu sekuat tenaga, namun pria itu sama sekali tidak berkutik dari tempatnya.
Crystal mendengus karena tenaga yang ia keluarkan hanya sia-sia saja pada pria di depannya tersebut. Akhirnya Gadis itu menghempas tangan Damian kesal dan pasrah.
"Aku ingin membuat penawaran denganmu." ujar Crystal menatap Damian lekat dengan wajah serius.
Damian hanya diam dan balas menatap gadis di depannya dengan lekat. "Antar aku ke sebuah tempat, sebagai balasannya aku akan mengabulkan apapun permintaaanmu selagi aku mampu memenuhinya. Bagaimana?" ujar Crystal menatap Damian dengan penuh harap.
"Anda tidak bisa pergi kemanapun tanpa ijin Mr. Duanovic." ujar Damian dingin.
"Ck, karena itu, ini hanya akan jadi rahasia kita berdua saja. Dia tidak akan mengetahuinya." ujar Crystal membujuk pria itu sekuat tenaga.
"Saya hanya akan menjalankan perintah dari Mr. Duanovic."
Crystal memutar matanya malas mendengar ucapan Damian yang lagi-lagi seperti robot yang sudah di setting untuk menuruti perintah tuannya saja.
Damian menatap dingin pada tangan gadis itu, lalu mengangkat kepalanya untuk menatap Crystal dalam. Crystal tampak terdiam dan menyadari kebodohannya saat itu juga.
'Crystal bodoh. Kau tidak bisa mengendarai mobil bodoh.' dalam hatinya gadis itu mengutuk kebodohannya sendiri dengan wajah gusar.
"Kalau kau tidak mau memberi kunci mobilnya, pinjami aku uang saja untuk naik taxi, pasti akan kukembalikan." ujar Crystal menatap Damian dengan wajah gugup dan nada yang terdengar canggung.
"Anda tidak bisa pergi kemanapun tanpa saya." kata Damian menatap Crys dengan tatapan tegas tak terbantah.
Crystal menurunkan tangannya dengan wajah yang tiba-tiba berubah sedih. Wajah gadis itu terlihat sayu dan menunduk ke arah lantai yang ia pijak.
"Aku harus melihat seseorang. Hari ini adalah kesempatanku untuk bisa keluar sebentar saja. Aku mohon bantu aku hari ini atau aku tidak tau kapan kesempatan seperti ini akan datang lagi." ujar Crystal mengangkat kepalanya menatap mata Damian lekat dengan matanya yang berbinar penuh harap.
Damian menatap lekat mata gadis itu yang terlihat bercahaya dan memancarkan harapan penuh padanya. Gadis itu hanya bisa berharap bahwa Damian dapat merubah pikirannya dan berbalik membantunya.
Damian terdiam beberapa saat lalu akhirnya angkat suara. "Hanya 30 menit dan kita pergi setelah Mr. Duanovic masuk ke dalam ruang meeting." ujar Damian yang berhasil membuat mata Crystal membulat dan bibirnya tersenyum lebar kesenangan.
"Akhirnya." Crystal tanpa sadar berteriak kesenangan sambil melompat kecil. Mata Crystal tiba-tiba menangkap beberapa pria yang berjalan beriringan dengan pakaian rapi mereka.
Crystal yakin bahwa itu adalah rekan-rekan kerja Kenzo yang akan rapat hari ini. "Ayo pergi dari sini!" Crystal pun menarik tangan Damian untuk pergi menjauh dari sana dan ajaibnya pria itu tidak lagi berdiam di tempat seperti batu.
"Menurutmu, apa aku harus pergi ke ruangan pria itu dulu sebelum dia pergi rapat?" tanya Crys.
"Terserah anda." jawab Damian singkat.
"Kalau aku tidak ke ruangannya, apa dia akan mencariku? Kalau dia mencariku, bisa-bisa dia mengurungku di ruangannya karena pergi keluar terlalu lama." ujarnya lagi.
Damian melepaskan tarikan tangan Crystal dari tangannya. Crystal menatap ke arah Damian dengan wajah bertanya. "Saya bisa jalan sendiri." ujarnya datar. Crystal tersenyum paham dan mengangguk kecil. Gadis itu kembali berjalan menyusuri koridor beserta Damian yang berjalan di belakangnya.
Crystal masuk ke dalam lift yang terbuka, disusul dengan Damian. Setelah pintu kotak besi tersebut tertutup, suasana hening langsung menyelimuti dua manusia berlawanan jenis tersebut.
Dari antara mereka tidak ada satupun yang membuka suara dan hanya berdiri diam sambil menunggu.
"Apa kau punya keluarga?" tanya Crys tiba-tiba buka suara dan memecah keheningan tersebut.
"Tidak."
Crystal yang mendengar jawaban singkat itu langsung terdiam. Dalam hatinya, Crystal bisa merasakan apa yang Damian rasakan.
"Adik atau Kakak? Atau kekasih?" tanya Crystal lagi.
"Tidak ada." jawab Damian lagi.
"Aku punya seorang Kakak laki-laki dan dia adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Kedua orangtuaku sudah meninggal. Ibuku mati demi menyelamatkanku dan Ayahku mati demi menyelamatkan kami semua." Crystal menarik nafas saat merasakan rasa berat di dadanya ketika ia menceritakan kembali kehidupannya.
"Kakakku bekerja mati-matian demi aku. Aku sadar kalau aku adalah beban terberat dalam hidupnya. Setelah Papa Mama meninggal, Kakak rela bekerja dan meninggalkan kehidupan remajanya demi menghidupi kami. Dia hanya bekerja dan bekerja disaat teman-temannya yang lain bermain dan menghabiskan waktu muda mereka dengan bahagia." Tanpa sadar mata Crystal yang awalnya berkaca-kaca, kini mulai meneteskan sebulir air mata yang mengalir di pipinya.
Gadis itu buru-buru mengusap pipi dan matanya agar Damian tidak menganggapnya cengeng.
"Terimakasih sudah membantuku keluar hari ini." ujar Crystal lagi setelah menarik nafas dalam-dalam dan berusaha untuk tegar karena sekarang bukan saatnya untuk menangis.
Sedangkan Damian sejak tadi hanya menatap punggung Crystal lekat dengan tatapan yang sulit dimengerti.
Bersambung...
Next Up : esok