
Crystal menutup pintu kamar mandinya dengan berbalut bathrope yang menutup tubuhnya. Gadis itu terlihat termenung sambil duduk di atas ranjangnya.
"Haihh, Crsytal bodoh. Bagaimana jika Damian benar-benar memberitahu Kenzo." ujar gadis itu bermonolog dengan wajah gusar.
Flashback On
Pintu lift tertutup dan saat itu juga Crystal berbalik dan berdiri di depan Damian dengan tatapan lekat.
"Bantu aku melarikan diri sejauh mungkin dari pria itu."
Damian terdiam di tempatnya sambil menatap ke arah Crystal dengan tatapan dingin tak tersentuh. Crystal berdiri dengan binar mata berharap seakan putus asa dengan keadaannya saat ini. Gadis itu menatap Damian seolah pria itu adalah harapan dan jalan satu-satunya ia bisa bebas dari kekangan Kenzo.
Damian masih berdiri di tempatnya dan membalas tatapan gadis itu dengan lekat. Mulutnya sama sekali tak terbuka dan hanya berdiri seperti patung tak bernyawa.
Raut wajah Crystal yang penuh harapan perlahan mulai meredup karena ia tak mendapat reaksi apapun dari pria di hadapannya. Bahunya melemah dan kepalanya menunduk lesu menatap ke arah lantai lift.
"Lupakan." ujarnya lemah sambil membalikkan badannya kembali ke arah pintu lift dan membelakangi Damian.
Kedua anak manusia itu hanya berdiri diam tak membuka suara sampai akhirnya pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju.
Flashback off
"Haihhh, bodoh." ujarnya lagi sambil merutuk kesal dan berjalan menuju wardropenya dan mencoba melupakan hal memalukan tersebut.
Setelah memakai piyama tidurnya, gadis itu beranjak menuju meja rias dan duduk di sana sambil menatap pantulan dirinya. Ia mengambil hair dryer dan segera mengeringkan rambutnya.
Setelah beberapa menit, pintu kamarnya terbuka dan menunjukkan sosok Rose yang masuk ke kamarnya.
"Nona, makan malam sudah selesai."
"Aku akan turun sebentar lagi." ujarnya sambil menyisir rambutnya yang berantakan.
Setelah selesai ia buru-buru keluar dari kamarnya. Anehnya ia tak mendapati Damian yang biasanya akan selalu berdiri di depan pintunya dan malah pengawal lain.
Kening Crystal berkerut bingung, namun ia tetap melanjutkan langkahnya dengan wajah bertanya. Ia melangkah hingga akhirnya sampai di meja makan lalu duduk di kursi yang biasa ia tempati.
Crys menatap Kenzo yang memakan makan malamnya dengan diam dan tak buka suara sama sekali. Pria itu sama sekali tak melirik ke arahnya dari mulai ia datang ke sana.
Crystal terlihat ingin buka suara, namun akhirnya ia mengurungkan niatnya. Jarinya meraih garpu dan pisaunya, lalu mulai memakan makan malamnya dengan diam juga.
Keheningan tersebut pecah saat ponsel Kenzo yang berada di atas meja berdering dengan nyaring. Kenzo meraih ponselnya dan mengangkatnya.
"Speak!" ujar pria itu dingin pada sang penelpon.
Crystal melirik dengan penasaran, namun sambil memakan makan malamnya agar tidak terlalu kentara bahwa ia sedang mengintip pria itu.
Wajah Kenzo tiba-tiba berubah tegang setelah beberapa detik ia diam sambil mendengar sang penelpon. Crys menangkap jelas perubahan wajah pria itu yang terlihat aneh.
Kenzo bukanlah pria yang pintar menunjukkan ekspresinya. Wajah pria itu hanya datar dan dingin setiap waktu seperti tidak ada kehidupan. Namun reaksinya kali ini jujur membuat Crystal shock dan kaget.
"I 'il be right there." setelah mengucapkan itu, Kenzo bangkit berdiri dari kursinya lalu berlalu melewati Crystal dengan langkah terburu-buru.
Crys berbalik guna melihat punggung Kenzo yang sedang menaiki anak tangga dan perlahan mulai menghilang dari pandangannya. Sampai beberapa menit kemudian, Kenzo turun kembali dengan setelah suitnya yang rapi.
Dalam hatinya Crystal ingin sekali menanyakan kemana pria itu akan pergi malam hari begini dengan pakaian serapi itu, namun lagi-lagi ia menahannya.
Sampai akhirnya Kenzo menghilang di telan pintu dan samar-samar terdengar suara mobil yang menjauh.
"Dia tidak pernah berjalan secepat itu." monolog Crys sambil menoleh kembali ke arah makanannya yang sekarang terlihat tidak menarik.
Crystal semakin bingung dan heran. Tadi Damian, sekarang Kenzo. Ada apa sebenarnya dengan mereka?
Tak ingin ambil pusing, gadis itu kembali memakan makan malamnya dengan wajah tak berselera.
***
Di lain sisi
Seorang pria terlihat duduk di kursi kebesarannya sambil menghisap rokoknya dan menghembuskan asap tebal yang memenuhi ruangan remang tersebut.
Saat ia melepas rokok tersebut dari mulutnya, ia mengangkat kedua kakinya ke atas mejanya lalu menatap seorang pria yang berdiri di depannya dengan senyum miring.
"Jadi yang disembunyikannya adalah anak gadis Adam yang masih hidup." ujarnya menatap pria di depannya.
"Iya."
"Bagus, kau memberikan informasi yang sangat berguna, sehingga aku dapat datang lebih cepat tadi pagi." ujarnya.
"Lalu, bagaimana dengan kakak laki-lakinya?" tanyanya lagi.
"Masih terus mencari adiknya yang hilang." jawab pria yang masih berdiri tegap tersebut.
Pria yang duduk tersebut mulai memasang senyum lebar penuh kemenangan. Tangannya dengan perlahan menekan puntung rokoknya ke atas meja.
"Jika dia menahan adiknya, maka kita akan menahan kakaknya."
Flashback On
Seorang pria paruh baya masuk ke dalam sebuah ruangan yang terlihat remang. Di dalam ruangan tersebut sudah ada dua orang pria yang lebih muda darinya.
Pria paruh baya itu bernama Adam Delwyn Alterio, sedangkan dua pria muda itu ialah Kenzo Edzard Duanovic dan Desmond Archer Killian. Kenzo dan Desmond adalah investor dalam pengembangan produk teknologi terbaru milik Adam Alterio.
Adam masuk dan duduk di salah satu sofa di ruangan tersebut.
"Bagaimana kabar anda Mr. Alterio?" tanya pria bernama Desmond tersebut.
"Saya baik." jawab Adam.
"Saya tidak bisa melanjutkan kerjasama ini lagi." ujar Adam panjang lebar sambil mengeluarkan amplop coklat berisi pembatalan kontrak. Desmond terkejut dan langsung bangkit berdiri dengan wajah marah.
"Anda tidak bisa menghentikannya begitu saja. Project ini sudah di pertengahan jalan dan harus diselesaikan." ujar Desmond penuh amarah setelah mendengar hal tersebut.
"Chip ini sangat berbahaya bagi dunia. Saya tidak bisa melanjutkan ini lagi demi keamanan keluarga saya. Saya akan membayar seluruh uang pinalti pembatalan kontrak." ujar Adam, lalu bangkit berdiri setelah meletakkan amplop tersebut di atas meja.
"Saya akan menarik seluruh kru penelitian dalam pengembangan chip ini. Terimakasih Mr. Duanovic dan Mr. Killian sudah mempercayakan saya untuk mengembangkan produk ini." ujar Adam sambil sebelum akhirnya pergi dari ruangan tersebut.
Desmond berteriak marah sambil melempar amplop coklat yang diberikan oleh Adam ke atas lantai. Sedangkan Kenzo masih terdiam di tempat duduknya dan sama sekali tak membuka suaranya.
Flashback off.
***
Sudah tiga hari berlalu semenjak Crystal melihat kakaknya lagi dengan mata kepalanya sendiri. Semenjak hari itu juga Kenzo tak pernah terlihat di Mansion, hari di mana pria itu pergi di tengah makan malam setelah menerima sebuah panggilan telepon entah dari siapa.
Crystal juga tidak bisa pergi ke kantor Kenzo untuk bertemu dengan Karina dan berbincang dengannya. Kini gadis itu sedang duduk termenung di samping kolam ikan sambil memberi makan ikan-ikan cantik tersebut.
Ia melipat kedua kakinya di depan dada, lalu memeluk kakinya dan menyenderkan dagunya di lututnya sambil menonton ikan-ikan di depannya yang berenang dengan menawan.
"Nona." panggil Rose.
"Hmm." dehem Crys tak mood.
"Akhir-akhir ini nona terlihat tak bersemangat, ada apa Nona?" tanya Rose.
"Tidak ada." jawabnya singkat.
Rose membuang nafas pelan sambil menatap punggung layu Crys. Rose memutar otaknya guna mencari cara agar gadis itu kembali bersemangat dan melupakan masalahnya.
"Nona, mari memasak sesuatu jika anda bosan dan tidak melakukan apa-apa" ajak Rose. Crystal menggeleng lemah masih tak bersemangat.
Rosepun langsung menarik lengan gadis itu dengan wajah semangat. "Ayo nona, jangan bermalas-malasan terus, anda harus banyak bergerak" ujarnya.
Crystal mendengus pasrah dan mau tak mau hanya bisa menurut dan mengikuti arah tarikan Rose dengan langkah ogah-ogahan sedangkan Damian hanya diam dan mengikuti kemanapun gadis itu pergi.
***
Di lain sisi
Seorang pria yang terlihat kurus dengan kumis dan janggutnya yang mulai tumbuh memanjang sedang memakan makanan cepat saji yang baru saja ia buat.
Pria itu adalah Allaric, kakak laki-laki Crystal yang masih saja tak menyerah pada adiknya yang menghilang tanpa kabar apapun hingga saat ini.
Ia memakan makanannya dengan cepat sebelum akhirnya ia harus kembali membagikan brosur pada orang-orang.
Ditengah-tengah kegiatan makannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu rumahnya. Allaric menoleh, lalu bangkit berdiri dan membukakan pintu tersebut.
Saat ia membuka pintunya, saat itu pula terlihat sosok seorang pria dengan setelan suitnya yang rapi.
"Anda siapa?" tanya Aric menatap pria itu bingung dengan kening berkerut.
"Saya memiliki informasi tentang adik anda yang hilang. Jika anda ingin tau dimana adik anda berada, mari ikut saya."
***
"Awss." Crys meringis kesakitan saat ia tak sengaja mengiris jari telunjuknya dengan pisau.
Mendengar ringisan kesakitan itu, Damian yang berada di dekatnya langsung menghampirinya dengan cepat begitupula Rose dengan wajah panik.
"Ada apa?"
"Aku tidak sengaja mengiris jariku."
Crystal menutup jari telunjuknya dengan telapak tangan kanannya, namun darah langsung mengucur deras memenuhi pergelangan tangannya sampai menetes di lantai.
"Astaga, tunggu sebentar."
Dengan panik Rose melangkah pergi untuk mencari kain bersih guna menutup luka irisannya yang lumayan dalam.
Sedangkan Damian dengan cekatan melepas tangan kanan Crys yang menutup jari telunjuknya, lalu membawa jari gadis itu ke arah wastafel dan membasuhnya dengan air mengalir.
"Shh." terdengar desisan pelan yang keluar dari mulut gadis itu.
Crystal menutup matanya tak sanggup melihat darah yang begitu banyak dari luka sekecil itu. Melihat darah hanya mengingatkannya dengan kejadian masa lalunya yang pahit.
"Ini kainnya." ujar Rose sambil menyerahkan sebuah kain bersih pada Damian.
"Aku akan memanggil dokter kemari." tambah Rose lagi dan pergi kembali entah kemana.
Damian mematikan keran wastafel, lalu membalut jari gadis itu untuk menahan pendarahannya.
Setelah selesai membalut, Damian menatap wajah Crystal yang mengerut menahan sakit sambil menutup matanya lekat. Pria itu terdiam menatap wajah gadis di depannya yang terlihat menawan.
"Bodoh."
Raut wajah Crystal perlahan kembali normal ketika mendengar desisan pelan dan datar dari Damian. Ia perlahan membuka matanya demi melihat sosok Damian yang masih menatap wajahnya lekat dengan jarak yang lumayan dekat.
Kedua anak manusia tersebut terdiam sambil menatap satu sama lain tanpa melepas pandangan mereka.
Damian berbicara sama datarnya dan sama ketusnya seperti biasa, namun entah kenapa kali ini terdengar sangat hangat dan tidak dingin seperti biasanya. Hal itulah yang membuat Crystal terdiam takjub sambil menatap pria itu.
Bersambung....
Next Up : esok.