Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 91



"Pernikahan antara putri tunggal seorang pengusaha dan pengusaha muda yang akan berlangsung satu bulan ke depan, hari ini telah dikabarkan langsung oleh kedua pasangan tersebut. Hubungan mereka ternyata berlangsung secara diam-diam dari hadapan publik, sehingga tidak diketahui bahwa mereka ternyata memiliki hubungan yang dekat."


Vania menatap layar televisinya yang menunjukkan sebuah berita mengenai pernikahan Kenzo. Suara pembawa berita tersebut diselingi dengan cuplikan press conference yang dilakukan oleh Kenzo dan seorang wanita yang digadang sebagai calon istrinya.


Kening Vania mengerut bingung. "Mommy, ada Uncle Kenzo." Suara ceria Vian seketika membuyarkan lamunannya.


Vian dengan semangat berdiri di depan televisi sambil menunjuk ke arah wajah Kenzo yang disorot kamera.


"Menikah itu apa?" Tanya Vano yang ternyata sudah berdiri di samping Vania yang duduk di atas sofa.


Vania menoleh ke arah Vano dengan senyuman tipis. "Menikah itu seperti mommy dan daddy akan tinggal bersama dan membuat sebuah keluarga." Jawab Vania sesederhana mungkin agar anak laki-lakinya itu bisa mengerti.


"Bukannya Uncle Kenzo sudah menikah dengan kakak Crys? Mereka tinggal bersama." Ujar Vano dengan wajah datarnya yang terlihat begitu polos.


"Benar, kenapa Uncle menikah lagi?" Tambah Vian dengan wajah kesal.


"Ah, Uncle Kenzo belum menikah." Ujar Vania kebingungan harus menjelaskan apa.


Vano menelengkan kepalanya dengan mata besarnya yang berbinar penuh tanda tanya.


"Jadi uncle akan menikah dengan wanita yang itu?" Tanya Vian kembali menunjuk pada wanita yang berada di layar televisi.


"Mungkin." Jawab Vania tersenyum kikuk.


"Ah, kalian bermain sebentar tanpa Mommy ya, Mommy mau ke ruangan daddy sebentar, mengerti?" Tanya Vania buru-buru agar kedua anak laki-lakinya itu tidak kembali bertanya.


"Okay." Jawab mereka kompak.


Vania pun bangkit berdiri, lalu berjalan sedikit cepat ke arah ruangan suaminya. Sesampainya disana, Vania mengetuk sebentar, lalu masuk ke dalam.


"Dave." Panggil Vania saat mengetuk pintu tersebut.


"Baik, akan kukabari lagi nanti." Suara Davin terdengar.


Vania kembali menutup pintu tersebut ketika ia masuk ke dalam ruangan dan mendapati bahwa Davin sedang bertelepon dengan seseorang. Davin menutup teleponnya sambil menatap kedatangan istrinya.


"Apa maksudnya dengan berita itu?" Tanya Vania langsung tanpa berbasa-basi, bahkan tanpa menanyakan apakah Davin mengerti tentang berita yang ia maksud, karena ia sudah tau pasti, bahwa suaminya itu mengerti maksud ucapannya.


"Bukankah dia menyukai Crystal?" Tanya Vania lagi.


Davin yang sejak tadi duduk di kursi kerjanya pun bangkit berdiri dan menghampiri istrinya.


"Kejadian ini sulit untuk dijelaskan." Ujar Davin ketika ia sudah berdiri di hadapan Vania.


"Pernikahan bisnis?" Tanya Vania langsung.


"Bisa dibilang seperti itu." Jawab Davin sambil mengangguk.


"Kenzo menyetujuinya? Dia lebih memilih menikahi wanita itu dan meninggalkan Crystal? Dia sudah gila?" Tanya Vania menggebu-gebu penuh emosi dengan dadanya yang kembang kempis menahan emosi.


Davin memegang kedua lengan Vania sambil menggeleng untuk menenangkan emosi istrinya.


"Tidak, aku yang menyuruhnya." Seketika kening Vania semakin mengerut.


"Kau gila?" Vania menatap Davin tajam dengan nada penuh amarah.


"Tidak, kau harus percaya bahwa aku melakukannya untuk kebaikan Kenzo dan Crystal. Runtutan kejadiannya cukup rumit dan sulit untuk dijelaskan." Ujar Davin membela diri.


"Jelaskan!"


Davin seketika bingung sendiri dengan perdebatan antara dirinya dan istrinya. Ia tidak ingin Vania shock dan khawatir ketika mendengar apa yang sudah terjadi, terutama tentang kejadian yang menimpa Crystal. Sampai saat ini, Vania memang tidak tau bahwa Crystal sudah menghilang dalam kecelakaan, karena Davin masih menyembunyikan kabar tersebut dari istrinya.


Davin membuang nafasnya yang terasa berat. "Aku akan jelaskan, tapi berjanjilah untuk tenang setelah mendengar semuanya." Kata Davin menatap istrinya lekat.


***


Waktu berlalu begitu cepat. Tanpa terasa satu bulan sudah berlalu dan hari ini adalah hari pernikahan antara Kenzo dan Thalia.


Kenzo menatap pantulan dirinya yang sudah rapi dengan setelan Tuxedo hitam dan kemeja putih di dalamnya, serta dasinya yang selaras dengan warna jasnya.



Pria itu memakai earpiecenya, lalu duduk di sofa ruangan pengantin pria. Kenzo meraih rokoknya, menyulutnya dengan api, lalu menghisapnya dengan wajah gusar.


Tok....tok...tok


Pintu kamarnya terdengar diketuk selama beberapa kali, lalu terbuka dan menampilkan sosok pelayan pria yang menunduk sopan.


"Tuan Duanovic, acara akan segera berlangsung." Ujar pelayan tersebut.


Kenzo tak membalas. Pria itu malah menegakkan tubuhnya, lalu mematikan rokoknya di dalam asbak. Kenzo bangkit berdiri dari tempat duduknya dan berjalan untuk keluar dari ruangannya, sedangkan pelayan tersebut masih terlihat menunduk sampai akhirnya badan Kenzo berjalan melewatinya.


Para tamu yang seluruhnya adalah kolega dan rekan kerja Sergio sudah hadir dan duduk di tempat mereka masing-masing, sambil berbincang satu sama lain.


Tanpa berbasa-basi, Kenzo langsung naik ke atas panggung. Kedatangan Kenzo yang tiba-tiba seketika menarik perhatian dan seluruh mata para tamu, padahal MC belum membuat penyambutan dan memanggil pengantin pria untuk naik ke atas panggung.


Pembawa acara segera membuka suara dengan raut terkejut. Setelah itu, acara tersebut dimulai dengan suasana canggung, sedangkan Kenzo hanya berdiri dengan wajah dinginnya. 


Alunan musik mulai terdengar ketika pembawa acara mempersilahkan seluruh tamu untuk bangkit berdiri menyambut pengantin wanita yang akan memasuki ruangan.


Mata Kenzo menatap pintu besar yang perlahan terbuka, menunjukkan sosok Thalia yang tersenyum begitu lebar dengan gaun putih serta rangkain bunga di tangannya. Terlihat sosok Sergio berdiri di samping putrinya yang mengamit lengan pria paruh baya tersebut.


Thalia menatap sosok Kenzo dengan mata berbinar sambil berjalan ke arah pria itu. Sampai akhirnya, Thalia sampai dihadapan Kenzo dan Sergio selesai dengan tugasnya untuk mengantarkan putri tunggalnya tersebut.


Kenzo dan Thalia berbalik untuk menghadap ke arah pendeta.


"Apakah anda, Kenzo Edzard Duanovic bersedia mengaku dan menyatakan di hadapan Tuhan, keluarga serta para tamu yang hadir sebagai saksi, bahwa anda mengambil Thalia Reverie Acchileo sebagai isteri yang sah, dan sebagai suami yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit, pada waktu kaya maupun miskin dan akan memelihara dia dengan setia?" Ujar Pendeta.


"Iya." Jawab Kenzo singkat.


"Apakah anda, Thalia Reverie Acchileo bersedia mengaku dan menyatakan di hadapan Tuhan, keluarga serta para tamu yang hadir sebagai saksi, bahwa anda mengambil Kenzo Edzard Duanovic sebagai suami yang sah, dan sebagai isteri yang setia akan tetap mengasihi dan melayani dia pada waktu suka maupun duka, pada waktu sehat maupun sakit, pada waktu kaya maupun miskin dan akan memelihara dia dengan setia?" 


"Saya Bersedia." Jawab Thalia.


"Dengan begitu, di hadapan Tuhan, Keluarga, serta para tamu yang hadir sebagai saksi penyatuan dua anak manusia yang kini menjadi satu untuk saling mengasihi, memelihara, mencintai dalam keadaan suka maupun duka, sakit maupun sehat, kaya maupun miskin. Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."


Kenzo menulikan pendengarannya sepanjang pendeta dihadapannya tersebut berbicara panjang lebar.


"You may kiss your wife."


Kenzo seketika melempar tatapan tajam kepada pendeta tersebut, yang berhasil membuat raut sang pendeta berubah menjadi panik.


Suasana hening tersebut langsung mengundang bisikan dari para tamu ketika pengantin masih belum juga melakukan ciuman janji suci mereka. 


Kenzo menoleh untuk menatap Thalia yang kini menatapnya dengan senyuman kemenangan. Kenzo terlihat mendekatkan wajahnya, memiringkan kepalanya, begitu pula dengan Thalia yang ikut memiringkan wajahnya. 


Bisikan para tamu tersebutpun terganti dengan suara riuh tepuk tangan bahagia ketika kedua pengantin tersebut tengah berciuman di atas panggung dengan sosok pendeta yang ikut tersenyum canggung.


Bersambung......


Next : 7/8


Like dna comment ya, see you 😍