Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 25



Duanovic's mansion | 8.50 PM


Rose mengetuk sebuah pintu dengan gugup. "Masuk!" Setelah mendengar suara seseorang dari dalam yang menyuruhnya masuk, baru Rose membuka pintu tersebut perlahan.


"Permisi Tuan, Nona Crys meminta ingin menemui Tuan." ujar Rose.


Sosok di dalam kamar tersebut langsung menoleh ke arah Rose dengan wajah datar dan dinginnya seperti biasa. Kenzo yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di komputernya itu langsung menghentikan kegiatan tangannya.


Setelah hening beberapa lama tanpa suara, Kenzo lalu mengangkat suaranya. "Keluar!" Rose menunduk sekilas, lalu keluar dengan patuh.


Dilain sisi


Crystal yang masih berada di kamar tempat ia dihukum, kini sedang menggerutu kesal saat Rose pulang tanpa jawaban dari Kenzo.


Crystal menatap jam di dinding yang menunjukkan pukul 9 malam. Apa dia akan di borgol dan lampunya akan dimatikan lagi? Pikiran itu berkecamuk di dalam kepala Crys.


Crystal menunggu dengan tak sabar, berharap bahwa pria itu akan datang. Crys berjalan mondar-mandir di dalam kamar tersebut sambil saling memilin jari-jemarinya. Tiba-tiba terdengar bunyi pintu terbuka dan Crys menoleh ke arah pintu dengan secepat kilat.


Senyum di bibir Crys mengembang tanpa sadar saat seseorang yang ia tunggu-tunggu akhirnya muncul. Kenzo masuk ke dalam kamar tersebut dengan wajah datarnya dan duduk di sofa kamar tersebut tanpa suara.


"Katakan!" singkat, padat dan jelas. Satu kata tanpa basa-basi yang keluar dari mulut Kenzo.


Crystal mengambil duduk di atas ranjang dan membenarkan duduknya dengan gugup, menarik nafas sebentar, lalu menatap lekat Kenzo dengan sorot tegas.


"Aku ingin bernegosiasi." Kenzo langsung menoleh ke arah gadis yang duduk di atas ranjang tersebut dengan sorot tertarik, namun ia tutupi dengan wajah dinginnya.


"Aku akan menuruti perkataanmu dan tidak akan mencoba kabur lagi tetapi, ijinkan aku bebas berkeliaran di dalam rumah, aku janji tidak akan keluar dari pintu keluar manapun." ujar Crys dengan mata berbinar penuh harap. Dalam hati ia berdoa semoga pria itu mengiyakan negosiasinya.


Mata Crys melebar saat Kenzo tiba-tiba bangkit berdiri dari atas sofa dengan tampang datarnya. Dengan panik Crys ikut bangkit dan berlari secepat kilat ke arah pintu yang tertutup dan berdiri di depan Kenzo untuk menghalangi pria itu keluar dari kamar tersebut.


Langkah Kenzo terhenti. Ia menatap gadis dihadapannya yang sedang berdiri dengan merentangkan tangan untuk menghalangi jalannya.


"Dengarkan aku dulu, aku akan mati kebosanan jika terus terkurung di kamar, setidaknya biarkan aku keluar dari kamar itu." ujar Crys sambil menatap mata Kenzo penuh harap.


"Apa yang akan kau lakukan jika sudah keluar dari kamarmu?" tanya Kenzo. Crystal terdiam sejenak, ia berdiri sambil mencoba memutar otak mencari jawaban.


"Ba...banyak hal. A..aku bisa membersihkan rumah, mencuci piring, dan lain-lainya." jawab Crystal meyakinkannya.


"Jadi kau ingin menjadi pelayan disini?" tanya Kenzo lagi dengan nada datarnya.


"Ehmm itu juga boleh, asal aku dibayar." Crys memelankan suaranya di kata terakhir sambil menundukkan kepala.


"Sayangnya pelayan disini sudah cukup untuk mengerjakan hal-hal itu, tidak perlu tenagamu lagi untuk mengerjakannya." kata Kenzo lagi. Crys mendengus kesal.


"Aku akan melakukan apapun, asal aku bisa keluar dari kamar." ujar Crystal kembali mengangkat kepalanya dan menatap Kenzo dengan wajah frustasi.


Kenzo terdiam sambil mengangkat salah satu alisnya. Crys menatap dalam mata Kenzo yang masih terdiam dengan pikirannya.


"Kalau begitu kau bisa menjadi pelayan pribadiku." ujar Kenzo dengan senyum miring yang terpatri di bibirnya.


Kening Crys berkerut bingung. "Pelayan pribadi? Maksudmu melayani nafsumu?" tanya Crys frontal.


"Itu bisa ditambah kalau kau mau." ujar Kenzo. Crys menghela nafas lega saat definisi 'pelayan pribadi' dalam otaknya tidak terwujud.


"Baiklah, kalau begitu apa yang akan kukerjakan?" tanya Crys.


Senyum Crys mengembang mendengar hal itu. "Kalau begitu aku setuju." ujar Crys tanpa pikir panjang. Mendengar jawaban tanpa ragu dari gadis itu membuat sebelah bibir Kenzo naik ke atas.


"Minggir!" Crys menggeser tubuhnya ke samping agar tidak menghalangi jalan Kenzo menuju pintu keluar. Kenzo melangkah keluar dari sana tanpa suara.


"Oh iya, apa aku sudah bisa keluar dari kamar ini dan kembali ke kamarku?" tanya Crys tiba-tiba teringat, namun pintu kamar tersebut telah tertutup terlebih dahulu.


"Ck." Crys mendecak kesal karena ia terlambat. Crys melangkah ke arah ranjang dan menjatuhkan tubuhnya ke sana.


"Yes, akhirnya bisa keluar." Crys mengangkat tangan ke atas tinggi-tinggi dengan kegirangan. Pintu kembali terbuka dan menunjukkan sosok Rose yang masuk ke dalam.


"Nona, anda sudah bisa kembali ke kamar anda." ujar Rose setelah masuk kamar.


Crys langsung bangkit dari ranjang tersebut dengan girang. "Yes, hukuman selesai." teriak Crys kesenangan sambil meloncat singkat di atas ranjang, lalu mendarat di lantai.


"Ayo kembali ke kamar!" Rose menatap Crystal yang tersenyum girang dengan lekat. Ini kali pertama Rose melihat gadis itu sebahagia ini semenjak datang ke rumah ini. Melihatnya seperti itu, membuat Rose ikut tersenyum senang bersama Crystal.


***


Matahari menyapa bumi dengan senyumnya. Sinarnya memancar indah bersama dengan bunga yang seakan menari bahagia. Bunyi kicauan burung bernyanyi bersahutan dengan merdu. Pagi hari yang terlihat sangat indah itu seakan mendukung hati seorang gadis yang sudah bangun dari tidur nyenyaknya.


Crystal tersenyum lebar sambil mengerjabkan mata dan merentangkan tangannya tinggi-tinggi. Crystal mendudukkan dirinya di atas ranjang, lalu menoleh ke arah balkon yang bersinar dengan terang oleh cahaya pagi matahari.


Crystal bangkit berdiri, lalu membersihkan dirinya sambil bersenandung ria. Crys menatap penampilan dirinya di depan cermin dengan senyum puas.



Bunyi pintu terbuka membuat Crys langsung menoleh cepat ke sumber suara. Tampaklah sosok Rose yang masuk ke dalam kamarnya seperti biasa. Crys berjalan ke arah Rose yang tidak membawa nampan sarapannya seperti hari-hari sebelumnya.


"Nona, Tuan menyuruh Anda untuk sarapan di ruang makan." Crys mengangguk semangat, lalu berjalan mengikuti Rose keluar dari kamarnya.


Mata Crys mengamati setiap jalan yang ia lewati dengan teliti. Dia tidak sempat memperhatikan baik-baik sekeliling Mansion ini saat ia kabur kemarin. Crys menatap takjub lukisan-lukisan yang terpajang di sepanjang dinding. Crys yakin lukisan-lukisan itu pasti berharga fantastis, sebaiknya ia berhati-hati dan menghilangkan sikap cerobohnya jika tidak ingin membuat masalah dengan seluruh barang mahal di Mansion ini.


Mata Crystal menangkap sosok Kenzo yang duduk tenang di kursi meja makan sambil memakan sarapannya. Pria itu seperti biasa sudah rapi dengan pakaian kerjanya. "Permisi Tuan." ujar Rose saat kami sampai disana.


Kenzo tak menoleh. "Duduk!" namun hanya mengeluarkan satu kata dingin itu dari mulutnya. Crys menurut dan duduk di kursi sebelah Kenzo dimana di atas meja tersebut sudah ada sarapan untuknya.


"Makan sarapanmu!" Crys mengangguk dan memakan sarapannya dalam keheningan. Yang terdengar disana hanya bunyi dentingan piring dengan garpu. Kenzo lebih dulu menghabiskan sarapannya karena dia memang sarapan duluan sebelum Crys.


"Kau akan ke kantor bersamaku hari ini!" ujar Kenzo tiba-tiba angkat suara. Crys mengangkat kepalanya dengan mata melebar.


Benarkah? Apa dia akhirnya bisa keluar dari rumah ini? Kenzo yang menyadari tatapan tersirat milik Crys langsung angkat bicara. "Jangan pernah coba kabur dariku kalau kau tidak ingin sesuatu terjadi pada kakakmu!" ancam Kenzo seakan mengerti isi kepala gadis itu.


Crys kembali menetralkan ekspresi wajahnya dan mengangguk pelan. "Baik." jawab Crys pasrah, namun dalam hati ia terus mengutuki pria kejam itu.


Tiba-tiba wajah kesal Crys berubah menjadi senyum tertahan saat memikirkan bahwa akhirnya ia bisa melihat dunia luar lagi. Crys melanjutkan fokus memakan sarapannya dengan tak sabar sampai ia tidak menyadari sepasang mata tajam milik Kenzo yang sejak tadi memperhatikan gerak geriknya.


Bersambung..


Appreciated me with your Love, Vote, and Comment.


Next Chapter : Kamis (25/2)