
Aric duduk di kursi meja makan rumahnya dengan wajah lelah dan frustasi. Di atas meja tersebut ia menulis dan menggambar beberapa tempat serta informasi apapun tentang adiknya yang hilang.
Aric menyugar rambutnya dan menjambaknya frustasi "Kamu dimana Crys?" Aric memukul meja dan menatap kembali pada buku di depannya.
Aric mengepalkan tangannya dan memutuskan untuk kembali ke Bar tempat Crys bekerja dan menanyakannya lagi disana.
Aric bangkit berdiri dan menyambar kunci mobilnya serta jaketnya dan keluar dari rumahnya.
Di lain sisi.
Bar Nightingale
"Spirytus Rektyfikowany!"
Pelayan langsung memberikan minuman tersebut di depan pria yang memesannya. Pria yang belakangan sering datang kesana dan selalu memesan minuman tersebut.
Pria dengan penampilan urakan yang tak banyak bicara dan terlihat tidak ingin disentuh. Tiba-tiba seseorang datang menghampiri pelayan yang memberikan minum pada pria itu.
"Kak Aric datang lagi?" tanya pelayan tersebut. Dia Rachel, teman yang merekomendasikan tempat ini untuk kerja part time Crys.
"Iya, apa ada kabar apapun tentang Crys?" tanya Aric. Mendengar nama 'Crys' mata pria yang duduk diam itu langsung melirik ke sumber suara.
"Huhhh, tidak ada kabar apapun." jawab Rachel setelah mendengus. Bahu Aric langsung melemas kembali. Aric duduk dan menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
Sedangkan pria itu hanya menatap diam kejadian tersebut. "Bagaimana jika ternyata Crystal memang sudah tidak ada?" desis Rachel. Aric langsung memukul meja dengan kencang.
"Adikku masih hidup." Rachel tersentak mendapat gertakan itu. Rachel mendengus dan pergi menjauh dari Aric.
Pria yang sejak tadi terdiam itu, mulai bangkit berdiri dan pergi dari sana setelah meletakkan lembaran dollar di bawah gelasnya.
Pria itu keluar dari bar, lalu meraih ponselnya dari saku. Tangannya menari di atas layar, lalu meletakkan ponselnya di depan telinga.
"Carikan aku informasi tentang orang hilang, namanya Crystal Letta Alterio!"
***
"Nona."
"Nona, bangun."
Mata Crys mengerjap perlahan saat telinganya menangkap suara itu. Perlahan matanya terbuka dan menangkap sosok Rose di dalam kamar ini.
"Apa Nona baik-baik saja?" tanya Rose. Crys mengangguk pelan. Ia mencoba menggerakkan tangannya dan ia sadar kalau tangan dan kakinya di borgol.
Crys meringis karena merasakan tangannya kaku saat ia mencoba menggerakkannya.
"Shh, sakit." ujar Crys merintih merasakan rasa nyeri saat ia mencoba menggerakkan tangannya.
Rose langsung membuka borgol di tangan dan kedua kaki Crys dengan panik. Crystal meringis saat ia berusaha menggerakkan sendi-sendinya yang kaku. Setelah itu, ia mencoba duduk diatas ranjang.
"Apa hukumanku sudah selesai?" tanya Crys pada Rose.
Rose menggeleng. "Saya tidak tau Nona, Tuan hanya meminta saya melepas borgol anda." ujar Rose.
Crystal membuang nafas pasrah. "Kalau begitu bagaimana aku akan mandi?" tanyanya lagi.
"Saya membawakan pakaian anda, Nona bisa mandi di kamar ini." jawab Rose sopan. Crystal mengangguk paham.
Rose memberikan sarapan yang tadi ia bawa kepada Crystal. Tanpa banyak bicara, Crys memakan sarapan dengan nurut.
Crystal duduk dengan pikiran berkecamuk. Kepalanya cantiknya penuh diisi dengan ide untuk mendapat kebebasannya kembali, namun tidak ada satupun yang membuatnya yakin kalau rencana itu akan berhasil.
"Aish." Crystal menggerutu sambil menendang-nendang selimutnya kesal.
"Apa yang harus kulakukan?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Crys menutup mata mencoba menenangkan pikirannya, hingga sesuatu tiba-tiba muncul di kepalanya. Mata Crys langsung melebar bersemangat.
"Dia selalu mengurungku di kamar. Setidaknya, aku harus bisa keluar masuk dengan bebas dari kamar itu." batin Crys.
"Satu-satunya cara hanya bisa membuat pria itu mengubah aturannya." lanjut batinnya. Apa dia harus menjadi anak baik dan penurut?
Crys mendengus. "Kali ini aku akan mencoba dengan cara ini." desis Crys meyakinkan dirinya.
Bunyi pintu terbuka membuat Crys menoleh cepat ke sumber suara. Crys menatap kedatangan Rose dengan senyum cerah. Crystal langsung menggenggam tangan Rose saat wanita paruh baya itu sampai di depannya dengan buah-buahan yang ia bawa.
"Aku ingin menanyakan sesuatu." ujar Crys. Rose mengernyit dahi bingung. "Ada apa Nona?" tanyanya.
"Dimana Tuanmu? Apa dia sedang bekerja atau tidak?" desak Crys tak sabar.
"Tuan Kenzo tadi pagi sudah berangkat bekerja Nona." Crys membuang nafas kecewa.
"Beritahu aku jika dia sudah pulang okey?"
"Baik Nona."
***
Seorang pria dengan penampilan urakan dan jalannya yang terlihat mengintimidasi, berjalan menyusuri koridor sebuah bangunan yang terlihat remang pencahayaan. Pria itu melirik sebuah kamar dengan nomor 654 dengan teliti. Tangan pria itu terulur untuk menekan beberapa digit nomor di atas layar kunci pintu, setelah itu ia masuk ke dalam ruangan tersebut.
Pria itu menatap punggung seorang laki-laki yang ternyata ada di dalam ruangan tersebut. Pria itu dengan santai berjalan ke arah sofa di mana laki-laki tersebut duduk. Tanpa basa-basi, pria itu ikut duduk di hadapan laki-laki tersebut. Pria itu menatap laki-laki tersebut lekat dengan pandangan datar.
"Bagaimana?" tanya pria itu langsung tak ingin berlama-lama.
"Crystal Letta Alterio, dia anak bungsu dari pasangan Adam Delwyn Alterio dan Ibunya Irina Loye Alterio. Kakaknya bernama Allaric Vian Alterio."
"Aku tau tentang itu. Beri aku informasi tentang hilangnya dia!" ujar pria urakan itu memotong ucapan laki-laki tersebut.
Laki-laki tersebut terdiam. "Seperti biasa, kau tidak pernah bisa bersabar Damian." Laki-laki tersebut melempar sebuah berkas ke atas meja.
Pria urakan yang bernama Damian tersebut mengambil berkas itu dan membacanya.
"Dia diculik dan dibawa ke rumahnya. Aku yakin aku tidak perlu menjelaskan siapa dia. Sepertinya peristiwa 10 tahun yang lalu akan terulang kembali." ujar laki-laki tersebut.
Damian tiba-tiba bangkit berdiri. "Ingat bayaranku! Kau harus membayar mahal karena aku sudah mencuri data kakakku untuk mencari tahu tentang gadis ini." ujar laki-laki itu saat melihat Damian beranjak.
Damian tak menjawab, lalu pergi dari sana dengan santai. "Kusarankan kau mengubah penampilanmu agar para gadis melirikmu!" teriaknya lagi yang ia yakin didengar oleh Damian sebelum pria itu menutup pintu.
Damian melangkah cepat menyusuri lorong Apartemen tersebut dengan tergesa-gesa. Ia meraih ponselnya dan mendial nomor seseorang di sana.
"Aku menemukan keberadaannya."
Bersambung....
Tinggalin jejak kalian dengan Vote, Like dan komen sebanyaknya❤️