Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 34



"Dia akan menjadi pengawal pribadimu." ujar Kenzo melirik ke arah pria di belakangnya.


Crystal menatap ke arah belakang Kenzo guna melihat pria yang akan menjadi pengawalnya. Mata Crys bertemu dengan mata dingin dan datar pria itu dan seakan terkunci di sana.


Crystal terlihat terdiam sejenak ketika menyadari ada sesuatu yang tak asing saat mata mereka beradu pandang. Mata dingin dan tajam itu seakan membongkar memorinya dan memaksanya untuk mengingat, namun tidak berhasil.


Entah kenapa pancaran mata itu terlihat tidak asing.


Pria itu berdiri diam tanpa membuka mulutnya dengan wajah datar dan mata tajamnya. Crystal tidak bisa memungkiri bahwa pria itu tampan dan tubuhnya gagah seperti Kenzo. Aura dingin merekapun sama.


"Setelah kejadian kemarin, dia yang akan menjadi pengawal pribadimu dan akan selalu memantaumu." ujar Kenzo dengan santai dan senyum sok polosnya. Ia bangkit berdiri dan berjalan ke depan gadis itu.


Crystal berdiri sambil menatap pergerakan Kenzo dengan ekspresi wanti-wanti. Kenzo tiba-tiba mendorong tubuh Crystal hingga pinggul gadis itu menabrak meja makan.


"Aws, kau mau apa?" ringis Crystal sambil menahan dada Kenzo yang mulai mendekatinya.


Bibir sebelah Kenzo naik ke atas dan matanya menatap Crystal dengan wajah menggoda.


Kenzo mendekatkan bibirnya ke telinga Crystal dan menggigit pelan cuping telinga gadis itu. Tubuh Crystal bergetar saat merasakan sensasi yang membuat perutnya seperti digelitik. Nafas panas Kenzo menerpa leher dan telinganya dengan menggoda.


"Hentikan! Disini ada orang." ujar Crystal susah payah sambil menatap mata Kenzo serta tangannya yang berusaha mendorong dada pria itu agar menjauh.


Kenapa akhir-akhir ini Kenzo bersikap seperti ini padanya? Crystal menjadi heran dan bingung dibuat pria di depannya ini. Kenzo yang ia kenal tidak akan mengeluarkan ekspresi apapun selain wajah datar dan dinginnya. Kenzo yang ia kenal tidak suka membuang waktu dan sangat mencintai pekerjaannya.


Kenzo yang ia kenal jarang membuka mulutnya dan berbicara panjang lebar. Namun Kenzo yang berada dihadapannya ini terasa seperti orang lain.


"Kau terlihat seksi dengan rambut basah dan dress yang berantakan seperti ini. Apa kau mencoba menggodaku pagi-pagi begini?" tanya Kenzo dengan suara seraknya yang terdengar seksi.


Crystal menggeleng cepat saat ia rasakan hidung mancung Kenzo mulai menyapu kulit lehernya dengan gerakan seringan bulu.


"Eghh." tanpa sadar Crystal mengeluarkan suara desah*n tersebut yang membuatnya langsung menggigit bibirnya panik untuk menahan desah*n tersebut keluar dari mulutnya lagi.


Kenzo menjauhkan wajahnya, lalu menarik tengkuk Crys dan menabrak bibir Crys dengan miliknya. Bibir pria itu bergerak dengan ahli, membelai hingga membelit lidah Crystal dengan lapar.


Crystal menepuk dada Kenzo saat ia mulai merasakan napasnya habis. Kenzo melepas pangutannya dan menatap bibir merah dan bengkak Crystal dengan ekspresi puas.


Crystal menarik nafas dalam dan menatap Kenzo heran. "Gigit bibirmu lagi di hadapanku jika kau ingin merasakan ini lagi." ujar pria itu dengan senyum miringnya, lalu mengusap bibir merah Crystal dengan ibu jarinya.


Saat satu tangan pria itu mengusap bibirnya dan tak lagi mengurung tubuhnya, Crystal menggunakan kesempatan tersebut dan bergerak secepat kilat menuju pengawalnya.


Crystal bergerak ke belakang pengawalnya tersebut dan bersembunyi dibalik tubuh kekarnya.


"Lindungi aku dari pria itu! Dia ancaman terbesar dalam hidupku." ujar Crystal sambil menunjuk Kenzo dan bersembunyi di punggung pria tersebut.


Kenzo menatap ke arah Crystal dengan senyum yang terpatri di bibirnya. Namun senyumnya bukanlah senyuman yang akrab dan hangat. Senyuman itu seakan menyimpan sejuta misteri dan sejuta makna yang sulit ia mengerti.


"Sepertinya kau akan cepat akrab dengan pengawalmu. Kenapa kalian tidak berkenalan lebih dulu?" ujar Kenzo masih dengan senyum tersembunyinya.


Crystal tampak terdiam dan menimbang ucapan Kenzo di kepalanya. Akhirnya ia memutuskan keluar dari persembunyiannya dan berdiri di hadapan pria yang kini menjadi pengawalnya.


"Namaku Crystal, kau bisa memanggilku Crys." ujar Crystal sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Damian Nona." ujar pria itu singkat, padat, jelas dan tak membalas uluran tangan Crystal.


Crystal menatap pria bernama Damian itu lekat dengan ekspresi bingung. "Kenapa kau tidak membalas uluran tanganku?" tanya Crystal menatap Damian heran dan keningnya yang mengerut.


Crystal menurunkan uluran tangannya dan melirik ke arah Kenzo yang berdiri mengamati mereka.


Crystal tersentak kaget saat tiba-tiba tangan Kenzo menarik pinggangnya hingga tubuhnya menabrak tubuh pria itu.


"Kau itu milikku, tidak ada seorangpun yang bisa menyentuh milikku." ujar Kenzo menatapnya dengan tatapan nakal, lalu menatap ke arah Damian.


Crystal tidak mengerti arti tatapan yang dilempar Kenzo pada Damian, namun ia dapat melihat ada yang aneh dibalik tatapan itu.


Damian tanpa tersentuh sedikitpun masih berdiri dengan wajah datar dan dinginnya.


Crystal mencoba melepaskan diri dari lengan Kenzo yang merangkul pinggangnya. "Lepas Kenzo!" ujar Crystal geram sambil mendorong tangan Kenzo dari pinggangnya.


Crystal tersentak saat Kenzo semakin menarik tubuhnya dan kini tubuh bagian depannya menabrak dada bidang pria itu. Pria itu seakan melekatkan tubuh mereka dan melempar tatapan tajamnya pada Crystal.


"Bukankah aku sudah bilang kalau aku tidak suka dipanggil dengan nama itu?" tanya pria di depan Crystal dengan wajah yang kini berubah dingin.


Crystal terdiam, lalu meneguk ludahnya takut. Crystal merasakan bagaimana tangan Kenzo mencengkeram pinggulnya dan semakin menarik pinggangnya untuk melekat pada tubuh pria itu.


"Se... sebelumnya kau tidak pernah marah jika aku memanggilmu itu." ujar Crystal gugup sambil menatap wajah pria di hadapannya dengan ekspresi takut.


Pria di depannya itu menatapnya dengan tajam dan ekspresi datar tak tersentuh. Matanya berkilat marah dan mulutnya masih terkunci rapat.


"Itu karena kau berhadapan dengannya bukan denganku." ujar pria itu masih menatapnya penuh emosi.


Kening Crystal berkerut mendengar ucapan absurd pria itu. Otaknya berputar mendengar ucapan pria itu dan kepalanya seketika pusing karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh pria di hadapannya itu.


"Kenapa perkataanmu sangat membingungkan? Kalau kau bukan Kenzo, lalu kau siapa? Aku sedang berhadapan dengan siapa sekarang?" tanya Crystal menggeleng tak paham dan frustasi dengan pikirannya yang berputar-putar.


Pria di depannya itu terlihat mengangkat sebelah bibirnya ke atas, lalu mendekatkan mulutnya ke telinga Crystal yang seketika memerah merasakan sensasi menggelitik ketika nafas pria itu menubruk kulitnya.


"Panggil aku Levin dengan suara seksimu." desisnya serak, lalu mengecup singkat daun telinga Crys yang panas.


Tubuh Crystal bergetar hebat ketika merasakan sensasi yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Seperti ada sengatan listrik yang mengalir dari bibir pria itu ketika menyentuh telinganya.


Crystal bergidik ngeri saat wajah pria itu menjauh dan kini berada beberapa senti di depan wajahnya.


"Kau menyadarinya bukan? Aku bukan dia, kami adalah orang yang berbeda, namun kami tinggal di satu tubuh yang sama." ujarnya tajam dengan ekspresi yang berhasil membuat tangan Crystal bergetar dan jantungnya berdetak sangat kencang.


Crystal meneguk ludahnya susah payah dan mencoba menatap mata berkilat pria di depannya ini dengan ekspresi takut. Otaknya jelas mencerna dengan baik ucapan pria di depannya itu.


Apa ini nyata? Apa dia sedang bermimpi? Apa benar seseorang bisa mempunyai kepribadian ganda?


"Di.. dimana dia?" tanya Crys terbata-bata.


"Siapa? Kenzo?" tanya pria di depannya ini.


"Iya." jawab Crystal bergetar takut.


"Dia tertidur dengan lelap. Saat kemarahan menguasai dirinya, saat itulah aku akan lebih kuat darinya. Terimakasih karena sudah membuatnya marah besar kemarin, jadi aku bisa menguasai tubuh ini dan membuatnya tertidur." ujar pria itu dengan senyum miringnya yang terlihat begitu puas.


Bersambung.....