Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 50



Crystal memakan sarapan dengan tak tenang. Ia kerap kali mencuri pandang guna menangkap sosok Levin yang masih terus menatapnya nonstop. Pria itu jelas-jelas sengaja memandangnya dengan senyum miringnya yang menyeramkan.


"Crys, bibirmu terluka kenapa?" Crystal menoleh gugup ke arah Nath yang bertanya padanya.


"Ah ini, aku tidak sengaja menggigitnya."


Levin terlihat tersenyum puas sambil menatap wajah gugup Crystal yang menggemaskan.


Crystal baru menyadari bibirnya yang terluka akibat ciuman kasar Levin semalam. Ia melempar pandangan tajamnya kepada Levin yang kini tersenyum puas sambil menatapnya.


"Kenzo, kau tidak bekerja? Ini sudah lewat dari jam biasanya kau berangkat ke kantor." tanya Nath dengan wajah bingung.


"Tidak." kata Levin ketus, bahkan tak menolehkan kepalanya ke arah Nath.


Nath menangkap jelas bahwa Levin selalu memandangi Crystal dengan senyumnya. Wanita itu melirik ke arah Levin dan Crystal bergantian.


"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi keluar?" tanya Nath mencoba bersemangat.


Mendengar hal itu, Levin langsung melempar kasar garpunya ke atas piring sehingga menimbulkan suara dentingan yang begitu keras.


Nath dan Crystal tentu saja tersentak kaget mendengarnya. Wajah penuh senyum Levin kini berganti datar dan dingin dengan aura yang begitu mencekam. Seketika meja makan tersebut hening dan terlihat jelas aura kecanggungan di sana.


Levin menoleh ke arah Nath dengan mata tajam tak tersentuh. "Jangan makan di meja yang sama denganku jika kau tidak bisa menutup mulutmu ketika makan."


Nath menelan ludahnya kasar merasakan aura membunuh Levin yang membuat bulu kuduknya meremang. Crystal juga hanya bisa menatap Levin dengan wajah bingung karena tidak bisa melakukan apapun.


"Maaf." kata Nath dengan kepala menunduk.


Levin menoleh kembali ke arah sarapannya, lalu mengangkat kepalanya demi menatap sosok Crystal yang berada dihadapannya dengan tatapan dalam.


Crystal yang sejak tadi menatap Levin ikut membalas tatapan pria itu dengan sama lekatnya. Sampai akhirnya sebuah senyum miring kembali terpatri di bibir pria itu.


Crystal dengan canggung pun memakan sarapannya kembali hingga habis, membiarkan sosok Levin dengan kegiatannya sendiri.


***


Nath duduk di atas ranjangnya sambil merenung dengan melipat kedua tangannya di depan dada. Wanita itu memikirkan sikap Kenzo yang begitu aneh dengannya pagi ini. Kenzo selalu bersikap manis kepadanya dan tidak pernah berbicara sedingin dan sekasar itu.


Nath menggigit jempolnya dengan wajah khawatir. Kalau sikapnya seperti ini, hanya ada satu hal yang bisa ia pastikan saat ini di kepalanya.


"Dia adalah Levin." desis Nath dengan tatapan memicing.


Wanita itu berjalan dengan wajah panik ke arah balkon demi mencari udara segar.


"Tidak, jangan Levin. Pria itu tidak pernah menyukaiku." gumam Nath berdiri memegang pagar balkon, masih dengan menggigit jarinya khawatir.


"Rencananya bisa hancur."


Wanita itu berjalan mondar-mandir di area balkon, mencoba memeras kepalanya untuk mencari jalan agar Kenzo bisa kembali.


Tok.. Tok.. Tok


"Goddamn, kenapa harus sekarang." umpatnya menatap ke arah pintu yang diketuk.


"Nath, aku akan pergi keluar dengan Kenzo sebentar."


Mata Nathalie memicing tajam mendengar suara Crystal dari balik pintu kamarnya. Wanita itu buru-buru membuka pintunya dan menatap Crystal dengan senyum canggung.


"Pergi? Kemana?" Crystal sangat terkejut ketika pintu kamar wanita itu terbuka dengan sangat tiba-tiba dan begitu cepat.


"Entah, Kenzo tidak memberitahuku." jawab Crystal sambil menggidikkan bahunya tak tau.


"Apa aku boleh ikut? Aku bosan." kata Nath dengan wajah memohon.


Crystal menggaruk tengkuknya bingung. Pasalnya yang mereka hadapi kini adalah Levin. Kenzo tidak akan mungkin mengajaknya keluar, pria itu pasti akan mengajak Nath dan bukan dirinya.


"A..aku tidak tau. Bagaimana kalau kau tanya Kenzo saja?"


Bahu Nath melemas. "Kenzo sepertinya sedang marah padaku hari ini. Tidak apa-apa, kalian pergilah." kata Nath putus asa dengan wajah cemberut.


Crystal menatap wanita di depannya dengan wajah iba dan merasa bersalah.


"Kalau begitu aku pergi." kata Crystal, lalu pergi dari sana.


Sepeninggal Crystal dari depan kamarnya, Nath masuk kembali ke dalam kamarnya dengan wajah kesal dan tangan mengepal.


"Dia menang kali ini karena Levin yang sedang berkuasa." gumam Nath dengan wajah menahan emosi.


***


Crystal keluar dari dalam mobil dan menatap sebuah Mansion besar yang begitu mewah. Ia ingat betul berapa jarak yang mereka tempuh setelah masuk gerbang utama Mansion tersebut. Crystal benar-benar terpukau melihat bangunan di depannya itu dan kepalanya terus berputar memikirkan siapa kira-kira pemiliknya.


"Mansion siapa?" tanya Crystal saat Levin sudah berada di sampingnya.


"You'll know." kata Levin singkat, lalu berjalan masuk ke dalam dengan santai.


Crystal mengekor dari belakang sambil terus menatap Mansion itu dengan mata berbinar.


Crys menganga melihat Vian yang berlari ke arah Levin. Ternyata Mansion ini adalah milik Davin dan Vania. Crystal sampai berpikir betapa beruntungnya lahir sebagai anak dari Davin dan Vania. 


Vian menoleh dan terkejut melihat kedatangan Crystal yang berada di balik tubuh Levin.


"Kakak Crystal." Vian berlari ke arah Crystal dan memeluk gadis itu dengan senyum manis.


Terlihat Vania berjalan mendekati mereka dengan Vano yang ia gandeng. Vania melempar senyumnya kepada Crystal dan Levin masih berdiri menatap interaksi Crystal dan Vian dengan lekat.


"Dave ada di ruangannya." kata Vania menatap Levin.


Mendengar hal itu Levin segera menarik tangan Crystal, namun dicegat oleh Vian.


"Uncle pergilah sendiri, kakak Crys akan main denganku."


"She's mine and she actually supposed to be your Aunt and not your sister." tekan Levin menatap Vian tajam.


Vian ikut membalas menatap Levin tajam dengan wajah menantang. Crystal menarik lengan kemeja Levin dengan pandangan mata penuh isyarat.


"Vian, biarkan Aunty Crys pergi dengan Uncle Kenzo sebentar untuk menemui Daddy okay." kata Vania membujuk anaknya dengan penuh kelembutan.


Vian cemberut, lalu berjalan menuju mamanya dengan bahu lemah. "She will play with you after she finished her business with daddy okay." tambah Vania lagi yang diangguki semangat oleh Crystal.


"Okay." jawab Vian masih dengan wajah tak puas. Levin pun segera menarik Crystal menuju ruangan Davin berada.


"Kenapa kau suka sekali berdebat dengan anak kecil?" tanya Crys heran. Gadis itu juga tak menepis tangan Levin yang menggenggam tangannya.


"I don't like when he's with you."


Wajah Crystal memerah seketika. Ia tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya dan rasa panas yang menjalar di sekitarnya. Gadis itu berusaha untuk menahan senyumnya.


Pria itu dengan langkah pasti dan santai masuk ke dalam sebuah ruangan. Crystal melihat seorang pria yang duduk di kursi kerjanya sambil menatap berkasnya lekat.


"Lebih lama dari yang dijanjikan." kata Davin setelah menyadari kedatangan mereka, namun masih belum mengalihkan matanya dari berkas miliknya.


"Ya, anakmu sempat menghalangi." kata Levin dingin dan datar.


Davin mengangkat kepalanya dan menatap Levin dalam.


"Levin" kata Davin dengan senyum miringnya, lalu menutup berkasnya. Pria itu langsung menyadari bahwa yang ia hadapi adalah Levin dan bukanlah Kenzo.


Levin dan Crystal duduk di sofa yang tersedia, disusul oleh Davin yang beranjak dari meja kerjanya. Crystal duduk dengan begitu canggung berada di antara dua pria tampan dengan aura yang sama dinginnya dan sama-sama tak tersentuh.


"Aku ingat bahwa aku membuat janji dengan Kenzo."


"Dia tidak bisa menepatinya, maka akulah yang menggantikannya."


"Aku benar-benar heran kenapa kau bisa menyadari apa yang terjadi bahkan saat Kenzo yang sedang berkuasa, sedangkan Kenzo tidak."


"Karena dia lemah dan bodoh."


Sudut bibir Davin terangkat. "Kau bahkan membawanya." kata Davin melirik Crystal.


"Kurasa Kenzo tidak akan senang jika dia mengetahuinya." lanjut Davin.


Levin tertawa kecil dengan penuh makna. "Kau sengaja membuatnya kehilangan kendali dengan cara seperti ini." tambah Davin lagi.


"Smart as always." kata Levin.


"Lalu, apa aku harus menunjukkannya di depan gadis ini?"


"Ya, dia berhak tau." kata Levin santai.


Devin lagi-lagi tersenyum miring. Ia benar-benar ingin tau pertarungan antara Levin dan Kenzo akan berakhir sampai dimana.


Pria itu mengeluarkan sebuah berkas dengan amplop coklat. "You found him?" tanya Levin menatap berkas tersebut.


"Not yet, but i found the proofs."


Levinpun membuka berkas cokelat tersebut dan mendapati beberapa lembar foto di dalamnya dan beberapa lembar dokumen.


"Desmond memang benar menculiknya." kata Davin.


Crystal mengernyit, lalu bergeser mendekati Levin demi melihat foto yang dipegang olehnya.


Mata Crystal membulat sempurna ketika ia melihat foto kakaknya yang dipaksa masuk ke dalam sebuah mobil dengan wajah babak belur. Crystal merebut foto tersebut dan menatapnya dengan wajah meyakinkan bahwa itu benar-benar kakaknya.


"Ini kakakku, kenapa mereka menculiknya?" tanya Crystal menatap Levin dengan wajah khawatir dan pria itu sama sekali tidak menjawab.


"Then, apa yang akan kau lakukan?" kata Davin. Levin tersenyum miring, lalu meletakkan berkas itu ke atas meja.


"Burn them all."


Bersambung...


Next Up : lusa