
Siang hari ini yang terasa lebih panas dari biasanya, terlihat seorang gadis berlari kencang dengan wajah panik. Rambutnya yang terikat ponytail, berayun ke kanan-kiri seiring kecepatan larinya.
Tas ransel dan beberapa buku di tangannya tak membuat kecepatan larinya berkurang. Hingga akhirnya, ia berhenti tepat di depan pintu kelas yang tertutup.
Tubuhnya membungkuk sebentar dengan nafas ngos-ngosan untuk menetralkan pundaknya yang terlihat naik-turun karena kelelahan sambil merapikan pakaiannya, sebelum akhirnya membuka pintu di depannya.
Cklek.
Perlahan ia membuka pintu kelas tersebut dan ia memasukinya dengan kepala menunduk. Beberapa pasang mata menatap kedatangannya terutama seorang Dosen yang sempat berhenti bicara sambil menatap ke arahnya.
Gadis tersebut mengambil duduk di barisan tengah dan duduk di samping seorang gadis yang melempar senyum padanya.
"Kamu terlambat lagi Crys." bisik gadis di sebelahnya, tepat setelah bokongnya bertemu dengan kursi.
"Huhh... Aku sudah berlari secepat mungkin." bisik Crystal sambil membuang nafas lelah.
Crystal meletakkan bukunya dan mulai mengikuti pelajaran Dosen di depannya.
***
Dua jam berlalu dan akhirnya pelajaran tersebut selesai. Crystal duduk dan merapikan bukunya dengan sangat lambat. Ia benar-benar lelah. Sudah dua minggu berjalan setelah ia mulai bekerja paruh waktu di sebuah restoran. Hal itulah yang membuatnya akhir-akhir ini sering terlambat kuliah.
"Crys."
Crystal menoleh ke sumber suara saat namanya dipanggil.
"Kak Leo."
Agleo Sarvis Raven, pria tampan jangkung yang menjadi Asisten Dosen di mata kuliahnya kali ini. Leo adalah mahasiswa tahun ketiga dan terkenal sangat pintar di tambah tampangnya yang menarik.
"Hai. Mau ke kantin bareng?" tanya laki-laki bernama Leo tersebut dengan senyum manis.
"Tapi aku sudah bersama Lily kak." ucap Crys sambil menoleh pada Lily yang duduk di sebelahnya.
"Kalau kakak nggak masalah, kita bisa pergi bertiga." ucap Crystal lagi dengan senyum yang begitu manis.
Leo ikut tersenyum melihatnya. "Boleh." jawabnya senang.
Crystal tersenyum senang dan membereskan bukunya lebih cepat. Setelah selesai, ia bangkit berdiri dan menarik lengan Lily bersamanya.
"Yuk kak." ajak Crystal.
Mereka bertiga berjalan sejajar keluar dari kelas hingga akhirnya sampai di kantin kampus. Lily duduk dengan tenang di samping Crystal. Sedangkan Leo duduk di hadapan dua gadis tersebut.
"Kalian pesan apa?" tanya Leo.
"Aku ambil menu makan siang 2A kak." jawab Lily.
"Aku tidak usah kak, aku bawa bekal dari rumah." ucap Crys dengan senyum lebar.
Leo menatap ke arah Crys lama dan akhirnya mengangguk paham. Leo melangkah pergi untuk mengambil makan siang mereka.
Sedangkan Crys mengeluarkan kotak bekal dari dalam tas ranselnya, lalu meletakkannya di atas meja.
"Kak Aric yang masakin lagi?" tanya Lily dengan senyum menggoda.
"Iya."
"Uhhh... Seneng deh kalau punya kakak seperti kakakmu Crys." ucap Lily.
"Aku juga beruntung punya kak Aric. Cuman dia satu-satunya yang aku punya." ucap Crys dengan senyum manisnya. Tersirat rasa bersyukur di senyum itu.
"Aku mau yang terbaik untuk kak Aric." ucap Crys sedih sambil menatap bekal di atas meja. Dia sudah terlalu membebankan kakaknya selama ini. Dia ingin yang terbaik untuk kakaknya itu.
Tanpa sadar Leo sudah berada di hadapan mereka sambil meletakkan dua nampan makanan ke atas meja. Crys tersadar dari lamunannya, lalu melempar senyum ke arah Leo.
"Ini dia makan siangnya." ucap Leo sambil menyodorkan makan siang ke arah Lily.
Lily tersenyum senang dengan pipi merona. "Makasih kak." ucapnya malu-malu.
Leo membalas dengan senyum manisnya. Crystal, Lily dan Leo menikmati makan siang mereka sambil berbincang ringan.
***
Crystal POV
Setelah pulang kuliah, aku buru-buru pergi ke tempat kerjaku. Part-time malamku yang baru, aku bekerja di Bar Nightingale yang begitu terkenal di kota ini.
Aku bekerja sebagai pelayan yang mengantar minuman dan pesanan. Aku tidak bekerja sebagai pelayan plus-plus yang melayani nafsu para baji*gan di sini. Aku hanya membutuhkan uang yang cukup untuk makan dan hidup.
Aku berganti pakaian dengan pakaian khusus pelayan. Aku bersyukur pakaian pelayan di sini tidak yang aneh-aneh. Roknya tidak kependekan dan bajunya juga tidak terlalu ketat.
"VVIP akan datang malam ini!" bisik teman sekerjaku bernama Rachel. Gadis pendek dengan rambut sebahu dan mata yang bulat. Dialah yang merekomendasikan tempat ini untuk part time malamku sebagai pelayan yang sama seperti dirinya.
"VVIP?" tanyaku memastikan.
"Iya. Pria-pria kaya, baik muda dan tua akan sangat banyak. Terutama VVIP kelas 1, yang berisi pria-pria muda kaya dan otoriter." ujar Rachel panjang lebar dengan wajah bergidik.
"Jangan coba-coba membuat masalah apapun pada mereka kalau kau masih ingin bekerja di sini. Ini pertama kalinya kau melihat tamu VVIP bukan? Untungnya karena kau anak baru, kau tidak perlu melayani mereka. " tambahnya lagi.
Aku mengangguk perlahan dengan pikiran melayang. Semoga hari pertamaku berjalan dengan lancar dan tak terjadi hal-hal yang mengerikan.
"Ayo!" aku mengangguk dan mengikuti langkah Rachel dari belakang.
Aku berdiri tepat di samping Rachel saat kami masuk ke dalam barisan para pelayan yang bersiap menyambut para tamu VVIP di lorong pintu masuk.
Di samping itu, para wanita penghibur mengambil barisan sebelah kanan dengan penampilan super menggoda.
"Mereka datang!" bisik kepala pelayan di depan. Aku berdiri tegap dengan tangan terlipat di depan sambil menundukkan kepala.
"Selamat datang di Nightingale." ujar kepala pelayan tersebut. Aku mendongak sedikit untuk menatap orang pertama yang sampai di sini.
DEGH..
Seketika jantungku berdetak kencang dan rasa sesak perlahan menggerogoti dadaku. Di sana, orang yang selama ini kucari, berjalan dengan wajah dingin dan penuh pesona.
Dia.... Pembunuh itu.
Sebuah tato dengan simbol yang tidak kumengerti menarik penuh perhatianku. Berada tepat di leher kanan, tepat dibawah telinganya. Tato yang tertanam jelas di ingatanku selama ini, satu-satunya cara untuk mengetahui siapa pembunuh yang kucari.
simbol tatonya.
Bersambung...
Huhu... share ya, like dan komen. vote juga.
Bye..😘