Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 85



"Sudah kau temukan?"


"Sudah."


"Berapa banyak?"


"177 orang."


Sayup-sayup suara percakapan tersebut terdengar di telinganya, beriringan dengan kelopak matanya yang perlahan mulai bergerak.


"Kalau begitu siapkan 2 kali lipat lebih banyak dari mereka."


"Got it. Ini pertama kalinya kita mengeluarkan pasukan sebanyak ini."


Perlahan-lahan mata Kenzo yang sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit mulai terbuka, lalu kembali menutup dengan kening mengerut dikarenakan silaunya cahaya lampu yang berada tepat di atasnya.


"Ugh."


Mendengar lenguhan Kenzo yang ternyata sudah siuman, mengundang sorot mata Davin dan Ansell yang berada di atas sofa.


"Dimana?" Tanya Kenzo lirih dengan suara serak sambil menyesuaikan pandangannya dari silauan cahaya lampu.


Davin bangkit berdiri, lalu berjalan mendekati ranjang pria itu. "Rumah sakit." Jawab Davin.


Kenzo menatap ke arah Davin yang baru saja menjawab pertanyaannya. Setelah mata pria itu menelusuri keadaan sekelilingnya, Kenzo baru menyadari bahwa ia memang berada di rumah sakit.


Kenzo menyentuh kepalanya yang berdenyut nyeri.


"Kau ingat apa yang sudah terjadi padamu?" Tanya Davin lagi.


Kenzo terdiam sambil menekan keningnya, mencoba mengingat alasan mengapa ia berakhir di tempat ini.


Sekelebat peristiwa itupun seketika memenuhi kepalanya. Mobil yang ia kendarai bersama dengan Crystal, ditabrak dengan begitu keras hingga berguling di jalanan.


"Crystal." Kenzo segera membuka matanya dengan raut panik.


"Dimana dia?" Tanya Kenzo cepat.


"Desmond menculiknya." Jawab Ansell cepat.


Tangan Kenzo seketika mengepal dengan nafas yang menderu kencang. Dengan kasar, pria itu langsung menarik infus di tangannya hingga terlepas, bahkan tak menghiraukan darah yang menetes dari punggung tangannya akibat tarikan asal-asalannya.


Davin dan Ansell menatap Kenzo yang mulai terlihat kehilangan akal. Dengan tubuh lemah dan wajahnya yang pucat, ia turun dari atas ranjang rumah sakit, lalu berjalan dengan langkah tergopoh-gopoh untuk menghampiri Davin.


"Berikan kunci mobilmu!" Ujar Kenzo menarik jas Davin dengan marah.


"Tenangkan dirimu!" Ucap Davin datar, tak terintimidasi sama sekali dengan raut wajah Kenzo yang terlihat tak bersahabat.


Kenzo mendorong kasar tubuh Davin dengan penuh emosi. "Tutup mulutmu sialan!" Teriak Kenzo geram, lalu kembali melangkah ke arah pintu ruangan


"Kalau kau pergi dengan kondisimu sekarang, kau hanya akan berakhir dengan kematian." Kata Ansell angkat bicara.


Kenzo masih tidak peduli, seakan menulikan telinganya, ia terus berjalan tergopoh ke arah pintu.


"Ada 177 orang yang menunggu kedatanganmu dan kau mengantarkan nyawanya dengan sukarela." Tambah Ansell lagi dan Kenzo tetap saja melanjutkan langkahnya.


Ansell geram melihat kekeras-kepalaan pria itu, lalu bangkit berdiri dari atas sofa. "Si bodoh ini." Ansell menarik kasar baju rumah sakit yang Kenzo kenakan, lalu melayangkan bogeman mentah di wajah pria itu.


Bugh.


Kenzo seketika tersungkur di atas lantai dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya.


"Lihat, kau bahkan tidak bisa mengelak dari pukulanku." Ujar Ansell geram.


Kenzo terlihat gusar sambil mengusap bibirnya yang mengeluarkan darah.


"Kau tau apa? Dia berada di tangan si berengsek itu." Kenzo menatap Ansell tajam dengan wajah marah.


"Karena itu aku menyuruhmu untuk tenang." Davin kembali menyela sambil duduk dengan santai di atas sofa.


Kenzo mengalihkan tatapannya ke arah Davin.


"Kalau kau tetap tidak bisa mengontrol emosimu, biarkan Levin yang mengambil alih." Tambah Davin sambil menatap Kenzo dengan tatapan tajam.


"Aku sudah tau kau akan langsung menggila dan menghampiri markas mereka sendirian. Tapi keputusan bodoh itu hanya akan mengantarkan nyawamu kepada mereka. Aku sudah mengatur pasukan untuk ikut bersamamu menyerbu markas mereka."


Kenzo menatap Davin lekat. "Kau bisa pergi malam ini dengan kondisi yang lebih baik daripada sekarang." Tambah Davin lagi.


Ansell melangkah ke arah ranjang Kenzo untuk menekan tombol pemanggil dokter ataupun perawat. Setelah itu, Ansell berjalan kembali menuju sofa, mengambil laptopnya dan ikut duduk di sebelah Davin.


"Bagaimana?" Tanya Davin menatap Kenzo lekat.


Kenzo terdiam beberapa saat dengan tangan terkepal. Ia tidak bisa menunggu selama itu, tapi dengan keadaannya yang seperti ini, ia tidak punya pilihan lain selain mengikuti rencana Davin. 


"Kau sudah memastikan dia baik-baik saja?" Tanya Kenzo menoleh menatap Ansell tajam.


Ansell melirik dengan pandangan malas. "Menurutmu? Kalau kau saja bisa berakhir seperti ini, apa menurutmu dia akan baik-baik saja?" Tanya Ansell sambil memutar matanya.


Rahang Kenzo mengeras. "Ah, tapi kalau maksudmu dia masih hidup atau tidak, untungnya dia masih hidup." Tambah Ansell lagi sambil menatap raut wajah Kenzo yang terlihat begitu emosi.


"Permisi Tuan." Seorang perawat terdengar mengetuk pintu beberapa kali, lalu membukanya dan menatap ketiga pria yang berada di dalam ruangan tersebut yang tengah memasang wajah dingin mereka. 


Perawat tersebut seketika meneguk ludahnya kasar, menyadari bahwa ia masuk di waktu yang salah. Ia dapat merasakan suasana mencekam diantara mereka bertiga. Perawat tersebut terlihat menenangkan dirinya dengan menarik nafas panjang, lalu kembali menyadari bahwa pasien di dalam ruangan tersebut telah siuman.


"Ah, Pasien sudah siuman, saya akan panggilkan dokter." Ujarnya. 


"Sa...saya permisi." Tambahya lagi karena tidak mendapatkan respon apapun selain tatapan dingin dan datar dari ketiga pria tersebut.


***


10.00 PM


Mata Crsytal kembali mengerjab dengan begitu pelan dan lambat. Ia menggumam kecil, merasa bahwa ia sudah tidak punya kekuatan lagi bahkan hanya untuk sekedar membuka kelopak matanya. 


Tubuhnya terasa semakin remuk lebih dari sebelumnya. Belum lagi tenggorokannya yang terasa sangat kering. Sejak ia dibawa ke tempat ini, tidak sedikitpun makanan bahkan minuman masuk ke dalam mulutnya. 


Tubuh kecilnya hanya dapat terbaring di atas lantai walaupun kesadarannya sudah kembali.


"A...ir." Lirihan wanita itu terdengar sangat menyakitkan. Suaranya begitu serak seperti hampir kehilangan suara.


Ia tidak tau sekarang sudah pukul berapa, bahkan ia tidak tau sudah berapa lama ia berada di tempat ini. Dengan pencahayaan yang begitu minim, Crystal menatap pada pintu ruangan tersebut yang tertutup rapat.


Dengan keadaan berbaring, Crys dapat melihat jelas segaris cahaya yang berasal dari bawah celah pintu. Tangannya perlahan tergerak seakan menggapai cahaya tersebut yang saat ini terasa sangat berharga. 


Tanpa ia sadari, sebulir air matanya jatuh begitu saja dan membasahi pipinya. Ia ingin bertahan. Ia tidak ingin menyerah walau rasanya tubuhnya tidak bisa lagi bertahan lebih lama. 


Ia ingin bertahan setidaknya sampai ia bisa melihat orang yang ia cintai untuk terakhir kalinya. Kakaknya-Allaric dan juga Kenzo, ia ingin melihat mereka walaupun hanya sekali.


Dilain sisi


"Tuan, Desmond sudah bergerak tanpa persetujuan dari anda." Ujar seorang pria menatap pada sebuah kursi yang terlihat membelakanginya.


"Pergerakannya tidak terlalu buruk, tetapi dia tetap harus menerima konsekuensi karena sudah melanggar ucapanku." Ujar seseorang dari balik kursi tersebut.


"Apa yang selanjutnya akan kita lakukan Tuan?" Tanya pria itu lagi.


Perlahan, kursi tersebut berputar menghadap pada bawahannya yang langsung menunduk patuh. Seorang pria paruh baya terlihat duduk di atas kursi dengan jari-jarinya yang menyatu satu sama lain.


Pria paruh baya tersebut masih terlihat gagah dan tegap dengan badan besarnya walaupun wajahnya sudah tidak lagi terlihat muda. Lengannya terlihat dipenuhi oleh tato begitu juga dengan lehernya.


Senyum miring dari bibir pria paruh baya tersebut terbit, dengan wajahnya yang terlihat sangar. Siapapun yang melihat pria ini akan langsung menyadari bahwa ia sangat berbahaya.


"Kita akan menghampiri markasnya."


Bersambung...  


Bingung? Ada yang kira-kira sudah berhasil menebak plotnya?


Next chapter : 12/7


Jgn lupa comment dan like🥰


see you