Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 90



Kenzo berjalan di samping Sergio yang kini membawanya ke perusahaan pria itu. Setelah dari sini, Sergio juga akan membawanya menuju pabrik produksi obat-obatan terlarangnya.


Seluruh karyawan pria paruh baya itu menunduk penuh hormat ketika Sergio melewati mereka.


Tatapan mata mereka juga tidak luput dari sosok Kenzo yang berjalan di samping Sergio dengan wajah dinginnya.


Mereka terlihat berbisik satu sama lain sambil melihat ke arah Kenzo dengan raut bertanya dan wajah penuh kekaguman oleh tampangnya yang menawan.


"Ini semua sebentar lagi akan menjadi milikmu Kenzo." Ujar Sergio sambil melangkah ke arah lift khusus miliknya.


Pengawal pria itu dengan sigap menekan tombol lift sebelum Sergio dan Kenzo masuk ke dalam kotak besi tersebut.


Ketika kedua pria itu sudah masuk ke dalam bersama dengan dua pengawal lainnya, pintu lift tersebut tertutup dan dengan otomatis naik ke lantai 32, dimana ruangan Sergio berada.


Kenzo masih tidak membuka suaranya selama kotak besi tersebut bergerak naik.


"Pelayan mengatakan Thalia keluar dari kamarmu pagi tadi." Sergio membuka suaranya.


Raut wajah dingin dan datar Kenzo tak berubah sama sekali setelah mendengarnya.


"Bagus." Sergio senang ketika mendengar hal itu.


Kenzo masih tak buka mulut. "Sebaiknya kalian memberiku cucu lebih cepat." Kata Sergio lagi, membuat Kenzo semakin muak mendengarnya.


Kenyataannya, malam itu Kenzo keluar dari kamarnya sendiri dikarenakan Thalia tidak mau pergi dari sana.


Thalia begitu kekeh menggodanya, hingga wanita itu membawa nama Sergio ke dalam percakapan mereka, membuat emosi Kenzo memuncak hingga rasanya ia ingin membunuh wanita itu saat itu juga.


Kenzo tidak mungkin mengambil resiko besar dengan membunuh anak perempuan Sergio satu-satunya, karena itulah Kenzo memilih untuk pergi dari sana dan tidur di salah satu kamar tidur tamu.


Lift berhenti, lalu terbuka, disusul dengan orang-orang yang berada di dalam kotak besi tersebut keluar dari sana.


Sergio dan Kenzo masuk ke dalam ruangan pria itu, sedangkan dua pengawalnya menunggu di depan pintu.


Kenzo duduk di sofa, sedangkan Sergio duduk di kursi kebesarannya.


"Thalia akan sibuk mengurus persiapan pernikahan kalian." Ujar Sergio.


"Pernikahan kalian juga akan segera diumumkan dihadapan media." Tambahnya lagi.


Senyum miring Kenzo seketika terbit, lalu menatap ke arah Sergio dengan pandangan tak terbaca. Sergio sengaja memberitahu media agar hubungan di antara mereka semakin jelas dihadapan publik.


"Kau memang luar biasa Sergio." Ujar Kenzo.


Sergio ikut tersenyum miring mendengar ucapan Kenzo yang memujinya, namun sekaligus mengejeknya juga.


"Aku akan melakukan apapun agar kau bisa menikahi Thalia dan mewariskan seluruh bisnisku." Balas Sergio.


"Kau seharusnya menikah lagi dan membuat penerus laki-laki sebelum kau setua ini Sergio." Ujar Kenzo yang berhasil membuat Sergio tertawa sumbang.


"Aku tidak membutuhkannya lagi setelah bertemu denganmu." Kata Sergio.


"Sayang sekali, kau sudah membuat keputusan yang salah karena aku hanya akan mengecewakan ekspektasimu. Hiduplah selama mungkin untuk mengurus semua hartamu." Balas kenzo.


"Apa kau pikir aku akan panjang umur?" Balas Sergio.


"Siapa yang tau." Jawab Kenzo.


Kenzo dan Sergio saling membalas dengan senyum miring mereka, yang membuat percakapan mereka terlihat sangat aneh, namun nuansa diantara mereka terasa begitu penuh permusuhan.


Dilain sisi


"Masih belum ditemukan."


Davin menatap bawahannya yang sedang memberikan informasi terbaru tentang pencarian Crystal.


"Belum ada mayat yang ditemukan mengapung." Tambahnya lagi melaporkan hasil pekerjaannya.


Davin mengangguk paham. "Lakukan terus pencariannya!"


"Baik Tuan."


Setelah itu, bawahannya keluar dari ruangan tersebut, sedangkan Ansell dan Lucas berada di meja mereka masing-masing, sambil sibuk dengan komputer mereka.


"Bagaimana dengan perekrutan anggota?" Tanya Davin pada Lucas.


"Ribuan berkas sudah masuk, apa perlu dilakukan interview?" Tanya Lucas.


"Tidak, terima dan kelompokkan sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing, lalu lakukan pelatihan." Ujar Davin.


"Okay." Jawab Lucas singkat, lalu kembali sibuk dengan komputernya.


"Bagaimana dengan Kenzo?" Tanya Davin menatap ke arah Ansell.


"Aku sudah memberitahunya untuk mengundur pernikahannya selama mungkin." Tambah Ansell lagi.


Davin terdiam beberapa saat. "Biarkan pernikahan mereka berlangsung!"


Ansell segera menoleh ke arah Davin dengan raut terkejut setelah mendengar ucapan pria itu. 


"Apa?" Tanya Ansell memastikan bahwa pendengarannya tidaklah salah.


"Jangan mengundurnya, Sergio pasti akan mencurigainya." Kata Davin.


"Lalu, apa kita akan diam saja?" Tanya Ansell masih terkejut, namun dibalik itu ia menyetujui pemikiran Davin.


Davin lagi-lagi terdiam, hingga akhirnya ia kembali menatap Lucas.


"Pelatihan anggota baru dimulai besok! Kurang dari satu bulan mereka harus melalui pelatihan yang keras, karena itu tawarkan kenaikkan gaji menjadi tiga kali lipat." Ucap Davin yang membuat Lucas menghela nafas gusar, dikarenakan hari ini ia harus lembur untuk mengurus keanggotan baru.


"Okay." Jawab Lucas ogah-ogahan.


"Apa yang kau rencanakan?" Tanya Ansell menatap Davin dengan pandangan bertanya.


"Menurutmu? Kau tau bagaimana cara kita bekerja selama ini Ansell." Jawab Davin yang membuat kening Ansell berkerut dan sebelah alisnya naik, sedangkan Davin duduk diam dengan segala rencana di dalam otaknya.


***


Kenzo menatap pada banyaknya jenis narkoba yang diproduksi di pabrik besar milik Sergio. Pria itu melangkah sambil melihat setiap pekerja yang melakukan tugas mereka masing-masing.


Sergio benar-benar gila. Dia memproduksi dan mengedarkannya ke seluruh negara. Setiap bulannya, pabrik ini akan menghasilkan 100 ton narkoba setiap jenisnya.


Pabrik ini adalah ladang uang yang sesungguhnya. Kenzo menatap punggung Sergio yang berjalan di depannya dengan tajam.


***


Sergio's Mansion | 08.00 PM


"Kau yakin satu bulan cukup untuk mempersiapkan anggota baru?" Tanya Kenzo yang sedang duduk di kursi balkonnya sambil menikmati rokoknya.


"Tidak." Jawab Davin dari balik earpiece.


Alis sebelah Kenzo seketika naik mendengar jawaban pria itu. "Apa yang kau rencanakan?" Tanya Kenzo lagi.


"Pasukan Sergio sudah terlatih sejak lama, sedangkan pasukan kita yang terlatih hanya tersisa setengah dari sebelumnya. Karena itu aku menerima anggota baru dengan jumlah besar, 3 kali lipat dari jumlah pasukan Sergio. Walaupun mereka tak cukup terlatih, jumlah kita unggul. Kita hanya perlu menyusun rencana untuk bisa mengurangi jumlah kematian nantinya." Ujar Davin panjang lebar.


"Sergio akan mencurigaimu jika kau mencoba untuk mengundur pernikahan kalian." Tambah Davin lagi.


"Karena itu kau menyuruhku untuk tidak mengundurnya?" Tanya Kenzo.


"Ya, menikahlah dengan putrinya!"


Kenzo terdiam sesaat mendengar ucapan pria itu.


"Apa lagi yang kau rencanamu?" Tanya Kenzo sedikit menggeram kesal membayangkan bahwa ia harus menikahi Thalia.


"Ambil harta Sergio! Buat skenario seakan rencananya untuk menjadikanmu pewaris sudah berhasil." Ucap Davin.


Ansell yang sejak tadi berada di samping pria itu ikut mendengar setiap rencana yang Davin beberkan.


"Kau salah perhitungan Davin. Setelah dia berhasil menjadikanku pewarisnya, Sergio tidak akan masalah hidupnya akan berakhir saat itu juga maupun tidak." Ujar Kenzo.


"Sergio hanya menginginkanmu sebagai pewarisnya. Setelah semuanya jatuh ke tanganmu, seluruh keputusan ada padamu untuk melanjutkan atau menghancurkan bisnisnya." Kata Davin.


Rahang Kenzo mengeras. "Aku tidak sudi membuatnya mati bahagia setelah seluruh rencananya berhasil." Ucap Kenzo penuh emosi.


"Lalu, apa kau punya rencana lain?" Tanya Davin menantang dengan nada dingin.


Kenzo kini terdiam. Dengan penuh kemarahan, Kenzo mencengkram rokoknya yang masih menyala di dalam kepalan tangannya. Pria itu sama sekali tidak terlihat kepanasan maupun kesakitan.


"Kita tidak punya pilihan lain. Sebelum rencananya berhasil, pria itu akan melakukan apapun untuk membuatmu menjadi pewaris sahnya dan menikah dengan putrinya." Ujar Davin lagi.


Kenzo melepas kasar earpiece tersebut dari telinganya, lalu melemparnya sembarang ke atas meja. Pria itu melempar sisa-sisa rokok yang ia cengkram, lalu menundukkan kepalanya dengan kedua tangannya yang berada di pelipisnya.


Dibawah sinar bulan yang menerpa tubuh Kenzo, siluet pria itu terlihat begitu kalut dengan pikiran rumitnya.


"Sialan!" Desisnya penuh emosi.


Bersambung...


Next : 4/8


Kalian serahkan aja ending novel ini kepada author ya😏 Sad atau happy ending ditunggu aja okay🙉