
"Ini seluruh data para pekerja yang ada disana." Ujar Lucas sambil memberikan beberapa lembar dokumen kepada Kenzo yang terlihat sibuk dengan Tabnya.
Kenzo mengambil dokumen tersebut, lalu mulai membukanya. Lucas melempar bokongnya dengan santai ke atas sofa setelah tugasnya selesai ia lakukan dengan begitu cepat.
"Pria tua yang ada dilembar pertama adalah pemilik perusahaan." Ujar Lucas sambil mengeluarkan rokoknya dan mulai menyulutnya dengan api.
"Aku hanya membutuhkan pekerja biasa." Terdengar suara dingin Kenzo yang sedang membaca dokumen tersebut dengan begitu teliti.
Lucas bergidik tak peduli, lalu menyandarkan tubuhnya ke bahu sofa dan sibuk dengan kegiatan merokoknya.
Beberapa menit berlangsung setelah Kenzo begitu fokus membaca data-data berisi identitas diri tersebut, akhirnya ia memilih salah satu data seorang pekerja laki-laki.
"Dia."
Lucas menurunkan matanya untuk melihat dokumen yang Kenzo lempar ke atas meja.
"Kita bisa mengancamnya dengan menggunakan keluarganya." Ujar Kenzo lagi.
Lucas lagi-lagi menghembuskan asap rokoknya ke udara, lalu menegakkan tubuhnya dan mengambil dokumen tersebut.
"Kapan kau akan melakukannya?" Tanya Lucas.
"Lusa."
Lucas bangkit dari atas sofa. "Aku akan meretas kamera pengawas mereka dan mengawasi pergerakannya." Ujar Lucas, lalu pergi dari sana meninggalkan Kenzo seorang diri.
Kenzo kembali menatap layar Tab di tangannya untuk terus mengawasi Perusahaannya dari jarak jauh, serta mengawasi Mansionnya beberapa kali.
***
Crystal menatap layar televisi di depannya yang tengah menampilkan sebuah film. Matanya beberapa kali mengerjab dengan raut wajah tak bersemangat dan tak berminat dengan film tersebut.
Damian ikut duduk di atas sofa setelah Crys menyuruh pria itu untuk ikut duduk dibandingkan berdiri terus-menerus sambil mengawasinya.
Allaric juga berada di sana sambil menikmati tontonan mereka. Kenzo benar-benar menepati janjinya untuk membebaskan Allaric setelah pria itu pergi.
Hari ini adalah hari pertama tanpa kehadiran Kenzo setelah pria itu pergi ke Barcelona.
"Sialan, dasar merepotkan." Crystal menoleh ke sumber suara, dimana seorang pria melangkah mendekati mereka sambil menggerutu kesal.
Pria itu adalah Ansell. "Ada apa?" Tanya Crys bingung, setelah Ansell sampai di tempatnya dan ikut duduk di sofa dengan wajah berkerut.
"Tanyakan pada kekasih sialanmu." Jawab Ansell geram.
Wajah Crys mengerut heran mendengar ucapan Ansell, sedangkan Allaric menatap tajam ke arah Ansell setelah mendengar ucapan pria itu.
"Menyusahkan." Desis Ansell lagi, lalu memainkan Tab yang ia bawa dan hanya duduk disana sambil sibuk dengan dunianya sendiri.
Cryspun menggidik bahu masa bodoh, lalu kembali menonton tayangan film di depannya.
"Crystal, kau bisa mendapatkan pria yang lebih baik darinya." Ujar Allaric yang tiba-tiba mengangkat suara.
Crys menatap Aric sambil membuang nafas kasar. "Kak, please jangan mulai lagi." Ujar Crystal tak ingin berdebat terus-menerus dengan kakak laki-lakinya itu.
"Ucapannya tidak salah juga." Tambah Ansell membenarkan ucapan Allaric dengan wajah santai.
Kening Crys mengerut dengan mata memicing tajam sambil menoleh ke arah Ansell. "Seharusnya kau membela temanmu." Ujar Crys.
Ansell bergidik tak peduli dan masih terus fokus dengan Tabnya. Crys menggeram kesal melihat sikap Ansell yang menyebalkan.
"Seharusnya kau mendengarkan ucapan kakak Crys, temannya saja bilang seperti itu. Pria itu pasti tidak baik untukmu dan tidak akan membuatmu bahagia." Crys mengusap kepalanya setelah mendengar ucapan Aric.
Crys bangkit dari sofa dengan wajah kesal. "Cukup, Crys ke kamar saja kalau kakak begini terus." Cryspun pergi dari sana dengan wajah kesal, lalu Damian ikut beranjak mengikutinya dan senantiasa mengawasinya sebagai pengawal pribadi.
"Crystal." Crystal tak menghiraukan panggilan kakaknya dan terus melangkah pergi.
"Bagus, kembalilah ke kamarmu agar aku tidak perlu mengawasimu." Desis Ansell pelan dengan senyum miringnya. Berhasil juga rencananya untuk membuat Crys pergi ke kamarnya dan menjauh dari pria-pria itu.
Ansell kesal ketika Kenzo menghubunginya setelah pria itu melihat Crys sedang menghabiskan waktu dengan Damian dan Allaric dari pantauan kamera pengawas. Pria itu langsung menyuruhnya untuk mengawasi Crys dari dua pria itu, karena itulah Ansell terlihat geram dan marah ketika ia datang.
Crystal berjalan menuju kamarnya, namun tiba-tiba langkahnya terhenti ketika ia berpapasan dengan Nathalie di tengah perjalanan. Nathalie menatap Crys lekat, begitupula dengan Crystal.
"Bisa kita berbicara?" Tanya Nathalie. Crystal tersentak kaget mendengar permintaan wanita itu.
"Tanpa orang ketiga." Tambah Nath lagi padanya setelah menunjuk Damian dengan matanya.
"Damian, tinggalkan kami!" Titah Crys.
"Baik Nona."
Damian pun pergi dari sana. "Kau tau dimana tempat mengobrol yang nyaman?" Tanya Nathalie.
Crystal mengangguk. "Kalau begitu, kau yang tuntun jalannya." Ujar Nath lagi.
Crys menatap lekat setiap ekspresi yang Nathalie keluarkan, mencoba menelisik dan mencari tau maksud dari ajakan wanita itu, namun ia tidak menemukan sesuatu yang aneh.
Cryspun melangkah menuju taman, lalu ke arah danau dimana terdapat kursi untuk bersantai sambil menikmati pemandangan danau buatan tersebut.
"Apa kau benar-benar yakin dia mencintaimu?" Tanya Nathalie tepat setelah mereka duduk disana.
Pembahasan ini lagi. Crys benar-benar muak mendengarnya.
"Bisakah kalian berhenti membahas hal ini." Ujar Crys muak.
"Kalau kau masih ingin membahasnya, kurasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi." Tambah Crys hendak beranjak dari tempat duduknya, namun ucapan Nath setelahnya membuat Crys berhenti beranjak.
"Kau tidak mengenalnya dengan baik." Ujar Nath.
Crys menatap Nath lekat. "Tidak akan ada ketenangan jika kau memilih hidup bersamanya, selama dia tidak menyelesaikan masa lalunya." Tambahnya lagi.
Kening Crys mengerut. "Masa lalu apa?" Tanya Crys.
"Kau harus mendengarnya langsung darinya." Jawab Nathalie.
"Kenapa kau tiba-tiba mengatakan ini semua?" Tanya Crys curiga.
Nath bergidik bahu. "Entahlah." Jawab Nath. Ia juga tidak tau kenapa melakukan ini semua.
Crys terdiam beberapa saat, begitu juga dengan Nathalie. Mereka sama-sama tenggelam pada pikiran mereka masing-masing.
"Terimakasih." Nath menoleh ke arah Crystal dengan wajah kaget. Ia terkejut mendengar ucapan wanita itu.
Crystal tersenyum tipis sambil menatap Nathalie.
"Apapun alasanmu melakukan ini, aku merasa harus berterimakasih padamu." Ujar Crys lagi.
Nath masih terdiam, sedangkan Crystal bangkit berdiri dari tempat duduknya. "Ah, ucapanku waktu itu, aku bersungguh-sungguh mengatakannya padamu. Kau yang berhak atas dirimu dan kebahagianmu."
Setelah itu Crys melangkah pergi, sedangkan Nathalie terdiam dengan kepala menunduk, lalu beberapa saat kemudian, ia menatap ke arah hamparan danau yang terlihat begitu indah.
***
Hari ini adalah hari ketiga Kenzo berada di Barcelona. Hari ini jugalah hari dimana rencananya akan dieksekusi.
Lucas menatap layar komputernya, sedangkan Kenzo kini berada di sekitar area Perusahaan tersebut. Perusahaan yang sudah beberapa hari ini ia awasi dengan baik. Perusahaan ini adalah Perusahaan yang Desmond danai 7 tahun yang lalu untuk kembali mengembangkan penelitian Professor Adam.
"5 menit lagi target akan sampai di parkiran." Suara Lucas terdengar jelas di ear piece yang Kenzo pakai.
Dilain sisi, seorang pria berjalan santai menuju area parkiran, membuka security lock mobilnya dengan remot di tangannya, lalu masuk ke dalam mobilnya.
Pria tersebut menaruh tas kerjanya di sebelah kursi pengemudi, lalu menyalakan mesin mobilnya tanpa merasakan hal ganjal apapun. Hingga akhirnya, tubuhnya seketika kaku ketika sebuah benda tajam dan terasa dingin berada tepat di depan lehernya.
Matanya langsung menatap ke arah kaca spion center mirror dan mendapati seorang pria asing berada di dalam mobilnya, tepat di belakang kursi pengemudi dan kini tengah menodongkan sebilah belati tajam ke lehernya dengan tatapan dingin.
"Quién eres?*" Tanyanya terbata-bata menggunakan bahasa spanyol dengan keringat dingin yang mulai mengucur dari pelipisnya. (*Siapa kau?)
"Drive, if you still want to live!"
Bersambung....
Tanda-tanda dah mau end ya cerita ini🥺
Like dan Comment, See you