
"Waktunya bermain."
Aku mendorong kencang tubuhnya saat ia menindih tubuhku dibawahnya. Dengan begitu kasar aku memberontak hingga beberapa kali menampar wajahnya yang terlihat seperti orang kehilangan akal.
"LEPAS SIAL*N!"
Aku tidak ingin dia menyentuh tubuhku lagi, ditambah kini tubuhnya penuh dengan darah. Pria ini benar-benar mengerikan.
Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya dari atas tubuhku hingga ia jatuh dari ranjang. Setelah itu, dengan cepat aku berlari ke arah kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam.
Dengan nafas memburu, aku menyandarkan punggungku ke daun pintu dan terduduk di lantai. Menarik nafas perlahan-lahan dan menenangkan jantungku yang berdetak sangat kencang.
Aku terperanjat saat pintu dibelakangku seperti terlempar sesuatu. "BUKA!" aku menggeleng saat mendengar suara teriakan yang begitu mengintimidasi dari luar sana.
BRAK.. BRAK..
Aku menjauh dari pintu saat pintu tersebut seperti dipukul dan ditendang dari luar berkali-kali. Mataku melebar sambil merapal doa agar pintu tersebut tidak terbuka. Aku masuk ke dalam bathtub dan duduk di sana sambil menutup telinga.
Gebrakan pintu tersebut tiba-tiba terhenti saat terdengar bunyi sesuatu yang jatuh ke lantai. Perlahan kepalaku terangkat dan menatap pintu lekat. Suasana berubah menjadi hening tanpa suara.
Apakah dia sudah pergi?
Aku bangkit berdiri mendekat ke arah pintu dan melekatkan telingaku ke daun pintu. Tidak ada suara. Aku bernafas lega, lalu berjalan ke depan wastafel dan menatap pantulan diriku di cermin. Baju tidurku terlihat banyak bercak darah, begitu pula dengan wajah dan tanganku saat memberontak tadi.
Aku menghidupkan keran air untuk mencuci tangan dan wajahku. Aku melirik ke arah lemari gantung dan membukanya. Aku menemukan bathrope dan memutuskan untuk mandi.
Meletakkan baju tidur penuh darah tersebut ke lantai dan setelah mandi aku menggunakan bathrope dan dalaman yang sebelumnya kugunakan.
Setelah itu, aku memutuskan untuk tidur di dalam bathtub dan tak ingin keluar dari kamar mandi. Aku takut kalau pria itu datang lagi ke dalam kamarku diam-diam seperti tadi.
Perlahan mataku mulai tertutup jatuh ke dalam alam bawah sadarku, walau menahan rasa dingin di dalam kamar mandi ini.
***
Author POV
Mata Crys mengerjap pelan saat bunyi ketukan pintu terdengar dengan kencang. "Nona, buka pintunya. Nona, anda baik-baik saja kan?" tanya Rose yang terdengar dari luar.
Crys yang tidur meringkuk seperti janin di dalam bathtub mulai membuka matanya perlahan. Crys menatap ke sekitarnya dan menyadari ia tidur di dalam bathtub hingga pagi menyambut.
Crys mencoba bangun dari sana dengan tubuh kaku karna tidur di tempat yang keras dan kecil. Perlahan ia bangkit berdiri, melangkah ke arah pintu dan membukanya. Crys menatap Rose yang memasang wajah khawatir.
"Nona, syukurlah anda baik-baik saja." ujar Rose langsung saat ia menatap Crys.
Pandangan matanya beralih menjelajah seisi kamar dan tak menemukan pria itu. Crys menghela nafas pelan, lalu melangkah keluar dari sana. Namun saat kakinya akan melangkah, matanya menangkap bercak darah di atas lantai tepat di depan pintu kamar mandi.
Crys berhenti sejenak sambil terdiam dengan pikirannya, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Crys menatap ranjangnya yang terdapat banyak noda darah dengan lekat. Rose yang menyadari itu langsung menatap para pelayan yang berdiri tanpa suara sambil menunduk.
"Cepat bersihkan dan ganti semuanya!" ujar Rose pada pelayan yang ada disana.
"Baik."
Crys hanya diam dengan tatapan kosong dan lesu. Tanpa suara Crys tiba-tiba melangkah ke arah balkon dan berdiri diam disana entah menatap apa. Namun terlihat jelas pandangannya kosong seperti raga tanpa jiwa.
"Baik Nona."
***
Ansell membuka pintu ruangan Kenzo dengan mendorongnya keras. Ansell melangkah cepat menghampiri Kenzo yang sedang duduk di meja kerjanya dengan wajah dingin dan datar seperti biasanya.
"Kau gila?" Ansell berteriak marah sambil melempar tab yang ia pegang ke atas meja. Kenzo melirik singkat layar tab tersebut, lalu menatap kembali ke arah laptopnya dengan wajah tak berminat.
"Kau gila menyerang tempat kediaman Kanye seorang diri semalam?" tanya Ansell menahan emosi yang sudah diubun-ubun. Kanye adalah dalang dibalik kecelakaan mobil yang beberapa hari lalu menimpa Kenzo dan Crys.
"Kau menghabisi seisi rumah tanpa tersisa, bagaimana jika polisi mengetahui pergerakanmu?" ujar Ansell begitu kesal. Ansell menarik nafas berusaha untuk tenang dan menahan emosinya.
Kenzo masih terdiam tanpa mengangkat suaranya. "Kau selalu menggila di hari kematian ibumu." kata Ansell setelah membuang nafas panjang, lalu duduk di sofa ruangan Kenzo.
Rahang Kenzo langsung mengeras saat mendengar kata yang sangat tidak ingin ia dengar. "Kau bahkan datang ke kamar gadis itu dengan tubuh berlumuran darah." tambah Ansell lagi.
"Tutup mulutmu, sebelum aku yang akan menutupnya." desis Kenzo menatap Ansell tajam.
Ansell terkekeh sambil memasang senyum miring. Ia balas menatap mata tajam Kenzo dengan tatapan tak gentar oleh ancaman pria itu. "Kenapa? Kau pikir aku akan takut?" tantang Ansell menatap Kenzo remeh.
Ansell bangkit berdiri dan melangkah kembali ke depan meja Kenzo. Ansell meraih tab yang tadi ia lempar tadi dan menatap Kenzo dengan tajam. "Lagi dan lagi kau memang selalu kalah darinya." ujar Ansell menatap Kenzo lekat, lalu pergi dari sana.
Tangan Kenzo mengepal kencang, lalu memukul mejanya keras. Kenzo menatap ke arah pintu yang tertutup dengan mata setajam silet dan rahangnya yang mengeras. Ekspresinya saat ini seperti akan membunuh siapapun yang akanmasuk dari pintu tersebut.
Dilain tempat.
"Dia menghabisi semuanya seorang diri Tuan."
Di sebuah ruangan yang terlihat remang, berdiri seorang pria dengan baju serba hitamnya menunduk menatap seorang pria yang duduk di depannya.
"Seperti yang diharapkan dari sikapnya." ujar pria yang duduk tersebut sambil tersenyum miring.
"Kau sudah mencari tau gadis yang selamat dari kecelakaan mobil itu?" tanya pria itu lagi.
"Sudah Tuan, namun kami tidak mendapati data apapun tentangnya. Data dirinya dan keluarganya sepertinya ditutupi dan diamankan dengan baik." jawab pria yang berdiri tersebut.
Pria itu menatap tajam ke arah anak buahnya. "Apa kemampuanmu hanya segini?"
"Maaf Tuan, saya akan mencari lagi dengan teliti."
"Lakukan dengan baik jika kau masih ingin berada disini."
"Baik Tuan."
Pria itu langsung pergi dari sana setelah membungkuk. Sedangkan pria yang duduk tersebut meraih gelas di atas mejanya dan meneguk isinya sekaligus, setelah itu membanting gelas tersebut ke atas meja hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras.
"Semakin menarik." ujarnya sambil memasang senyum miringnya dan tertawa sumbang memenuhi ruangannya.
Bersambung...
Vote, like serta komen yang banyak ya, Terimakasih😘