Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 73



Desmond menatap Damian yang berada di depannya dengan kepala menunduk. Ia baru saja kembali dari acara peresmian yang Kenzo adakan.


Desmond langsung menemui Damian yang memberi kabar bahwa ia memiliki informasi terbaru tentang misinya dan disinilah mereka sekarang.


Damian baru saja memberitahu bahwa hari ini, seluruh pelayan dan pengawal pindah ke Mansion baru Kenzo dengan begitu tiba-tiba.


"Kenzo tiba-tiba pindah ke Mansion barunya?" Damian mengangguk.


"Apa yang sedang dia rencanakan?" Tanya Desmond lagi.


"Saya tidak tau pasti, namun sepertinya ada sesuatu di Mansion tersebut yang tidak dimiliki oleh Mansion sebelumnya." Ujar Damian panjang lebar.


Desmond menatap layar tabnya yang menampilkan titik GPS dimana letak Mansion baru Kenzo berada.


"Kawasan sekitar Mansion barunya adalah Private Area, kemungkinan besar dia meningkatkan keamanan Mansionnya." Ucap Desmond sambil menelisik layar Tabnya dengan begitu teliti.


"The Beast is marking his territory." Ujar Desmond tersenyum miring sambil terus menatap Tabnya.


Desmond mengangkat wajahnya untuk menatap Damian. "Kau dan Nathalie berada di bawah pengawasannya, sebaiknya kalian bergerak lebih rapi selagi berada di area kekuasaannya."


Damian mendengarkan begitu seksama, lalu mengangguk paham.


"Sepertinya dia sudah menemukan sesuatu tentang kejadian 10 tahun yang lalu." Tambah Desmond lagi.


"Kau sudah kembali menjadi pengawal pribadinya, apa dia mengetahui sesuatu tentang kematian orang tuanya?" Tanya Desmond.


Damian menatap Desmond lekat, lalu menggeleng. "Sepertinya tidak." Jawab Damian.


Desmond mengangguk kecil, lalu tangannya meraih cerutu di laci mejanya, memotongnya, lalu menyulutnya dengan api.


Desmond menghisap cerutu tersebut sambil menatap lekat Damian yang menundukkan kepalanya. "Terus awasi mereka!" Ujar Desmond.


Damian menunduk paham, lalu beranjak keluar dari ruangan Desmond untuk kembali bekerja.


Dilain sisi | Duanovic's Mansion.


Setelah kepergian Crys, Kenzo terlihat gusar, sedangkan Nathalie bergelayut manja dilengannya.


Nath menatap wajah Kenzo yang terlihat tidak baik-baik saja. Nathalie menggigit bibir khawatir dengan sikap Kenzo yang terlihat tidak senang.


Nathalie frustasi karena tekanan Desmond yang menyuruhnya untuk selalu membuat Kenzo berada di bawah kakinya dan tergila-gila padanya. Hal ini tidak bisa dibiarkan terus menerus, kalau tidak misinya akan gagal.


Nath mengelus dada bidang Kenzo dengan gerakan lembut. "Kau terlihat lelah, sebaiknya kita beristirahat." Ucap Nath menatap Kenzo dengan tatapan lembut dan khawatir.


Kenzo terlihat semakin gusar sambil menutup mata dan menyugar rambutnya ke belakang.


"Siapa yang akan kau pilih?" Perkataan Levin waktu itu seketika memenuhi kepalanya.


Siapa yang akan kau pilih?


Siapa yang akan kau pilih?


Kenzo mengusap pelipisnya dengan kening mengerut. Suara Levin semakin terngiang-ngiang, membuat kepalanya pusing dan tidak fokus dengan sekitarnya.


"Kenzo." Nathalie memanggil Kenzo yang terlihat menundukkan kepala sambil mengusap pelipisnya.


"Kenzo, ada apa?"


"Kau sakit? ayo aku antar ke kamarmu." Nathalie terus menerus memanggil nama pria itu, hingga akhirnya Kenzo mengangkat kepalanya dan menatap Nath tajam.


"Minggir!" Nath terkejut. Kenzo menatapnya begitu tajam dan nadanya begitu dingin dan penuh tekanan.


"Ken.."


"MINGGIR SIALAN!" Belum selesai Nath berbicara, Kenzo berteriak keras sambil menghempas tangan wanita itu, hingga tubuhnya terdorong menjauh.


Kenzo menatap Nath nyalang. Tatapan hangat dan penuh cinta yang dulu ia terima sudah tidak ada lagi. Saat itu Nath sadar, misinya sudah gagal.


Kenzo membuang mukanya, lalu melangkah menyusul Crystal yang sejak tadi sudah pergi dari sana.


Nath menatap punggung Kenzo yang semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang dari pandangannya.


Kenzo sedikit berlari menuju kamar Crystal yang kini tertutup rapat. Sebelum sampai di kamar wanita itu, ia masuk terlebih dahulu ke dalam kamarnya untuk mengambil master card yang dapat membuka seluruh pintu di Mansion ini.


Setelah mendapatkannya, Kenzo kembali menuju kamar Crystal dan tanpa basa-basi langsung membuka pintu tersebut dengan kartu accesnya.


Crystal kembali menarik gaun pestanya yang baru saja melorot hingga pinggang dengan wajah panik. Crystal menahan gaun tersebut di depan dadanya, tanpa sempat mengancingkan kembali resleting gaunnya.


Mata Crystal membulat mendapati sosok Kenzo yang masuk ke dalam kamarnya dengan aura mencekam.


Ia meremas gaun di depan dada semakin kencang ketika Kenzo menutup kembali pintu kamarnya, lalu berjalan mendekatinya.


"Kau gila? Aku sedang mengganti pakaianku." Ucap Crystal geram dengan sikap semena-mena pria itu.


Kenzo berhenti tepat dihadapan Crys yang terlihat menahan gaun pestanya untuk menutupi tubuhnya.


"Siapa yang akan kau pilih?"


"I Chose You." Ujar Kenzo tak menghiraukan ucapan wanita itu.


Crystal kini dapat melihat wajah Kenzo yang terlihat gusar dari jarak dekat. Crystal terdiam dengan wajah bingung karena tak mengerti arah ucapan pria itu.


"Kau selalu mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku mengerti." Crystal menatap Kenzo dalam.


Kenzo terdiam. "Biarkan aku mengganti bajuku terlebih dahulu, lalu kita berbicara." Tambah Crystal dingin, lalu hendak melangkah menuju walk in closet miliknya.


Namun belum sempat Crystal menoleh, Kenzo segera menarik tengkuk wanita itu dan meraup bibirnya dengan tak sabar.


Tangan Kenzo yang lain menyentuh pipi Crystal demi memperdalam tautannya. Mata Crystal membulat kaget. Kenzo menciumnya begitu ganas seakan tidak ada hari esok.


Satu tangan Crys mencoba mendorong dada pria itu, sedangkan satu tangannya lagi masih mencengkram erat gaunnya agar tidak terjatuh.


Usaha wanita itu harus sia-sia karena tenaga Kenzo yang berkali-kali lipat lebih besar darinya. Bibir lembut Kenzo yang meraupnya terasa begitu menuntut seakan menyalurkan seluruh emosi yang ia rasakan.


Perlahan-lahan tangan Crystal berhenti memberontak dan matanya mulai tertutup menikmati. Crystal tau ia semakin tidak bisa menolak permainan Kenzo yang begitu memabukkan dan menghilangkan akalnya.


Tangan Kenzo turun melingkari pinggang Crystal yang tak tertutup apapun. Aliran listrik terasa menyebar ke seluruh tubuhnya, setelah tangan Kenzo menyentuh kulit polosnya.


Ciuman Kenzo turun ke lehernya, menghisap dan memberikan tanda kepemilikan disana, sedangkan mulut Crystal terbuka dengan suara nafas yang tak beraturan.


Setelah puas memberikan tanda kemerahan di leher wanita itu, Kenzo melepas tautan bibirnya dan menatap wajah Crys dengan jarak yang begitu dekat.


Crystal membuka matanya perlahan dan ikut menatap pria itu. Kening mereka saling bersentuhan, hingga hidung mereka saling bergesekan.


"Sekarang kau sudah kehilangan kesempatan untuk pergi. I swear, I'll never let you go even if you want to go." Ujar Kenzo menatap netra Crys begitu dalam.


Crystal ikut menatap netra Kenzo dalam, lalu menjauhkan wajahnya dengan kening berkerut.


"I chose you over her, can't you understand?" Ujar Kenzo melihat raut Crys yang terlihat bingung dengan ucapannya.


Kelemahan pria itu adalah tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung. Selama ini ia sudah mengubur emosi tersebut sedalam mungkin di dalam dasar hatinya.


Ia berjanji tidak ingin lagi merasakan perasaan memabukkan, hingga membuatnya lemah tak berdaya di bawah kata 'Cinta'. Selama ini Kenzo bertahan dengan membenci kata-kata tersebut.


Hingga akhirnya, seorang gadis masuk ke dalam dunia gelapnya. Seorang gadis yang membencinya setengah mati hingga berniat membunuhnya. Bagai takdir yang tak terduga, tidak ada manusia manapun yang tau, apa yang sedang Sang Pencipta rencanakan pada dua anak manusia itu.


"I hate doing this sh*it again." Kenzo terlihat frustasi sambil menyerapah.


Crystal terdiam mencoba mencerna maksud perkataan pria itu, lalu akhirnya menutup mulutnya dengan mata membulat. Crys menggeleng memikirkan apa yang sedang terlintas dikepalanya ketika melihat sikap Kenzo saat ini.


"Aku akan membunuh Desmond untukmu, aku akan mengungkapkan semua kejadian itu untuk menebus segala dosaku pada keluargamu. I'll do anything, as long as you don't leave me." Ujar Kenzo.


Crystal terpaku mendengar ucapan Kenzo yang terlihat begitu putus asa. Keduanya terlihat begitu emosional dengan perasaan mereka masing-masing.


"I swear, if you step down, I’ll never forgive you." Ujar Crystal menatap Kenzo dengan mata memanas. (Aku bersumpah, jika kau mundur, aku tidak akan memaafkanmu.)


Kenzo menatap Crystal lekat, lalu sedetik kemudian, bibir mereka kembali menyatu, saling mengungkapkan perasaan masing-masing melalui ciuman tersebut.


Dua anak manusia tersebut kini sudah terikat oleh benang takdir, tanpa harus saling mengucapkan semuanya secara langsung. Tatapan mata mereka sudah cukup untuk menjelaskan, bahwa mereka mencintai satu sama lain dengan begitu dalam.


Bersambung...


Wow, Finally 😳


Gimana nih? yang selama ini gemes, kesal, geram sama sikap Kenzo, setelah membaca part ini bagaimana? 😆


Kalian masih lebih suka siapa nih? Kenzo atau Levin?


See you, jangan lupa like dan comment sebanyak mungkin😍