
Seorang gadis kecil sedang menatap gerombolan anak-anak seumurannya yang sedang bermain dengan asik, menyisakan gadis kecil itu seorang diri yang duduk di atas rumput sambil bermain dengan bonekanya—satu-satunya teman yang ia punya.
"Anne, kenapa tidak ikut bermain?" gadis kecil bernama Anne tersebut menatap seorang wanita anggun yang menghampirinya dengan senyum lembut.
"Tidak ada yang mau bermain dengan Anne." Wanita itu mengelus kepala Anne lembut, sedangkan gadis kecil itu menatap sebentar ke arah gerombolan teman-teman TK nya dengan tatapan datar.
"Kenapa?" Tanya wanita yang ternyata adalah salah satu guru di taman kanak-kanak tersebut.
"Karena Anne tidak punya Mama dan Papa." Jawabnya polos.
Wanita tersebut menatap Anne dengan wajah iba. "Siapa yang bilang begitu?" tanyanya lagi.
"Teman-teman."
Anne yang terduduk di atas rumput langsung diangkat oleh wanita tersebut untuk bangkit berdiri. "Kalau Anne memisahkan diri, teman-teman yang lain akan semakin menjauh, Anne harus mendekat agar semakin akrab dengan teman-teman." Anne terdiam sambil memeluk bonekanya.
"Anne tidak apa-apa bermain sendiri." Ujarnya singkat.
"Tidak, Anne harus mengakrabkan diri dengan teman-teman yang lain, Ibu temani Anne ya." Anne pun melangkah bersama dengan wanita tersebut ke arah gerombolan anak-anak yang sedang berlarian gembira.
"Anak-anak."
"Ibu Guru."
Anak-anak tersebut mulai berkumpul dan menghampiri Ibu guru mereka yang datang bersama dengan Anne.
"Bermainlah dengan Anne, Ibu sudah bilang bukan, kalau kita harus berteman dengan siapapun."
"Tidak mau." Jawab salah satu anak dengan wajah kesal sambil menatap Anne.
"Lusi, Ibu tidak mengajarkan seperti itu." Ujar wanita tersebut pada murid bernama Lusi itu. Lusi adalah pelopor yang menyuruh teman-temannya untuk tidak berteman dengan Anne.
"Mama bilang aku tidak boleh berteman dengan orang rendahan. Anne tidak punya Mama dan Papa, dia juga tidak punya rumah dan tinggal di Panti Asuhan." Ujar Lusi.
Wanita itu membelalak tidak percaya. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa berkata seperti itu. "Lusi." Tanpa sadar wanita itu sedikit menaikkan nada suaranya seperti memperingatkannya.
Lusi menatap wanita itu dengan mata berkaca-kaca karena ia merasa telah dibentak oleh Ibu gurunya.
Lusipun terlihat menangis kencang sambil merengek di atas rumput. Wanita itu dengan cepat menunduk dan menenangkan gadis kecil yang tengah menangis kencang tersebut, sedangkan Anne menatap lekat ke arah Lusi yang dikerumuni Ibu guru dan teman-temannya.
"Aku benci Anne." Lusi berteriak histeris.
***
Di dalam ruangan Kepala Sekolah, terlihat seorang wanita memeluk Lusi di dalam dekapannya dengan wajah marah. Wanita itu adalah Ibunya dan terdapat juga Anne yang duduk di samping Pengurus Panti Asuhannya yang datang karena keributan pagi tadi. Terdapat juga Ibu Guru dari kedua anak tersebut.
"Kehidupan buruknya bisa mempengaruhi pertumbuhan anak saya." Ujar orang tua Lusi dengan tatapan tajam, tidak terima dengan apa yang dialami oleh anaknya.
"Maaf Mrs. Anderson, tetapi hal itu sama sekali tidak memperanguhi pertumbuhan anak-anak." Ujar Kepala Sekolah dengan kepala dingin.
"Saya tidak akan pernah setuju anak saya berteman dengan orang rendahan."
"Tolong jangan mengatakan hal buruk di depan anak-anak." Ujar Ibu guru kedua anak tersebut.
"Saya berhak berbicara, kalau dia tidak keluar dari sekolah ini, saya yang akan keluar dan mencari sekolah yang lebih berkompeten."
Ibu guru tersebut menatap kesal, lalu meraih Anne untuk bangkit berdiri. "Sebaiknya anak-anak tidak ikut dalam pembicaraan ini." ia juga menarik Lusi untuk keluar bersamanya dan Anne.
Setelah sampai di luar, wanita tersebut menunduk. "Kalian kembali ke kelas dan lanjut belajar dengan teman-teman yang lain, okey?"
"Baik." Jawab mereka serentak.
Wanita tersebut pun kembali masuk, lalu Lusi dan Anne berjalan menuju kelas mereka.
"Kenapa Lusi membenci Anne?" Tanya Anne tiba-tiba.
Lusi menatap Anne lekat. "Apa karena Anne lebih unggul dari Lusi?" wajah Lusi memerah marah.
Anne memang yang paling unggul di kelas mereka, lalu Lusi diurutan kedua. Orang tua Lusi adalah orang tua yang ambisius dan strict, yang selalu menuntut anaknya untuk menjadi nomor satu.
Dimata Lusi, Anne adalah sosok yang menghalangi sinarnya. Seharusnya ia yang selalu mendapat pujian dari Ibu guru, namun karena kehadiran Anne, ia tidak pernah mendapatkannya.
Karena hal itulah, Lusi memanfaatkannya dengan mengatakan untuk tidak berteman dengan Anne, karena gadis itu tidak punya orang tua dan tidak pernah dididik dengan baik. Semenjak hari itu, Anne dijauhi dengan terang-terangan, bahkan beberapa kali mereka mengejeknya dengan lantang sambil tertawa.
"Iya, aku membencimu karena itu." Jawab Lusi marah.
Anne terlihat menatap Lusi dengan lekat sambil memeluk bonekanya. "Kau tidak punya orang tua, miskin, dan tinggal di panti asuhan, tapi kenapa kau bisa melebihi aku yang punya segalanya? Karena itu aku membencimu Anne." teriak Lusi kesal.
"Lusi harus belajar lebih rajin kalau mau mengalahkan Anne. Anne mengerti kenapa Lusi iri dengan Anne, tapi Anne tidak pernah iri dengan kehidupan Lusi." Anne kembali berjalan dengan wajah dingin, namun masih terlihat polos layaknya anak kecil.
"Lusi tidak akan bisa menang dari Anne, Lusi menyerah saja dan keluar dari sekolah ini." Ujar Anne tak membalikkan wajahnya dan kembali berjalan menuju kelas, meninggalkan Lusi yang kini mulai menteskan air mata.
Lusi kembali menagis kencang sambil memanggil Mamanya dengan begitu keras, sedangkan Anne terlihat tidak terusik dan tetap berjalan.
***
8 Tahun kemudian
Annelise Montiva tumbuh di sebuah panti asuhan yang cukup ternama dan terbesar di kotanya. Panti Asuhan tersebut menampung banyak anak-anak yang membutuhkan mereka.
Anne adalah gadis yang sangat unggul diantara teman-teman sepantarannya. Ia pintar, penurut, pendiam dan tidak banyak membantah pada Ibu Pengasuh Panti. Sejak kecil, Anne tidak terlihat aktif dan ceria seperti anak-anak seusianya, sehingga banyak yang tidak mau mendekat padanya.
Dilain sisi, seorang pria duduk di atas sofa ruangan Pengurus Panti dengan setelan jasnya yang begitu rapi.
"Ada kedatangan apa Tuan Killian datang kemari?" Tanya Pengurus Panti tersebut.
"Aku ingin mengadopsi seorang anak." Jawabnya.
"Oh, apa ada kriteria yang anda inginkan?" Tanyanya sopan.
"Pintar, penurut dan tidak banyak membantah." Ujarnya.
"Ah begitu, akan coba saya carikan Tuan."
"Paling lambat besok." Ujar Desmond mutlak sambil bangkit berdiri dan pergi dari sana dengan santai.
"Baik Tuan."
Keesokan harinya.
Anne melangkah menuju ruangan Pengurus Panti setelah ia disuruh untuk datang kesana. Anne mengetuk pintu sebentar, lalu masuk dan menunduk singkat.
"Anne, ini Tuan Killian yang akan mengadopsimu." Ujar Pengurus Panti memperkenalkan Desmond pada Anne.
Anne menatap Desmond yang terlihat dingin dengan setelan jasnya, lalu menunduk hormat. Pria itu terlihat masih muda untuk memiliki keinginan merawat seorang anak.
"Saya Annelise Montiva Tuan." Ujar Anne.
Desmond bangkit berdiri. "Karena sudah selesai, aku akan membawanya sekarang." Ujar Desmond.
"Tapi dia belum membereskan barang-barangnya Tuan." Kata Pengurus Panti.
"Tidak perlu, setelah ini, semua yang kau butuhkan sudah tersedia." Ujar Desmond sambil menatap Anne dalam.
Desmond pun pergi dari sana, sedangkan Anne menatap sebentar pada Pengurus Panti untuk berpamitan, lalu mengikuti Desmond dari belakang.
Mereka memasuki sebuah mobil, lalu meninggalkan pekarangan Gedung Panti tersebut. Anne menatap ke arah jendela mobil dengan wajah datar, melihat deretan gedung dan pemandangan yang mereka lewati, sebelum akhirnya mereka sampai di sebuah rumah besar dan mewah.
Desmond keluar dari mobil. "Ikut aku!" Anne menurut dan mengikuti pria tersebut.
Anne dibawa ke dalam rumah, berjalan melewati lorong, koridor, hingga akhirnya sampai di sebuah kamar.
"Mulai hari ini, kau akan tinggal di kamar ini dan namamu sekarang adalah Nathalie Franca." Ujar Desmond, sedangkan Anne masih diam sambil menatap pria di depannya lekat.
Saat itu, ia masih tidak tau untuk apa ia diadopsi oleh seorang pria yang masih terlihat muda. Sampai akhirnya, sehari setelah ia tinggal disana, Anne mengerti dan memahami bahwa ia dibawa untuk dijadikan alat oleh pria gila dan kaya tersebut.
Bersambung...
Jangan lupa Vote, Like, Share dan Comment ya Guys.
See You🥰