Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 64 - Damian is Back



Kenzo menatap jam di tangannya yang menunjukkan pukul 2 siang. Setelah itu, ia menatap ke arah sampingnya, dimana terdapat seorang wanita cantik yang bergelung di bawah selimut dengan mata terpejam.


Kenzo benar-benar sudah gila. Bisa-bisanya dia membatalkan untuk pergi ke kantornya pagi ini, dan malah berakhir di atas ranjang bersama dengan sosok Crystal.


Kenzo bangkit dengan pelan dari atas ranjang, lalu meraih jubahnya untuk menutupi tubuh polosnya. Ia melangkah menuju kamar mandinya yang terlihat remang.


Kenzo berdiri di depan cermin dengan wajah dingin, menatap pantulan dirinya yang semula normal, menjadi sosok lain dari dirinya.


Sosok itu tersenyum miring sambil menatap Kenzo dengan tatapan mengejek. "Berapa lama lagi kau akan berpura-pura menjadi aku?" Tanya Levin.


Kenzo diam tak ingin menjawab. "Apa selanjutnya?" Tanya Kenzo segera mengalihkan pertanyaan Levin.


Levin terkekeh. "Jadikan Damian pengawal pribadinya lagi." Ujar Levin.


"Untuk apa?" Tanya Kenzo dengan nada tak suka.


"Dia menyukai Crystal." Ujar Levin panjang lebar.


"Lalu kenapa meletakkannya di samping Crys?" Ujar Kenzo yang berhasil membuat Levin tertawa kencang.


"Haha, sekarang kau bahkan memanggil namanya." Ujar Levin mengejek.


Kenzo menggeram marah. Ia sudah sangat serius, sedangkan Levin masih terus menertawai dan mengejeknya.


"Pria itu terlihat bimbang. Kita lihat saja, apa hatinya mengalahkan otaknya, atau sebaliknya." Ujar Levin.


Kenzo diam mencerna rencana Levin dengan benar. "Lalu?" Tanya Kenzo lagi.


"Terus awasi Allaric! Entah apa yang Desmond katakan padanya sehingga si bodoh itu begitu mempercayainya."


"Dan usir wanita itu!" Kenzo menatap tajam mata Levin setelah mendengarnya.


"Kenapa? Kau masih mencintainya?" Tanya Levin mengejek.


"Wanita itu adalah bawahan Desmond. Kau tau, tapi kau memilih untuk menutup mata." Ujar Levin kesal karena selama ini dia sudah mencoba menyadarkan Kenzo.


"Biarkan dia!" Jawaban Kenzo yang singkat dan dingin berhasil membuat Levin semakin emosi.


"Wanita itu atau Crystal, siapa yang akan kau pilih?" Tanya Levin frontal dengan tatapan tajam.


Kenzo tak menjawab beberapa saat, lalu senyuman miring menyungging dari bibirnya. "Bukankah aku sudah pernah bilang, dia hanya bisa pergi ketika aku melepaskannya atau ketika dia—Mati." Kenzo menekan kata terakhirnya dengan dalam, membuat senyum miring terbit di bibir Levin. Ia tau bahwa kalimat itu tertuju pada Crystal.


"Kau tau, ada dua jenis manusia, satu yang belajar sebelum sesuatu terjadi dan satu lagi belajar setelah sesuatu tersebut sudah terjadi. Kau yang memilih untuk jadi manusia yang mana." Ujar Levin menatap Kenzo dengan penuh makna yang bahkan Kenzo pun tidak mengerti arti tatapan tersebut.


"Jenis manapun itu, aku tidak akan pernah menyesal." Jawab Kenzo.


"Okay, Let's see." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, sosok Levin menghilang dan hanya ada bayangan dirinya di pantulan cermin.


Kenzo pun beranjak pergi dari depan wastafel, membuka jubahnya hingga terjatuh ke lantai, lalu melangkah dan berdiri di bawah shower untuk mandi.


...****************...


Duanovic's Mansion | 07.15 PM


Crystal berjalan menuruni anak tangga sambil memakan sebuah permen coklat yang ia minta dari seorang pelayan, karena melihat pelayan tersebut memakannya.


Ia menuju meja makan yang terlihat sudah penuh dengan beberapa jenis makanan yang menggiurkan. Crys duduk dengan semangat.


"Selamat menikmati, Nona." Ujar seorang pelayan.


"Terimakasih." Jawab Crys ramah.


Crystal tidak menunggu Kenzo untuk makan malam bersama, karena pria itu bilang,! ia akan pergi malam ini untuk mengurus bisnisnya. Sebuah langkah kaki terdengar mendekati meja makan, Crys yakin bahwa dia adalah Nathalie.


"Selamat malam Nona." Crys tersentak kaget sambil menjatuhkan sendok di tangannya ketika mendengar suara tak asing tersebut.


Crystal langsung menoleh cepat dan mendapati sosok Damian yang berada di belakangnya.


"Damian." Crys tampak tak percaya pria itu kembali menyapa dan berbicara padanya.


"Saya ditugaskan kembali untuk menjadi pengawal pribadi anda mulai hari ini."


"Benarkah?" Tanya Crys masih tak menyangka.


Damian hanya menunduk pertanda bahwa ia bersungguh-sungguh.


"Silahkan lanjutkan makan malam anda." Ujar Damian sopan, sedangkan Crys masih saja terdiam dengan wajah shock.


Crys perlahan membalikkan tubuhnya dan kembali menatap makanan di atas meja.


"Apa Levin yang menyuruhmu?" Tanya Crystal sambil kembali makan dan sesekali melirik pada Damian.


"Benar Nona."


"Ternyata dia pergi untuk ini. Lalu, dimana Levin?" Tanya Crystal lagi. Jika Kenzo pergi untuk memberikan perintah pada Damian, dimana pria itu sekarang?


"Saya tidak tau Nona." Jawab Damian.


Crystal pun mengangguk mengerti, lalu kembali menoleh menatap Damian. "Duduk dan makanlah bersamaku, sudah lama kita tidak mengobrol." Ujarnya.


"Saya tidak apa-apa Nona."


"Aku memaksa." Ujar Crys tak mau kalah. Damian menatap wanita itu dengan pandangan penuh makna.


Sepertinya Crystal sudah terkena virus otoriter dari Kenzo maupun Levin. Damian pun pasrah dan duduk di kursi meja makan di samping Crystal.


Damian memakan makanan yang disajikan pelayan dengan wajah datar, namun ia terlihat sedikit sungkan. Crystal tersenyum geli melihat kecanggungan pria di sampingnya itu.


"Aku pikir Kenzo." Crys menoleh mendapati Nath yang berjalan mendekati meja makan. Nath duduk di tempat duduknya sambil menatapa Damian yang sama sekali tidak menatapnya.


"Ada apa ini?" Tanya Nath bingung karena sudah lama ia tidak melihat Damian berada di samping wanita itu lagi.


"Damian kembali menjadi pengawal pribadiku." Jawab Crys.


"Ya." Jawab Crys singkat.


Nath terlihat menatap Damian dalam, sedangkan Crys sibuk dengan sarapannya. Mata Nath beralih menatap Crystal dan menelisik setiap pergerakan wanita itu.


Matanya terhenti tepat di sebuah tanda kemerahan yang berada di leher wanita itu. Mata Nath memicing tajam melihatnya.


"Jadi benar Levin sudah kembali." Batin Nath kesal.


"Kakakmu mencarimu dari semalam." Ujar Nath tiba-tiba, yang berhasil membuat Crystal terdiam kaku.


Nathalie tau apa yang sudah terjadi pada kakak beradik itu, begitupula dengan Damian. Mereka adalah pion yang diletakkan Desmond untuk mengetahui segala pergerakan yang ada di dalam Mansion Kenzo.


"Kau bertemu dengan kakakku?" Tanya Crys mengangkat wajahnya dan menatap Nath dalam.


"Ya, tadi malam aku tidak sengaja bertemu dengannya di lorong." Ujar Nath.


"Dia terlihat sedikit berantakan dan kalut, aku tidak tau kenapa." Ujarnya lagi berpura-pura tidak tau.


Crys terdiam. Apa dia sudah terlalu jahat pada kakaknya? Itulah yang terlintas di kepalanya. Tapi jujur saja dia masih belum siap untuk bertemu dengan Aric setelah kejadian hari itu.


"Temuilah kakakmu, aku yakin ada sesuatu yang harus kalian bicarakan." Ujar Nathalie lagi.


Crystal hanya diam, lalu melanjutkan makan malamnya dengan pikiran berbelit. Ia bimbang akan menemui kakaknya atau tidak.


...****************...


Crystal merenung di dalam kamarnya sambil berdiri di atas balkonnya. Ia masih termenung karena ucapan Nathalie di ruang makan.


Crystal mendengus kesal, lalu beranjak menuju pintu kamarnya dan keluar dari sana. Ia sedikit terkejut melihat keberadaan Damian disana.


Damian ikut menoleh menatap Crystal. "Ada apa Nona?" Tanya Damian.


"Aku mau ke kamar kakakku." Damian menatapnya lekat. Ia tidak menyangka taktik Nathalie berhasil membuat Crys berubah pikiran.


Nyatanya Nathalie bahkan tidak pernah bertemu dengan Allaric di lorong. Itu hanya akal-akalan saja agar mereka bertemu.


"Akan saya temani." Crys mengangguk kecil, lalu berjalan menuju kamar kakaknya dengan perasaan gugup.


Sepanjang jalan, rasanya Crys ingin kembali memutar langkahnya dan membatalkan niatnya. Namun akhirnya, kakinya tetap saja melangkah hingga sampai tepat di depan kamar Allaric.


Tangan Crys terangkat ragu, lalu mengetuk pintu tersebut dengan begitu pelan. Crys menunggu dengan gugup, hingga akhirnya pintu di depannya terbuka dan muncullah sosok Allaric yang menatapnya terkejut.


"Crystal." Crys diam tak menjawab. Ia menunduk menatap lantai dengan perasaan membuncah. Ia merindukan kakaknya, tapi dilain sisi ia selalu mengingat kejadian itu.


"Maafin kakak Crys." Aric berucap dengan nada memohon. Pria itu segera memeluk Crys erat yang masih berada di depan pintu.


Raut wajah Crys berubah sendu. Wajahnya tenggelam di dada bidang Aric sambil membalas memeluknya erat.


"Maaf kakak sudah kasar padamu." Ujar Aric yang dibalas anggukan oleh Crys yang berada di dadanya.


Aric tersenyum senang, lalu melepaskan pelukannya. Crystal mengangkat wajahnya menatap Allaric yang juga menatapnya lekat.


Crystal ikut tersenyum melihat Aric melempar senyuman lembut dan hangat padanya, namun dalam hitungan detik, senyumam pria itu luntur diganti dengan tatapan tajam.


Tangan Allaric dengan kasar menyingkap rambut adiknya dan menatap tajam sebuah tanda kemerahan di leher wanita itu.


"Apa ini? Apa maksudnya ini Crystal?" Nada Allaric kembali meninggi. Ia yakin bahwa itu adalah tanda kissmark.


Crys terpaku bingung. Wanita itu tidak menyadari bahwa Kenzo meninggalkan jejak kepemilikannya di tempat seterbuka itu.


"Kau tidur dengannya?"


"Aku..."


"Dia memaksamu bukan?"


"Kak, dia ti..."


"Kau menyerahkan tubuhmu dengan sukarela?"


Crystal terdiam. "Sialan, aku akan membunuhnya." Suara Aric yang berteriak lantang berhasil membuat Crys sedikit tersentak kaget.


"Kau menyukainya?" Tanya Aric lagi.


Crystal masih diam, membuat Aric menjambak rambutnya frustasi. Aric sangat mengerti keterdiaman adiknya, yang berarti bahwa Crystal memang menyukai pria itu.


"Kau sudah gila Crys? Dia pembunuh orang tua kita." Aric mencengkeram kedua bahu Crys dengan kuat. Ia benar-benar merasa gagal dan tidak berguna karena hal ini sudah terjadi pada adiknya.


"Dia bilang dia tidak membunuh orang tua kita." desis Crys begitu pelan, namun masih terdengar oleh Aric.


"Hah, dan kau percaya ucapan seorang penjahat?" Ujar Aric lagi dengan frustasi.


"Kak, dia menjelaskan apa yang sudah terjadi pada Papa dan Mama. Project yang Papa kerjakan 12 tahun yang lalu." Ujar Crys.


Damian menatap adegan di depannya dengan begitu lekat. Desmond mengatakan Allaric tidak boleh sampai terkecoh dan berbalik melawannya.


"Mau bagaimanapun, malam itu dia berada di rumah kita. Dia berada di depan mayat Mama dan kau melihatnya sendiri dengan mata kepalamu Crystal." Crystal melepaskan kedua tangan Allaric dari bahunya.


"Ada orang lain di kamar itu, aku mengingatnya dengan jelas. Dia Desmond, pria yang menculik kakak. Pria itu juga pembunuhnya." Ujar Crystal ikut frustasi.


"Lalu apa bedanya dia dengan Kenzo Crys? Mereka sama-sama pembunuh, kita harus keluar dari tempat ini." Ujar Allaric lagi.


Crystal menggeleng "Aku tidak akan pergi sebelum semuanya terungkap. Apa alasan Mama dan Papa harus mati dan siapa pembunuh sebenarnya." Ujar Crystal tegas. Ia harus melawan kakaknya kali ini demi kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya.


Allaric menunduk sambil menyugar rambutnya kasar. Ia benar-benar frustasi atas pilihan Crystal. Ia sudah memilih untuk melupakan semuanya dan kembali hidup dengan damai dengan adiknya.


Aric tidak ingin kebenarannya terungkap, karena ia yakin ada sesuatu yang harus dibayar untuk mengungkapkan kejadian berdarah itu.


"Maaf kak, tapi Crystal ingin egois kali ini. Aku tau kakak tidak akan pernah setuju, tapi tolong jangan menghentikan Crys." Ujar Crys menatap Aric yang terluka, lalu berbalik meninggalkan pria itu yang masih kalut.


Bersambung...