Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 36



"LIHAT AKU! JANGAN MENGINGATNYA! BERHENTI MENGINGATNYA DAN BUKA MATAMU!" teriak Levin kencang karena ia tahu gadis itu pasti tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Ia menghentak tubuh gadis itu seakan menyadarkannya, lalu menahan kedua tangannya yang masih memukul kepalanya.


"BUKA MATAMU SIALAN." teriak Levin lagi semakin keras dengan penuh emosi.


Setelah teriakan keras pria itu kedua kalinya, Crystal terlihat mulai menghentikan gerakan tangannya dan tenaganya seakan melemah. Perlahan matanya terbuka dan menatap Levin dengan mata memerah dan sayu. Saat mata itu terbuka, saat itu pula buliran panas keluar dari pelupuk matanya dan membasahi pipinya dengan deras.


Bibirnya bergetar, lalu akhirnya ia menangis kencang saat kepalanya dipenuhi dengan adegan dimana Mamanya yang terbaring di lantai dengan darah yang merembes keluar dari tubuhnya. Dadanya sangat sakit, nyeri dan sesak hingga ia tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Dirinya seperti dibawa kembali ke masa lalu saat kejadian itu terjadi dan menyaksikan semuanya kembali.


Gadis itu menangis sambil menatap wajah Levin yang mengabur karena pandangannya ditutupi oleh air mata. Tangannya meremas jas pria itu dengan frustasi.


"Kenapa?" tanya Crys lirih dengan suara bergetar.


Bibirnya bergetar seakan tak sanggup untuk melanjutkan perkataanya. Air matanya terus menerus turun dengan begitu deras tanpa bisa ia cegah, hingga akhirnya tangannya tak lagi bertenaga dan melepas cengkramannya dari jas pria itu.


Kepala Crys menunduk tak ingin menatap pria itu, dibarengi dengan tangannya yang jatuh tak bertenaga.


"Kenapa kau harus membunuh orang tuaku?" setelah mengucapkan hal itu, Crystal hanya bisa menangis dan terus menangis hingga air matanya kering.


***


Crystal duduk di sofa ruangan pria itu dengan wajah sembabnya. Sejak sampai di sana, Crystal hanya duduk dan tak ingin membuka mulutnya dan berbicara pada siapapun. Di mana Levin? pria itu pergi entah kemana tanpa memberitahu apapun padanya dan Crys juga tak berniat menanyakan kemana pria itu pergi.


Crystal sejak tadi duduk dan termenung sendiri dengan pikirannya. Sudah dua jam berlalu semenjak pria itu meninggalkannya seorang diri di ruangan sunyi tersebut. Lama-kelamaan gadis itu mulai mengantuk karena lama menangis dan karena tidak melakukan apapun.


Crys membaringkan tubuhnya di atas sofa dan menutup matanya yang lama-kelamaan mulai memberat, hingga akhirnya ia tidak bisa menahan matanya lagi untuk tidak terlelap di ruangan itu.


Di lain sisi.


Damian menatap lekat seorang gadis yang sedang tertidur nyenyak di atas sofa. Gadis itu terlihat berbaring dengan wajah lelah dan sembabnya.


Ia hanya berdiri di tempat dan menatap gadis itu dengan tatapan tajam, hingga akhirnya, kakinya mulai melangkah mendekat ke arah sofa.


Ia berhenti sejauh satu meter dari sofa tersebut, berdiri diam di sana tanpa melakukan apapun dan tanpa membuka mulutnya.


Setelah sekian lama tak melakukan apapun dan hanya memandang saja, perlahan-lahan tangan Damian mulai terangkat dan terulur menyentuh uraian rambut gadis itu yang menutupi wajahnya.


Dengan gerakan seringan bulu, jari telunjuk Damian mengusap surai itu ke belakang agar tidak menutupi wajahnya.


Setelahnya, Damian ingin menjauhkan tangannya kembali. Namun ketika melihat wajah damai dan tenang gadis tersebut membuat Damian ingin menyentuhnya.


Tangannya melayang di udara karena perang hati dan otaknya yang tidak selaras. Otaknya mengatakan tidak, namun hatinya berkata iya.


Setelah pergelutan panjang antara otak dan hatinya, akhirnya tangan Damian terjatuh ke samping badannya. Otaknya menang dalam pertarungan kali ini dan menghiraukan perkataan hatinya.


"Apa yang akan terjadi jika kau tau siapa pembunuh orang tuamu yang sebenarnya?" monolog Damian sambil menatap wajah tenang gadis itu lekat.


"Seharusnya aku tidak membiarkanmu hidup saat itu." ujarnya lagi dengan nada datar, lalu akhirnya keluar dari ruangan tersebut setelah berkata hal itu.


***


Crystal bergerak tak nyaman saat ia merasakan tubuhnya seperti melayang di udara dan terayun-ayun. Matanya mengerjab beberapa kali, sampai akhirnya ia menangkap sosok Levin yang menggendong tubuhnya.


Mata Crystal membulat seketika, lalu menoleh ke samping guna melihat dimana dia berada. Crystal menangkap Mansion besar milik pria itu di depan matanya.


Crystal ingat terakhir kali ia tertidur di ruangan pria itu dengan sangat nyenyak. Kenapa pria itu tidak membangunkannya saja?


Crystal menoleh kembali menatap wajah Levin yang sedang berjalan dengan santai sambil menggendong tubuhnya dengan mudah tanpa kesulitan.


"Ekhem, turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri." ujar Crystal mengangkat suaranya dengan gugup.


Pria itu melanjutkan langkahnya memasuki pintu utama tanpa membuka mulutnya sedikitpun.


Crystal hanya bisa diam karena ia tahu pria itu pasti tidak akan mendengar ucapannya. Saat mereka sampai di ruang tamu, Levin dengan santainya melepas tubuh Crystal dari gendongannya, hingga tubuh gadis itu terjatuh ke atas sofa.


Untungnya tubuh gadis itu terjatuh ke atas sofa bukan ke keras dan dinginnya lantai. Crystal menggeram sambil menggertak gigi menahan amarah karena perbuatan pria itu.


Saat mulut gadis itu akan terbuka dan mengeluarkan protes, tiba-tiba suara kecil dan terdengar imut menimpali dengan cepat.


"Uncle."


Crystal dan Levin otomatis menoleh ke sumber suara dan mendapati dua bocah laki-laki kembar yang berjalan ke arah Levin dengan raut gembira.


Levin terlihat memasang wajah datar ketika salah satu bocah kembar itu memeluk kaki panjangnya.


"Uncle Kenzo, Hold me!" (Paman Kenzo, gendong aku!) ujarnya dengan cadel.


Levin terlihat memicingkan matanya dan terlihat terdiam tak melakukan apapun. Crys menatap reaksi pria itu yang terlihat tidak bisa menghadapi anak kecil, berbeda dengan Kenzo.


"Uncle." bocah itu terlihat merengek karena ucapannya tidak digubris oleh Levin.


Crys terlihat memberi kode pada Levin, namun pria itu tetap saja tidak melakukan apapun dan memasang wajah dinginnya.


Crys mendesah kasar, lalu bangkit berdiri dan berlutut guna menyejajarkan tingginya dengan tinggi bocah laki-laki itu.


"Hi." sapa Crys canggung. Bocah laki-laki itu terlihat menoleh ke arah Crystal dengan wajah sedih.


"Who are you?" tanyanya dengan nada yang begitu menggemaskan, membuat Crystal ingin mencubit pipinya.


"Namaku Crystal, aku teman pria ini." ujar Crystal dengan senyum lembut sambil menunjuk Levin yang masih memasang wajah kakunya.


"Crystal?" tanyanya meyakinkan diri.


"Ehm, kamu?" dehemnya sambil mengangguk dan balik bertanya.


"Vian. He's my twin, Vano." jawabnya masih memasang wajah sedih.


"Kalian kesini dengan siapa?" tanya Crystal lagi.


"Uncle Ansell." jawabnya singkat.


"Lalu dimana dia?" tanya Crystal lagi.


"I don't know." jawabnya lagi.


Crystal terlihat menggigit bibirnya mencoba untuk memikirkan sesuatu. "So Vian, Vano, kalian ingin bermain denganku?" tanya Crystal.


"Play what?" tanyanya lagi.


"Whatever you want." ujar Crys dengan senyum manis yang begitu lebar.


Vian terlihat terdiam beberapa saat, lalu mengangguk dan melepaskan pelukannya di kaki Levin. Crys tersenyum semangat, lalu menggandeng kedua tangan kecil bocah kembar itu entah kemana.


Meninggalkan Levin yang berdiri diam di tempatnya dan hanya dapat melihat kepergian mereka dengan wajah tak berminat.


Bersambung....