
"Egh." Perlahan mata Crys yang terasa berat mulai mengerjab beriringan dengan rasa pening yang menerpa kepalanya.
"Shh." Ringisan tersebut secara otomatis keluar dari mulutnya, merasakan seluruh tubuhnya terasa remuk ketika ia mencoba untuk duduk sambil menyesuaikan pandangannya.
Tangan kanannya hendak bergerak menuju keningnya yang berdenyut, namun yang terdengar malah suara rantai yang berbenturan. Matanya yang mulai terbuka, mencoba menoleh ke segala arah dengan pandangan berkunang.
Nafasnya mulai memburu ketika ia mendapati bahwa dirinya berada di sebuah ruangan yang tidak ia kenal. Kepalanya menoleh menelusuri setiap ruangan yang terlihat kosong dan minim pencahayaan.
Matanya kembali terpejam dengan kening mengerut ketika rasa sakit tersebut kembali menghantam kepalanya.
Dengan pandangan mengabur, ia dapat melihat kondisinya yang terlihat sangat berantakan. Kedua tangannya dirantai di sebuah tiang besi yang berada di sana.
Gaun yang ia gunakan terlihat kotor dengan bercak darah, entah darah miliknya atau darah milik orang lain, ia juga tidak bisa memastikannya. Gaunnya juga terlihat sedikit robek dan kakinya terasa sulit untuk digerakkan.
Ia menggeram sambil mencoba mengangkat tubuhnya untuk berdiri, namun yang ia rasakan hanyalah rasa sakit di sekujur kaki hingga pahanya.
"Akh, hughhh." Ia meringis merasakan betapa sakitnya area tungkai kakinya.
Tubuhnya terlihat terduduk lemas di atas lantai kotor berdebu yang bahkan tidak terlapis dengan keramik.
Crystal menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. Ia mencoba mengingat setiap peristiwa yang sudah terjadi hingga ia berakhir ditempat asing seperti ini.
Bunyi tembakan yang bersahutan dengan tubuhnya yang menunduk di dalam mobil sambil menutup telinganya dengan wajah panik.
Tidak ada yang bisa ia lakukan selain meringkuk serta menutup telinga dan matanya sepanjang bunyi tembakan tersebut terdengar
Hingga akhirnya..
BRAK.
Dentumam tersebut terdengar sangat kencang, beriringan dengan tubuhnya yang ikut terlempar dan melayang di dalam mobil.
Ia benar-benar tidak tau apa yang terjadi padanya di dalam mobil yang berguling-guling di tengah jalanan yang sepi.
Beberapa saat kemudian, ia mengerjabkan matanya yang terasa begitu berat untuk dapat terbuka. Sampai akhirnya, dengan mata yang sedikit mengabur, Ia dapat melihat sosok Kenzo yang tidak sadarkan diri dengan darah yang berlumuran dari kepalanya.
Semua yang ia lihat hanyalah kekacauan yang terjadi pada mobil yang mereka kendarai. Hingga suara derap langkah kaki yang mendekati mobil mereka.
"Tuan, Kita mendapatkannya."
Ucapan tersebut terdengar oleh telinganya sebelum akhirnya, kesadarannya ikut menghilang ditelan kegelapan.
"Kenzo." Desisnya dengan suara yang begitu serak.
Ia meneguk ludahnya untuk mengaliri tenggorokannya yang terasa begitu kering, bahkan untuk berbicarapun ia merasa kesulitan.
Cklek
Kepala wanita itu sedikit mendongak ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Cahaya dari luar seketika masuk ke dalam ruangan ketika pintu tersebut dibuka.
Siluet tubuh seorang pria terlihat berdiri menjulang di depan pintu yang sudah terbuka dengan lebar. Crystal memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas wajah dari pria tersebut.
"Siapa?" Desis Crys begitu lirih dengan sisa-sisa tenaganya.
Pria tersebut perlahan melangkah mendekatinya. Suara alas sepatu pria tersebut terdengar begitu jelas di telinganya.
Ketika pria itu sampai di depannya, wajah pria tersebut akhirnya terpampang jelas dengan senyuman miring yang mengembang begitu puas melihat keadaannya.
"Desmond." lirihnya dengan mata yang mulai memanas.
Desmond tiba-tiba tertawa kencang sambil menatapnya lekat. Kepala Crystal kembali menunduk karena ia sudah tidak sanggup lagi untuk mendongak lebih lama.
Melihat Crystal menunduk, Desmondpun semakin tersenyum puas. "Inilah yang harusnya pria itu lakukan di bawah kakiku, menunduk dan menyadari siapa yang sudah ia lawan." Ujar Desmond.
Crystal tak menggubris ucapan pria itu. Ia terlalu tak bertenaga bahkan untuk beradu mulut dengan pria itu.
Namun, ketika sosok Kenzo yang terlihat berlumuran darah di dalam mobil kembali terlintas di kepalanya, membuat dadanya seketika berdenyut nyeri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ia tidak ingin beradu mulut dengan Desmond, ia tidak ingin menanggapi pria itu, yang ingin ia tanyakan hanya bagaimana keadaan Kenzo sekarang.
Rasa khawatir tersebut menyelimuti dadanya, melunturkan rasa benci yang selama ini ia rasakan kepada Desmond.
Crys mencoba menarik nafas sambil kembali menelan ludahnya. "Ken..zo?" desisnya.
Seakan mengerti dengan maksud wanita itu, Desmondpun menjawab dengan santai. "Pria itu tidak akan mati dengan semudah itu." Ujar Desmond.
"Lagipula aku tidak akan membiarkannya mati dengan cara seperti itu. Aku sudah menyiapkan dunia yang membuatnya ingin mati walaupun dia hidup." Tambah pria itu lagi dengan senyuman miring.
Crys mengangkat kepalanya untuk mendongak menatap Desmond dengan tatapan tajam, walau ia harus mengerahkan seluruh tenaganya.
"Kau saja yang mati!" Ujar Crys menatap Desmond penuh emosi.
Desmond menatap Crys tajam, lalu sedikit menunduk untuk mendekatkan wajah mereka. Crys masih bertahan untuk mendongak dan menatap pria itu penuh kebencian.
"Ekgh." Crys meringis kesakitan ketika tangan Desmond menarik rambutnya dengan begitu kasar, tanpa memperdulikan bahwa seluruh tubuh wanita itu penuh dengan luka dan lebam akibat kecelakaan.
"Tutup mulutmu jika kau masih ingin melihat pria yang kau cintai itu!" Rahang Desmond mengeras dengan giginya yang gemertakan.
Desmond semakin menarik kencang rambutnya, memaksanya untuk mendongak lebih tinggi menatap pria itu. Lalu setelahnya, ia menghempas kasar kepala Crys, tanpa menghiraukan bahwa beberapa helai rambut wanita itu ikut tertarik di sela-sela jarinya.
Tubuh Crystal yang tak bertenaga pun tersungkur di atas lantai berdebu tersebut dengan suara ringisan yang lagi-lagi keluar dari mulutnya.
Desmond kembali menegakkan badannya, lalu memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya sambil menatap Crys yang tersungkur dengan tatapan datar.
"Mari kita lihat, seberapa cepat dia akan datang untuk menjemputmu." Ujar Desmond dengan senyuman miring yang terpatri di bibirnya.
Setelah itu, Desmond berbalik badan dan melangkah keluar dari ruangan tersebut. Crystal menatap siluet tubuh Desmond yang mulai menjauh, meninggalkannya yang masih berbaring di atas lantai dengan kesadarannya yang kembali menghilang.
***
Raveno's Hospital
Ansell menatap tubuh Kenzo yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit milik Davin. Terlihat pria itu terluka di area kepalanya dan lebam-lebam akibat benturan di dalam mobilnya yang terguling.
Untungnya dokter mengatakan kondisi otak pria itu baik-baik saja setelah dilakukan pengecekan MRI. Kenzo tidak perlu sampai melalui masa kritis dan hanya tinggal menunggu pria itu untuk siuman.
Davin juga berada disana untuk melihat kondisi Kenzo, setelah ia mendengar kabar bahwa pria itu dibawa ke rumah sakit miliknya.
"Bagaimana dengan wanita itu?" Tanya Davin menoleh pada Ansell.
Ansell menatap Davin. "Killian membawanya ke markas besarnya." Jawab Ansell.
Davin kembali menatap pada Kenzo yang masih tak sadarkan diri.
"Dia akan langsung mendatangi markas pria itu setelah ia siuman" Ujar Davin.
"Sejak dulu dia memang seorang monster." Tambah Ansell tak heran.
"Siapkan pasukan!" Titah Davin.
Ansell menoleh pada Davin dengan kening mengerut.
"Kau akan mengizinkannya pergi dengan kondisinya sekarang?" Tanya Ansell terlihat tak setuju.
"Kita tidak akan bisa mengalahkan kekeras-kepalaannya." Ujar Davin.
"Lagipula kita semua akan melakukan hal yang sama jika orang yang kita cintai berada dalam bahaya." Tambah Davin lagi.
Ansell terdiam, lalu beberapa detik kemudian berdecak dengan wajah gusar seakan kata-kata itu ikut menampar wajahnya.
"Wanita Berlin itu, sebaiknya kau jangan meninggalkannya terlalu lama atau dia akan segera bertunangan dengan pria lain." Kata Davin.
"Sialan!" Rutuk Ansell kesal, lalu mengambil ponselnya dan keluar dari sana.
Bersambung.....