
Cahaya matahari pagi mulai menembus celah-celah gorden yang masih tertutup rapat. Kelopak mata seorang wanita yang masih terbaring di atas ranjang, perlahan mulai mengerjab sambil menggeliat kecil.
"Emhh."
Matanya perlahan mulai terbuka, mencoba menyesuaikan pandangannya yang masih kabur. Seketika setelah pandangannya jernih, ia langsung menangkap wajah tampan di depannya yang masih tertidur dengan begitu pulas.
Senyum wanita itu seketika terbit sambil menatap lekat lekukan wajah Kenzo yang begitu sempurna. Seketika kejadian semalam kembali terlintas di kepalanya, membuat senyum di bibir Crys mengembang semakin lebar.
Crystal begitu menikmati kegiatannya paginya, sampai ia lupa dengan tubuh polosnya yang hanya terbalut selimut. Ia masih ingin memandangi wajah Kenzo yang tengah tertidur dengan damai.
Tangannya perlahan naik untuk menyentuh pahatan wajah Kenzo dengan gerakan seringan bulu agar pria itu tidak terganggu.
Jari-jemari lentiknya mulai menyusuri seluruh wajah Kenzo mulai dari pipi, mata, hidung, hingga turun menuju bibirnya. Mata Crystal menatap lekat setiap bagian wajah Kenzo sambil mengaguminya.
Crystal tersentak ketika sebuah tangan kekar menarik pinggangnya yang berada di bawah selimut, hingga tubuhnya menabrak tubuh bidang pria itu.
Wajah Kenzo seketika begitu dekat dengan wajahnya. "Kau sudah bangun?" Tanya Crys heran, karena mata Kenzo masih tertutup.
"Hmm, karena ulah seseorang yang menyentuh wajahku." Ujar Kenzo dengan suara serak khas seseorang yang baru bangun tidur.
Mata pria itu perlahan terbuka dan langsung bertemu dengan manik mata Crystal yang begitu dekat dengannya.
"Like your morning view?" Tanya Kenzo yang berhasil membuat pipi Crystal bersemu malu karena kegiatannya ternyata ketahuan oleh pria itu. (Suka dengan pemandangan pagimu?)
Kenzo menatap wajah Crystal lekat, lalu tangannya perlahan naik untuk mengusap pipi wanita itu dengan lembut.
"I like my morning view." Tambah Kenzo menatap Crystal begitu dalam.
Wajah wanita itu semakin memerah padam layaknya kepiting rebus. Karena tidak tahan dengan rasa malunya, Crystal menarik selimut yang ia pakai untuk menutupi wajahnya yang memanas.
"Kita harus bangun." Ujar Crys di dalam selimut dengan senyum tertahan.
Kenzo tersenyum kecil melihat tingkah wanita yang berada dipelukannya tersebut.
"I'm fully awake." Balas Kenzo. Crystal menurunkan selimutnya hingga ke lehernya.
"Maksudku bangun dari tempat tidur." Ujar Crys.
Kenzo mendekatkan wajahnya hingga berjarak kurang dari 5 senti dari wajah Crystal. Crystal tertegun ketika Kenzo mendekatkan wajahnya, hingga tanpa sadar ia menahan nafasnya.
"Kau merasakannya bukan? Aku benar-benar sudah terbangun sepenuhnya." Desis Kenzo.
Kening Crys mengerut bingung, namun akhirnya ia tersadar, ketika ia merasakan sesuatu yang keras di bawah sana, bersentuhan dengan kulit polosnya.
Seketika wajah Crystal kembali memerah. Crys dengan cepat hendak beranjak dari atas ranjang, namun tangan kekar Kenzo segera menariknya, lalu menindih tubuhnya kembali di atas kasur yang berantakan.
"Ah, tidak mau." Crystal merengek sambil menggeleng dan memberontak, namun usahanya harus kembali sia-sia ketika sentuhan pria itu selalu berhasil menghilangkan akal sehatnya.
Pagi itu, lagi-lagi kamar tersebut diisi dengan deruan nafas serta sahutan-sahutan panas yang keluar dari dua mulut mereka.
***
Crystal menatap Nathalie yang kini berdiri dihadapannya dengan tatapan dingin tak bersahabat. Nathalie kini mulai menunjukkan sosok dirinya yang asli. Tidak ada lagi raut hangat palsu yang selama ini ia tunjukkan padanya.
Tadinya Crystal hendak menyusuri Mansion baru Kenzo setelah pria itu berangkat kerja, namun ditengah perjalanan, ia berpapasan dengan Nathalie dan disinilah mereka sekarang.
"Kau senang?" Crys menatap Nathalie yang memulai pembicaraan dengan begitu dingin.
Nath menyunggingkan senyum miringnya sambil menatap Crystal dengan pandangan remeh.
"Jangan terlalu senang, kau pikir dia benar-benar jatuh cinta padamu?" Tanya Nathalie mulai memanaskan suasana diantara mereka.
Crystal ikut tersenyum miring sambil menatap Nathalie dengan wajah menantang.
"Benar juga, semalam Kenzo tidak menyatakan cinta padaku." Ujar Crys.
Nathalie terkekeh mendengar ucapan Crystal. "Ahh, tapi dia mengatakan akan melakukan apapun untukku." Tambah Crystal, lalu tersenyum manis pada Nathalie, seakan mengejek balik wanita itu.
Senyum Nath seketika luntur. Tangannya terkepal di samping badannya, sambil menatap Crys tajam.
"Kau pikir perasaannya padaku hingga mencari dan menungguku selama bertahun-tahun bisa hilang begitu saja? Aku mengenalnya lebih baik darimu, sedangkan kau baru mengenalnya bahkan belum sampai setengah tahun. Aku memperingatkanmu untuk jangan terlalu bahagia, karena perasaannya padamu hanya sementara." Kata Nathalie panjang lebar.
Crys mendengar ucapan wanita itu dengan begitu seksama dan terdiam dengan wajah datar. Crystal menatap lekat mata Nathalie yang masih menatapnya begitu tajam.
"Berhenti bersikap menyedihkan Nathalie!" Mata Nath seketika melebar mendengar ucapan Crys padanya.
"Setelah melihat sifatmu hari ini, aku menyadari bahwa kau dan Kenzo terlihat sama. Kalian bersikap dingin untuk menyembunyikan perasaan kalian yang sebenarnya." Ujar Crystal.
"Kau tidak tau apapun." balas Nathalie dengan rahang mengeras.
"Aku memang tidak tau apapun tentangmu, kita bahkan tidak pernah benar-benar dekat selama ini. Aku hanya memperingatkanmu untuk berhenti bersikap menyedihkan. Kaulah yang berhak atas keinginan dan perasaanmu sendiri, bukan atas tekanan dan campur tangan orang lain." Setelah mengatakan itu, Crystal melangkah untuk melewati Nathalie. Langkahnya terhenti ketika ia sampai di samping wanita itu.
"Pikirkan saja kebahagiaanmu sendiri!" Ujar Crystal tepat disamping Nathalie yang masih terpaku di tempatnya.
Setelah mengatakan hal itu, Crystal kembali melanjutkan niat awalnya untuk menyusuri Mansion tersebut, meninggalkan Nathalie yang masih terdiam di tempatnya.
***
Damian menatap Crystal yang kini tengah bersantai di depan danau yang berada di pelataran taman Mansion. Crystal menatap kagum pada hamparan danau buatan di depannya. Danau tersebut dihiasi dengan tanaman air yang terlihat begitu indah, serta beberapa angsa yang berenang dengan begitu anggun.
Crystal tiba-tiba menoleh pada Damian sambil tersenyum manis. "Damian, disaat kau sedang bahagia, tempat apa yang kau pikirkan?" Tanya Crystal.
Damian terdiam sejenak, lalu menjawab dengan begitu datar. "Tidak ada." Jawabnya.
Kening Crys berkerut. "Benarkah? Kalau begitu, apa ada sebuah tempat yang kau sukai?" Tanya Crys lagi.
Damian kembali terdiam, namun kali ini pikirannya melayang pada kenangan lamanya yang sudah lama terkubur. Crystal menatap lekat wajah Damian yang terdiam dengan pandangan kosong.
"Damian?" Crys melambai kecil di depan wajah Damian yang masih terkurung dengan kenangannya.
"Danau." Crystal menurunkan tangannya setelah mendengar jawaban singkat tersebut.
"Ahh, kau suka danau?" Tanya Crys.
Damian menggeleng, membuat kening Crys kembali berkerut bingung.
"Seseorang menyukainya." Tambah Damian singkat, membuat Crys yang kini terdiam melihat raut wajah Damian yang terlihat sendu.
Bersambung...
Next part khusus kehidupan Damian nihhh, jangan lupa like dan Comment sebanyak mungkin.
See you 🥰