
"Aku tidak salah ruangan, aku memang masuk untuk menemuimu." ujar James sambil memasang senyum miringnya yang terlihat mengerikan.
Crystal berdiri panik, lalu berjalan mundur dengan cepat untuk menjauh dari pria itu.
"TOLONGHMMPP."
Mata Crystal terbelalak lebar saat mulutnya dibekap dengan erat dan jarak pria itu yang tiba-tiba begitu dekat dengannya.
Tangan Crystal naik dan mencoba menarik tangan pria itu dari mulutnya sambil memberontak sekuat tenaga.
"Sshhtt, diamlah dan jangan memberontak jika kau tidak ingin terluka." bisik James tepat di telinga Crystal.
Kakinya mencoba menendang namun sedikit kesulitan karena gaun yang ia gunakan. Pria bernama James itu tiba-tiba mendorong tubuh Crys ke belakang dan menabrakkan punggung Crystal ke dinding toilet.
Tangannya yang bebas menahan belakang kepala Crystal agar tidak membentur dinding berkeramik tersebut.
Crystal meringis saat ia merasakan rasa ngilu di punggungnya karena membentur dinding keras tersebut.
"Lihat, aku tidak ingin melukaimu, jadi menurutlah atau kau bisa lebih terluka dari ini." desis James tajam sambil menatap manik mata Crystal yang menahan tangis.
Tangan James yang menahan belakang kepala Crys perlahan turun menjalar menyentuh punggungnya dan tersentak saat pria itu mendorong punggungnya lebih dekat hingga menabrak tubuh bagian depan pria itu.
Crystal masih memberontak sekuat tenaga dan tangannya mencoba mendorong tubuh pria itu menjauh. James mendekatkan wajahnya ke arah leher Crystal yang terekspos dan menyentuh leher menggiurkan itu dengan hidungnya.
Tubuh Crystal bergetar saat merasakan tindakan James yang tiba-tiba tersebut. James terlihat menarik nafas dalam-dalam untuk menghirup aroma Crystal dari leher jenjang tersebut.
Tangan Crystal mengepal saat ia merasakan hidung James menggesek kulit lehernya dengan gerakan seringan bulu.
Crystal mencoba berteriak, namun hasilnya ia hanya bergumam tidak jelas karena tangan James yang menutup mulutnya.
"Kau harum." desis James dengan mata berkabut penuh nafsu.
Crystal bisa merasakan nafas panas James di lehernya yang terekspos. Crystal mendorong tubuh pria itu sekuat tenaga sambil mencoba melepas tangan tersebut dari mulutnya.
Karena gerakan memberontak Crystal yang random dan kasar mengakibatkan James kesulitan menikmati aroma kesukaannya tersebut.
Saat itu James lengah, Crystal langsung menggigit tangan James yang mulai melonggar dengan sekuat tenaga dan akhirnya pria itu berteriak keras sambil memasang wajah penuh amarah.
Usahanya berhasil dan tak sia-sia. Buktinya tangan James yang membekap mulutnya terlepas dan tubuh pria itu menjauh. Namun hal yang tidak diinginkan terjadi setelahnya. Rahang James terlihat mengeras, matanya tajam dan wajahnya terlihat terbakar emosi.
"****, dasar jal*ng." teriak James, lalu melayangkan tangannya ke udara dan mendarat keras di pipi mulus Crystal.
PLAK
Pipi Crystal terlempar ke kanan bersamaan dengan tubuhnya yang tersungkur ke lantai karena kerasnya tamparan itu. Bunyinya terdengar mengerikan di telinga.
Crystal meringis sambil memegang pipinya yang terasa kebas. Crystal mengernyit saat ia merasakan cairan kental di ujung bibirnya yang ternyata adalah darah.
Crystal mencoba sekuat tenaga untuk tidak menangis karena pukulan tersebut. Rasanya sangat sakit, bahkan Crystal tak bisa berbicara karena rasa panas itu. Telinganya sempat berdengung dan matanya berkunang-kunang.
"Kau pasti sudah melempar tubuhmu pada Kenzo bukan? Kenapa tidak berikan tubuhmu juga padaku, aku akan bayar lebih tinggi dari dia." ujar James berdiri menjulang di depan Crys yang masih tersungkur di lantai.
Crystal melempar tatapan tajam menusuk pada mata James sambil mengepalkan tangannya marah. Dia bukan jal*ng yang melempar tubuhnya pada siapapun.
Crystal menggeram marah. "Lebih baik aku mati daripada disentuh olehmu." teriak Crystal tajam dengan mata penuh kebencian.
James tampak tersenyum miring dan puas dengan jawaban Crystal yang semakin membangkitkan gairahnya. James berjongkok, sambil menatap Crys dengan mata mencemooh.
Tangan James terulur mengelus pipi merah Crystal yang terlihat bengkak karena tamparannya. Dengan kasar Crystal menghempaskan tangan itu dari pipinya.
James menggigit bibirnya dengan senyum menggoda. "Kalau begitu biar aku cicipi tubuhmu sebelum kau mati." desisnya lamat-lamat dengan senyum miringnya yang terlihat mengerikan dan tangannya langsung meluncur pada Gaun gadis itu.
"AGHH."
Dilain sisi.
Karina menatap ke seluruh penjuru hall hotel tersebut dengan senyum semangat. Matanya turun melirik jam yang dia pakai.
"Sudah 25 menit, kenapa dia belum kembali dari toilet ya?" tanya Karina pada dirinya sendiri.
Karina akhirnya bangkit berdiri dan berjalan mencari toilet untuk menemukan Crystal yang tak kunjung muncul.
Kenzo yang sedang asik berbincang ringan dengan anak laki-laki digendongnya, akhirnya memalingkan wajahnya sebentar untuk mencari keberadaan gadis tersebut.
Kenzo menyadari Crystal pergi bersama Karina dan duduk berdua dengan gadis itu. Kenzo masih mengawasi dengan baik dan memastikan bahwa dia tidak hilang dari pandangannya.
Mata Kenzo beralih ke arah meja dimana Crystal dan Karina duduk, namun ia tidak mendapati Crystal disana dan hanya ada Karina seorang diri yang sedang menikmati pesta tersebut.
Semenjak kedatangan anak laki-laki itu, Kenzo menjadi lengah dan fokus menghadapi bocah laki-laki digendongannya sampai ia tidak sadar bahwa Crystal sudah menghilang dari pengawasannya.
Kenzo memencarkan matanya mencoba mencari sosok gadis itu di seluruh penjuru tamu, namun nihil.
"Nothing Vian. I'm leaving for a bit, stay with your daddy, i'll be back, okay." ujar Kenzo pada Vian dengan penuh pengertian, lalu menyerahkan bocah itu pada Dave. (Tidak ada apa-apa Vian. Paman harus pergi sebentar, tetaplah bersama Papamu, aku akan kembali, okay.)
"Can I come with you, uncle?" tanya Vian dengan wajah menggemaskannya yang sulit untuk ditolak. (Bisakah aku ikut denganmu, paman?)
Kenzo tersenyum lembut, lalu mengelus pipi Vian. "I'll be back in a minute, I swear." ujar Kenzo, lalu pergi dari sana dengan wajah Vian yang cemberut. (Aku akan kembali sebentar lagi, paman janji.)
Kenzo menolehkan matanya ke arah meja Crystal yang sekarang sudah kosong tak ada siapapun disana.
Kenzo mendecak dalam hati, lalu berjalan entah kemana kakinya membawa ia pergi. Kenzo meraih ponsel di sakunya dan dengan cepat menelepon seseorang.
"Periksa rekaman CCTV, cari keberadaan gadis itu!" titah Kenzo mutlak.
Masih dengan ponsel yang melekat di telinganya, Kenzo berjalan melewati para tamu dan memasuki area lorong. Mata Kenzo menatap sosok Karina yang berjalan melewati lorong sepi tersebut.
Dengan langkah cepat Kenzo menghampiri wanita itu dan mematikan sambungan telepon.
Mendengar langkah cepat dibelakangnya, Karina menoleh ke belakang dengan wajah kaget.
"Mr. Duanovic." ujar Karina kaget.
Kenzo berdiri di depan wanita itu dengan wajah dingin tak tersentuh. "Dimana dia?" tanya Kenzo tanpa basa-basi.
"Siapa? Ahh, Letta. Tadi dia pergi ke toilet, namun sudah hampir 30 menit dia tidak kembali, akhirnya aku berniat menyusulnya." ujar Karina panjang lebar.
Kenzo yang mendengar hal itu langsung pergi melewati Karina dan melangkah cepat ke arah toilet wanita.
Lorong tersebut sepi dan jarang dilalui oleh tamu bahkan para pelayan dan pengurus hotel.
Kenzo menatap sebuah tanda bertulis Women dan membuka pintu tersebut dengan cepat. Pintu itu terbuka lebar, namun tidak ada siapapun disana. Karina yang juga berada disana ikut melihat ke dalam dan hanya menjumpai kekosongan.
Ponsel Kenzo berdering dan dengan cepat ia mengangkatnya.
"Tuan, Nona masuk ke dalam toilet di lorong B 27 menit yang lalu, namun 10 menit setelah ia masuk, seorang pria ikut masuk ke dalam dan belum keluar sampai sekarang." ujar seseorang dibalik telepon. Kenzo mematikan ponselnya dengan wajah marah sambil menggeram.
Tangannya mengepal kuat. Ini bukan lorong B. Kenzo melangkah pergi dari sana dengan langkah cepatnya. Karina yang melihat hal itu ikut panik tanpa alasan.
'Ada apa sebenarnya?' batin Karina bingung dan akhirnya mencoba mengikuti langkah cepat pria itu.
Kenzo menatap ke sekelilingnya untuk mencari lorong B dan akhirnya ia menemukannya. Kenzo berlari semakin cepat dan menemukan tulisan bertuliskan Women di seberangnya.
Kenzo berlari ke arah sana dan tanpa aba-aba langsung mendorong pintu tersebut kencang. Badan Kenzo terbanting karena menabrak pintu yang ternyata terkunci dari dalam tersebut.
Tanpa memikirkan rasa sakit di bahunya, Kenzo menendang pintu tersebut.
"AAHHH." Kenzo membatu sejenak saat mendengar suara teriakan dari dalam sana diiringi dengan suara isakan tangis.
"TOLONG HIKS!" Lagi-lagi teriakan gadis itu terdengar merintih, membuat rahang Kenzo semakin mengeras dengan urat yang muncul di leher dan tangannya yang terkepal erat.
Dengan sekuat tenaga Kenzo mendobrak pintu tersebut dan akhirnya pintu itu terbuka hingga engselnya terlepas.
BRAK.
Mata Kenzo memanas saat ia melihat Crystal duduk di lantai dengan kondisi memprihatinkan.
Rambutnya berantakan, pipinya merah dan ada darah yang keluar dari bibir gadis itu. Gaun yang ia kenakan pun terlihat sobek dibeberapa bagian dan terdapat lebam di tubuhnya mungkin karena perlawanan gadis itu.
Pria yang sedang mencekik leher Crystal berbalik ke arah pintu yang terbanting dengan keras. Matanya membulat saat ia melihat sosok Kenzo yang berdiri dengan tampang menyeramkan.
Mata Crystal yang sayu dan bengkak karena menangis mendongak ke arah Kenzo dengan ekspresi tak bertenaga. Tangannya menggenggam erat tangan James yang masih mencekiknya.
James dengan panik bangkit berdiri dan menjauh dari tubuh Crystal yang terlihat terbujur lemah di lantai.
Mata Kenzo menatap nyalang pada James dengan aura membunuh.
"Oh Tuhan, Letta." tiba-tiba terdengar suara wanita di belakang Kenzo yang berteriak panik dengan nada terkejut.
Karina melangkah cepat menuju Crystal yang terisak sambil menarik nafas dalam-dalam. Tangannya mencengkram gaun di bagian dadanya yang robek karena ulah James.
"Mr. Duanovic, gadis ini yang menyodorkan tubuhnya padaku dan menggodaku. Aku hanya meladeni permainannya saja." ujar James sambil menatap Crys dengan wajah jijik dan senyum palsu yang ia lemparkan pada Kenzo.
Kenzo tanpa suara berjalan melewati pria itu dan berjongkok di depan Crystal yang terlihat lemas. Kenzo membuka jas yang ia kenakan dan menutup tubuh bagian depan gadis itu dengan jasnya, lalu menggendongnya ala bridal.
Kenzo melangkah keluar dari sana dengan Crystal yang berbaring pasrah di dada bidang Kenzo. Karina mengikuti langkah Kenzo dari belakang tanpa banyak bertanya.
James membuang nafas lega sambil mengelus dada saat Kenzo meninggalkannya. Dia pikir dia selamat, namun nyatanya tidak. Belum lama setelah Kenzo keluar dari sana, beberapa pria berbaju hitam masuk ke dalam dan langsung mengelilingi James dengan tampang mengerikan.
Bersambung...