Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 43



Crystal berbaring di ranjangnya sambil menatap jari telunjuk kirinya yang sudah dibalut perban oleh dokter. Lukanya terasa berdenyut-denyut dan sedikit perih walau sudah dibalut. Dokter bilang untungnya tidak perlu sampai dijahit.


"Dasar ceroboh." ejeknya untuk dirinya sendiri.


Crystal membuang nafas kasar, lalu menutup matanya dengan pikiran melayang.


Gadis itu masih teringat jelas dengan sikap Damian yang terlihat manis dan hangat. Ini permulaan yang bagus untuk memulai hubungan yang baik dengan Damian agar pria itu bisa menolongnya lagi jika ingin bertemu dengan kakaknya.


Perlahan mata Crys terbuka kembali, lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia mengetuk pintu kamarnya dari dalam dan mendekatkan mulutnya pada celah pintu.


"Damian, kau di luar?" tanyanya.


Crys mendekatkan telinganya ke daun pintu sambil menunggu jawaban dari seberang sana, namun tidak terdengar balasan apapun.


Kening Crystal mengerut sambil bibirnya terlipat heran. "Apa dia menghilang lagi?" batinnya.


Crystalpun membuka pintu kamarnya, namun tersentak kaget saat ia mendapati sosok Damian yang berdiri di depan pintunya seperti patung.


Crys mengusap dadanya naik turun sambil menatap pria itu kesal. "Kau kenapa tidak menjawab panggilanku?" tanya Crys ketus.


"Ada apa Nona?" tanya Damian dengan wajah datarnya.


Crystal mendengus sambil menegakkan badannya, lalu membuka pintunya semakin lebar dan melangkah ke luar dari kamarnya. Crys berjalan diikuti oleh Damian dari belakang.


"Apa kau tidak bisa berbicara santai saja selama kita hanya berdua?" tanya Crys sambil berjalan dengan wajah cemberut dan tak menoleh ke belakang.


"Kau bahkan selalu berjalan di belakangku. Apa kau tidak lelah berjalan di belakang seseorang??" tanyanya lagi.


Beberapa detik menunggu jawaban dari orang di belakangnya, namun ternyata nihil, tidak ada jawaban apapun sampai akhirnya Crys mendengus putus asa karena usahanya terasa percuma saja.


Crystalpun melanjutkan langkahnya hingga kakinya membawa ia ke dapur. Rose yang melihat kedatangannya langsung memasang wajah panik.


"Nona, anda jangan datang kemari, anda bisa terluka lagi." kata Rose panik berlebihan sedangkan Crys menatap wanita itu heran.


"Aku hanya melihat dan menunggu masakan yang tadi kita masak." ujar Crys.


"Kalau begitu anda menunggu di ruang keluarga saja sambil menonton." ujar Rose.


Bibir Crys mencebik kesal, namun akhirnya ia menurut dan pergi dari sana. Crystal pergi ke ruang tamu sambil menonton siaran yang sama sekali tidak menarik baginya.


Selagi mengganti-ganti channel televisi dengan raut tak tertarik, tiba-tiba muncul sebuah ide dari kepala cantiknya.


"Damian, bagaimana kalau kita pergi melihat kakakku lagi? Kenzo sudah tiga hari tidak kembali ke Mansion." ujarnya menatap Damian bersemangat.


"Tidak bisa. Seluruh kawasan Mansion terdapat kamera CCTV, anda tidak bisa pergi dari sini tanpa seijin Mr. Duanovic." jawab Damian frontal yang berhasil membuat bahu Crystal melemah dan wajah cerianya seketika luntur.


Crystal menunduk tak bersemangat, lalu mematikan televisi dihadapannya. Crystal menoleh pelan ke arah Damian yang berdiri di belakang sofa yang ia duduki.


"Apa kakimu tidak pegal berdiri seharian?" tanya Crys kesal.


"Tidak." jawab Damian singkat, padat, dan jelas.


"Ck, dasar gunung es." desisnya pelan sambil mendecak dan memutar bola matanya takjub.


Ia pun menatap kembali pada Damian dan memperhatikan pria itu dari atas hingga ke bawah. Setelah beberapa saat meninjau tubuh pria itu, manik matanya tidak menangkap satupun senjata pada tubuhnya.


"Kau tidak punya senjata atau kau memang terlalu pintar menyembunyikannya?" tanya Crys frontal.


"Aku tau kau tidak akan menjawab pertanyaanku." tambahnya cepat dengan wajah sudah mengerti.


"Aku selalu penasaran dengan satu hal. Kau menuruti perintah Kenzo ataupun Levin karena mereka adalah orang yang membayarmu, namun aku adalah prioritas utama dalam pekerjaanmu. Kalau aku dan Kenzo dalam bahaya, siapa yang akan kau selamatkan terlebih dahulu?" tanya Crystal penasaran sambil menatap Damian lekat.


"Anda." jawab Damian cepat seakan pria itu tak butuh waktu lama untuk berfikir.


Tanpa sadar Crystal tersenyum lebar karena tidak bisa menahan rasa senang yang masuk ke dalam dirinya. Namun beberapa detik kemudian Crys kembali menormalkan raut wajahnya.


"Lalu, jika Kenzo berniat membunuhku? Apa kau akan tetap menyelamatkanku?" tanya Crys lagi. Damian terlihat terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya secepat sebelumnya.


Crystal yang melihat keterdiaman pria itupun mengangguk paham sambil tersenyum tipis. "Aku mengerti, kau tidak perlu menjawabnya. Dia adalah bosmu, orang yang membayarmu untuk melakukan apapun yang dia perintahkan." ujarnya.


Damian mengangkat kepalanya dan menatap gadis di depannya dalam. Beberapa saat terdiam, akhirnya pria itu mengangguk pelan dan menyetujui ajakan gadis itu. Bahkan Crys sampai menganga terkejut karena reaksi pria itu.


Padahal Crys pikir pria itu akan langsung menolak ajakannya mentah-mentah dengan wajah datar seperti biasanya. Namun detik kemudian Crys langsung tersenyum lembut dan berjalan menuju ruang makan sambil menarik tangan pria itu.


***


Di lain sisi.


Kenzo melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan rumah sakit yang beberapa hari ini ia datangi setiap hari dengan rutin.


Matanya menatap seorang wanita yang terbaring pucat dengan tubuh yang terlihat rapuh di atas ranjang rumah sakit.


Flashback on


Kenzo melangkah cepat ke arah rumah sakit yang diberitahu oleh orang yang menelponnya beberapa menit yang lalu. Wajah tampannya yang biasanya dingin, kini terlihat panik dan tak sabar.


Kakinya setengah berlari menuju ruangan yang ia cari-cari. Matanya menangkap seorang pria bawahannya yang berdiri di koridor rumah sakit guna menunggu kedatangannya.


"Di mana dia?" tanya Kenzo tak sabar.


"Ruang nomor 14 Tuan." jawabnya.


Setelah mendengar jawaban itu, Kenzo pun berlari ke arah ruang nomor 14 yang berada di koridor tersebut. Tangannya meraih pintu ruangan tersebut dan membukanya dengan kasar.


Ia masuk ke dalam dengan nafas tersengal-sengal dan akhirnya menangkap seorang wanita yang selama ini ia rindukan sedang berbaring lemah di atas ranjang.


Kakinya dengan perlahan mendekat ke arah ranjang guna memastikan bahwa wanita itu adalah wanita yang ia cari-cari selama ini.


Setelah berada sangat dekat, saat itu juga jantung Kenzo berdetak dengan kencang. Tangannya dengan perlahan terulur demi menggenggam tangan wanita tersebut yang sangat pucat dan tak bertenaga.


Tanpa sadar air mata pria itu menetes dan membasahi pipinya yang panas. Ia menggenggam erat tangan tak bertenaga itu seakan tidak ingin melepaskannya lagi.


"Finally, I found you."


Flashback off


Kenzo meletakkan buket bunga yang ia bawa ke atas meja di samping ranjang wanita tersebut. Kenzo memerintahkan pihak rumah sakit untuk memindahkannya dari ruangan nomor 14 menuju ruang VVIP dengan dokter khusus yang senantiasa mengawasi perkembangan wanita itu.


Kenzo berdiri di samping ranjang sambil menatap wajah wanita yang terbaring tersebut dengan dalam. Tangannya perlahan terulur dan mengusap rambut sang wanita dengan lembut.


Perlahan tapi pasti, mata lentik tersebut mulai mengerjab dan perlahan mulai terbuka karena merasakan pergerakan sampai akhirnya ia menangkap sosok Kenzo yang tengah menatapnya dalam.


Wanita itu melempar senyum hangat dari bibirnya sambil menatap Kenzo dengan tatapan lembut.


"Kau sudah datang? Apa sudah lama?" pertanyaan itu keluar dari mulutnya dengan lembut.


"Tidak, baru saja." jawab Kenzo ikut tersenyum lembut.


Wanita itu tersenyum lebar dengan manis, lalu bergerak perlahan demi duduk dari posisi tidurnya.


"Jangan bergerak!" kata Kenzo tajam, lalu pria itu dengan cepat mengubah ranjang tersebut agar bagian atasnya terangkat.


Wanita itu menatap Kenzo dengan senyum lembut yang tak pernah luntur dari bibirnya.


"Terimakasih." ujarnya dan Kenzo membalas dengan senyum tipisnya.


Bersambung...


Ada yang tau cewek itu siapa??


Sebelumnya aku takut baca komen karna takutnya kalian pada marahin aku karna menghilang terlalu lama. Akhirnya aku beraniin baca komen dan ternyata kalian mensupport aku dan masih terus menunggu cerita ini. Kalian juga banyak yang menjadi detektif untuk menebak misteri cerita ini, aku jadi terhura🥺. Makasih banget ya buat kalian semua.


Next Up : besok.


Jangan lupa like, vote dan comment, kalau mau share juga boleh biar cerita ini makin banyak yang mampir dan stay.


Bye😘