
Lima bulan semenjak pernikahan antara Kenzo dan Thalia berakhir dengan pertumpahan darah, Kenzo kembali melanjutkan kehidupannya, namun tidak lagi terasa sama seperti sebelumnya.
Crystal masih belum ditemukan dan pencarian sampai sekarang masih terus dilakukan, entah sampai kapan akan terus berlangsung. Sampai saat ini, Kenzo masih terlihat tidak menyerah dan terus melanjutkan pencarian.
Ansell kini tengah melangkah masuk ke dalam Mansion Kenzo untuk mencari keberadaan pria itu, yang sudah satu minggu ini tidak datang ke kantornya.
"Selamat siang Tuan." Sapa pelayan yang tidak sengaja berpapasan dengannya.
"Dimana dia?" Tanya Ansell.
Seakan mengerti maksud dari pertanyaan pria itu, pelayan tersebutpun menjawab dengan menundukkan kepalanya.
"Tuan Duanovic berada di dalam kamarnya, sudah satu minggu tuan tidak keluar dari sana." Jawabnya.
Ansell hanya mengangguk singkat, lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar pria itu. Sesampainya di depan kamar Kenzo, Ansell langsung membuka pintu kamar tersebut tanpa repot-repot mengetuk bahkan mengucapkan kata-kata permisi sedikitpun.
Seketika setelah pintu tersebut terbuka, mata Ansell hanya dapat menangkap kegelapan dari dalam sana, padahal matahari bersinar terang di luar.
Ansell menatap gorden kamar Kenzo yang tertutup rapat. Lampu kamar pria itupun tidak menyala. Ansell mendecak, lalu mencari saklar lampu dan menghidupkannya.
Cahaya lampu tersebutpun langsung menerangi seisi kamar yang terlihat begitu berantakan dan tidak terurus. Ansell menatap pada sosok pemilik kamar yang terduduk di atas sofa singlenya, dengan botol-botol minuman keras yang berserakan di atas lantai dan di samping meja nakas.
"Matikan!" Desisan suara yang terdengar serak tersebut membuat Ansell terkekeh singkat dengan nada mengejek.
"Sejak kapan kau menjadi pemabuk?" Tanya Ansell.
"Tutup mulutmu!" Balas Kenzo masih terlihat tak sadar sepenuhnya dengan kepalanya yang tertunduk seperti orang yang tertidur.
Ansell menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Kenzo menjadi seperti ini setelah ia bebas dari cengkraman Sergio. Ansell mengerti mengapa Kenzo bisa seterpuruk ini, apalagi kalau bukan karena wanitanya yang belum ditemukan.
Setelah merasakan apa yang Davin dan Kenzo rasakan, Ansell menjadi sangat mengerti betapa pentingnya kehadiran seseorang yang kita cintai dan kesakitan yang dirasakan ketika orang tersebut pergi maupun menghilang.
Ansell pikir keadaan Kenzo tidak akan seburuk sekarang, karena ketika Nathalie-mantan kekasihnya meninggalkannya, Kenzo tidak sampai seterpuruk ini.
Efek yang diberikan Crystal ternyata sebesar dan seterpengaruh itu kepada Kenzo.
"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Tanya Ansell dengan nada serius.
Kenzo terdiam. Pria itu tidak menjawab dan masih berada di posisi yang sama.
"Perusahaan yang kau bangun dari awal akan segera hancur jika kau terus seperti ini." Ujar Ansell lagi.
"Aku tidak peduli." Suara Kenzo terdengar mendesis kecil.
Ansell seketika geram mendengarnya. "Kepergian wanita itu bukan berarti menjadi akhir dari hidupmu." Geramnya menatap Kenzo dengan pandangan berang.
"Kau tau apa? Bagaimana jika aku membunuh wanitamu sekarang juga?" Kenzo mengangkat kepalanya dan menatap Ansell tajam dengan wajahnya yang terlihat kusut seperti orang yang tidak pernah tidur.
Mata Kenzo terlihat merah dan bibir pria itu kering dan pucat. Pandangan matanya juga terlihat sayu.
Sekarang giliran Ansell yang terdiam setelah mendengar ucapan Kenzo yang menohok.
"Baiklah, aku minta maaf, tapi setidaknya jangan menyerah seperti ini. Kau sudah berjuang sampai di titik ini dengan tenaga dan usahamu sendiri, bahkan sebelum dia hadir dalam hidupmu. Lalu kau memilih untuk menghancurkan seluruh usaha yang sudah kau bangun dalam semalam?"
"Crystal juga pasti tidak ingin melihatmu seperti ini terlalu lama, dia pasti ingin kau melanjutkan kehidupanmu."
Kenzo terdiam, hingga akhirnya kepalanya kembali tertunduk lemas dan matanya mulai tertutup. Seketika bayang-bayang wajah Crystal muncul di kepalanya.
Wanita itu terlihat tersenyum lebar dengan penuh kelembutan sambil menatapnya dalam. Tangan wanita itu terlihat terulur ke arahnya dan perlahan melingkar untuk memeluk lehernya. Bahu Kenzo bergetar dan perlahan air matanya terjatuh bebas dengan isakan yang terdengar penuh kesedihan dan kesakitan.
Padahal ia sudah berjanji akan melakukan apapun asalkan Crystal tidak meninggalkannya. Dia sudah melakukan apapun, bahkan ia rela mengorbankan nyawanya sendiri, namun wanita itu tetap pergi meninggalkannya.
Bayang-bayang masa lalunya bersama Crystal terputar seperti kilas balik pada sebuah film. Yang muncul di kepalanya hanyalah wajah Crystal yang selalu bersinar lembut dengan wajah polosnya ketika sedang kesal, yang membuat dada Kenzo semakin sesak.
Ansell membuang kembali nafasnya yang terasa berat. Untuk pertama kalinya, Ansell melihat Kenzo menangis sampai seperti ini.
Ansellpun berjalan keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Kenzo seorang diri agar ia dapat menumpahkan segala kesedihannya.
***
1 tahun setelah Crystal menghilang dari hidupnya. Kenzo menjalani hari-harinya seperti dulu, dengan sikap dingin dan tak tersentuhnya.
Saat ini Kenzo melangkah memasuki ruangan Davin yang berada di Mansion pria itu. Siang tadi, Davin tiba-tiba menghubunginya dan memintanya untuk menemuinya, hingga akhirnya Kenzo berakhir di tempat ini.
"Ada apa?" Tanya Kenzo ketika ia masuk ke dalam ruangan Davin tanpa mengetuk pintu pria itu.
"Sebaiknya kau menghentikan pencarian." Ujar Davin to the point.
Kenzo menatap Davin dengan tatapan nyalang. "I'll leave." Kata Kenzo dingin dan hendak meninggalkan ruangan tersebut.
"Dia tidak akan kembali." Ujar Davin cepat sebelum Kenzo membuka pintu ruangannya lagi.
Tangan Kenzo berhenti sambil memegang gagang pintu. Kepala pria itu menoleh ke arah Davin dengan tatapan tajam.
"Aku tidak akan berhenti sebelum menemukan tubuhnya." Ujar Kenzo.
"Sampai sekarang tidak satupun tubuh mereka yang ditemukan." Kata Davin.
"Karena itu aku tidak akan berhenti." Ujar Kenzo.
"Sudah satu tahun, kemungkinan tubuh mereka sudah hancur di dasar lautan. Kita tidak bisa membahayakan para penyelam untuk menyusuri seluruh lautan hanya demi keegoisanmu." Ujar Davin.
Kenzo terdiam, tangan pria itu terkepal kencang. Davin mengeluarkan sebuah kotak kecil, lalu meletakkannya di atas meja.
"Benda ini ditemukan 3 bulan yang lalu setelah bangkai mobil tersebut diangkat dari lautan." Kenzo menatap kotak tersebut, lalu segera melangkah ke arah meja Davin dan membukanya dengan cepat.
Seketika mata Kenzo membulat, lalu perlahan bahunya melemas melihat benda di dalam kotak tersebut.
"Kalung itu mungkin miliknya, karena hanya dia satu-satunya wanita di dalam mobil tersebut." Ujar Davin lagi.
Kenzo menutup kotak tersebut cepat, lalu kepalanya terlihat menunduk dengan bahu bergetar.
Sudah berakhir.
Perjuangannya berakhir sampai disini.
Penemuan benda itu semakin memperjelas bahwa Crystal tidak akan pernah kembali kepadanya. Ia sudah tidak bisa mengharapkan sebuah keajaiban agar Crystal dapat kembali muncul dihadapannya.
Davin terdiam ketika Kenzo kembali terisak penuh kesedihan. Ia juga tidak bisa membayangkan bagaimana jika dia berada di posisi Kenzo.
Tangan Kenzo meremas kotak tersebut dengan begitu kencang. Sebuah kalung berbentuk kupu-kupu yang dulu ia beli dari pelelangan dan ia berikan kepada Crystal. Kalung itu adalah peninggalan Mamanya, yang hanya ada satu di dunia karena di custom khusus oleh papanya sebagai hadiah Anniversary mereka.
Jadi tidak mungkin kalung ini memiliki duplikat lain.
Kalung ini milik Crystal.
Dan sekarang sudah waktunya untuk mengucapkan selamat tinggal.
***
Duanovic's Mansion
Kenzo memasuki kamar Crystal yang sudah tidak ditempati selama satu tahun ini. Semuanya masih tampak sama seperti terakhir kali, ketika wanita itu masih tinggal di kamarnya.
Kenzo menatap dalam kamar tersebut, lalu melangkah mendekati meja rias dn meletakkan kotak berisi kalung tersebut ke atas meja.
Setelah itu, Kenzo berbaring di atas ranjang Crystal sambil menatap lekat langit-langit kamar tersebut. Wangi kamar dari sang pemilik yang selalu menenangkan pikirannya, perlahan mulai hilang dengan sendirinya.
Semuanya perlahan mulai kembali seperti semula ketika ia belum bertemu dengan Crystal. Kehadirannya sudah tidak lagi berwujud, namun sosok wanita itu masih jelas terpatri di kepalanya dan disetiap kenangannya.
The End
Finally.
Terimakasih untuk dukungan kalian selama ini, sampai akhirnya cerita ini bisa sampai di chapter terakhir.
Jangan lupa Comment dan like.
Extra part menyusul, very soon.
Masih ada waktu untuk berharap sampai extra part upload xixixixi (ketawa jahat)🙊