Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 55



Crystal menatap Levin dengan mata berkaca-kaca sedangkan pria itu menatapnya dengan begitu tajam. Perlahan sebutir air matanya mulai turun membasahi pipinya.


Terlihat jelas pandangan kecewa dan tersakiti dari mata gadis itu. "Kau berharap aku akan tinggal selamanya dengan orang yang telah menyekapku? BERSAMA DENGAN ORANG YANG TELAH MEMBUNUH ORANG TUAKU."


Crystal berteriak frustasi dengan wajah penuh air mata. Ia menatap Levin dengan pandangan kecewa dan penuh emosi.


Levin terdiam menatap Crystal dengan pandangan yang tak bisa ia mengerti. Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Levin, Crystal hendak melangkah pergi dari sana karena semakin lama ia berhadapan dengan Levin, semakin sakit dan sesak dadanya.


Namun sebelum gadis itu benar-benar melangkahkan kakinya, Levin dengan sigap menarik kasar lengan Crys lalu mendorong tubuh gadis itu hingga punggungnya membentur tembok.


Crystal meringis kesakitan, namun pria itu malah merenggut pinggang Crys hingga tubuh mereka melekat tanpa jarak. Crystal masih terisak, namun ia tidak ingin menampilkan wajahnya yang penuh air mata di depan Levin.


"Lepas!"


Crystal berusaha mendorong dada Levin dengan nada ketus, namun Levin malah mengangkat dagunya untuk melihat dengan jelas wajah penuh air mata itu. Bibir Crystal terlihat bergetar dan ia terlihat menggigitnya untuk menyembunyikan suara tangisannya.


Levin menyapukan jempolnya di pipi gadis itu dengan penuh kelembutan. "Kenzo tidak membunuh orang tuamu."


Mata Crystal yang tidak ingin bertemu dengan mata Levin, perlahan-lahan mulai terangkat sampai akhirnya mata mereka bertemu dengan jarak yang begitu dekat.


Levin menatapnya dengan penuh kelembutan yang tidak pernah ia tampilkan pada siapapun selama dia hidup.


"Aku melihatnya." kata Crystal dengan nada serak terisak.


"Kau tidak melihatnya dengan jelas."


"Tatto ini, aku melihatnya dengan jelas." kata Crys menunjuk tatto di bagian leher Levin.


"Kenzo memang di sana, tetapi dia tidak membunuh orang tuamu."


Crystal tidak bisa membalasnya lagi karena ia merasa percuma saja berbicara dengan Levin. Crystal tidak buta dan ia tidak pernah melupakan sedetikpun kejadian waktu itu.


Crystal menghapus kasar air matanya, lalu menatap Levin tajam. "Buktikan! Apa kau bisa membuktikannya?"


Levin menatap wajah Crys yang penuh amarah. "Kau melihatnya dengan jelas! Bukan hanya Kenzo yang berada di kamar itu." kata Levin ikut menaikkan nada suaranya.


"Apa bedanya? Kalau memang bukan Kenzo, tetap saja dia bekerja sama dengan para pembunuh itu. KALIAN PEMBUNUH."


Levin menarik kasar tengkuk Crys, merenggut bibir gadis itu dengan bibirnya. Mata Levin menajam ketika ia menggerakkan bibirnya dengan kasar di atas bibir Crystal seakan tidak ada hari esok untuk mencicipinya lagi. Ia benar-benar tidak suka ketika Crystal berteriak menyebutnya pembunuh dengan tatapan penuh kebencian.


Crystal berusaha memberontak dari pangutan kasar Levin, namun pria itu malah semakin bersemangat menghancurkannya dengan begitu brutal. Lidahnya memberontak masuk ketika Crys berusaha sekuat mungkin untuk menolak lum*tan pria itu.Β 


Levin menjambak pelan rambut Crystal dengan nafas memburu, sampai akhirnya menggigit bibirnya dengan kesadaran penuh karena rasa lapar yang menguasainya.Β 


Crystal berkedip pelan ketika ia menyadari bahwa tenaganya bukanlah tandingan Levin. Gadis itu berhenti memberontak, namun air matanya kembali turun karena Levin selalu berhasil menguasai dirinya.


Ia selalu kalah oleh Levin, sehingga Crystal merasa direndahkan karena tidak bisa melakukan apapun ketika pria itu menguasai tubuhnya dan jiwanya. Levin bisa merasakan rasa asin ketika ia memangut bibir Crystal masih dengan begitu nafs*.


Ia juga bisa merasakan tubuh Crystal bergetar di dalam dekapannya. Perlahan Levin mulai melepaskan rambut Crystal yang terselip di antara jemarinya, lalu bibirnya mulai bergerak dengan lembut serta tangannya beralih menangkup pipi Crys dengan penuh kelembutan.


Levin melepaskan pangutannya, lalu menatap wajah Crys yang penuh air mata dengan bibir membengkak. Jempolnya perlahan menyapu pipi basah gadis itu dan mengusapnya lembut.


"Maaf."


Crystal terisak, namun akhirnya ia mengangkat kepalanya dan menatap Levin dengan mata berair. Melihat tatapan kesakitan penuh air mata itu berhasil membuat rasa nyeri di dada Levin.


Crystal bisa melihat kesungguhan pria itu dari tatapannya, namun ia masih tidak bisa menerima bahwa pria di depannya ini memang benar-benar ada di hari Ibunya meninggal dunia di depan matanya.


"Aku akan membuktikannya." kata Levin penuh percaya diri sambil mengusap air mata gadis itu yang masih turun dengan deras.


Crystal perlahan mengangguk kecil masih dengan keadaan terisak yang berhasil membuat Levin tersenyum tipis karena Crystal masih mempercayainya dan memberikan dia kesempatan untuk membuktikan segalanya.


Levin segera membawa gadis itu ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Crystal yang selalu menjadi bagian favoritnya.


"Don't leave me, please." desis Levin begitu pelan di leher Crys, namun gadis itu bisa mendengarnya dengan sangat jelas.


***


Seorang pria terlihat menyukur rambut-rambut halus di rahangnya yang mulai memanjang. Ia menatap pantulan dirinya di depan cermin wastafel sambil mengerakkan alat cukurnya dengan hati-hati.


Pria itu adalah Aric yang kini terlihat lebih baik dari sebelumnya. Di wajahnya masih terdapat beberapa bekas lebam, namun tubuhnya kini semakin berisi dan terlihat bugar.


Aric terlihat lebih terurus dan sehat dari sebelumnya ketika ia mulai kehilangan adiknya. Sekarang kekuatannya bangkit kembali, ketika ia akhirnya mengetahui bahwa adiknya masih hidup.


Pria itu memasang jas hitamnya yang terlihat sangat cocok di tubuhnya yang atletis. Setelah selesai, Aric keluar dari kamarnya dan berjalan menuju sebuah ruangan tempat ia akan bertemu dengan Desmond.


Aric kini tinggal bersama Desmond di markas pria itu dan tidak pernah kembali ke rumah lamanya setelah Desmond melepaskannya. Setelah ia setuju untuk bekerja sama dengan Desmond, pria itu memberinya tempat tinggal, makanan, serta pelatihan bersama dengan para bawahan yang lain.


Oleh sebab itulah penampilan Aric kini mulai berubah dan memikat seperti dulu. Ketika pria itu sampai ke ruangan yang ia tuju, Aric melihat Desmond bersama dengan seorang pria asing di dalam ruangan tersebut tengah berbincang.


Desmond melirik ke arah Aric yang baru datang, mengisyaratkannya untuk duduk bersama mereka. Pria asing tersebut ikut melihat Aric dengan lekat.


"Dia Damian." kata Desmond memperkenalkan Damian pada Aric.


"Dia orangku yang menjadi pengawal pribadi adikmu di Mansion pria itu." kata Desmond.


Aric menatap Damian dengan pandangan terkejut. "Bagaimana keadaan adikku?" tanya Aric penasaran.


Damian diam tak menjawab pertanyaan Aric. "Dia baik-baik saja." potong Desmond ketika mengetahui bahwa Damian tidak berniat menjawab pertanyaan Aric.


"Kenzo sudah tau bahwa aku menculikmu. Dia sudah membuat rencana untuk menyerangku dan mengambilmu." kata Desmond panjang lebar.


"Lalu?"


"Kita akan mengecoh rencananya."


"Bagaimana caranya?" tanya Aric lagi.


"Membiarkan rencananya berhasil sehingga kau bisa bertemu dengan adikmu. Setelah itu, aku akan menyusun rencana untuk menyerang Kenzo, lalu menjemputmu serta adikmu."


Mata Aric berbinar penuh harapan. Tanpa pikir panjang pria itu mengangguk setuju penuh semangat dan raut tak sabar.


"Aku akan melakukannya." kata Aric.


Desmond tersenyum miring. "Aku akan selalu mengawasimu."


Bersambung...


πŸ™πŸ™πŸ™