Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 27



Crys membuang nafas lelah saat  ia berhasil memindahkan seluruh berkas yang telah ia perbanyak ke dalam ruangan Kenzo. Crys menyeka keringat yang berada di pelipisnya dengan gusar. Untuk memindahkan semua berkas in, Crys harus bolak-balik dari lantai tujuh puluh enam ke tujuh puluh tujuh hingga lima kali. Belum lagi tangan kanannya yang terasa sakit dan keram karena menstapler berkas-berkas tersebut. Crys menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa ruangan Kenzo dengan lepas.


'Aku butuh minum.' batin Crys berteriak sedih.


Crys beranjak dengan malas ke arah meja dan mengisi gelasnya dengan air mineral dan meminumnya dengan sekali teguk. Setelah itu, Crys kembali duduk di sofa sambil meluruskan kakinya yang pegal. 


Mata Crys menatap ke arah kursi Kenzo yang terlihat kosong tak berpenghuni. Crys memang tidak menjumpai pria itu saat ia mengantar berkas pertama kali. Keningnya mengernyit bingung. "Dimana dia?" batin Crys bertanya-tanya.


Crystal kembali bangkit berdiri, melangkahkan kakinya menuju meja kerja Kenzo yang terlihat sangat rapi. Mata Crystal menatap papan nama Kenzo yang terlihat sangat mewah.


Kakinya membawanya berputar ke arah belakang meja dan matanya memencar menatap tumpukan kertas diatas meja yang tersusun rapi. Crys menjalankan tangannya menyusuri permukaan meja, lalu berhenti di laci meja tersebut dan perlahan membukanya.


Katakan dia tidak sopan, tetapi entah mengapa tangannya bergerak begitu saja membuka laci tersebut dan melupakan siapa pemilik meja itu. Tangannya membuka laci paling atas dan tak menemukan apapun yang aneh disana. Lalu ia lanjut membuka laci tengah dan terakhir laci yang paling bawah. 


Perlahan matanya menangkap sesuatu yang menarik penglihatannya di laci terakhir tersebut. Di dalamnya terlihat seperti buku catatan kecil yang tampak sedikit usang. Tangannya mengambil buku tersebut dan membuka sampulnya dengan perlahan karena takut merusaknya. Dibalik sampul tersebut, Crys menangkap goresan tinta yang terlihat sedikit memudar. Ia mendekatkan wajahnya sambil memicingkan matanya tajam untuk mencoba membaca tulisan tersebut. 


"Nathalie Franca?" eja Crys dengan kening mengernyit.


Crys membuka lembar demi lembar buku itu yang tulisannya mulai memudar dan sedikit sulit dibaca. Kertasnya juga terasa kasar dan kaku. Beberapa bagian tulisan tersebut tintanya memudar seperti terkena air.


Crys tersentak saat sesuatu jatuh dari antara lembar buku tersebut. Crys menatap ke arah lantai dan memungutnya. Ia membalikkannya dan terlihatlah sebuah foto perempuan disana.


Perempuan itu terlihat tersenyum lebar di foto tersebut dengan gaunnya yang terbang tertiup angin.


'Siapa dia?' batin Crys. Keningnya lagi-lagi mengernyit dan memasukkan foto tersebut kembali ke dalam lembaran buku itu.


'Apa dia pemilik buku ini?' lanjut Crys dalam hati.


Perempuan di foto tersebut terlihat masih muda, seperti umur belasan tahun. Tak ingin membuat masalah lebih banyak lagi, Crystal meletakkan buku tersebut kembali ke dalam laci dan meletakkannya seperti semula.


Menutup laci tersebut dan kembali berjalan ke arah sofa. Baru beberapa langkah berjalan, tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka dan tampaklah sosok Kenzo yang masuk ke dalam dengan wajah datar.


Crystal terkejut sambil memegang bagian dadanya saat merasakan jantungnya seperti ingin meloncat dari tempatnya. Crys membuang nafas bersyukur karena untungnya dia sudah menyimpan buku tersebut.


Kenzo yang baru masuk menatap memicing ke arah Crys yang berdiri dekat dengan mejanya. Crystal memasang wajah polosnya, lalu berjalan ke arah sofa dengan mulut tertutup.


Kenzo kembali berjalan menuju mejanya dengan wajah dingin dan datarnya yang tak tersentuh. "Ahh iya, aku sudah menyelesaikan tugasku." ujar Crys mengangkat suaranya ketika ia menyadari sesuatu yang hampir ia lupakan.


Crystal menunjuk tumpukan kertas di lantai dengan wajah bangga. Kenzo melirik ke arah tumpukan tersebut, lalu kembali memalingkan wajahnya tak berminat.


Wajah Crystal langsung mengerut kesal saat tak mendapati respon apapun dari pria itu. Crys menggertakkan giginya kesal, lalu melempar bokongnya ke atas sofa lembut tersebut. Ia menyilangkan tangannya didepan dada sambil menatap ke arah Kenzo yang sibuk dengan urusannya dengan mata tajam


Tiba-tiba Kenzo bangkit berdiri dari kursinya sambil meraih Tab dan berjalan ke arah luar ruangan. Crys ikut bangkit berdiri saat Kenzo mau melewati dirinya.


"Kau mau kemana? Apa aku harus menunggu disini lagi? Aku bosan." ujar Crys angkat bicara dan melempar pertanyaan berturut-turut dengan wajah kesal.


"Tunggu disini, jangan sampai menginjakkan kakimu keluar dari pintu ruangan ini sejengkalpun!" ujar Kenzo dingin tak berperasaan.


Mulut Crys membuka dengan wajah tak senang saat mendengar perkataan Kenzo. Crys menarik nafas kesal dan membuangnya gusar. Crystal bisa mati kebosanan diruangan ini tanpa melakukan apapun dan hanya menunggu pria itu kembali entah kapan.


Crys memutar otak, lalu menatap pria itu lagi dengan lekat. "Aku ikut denganmu saja." ujar Crys menatap Kenzo dengan penuh tekad.


Kenzo berdiri masih dengan mulut tertutup. "Tidak." katanya singkat tak terbantah. Ia melanjutkan kembali langkahnya keluar dari ruangan itu meninggalkan Crys seorang diri disana.


Crystal mendengus dan mengusap rambutnya gusar. Tanpa ia sadari Kenzo menghentikan langkahnya sebelum tangannya membuka pintu dan ia berbalik menatap Crystal yang sedang menggerutu kesal di sofa.


Mata Kenzo beralih menatap tumpukan berkas yang sudah gadis itu salin dengan susah payah. "Bawa berkas yang kau perbanyak tadi. Berkas pertama, 10 salinan dan ikut aku!" Crys berbalik saat ia mendengar suara Kenzo dari arah belakangnya.


Mendengar hal itu, senyum di bibir Crys terbit dan merekah senang. Dalam hati dia berteriak senang sampai rasanya ingin loncat.


"Baik Tuan." ujar Crys tersenyum sopan dan lembut, lalu melakukan apa yang diperintahkan pria itu dengan gerakan cepat.


Crys melangkah cepat dengan berkas tumpukan berkas ditangannya yang terasa berat. Crys mencoba menyusul langkah cepat Kenzo dengan kesulitan.


Ia berjalan menyusuri lorong dan berhenti di sebuah pintu ruangan yang masih berada di lantai tersebut. Kenzo masuk ke dalam ruangan tersebut dengan santai. Aku ikut masuk dan sedikit terlonjak saat menyadari ruangan ini adalah ruang rapat.


Crys menundukkan kepalanya saat ia melihat para kolega Kenzo yang sudah duduk di kursi mereka masing-masing untuk menunggu kedatangan Kenzo. Mata Crystal juga menangkap sosok Karina yang ternyata ikut serta dalam rapat tersebut.


"Bagikan berkasnya!" titah Kenzo dingin.


Crys mengangguk, lalu membagikan berkas yang ia bawa ke hadapan kolega Kenzo. Setelah itu ia duduk di samping Kenzo saat pria itu menyediakan kursi tambahan untuknya tepat disampingnya yang sedang memimpin rapat.


Hal itu malah membuat Crys duduk dengan tak nyaman karena tidak mengerti apa yang sedang dia lakukan disini.


Crystal hanya duduk diam menatap mereka yang tengah berbincang membahas bisnis dengan wajah cengo. Mendengar mereka berbicara saja membuat kepala Crys berputar pusing. Crystal mengusap kepalanya pening sambil memasang wajah menyesal.


'Kalau tau begini aku lebih memilih menunggu di ruangan pria itu saja.' batinnya mengutuk dirinya yang bodoh dan keras kepala. Nyatanya berada di ruangan ini membuatnya lebih bosan lagi daripada berada di ruangan Kenzo seorang diri


Crystal membuang nafas gusar dan pasrah sampai rapat tersebut selesai entah kapan. Tanpa Crys sadari sepasang mata menatap gerak-geriknya dengan lekat, memperhatikan setiap tingkah laku gadis itu dengan wajah berminat.


Bersambung...


Appreciated me with your Love, Vote, and Comment. Ayo share cerita ini ke teman-teman kalian ya.


Next Chapter : Senin (1/2)



Dapat salam dari Crystal❤️