Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 83



Crystal terdiam di atas ranjangnya sambil memilin jari-jemarinya satu sama lain. Sudah 30 menit berlalu setelah ia meninggalkan Nathalie dan Kenzo untuk berbincang, namun pria itu masih juga tak kunjung datang.


Muncul dibenaknya bahwa mungkin saja Kenzo kembali ke kamarnya sendiri. Namun tetap saja Crys tidak tenang, walaupun ia terus mencoba untuk berpikir positif.


Crystal tiba-tiba bangkit berdiri sambil menghembuskan nafasnya kasar. Padahal sejak tadi ia selalu meyakinkan dirinya untuk tenang, namun tetap saja rasa gelisah itu menyelinap dan menggerogoti hatinya.


Ia berjalan ke arah pintu, mengangkat tangan untuk meraih gagang pintunya, lalu menariknya. Ketika pintu terbuka, Crys tersentak menatap sosok Kenzo yang juga hendak mendorong pintu kamarnya.


Crys menatap Kenzo dengan wajah kikuk, sedangkan Kenzo menatap wanita itu dalam.


"Ah, aku keluar bukan untuk mendengar pembicaraan kalian, aku hanya.... aku hanya ingin memastikan ka...."


Ucapan Crys terpotong ketika Kenzo masuk ke dalam kamarnya, menutup pintunya, lalu menarik tengkuknya dan mendorong punggungnya ke daun pintu yang sudah tertutup.


Bibir panas Kenzo segera meraup bibirnya dengan begitu rakus, sampai Crystal yang masih terkejut gelagapan untuk membalas pangutan pria itu.


Tangan Crys yang berada di depan dada Kenzo mencengkram kemeja pria itu sambil mengimbangi gerakan bibir Kenzo yang seakan ingin melahapnya habis-habisan.


Mata Crys terpejam ketika dadanya mulai terasa berat dikarenakan ia kesulitan bernafas. Pangutan Kenzo yang tidak bisa ia imbangi, membuatnya seketika lupa untuk bernafas.


"Ehmm." Tangan wanita itu mencoba mendorong dada Kenzo menjauh untuk membiarkannya mengambil oksigen.


"Eghh." Crys bergerak gelisah ketika ia mulai kehabisan nafas. Tangannya terkepal, lalu memukul dada pria itu dengan wajah panik.


Kenzo terlihat kehilangan akal seperti binatang buas yang kelaparan. Pukulannya saja tidak membuat pria itu melepas tautan bibirnya yang bergerak begitu liar mengeksplor seluruh bagian mulutnya.


Dengan frustasi, Crystal menggigit kencang bibir bawah Kenzo dan akhirnya tautan pria itu terlepas.


"Hahhh, hahh."


Crystal dengan cepat menarik nafas sedalam mungkin dengan bahunya yang naik turun, seakan ia baru saja selesai maraton.


Bahu Kenzo juga terlihat naik turun, namun tidak sengos-ngosan dirinya. Setelah nafas mereka mulai teratur, Crys menatap Kenzo yang tengah mengusap bibir bawahnya yang terluka.


Crys bisa melihat bibir Kenzo yang mengeluarkan darah akibat gigitannya. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh bibir pria itu yang terluka.


"Maaf." Ujar Crys bersalah sambil menatap lekat pada bibir Kenzo.


Kenzo tak membuka suara dan menatap Crys yang terlihat begitu fokus dengan luka di bibirnya.


"Tunggu sebentar, aku ambilkan obat luka." Ujar Crys hendak melangkah pergi untuk mengambil kotak obat yang berada di kamarnya.


Namun lagi dan lagi Kenzo tidak membiarkan wanita itu untuk pergi dari hadapannya. Ia kembali menarik punggung Crys dan meraup bibir wanita itu cepat, bahkan sampai menghiraukan bibirnya yang sedang terluka.


Crys mengerut bingung dengan wajah terkejut. Kenzo benar-benar aneh. Sejak tadi pria itu bahkan tidak bersuara.


Crystal dapat merasakan darah Kenzo di sela-sela ciuman mereka. Apa pria itu tidak kesakitan melakukannya sekasar ini dengan bibirnya yang terluka, walau tidak seliar pangutannya yang pertama.


Crystal tidak tau harus melakukan apa. Akal sehatnya perlahan-lahan mulai menghilang ketika bibir pria itu turun menuju rahangnya hingga ke lehernya.


Suara d*sah*nnya pun tak bisa lagi ia tahan. Tangannya naik untuk menjambak pelan rambut Kenzo diantara sela-sela jarinya.


"Hahh, Kenhh."


Crystal bisa merasakan bibir lembut dan hangat pria itu setiap kali menyentuh kulit polosnya. Rasanya seperti menghantarkan aliran listrik ke seluruh saraf tubuhnya.


Crys lagi-lagi tersentak kaget ketika Kenzo tiba-tiba mengangkat tubuhnya ke atas udara. Tangannya meremas pelan pundak Kenzo yang berjalan ke arah ranjang sambil menggendongnya.


Dengan begitu pelan, Kenzo membaringkan tubuh Crys di atas ranjang. Crystal menatap Kenzo dengan pandangan berkabut. Suasana di dalam kamarnya seketika terasa sangat panas dan sensu*l.


Crys mencoba menatap wajah Kenzo untuk melihat ekspresi pria itu. Kenzo berlutut di antara kedua kakinya sambil melepas jas dan kemejanya dengan cepat. Raut wajah Kenzo terlihat sudah diselimuti na*su.


Crystal merasakan tubuhnya ikut memanas ketika tubuh polos Kenzo terpampang dengan begitu jelas di bawah lampu kamarnya. Kenzo terlihat sangat tampan dengan otot tubuhnya yang memukau.


Kenzo mulai mendekatkan wajahnya untuk kembali meraup bibir Crystal yang terbuka menggoda. Crystal menutup matanya, menikmati setiap alur permainan pria di atasnya yang begitu memabukkan.


Ditengah-tengah euphoria yang mulai merenggut kewarasannya, Kenzo tiba-tiba menarik bibirnya menjauh dan menatap Crys lekat dengan nafas panasnya yang menerpa wajah wanita itu.


Crystal membuka matanya dan menatap Kenzo dengan mata sayunya yang mulai kehilangan fokus.


"Can i?" Desis Kenzo begitu lembut sambil menatapnya begitu dalam dengan matanya yang berbinar penuh harapan.


"Please." Wajah Kenzo terlihat begitu tidak sabar lagi untuk segera menerkamnya.


Dada Crys berdetak sangat kencang. Bagaimana bisa ia menolak ketika pria itu sampai memohon padanya dengan bersungguh-sungguh seperti ini.


Crystal tersenyum kecil, mengangkat tangannya menuju tengkuk Kenzo. "I'm Yours." ujarnya, lalu menarik tengkuk pria itu sehingga bibir mereka kembali bertaut dengan begitu dalam.


Mendengar persetujuan Crystal, Kenzo pun langsung menerkam wanita itu dengan begitu liar. Ia bahkan tidak menahan dirinya lagi, seakan melampiaskan seluruh lelah, kemarahan dan beban di pikirannya.


Kenzo semakin menyadari bahwa ia membutuhkan Crystal melebihi apapun. Ia menginginkan wanita itu untuk selalu berada di sisinya. Kenzo tidak peduli jika orang-orang menyebutnya terobsesi, yang ia tau hanyalah, tubuh dan jiwanya hanya menginginkan wanita yang berada di bawahnya.


*


Kenzo menatap Crystal yang tertidur dengan wajah lelah. Wanita itu benar-benar kehilangan tenaga dan langsung terlelap setelah kegiatan panas mereka selesai.


Jari Kenzo mengusap pelan pipi Crystal dengan gerakan seringan bulu. Ia masih terlihat tidak bosan memandangi wajah wanita itu yang sudah berada di dalam mimpinya.


***


Duanovic's Mansion | 10.05 AM


Pagi ini sikap Kenzo terlihat aneh. Crys merasa pria itu kembali menjadi dingin. Namun setelah ia pikirkan lagi, Kenzo juga bersikap aneh semalam setelah ia berbincang dengan Nathalie. Anehnya lagi, Nathalie juga tidak terlihat pagi ini.


Crys sebenarnya ingin sekali bertanya pada pria itu, namun ia tidak ingin Kenzo merasa tidak nyaman dengan keingintahuannya.


Kenzo terlihat sudah rapi dengan pakaian kantornya, begitupula dirinya yang sudah rapi dengan dress simple yang membalut tubuhnya.


Hari ini tumben sekali Kenzo tiba-tiba mengajaknya untuk ikut ke kantor. Cryspun dengan senang hati mengiyakan ajakan pria itu.


Mereka melangkah masuk ke dalam mobil yang sama. Sekilas, Crystal menangkap sosok Damian yang ikut masuk ke salah satu mobil pengawal di depan mobil mereka.


Crys mengerutkan keningnya ketika ia menyadari bahwa hari ini mereka dikawal oleh 3 mobil sedan lainnya. Biasanya hanya ada 1 mobil pengawal, namun entah kenapa, hari ini Kenzo terlihat mengetatkan keamanannya.


"Pakai sabuk pengamanmu!" Crs menoleh ke arah Kenzo.


"Ah iya." Jawab Crys kikuk sambil mengenakan sabuk pengamannya dengan cepat.


Setelah itu, mobil yang mereka kendarai mulai melaju meninggalkan area Mansion. Ditengah perjalanan, Crystal menatap ke arah Kenzo yang sibuk dengan tab ditangannya.


"Sepertinya kau meningkatkan jumlah pengawal." Ujar Crys angkat bicara.


"Hmm." Kenzo membalas dengan deheman singkat.


Crys terdiam dengan respon singkat Pria itu. Ia meneguk ludah kasar ketika Kenzo bahkan sama sekali tidak menatapnya. Crys menggigit bibirnya dengan gugup.


"Apa aku membuat kesalahan?" Tanyanya setelah menekatkan dirinya untuk mengajukan pertanyaan itu.


Tangan Kenzo berhenti bergerak di atas layar tabnya, sedangkan Crys memilin jari-jarinya dengan perasaan resah.


"Maaf, itu karna kau terlihat berbeda setelah berbincang dengan Nathalie." Tambahnya lagi.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Kenzo singkat, namun tetap saja ia tidak menoleh ke arah Crystal dan kembali fokus dengan tabnya.


Crys menatap lekat wajah Kenzo dari samping. "Jika pembicaraan kalian berhubungan denganku, aku berhak tau!" Ujar Crys tak ingin suasana dingin ini berlangsung lama.


"Kau tidak perlu menyembunyikan apapun demi kebaikanku, aku juga ingin membantumu." Tuntut Crystal.


"Setidaknya, biarkan aku ikut berjuang denganmu." Tambahnya lagi.


Kenzo terdiam cukup lama dengan wajah dinginnya, namun dalam kepalanya, Kenzo sedang bertengkar hebat dengan akal dan hatinya.


Crys menatap Kenzo dengan penuh harapan, namun suara tembakan yang memekakkan telinga tiba-tiba terdengar begitu kencang, membuat Crys tersentak kaget dengan mata membulat.


DOR


DOR


"Tuan, mobil pengawal paling depan tiba-tiba oleng bersama dengan suara tembakan yang berasal dari dalam mobil." Ujar sopirnya.


"Damian sialan!" geram Kenzo.


Crys menatap Kenzo yang terlihat begitu marahmarah sambil menyebut nama Damian.


"Menunduk!" Tangan pria itu terulur menuju kepalanya dan menyuruhnya untuk menunduk.


Crystal dengan cepat mengikuti perintah Kenzo yang terlihat panik. Kepalanya bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih ketika Kenzo mengumpat nama Damian dengan begitu emosi.


Lagi-lagi terdengar bunyi tembakan beruntun, namun kali ini berasal dari arah belakang mereka. Crystal hanya bisa menutup mata dan telinganya sambil terus menunduk, sedangkan mobil yang mereka kendarai mulai melaju dengan kencang.


Kenzo menatap jalanan yang sepi, seakan sudah diatur sedemikian rupa oleh seseorang.


Setelah satu mobil pengawal Kenzo yang paling depan telah diambil alih oleh Damian, dua mobil pengawal lainnya yang berada di belakang mobil Kenzo kini ikut ditembaki dengan brutal.


"Tuan, mobil asing muncul dari arah depan dan belakang."


Kenzo mengambil pistol dari balik jasnya, lalu menarik pengaman geser dari pistol tersebut setelah mengecek peluru di dalamnya. "Berapa banyak?" Tanya Kenzo.


Sang supir terlihat terdiam dengan wajah pucat. "Sa...sangat banyak, saya tidak bisa menghitungnya."


Rahang Kenzo mengeras. Matanya menatap ke arah Crystal yang sedang menunduk panik. Seketika perasaan menyesal menghinggapi dadanya.


Seharusnya ia tidak membawa Crystal bersamanya pagi ini. Tapi, apa meninggalkan wanita itu sendirian di Mansion juga pilihan yang tepat?


Kenzo seketika menyadari, nyatanya, tidak ada tempat yang aman bagi Crystal ketika wanita itu masih berada disisinya.


BRAK


BERSAMBUNGGG....


Next : 5/7/23


See you, jangan lupa like dan comment.