
Flashback
"Aria, Damian, dimana lagi kalian menyembunyikan kunci mobil Papa?"
Suara pria tersebut menggelegar ke seluruh penjuru rumah, sambil sibuk mencari kunci mobilnya yang ia yakini bahwa anak-anaknya kembali menjahilinya di pagi hari.
Sedangkan disisi lain, dua bocah tersebut kini sedang terkikik sambil berlari dan bersembunyi dibalik sofa area ruang keluarga.
"Kalian menjahili Papa lagi kan?" Mereka menatap ke arah sumber suara, dimana seorang wanita berdiri menjulang dengan tangan terlipat di depan dada sambil menatap mereka lekat.
"Mama."
"Ayo katakan, dimana kunci mobil Papa? Papa harus pergi bekerja agar tidak terlambat." Ujar Mamanya.
Aria menggeleng dengan bibir cemberut. "Papa selalu bekerja, tidak bermain dengan Aria." Ujar Aria merajuk dengan wajahnya yang tertekuk lucu.
Seorang pria mendekat setelah melihat istrinya sudah menemukan tempat persembunyian kedua anaknya.
"Papa kan harus bekerja supaya bisa beliin Aria baju Princess yang Aria suka." Ujar Mamanya lembut sambil menggendong anak bungsunya itu untuk keluar dari tempat persembunyian mereka.
Damian ikut keluar sambil menatap interaksi antara Mama dan adiknya.
"Ariakan masih bisa main sama Mama dan Kakak." Hibur Mamanya lagi sambil mengusap wajah anaknya lembut.
"Maaf ya, Papa janji akhir pekan ini kita liburan kemanapun kalian mau." Ujar Papanya mengusap kepala Damian dan Aria dengan wajah bersalah.
Wajah Aria dan Damian yang tadinya tertekuk kini mulai mencerah dengan mata berbinar.
"Janji?" Tanya kedua anak tersebut dengan wajah yang begitu menggemaskan.
"Janji." Jawab Papanya tersenyum begitu lebar.
"Nah, sekarang berikan kunci mobil Papa ya." Ujar Mamanya sambil menurunkan Aria dari gendongannya.
Aria dan Damian mengangguk, lalu berlari entah kemana untuk mengambil barang yang telah mereka sembunyikan. Setelah itu, mereka memberikannya kepada sang pemilik dan melambai bahagia ketika mobil Papanya mulai keluar dari pekarangan rumah untuk berangkat bekerja.
Keluarga mereka adalah keluarga sederhana dan harmonis di mata para tetangga. Kedua pasangan suami istri tersebut juga ramah dan baik dengan tetangga lainnya. Tidak pernah terdengar berita aneh dari keluarga mereka.
Beberapa hari kemudian, kehidupan mereka berjalan lancar seperti hari-hari biasanya. Kedua kakak beradik itu bermain dengan akur ditemani oleh Mamanya yang begitu hangat dan penuh cinta.
Sampai akhirnya, malam itu, sehari sebelum mereka pergi berlibur sesuai dengan janji Papanya, Kedua orang tua mereka harus pergi ke acara kantor dan menitipkan mereka pada Bibi Reta—tetangga mereka yang sudah dekat dengan Mamanya.
"Selama Papa dan Mama pergi, kalian harus mendengar ucapan Bibi Reta dengan baik dan jangan nakal mengerti?" Ujar wanita tersebut sambil menatap kedua anaknya setelah mengantar dua bocah tersebut ke rumah Reta yang bersebelahan dengan rumah mereka.
"Baik." Jawab keduanya sambil tersenyum begitu manis.
Wanita tersebut menatap pada Reta yang tersenyum lembut padanya.
"Reta maaf merepotkanmu, aku titip Aria dan Damian ya, aku janji tidak akan lama." Ujarnya.
"Tidak apa-apa, lagian anak-anakku juga suka mereka ada disini, nikmati saja acaranya." Ujar Reta.
"Terimakasih banyak Reta." Kata wanita tersebut.
"Papa sama Mama pergi dulu ya, ingat perkataan Mama okay." Ujar Mamanya lagi menatap kedua anaknya bergantian.
"Iya Mama." Jawab mereka mulai jengah dengan peringatan Mamanya lagi.
"Damian, jaga Aria ya." Ujar Papanya sambil mengusap kepala putra sulungnya.
"Baik Papa." Jawab Damian.
Kedua pasangan suami istri tersebut pun pergi setelah mengecup singkat kedua anaknya dengan penuh cinta. Tidak menyadari bahwa itu adalah pertemuan terakhir mereka sebelum peristiwa miris itu terjadi.
Malam itu adalah terakhir kalinya Damian dan Aria melihat kepergian orang tua mereka yang menjauh dengan senyum gembira sambil melambai dari dalam mobil. Terakhir kalinya, kecupan hangat itu serta sentuhan lembut itu mereka rasakan.
Tengah malam itu, Damian dan Aria yang sedang tertidur pulas karena orang tua mereka belum juga pulang dan menjemput mereka, tiba-tiba dibangunkan oleh Bibi Reta yang sudah menangis dan terisak.
"Bibi, ada apa?" Tanya Damian dengan wajah setengah sadar sambil mengucek matanya.
Bibi Reta masih menangis tak sanggup bicara. "Mama Papa sudah datang?" Tanya Aria ikut bangun dengan mata mengerjab.
Bibi Reta langsung meraih Aria dan Damian ke dalam pelukannya dan masih menangis sambil memeluk kedua anak itu dengan erat.
Damian dan Aria terlihat bingung di dalam dekapan Bibi Reta. "Bibi kenapa?" Tanya Aria karena Bibinya hanya menangis saja sejak tadi tanpa membuka suaranya.
Malam itu Bibi Reta benar-benar hanya menangis sambil memeluk Damian dan Aria yang tidak tau apapun. Mulutnya tidak sanggup mengatakan kabar mengenaskan tersebut kepada kedua anak yang masih begitu kecil dan butuh kasih sayang orang tuanya.
Namun ia tidak bisa terus diam dan tidak memberitahu apapun pada kedua anak itu. Semuanya terjadi terlalu tiba-tiba. Orang tua mereka pergi dengan senyuman hangat dan kembali dengan tubuh dingin.
Tangis Damian pecah setelah ia melihat tubuh orang tuanya yang terbaring kaku dengan mata tertutup di dalam peti. Adiknya Aria menangis sangat kencang ketika ia memanggil-manggil orang tuanya yang tidak lagi memberikan respon apapun.
Damian memeluk adiknya, menangis bersama sambil menatap kedua peti yang mulai diturunkan ke dalam tanah yang sudah digali cukup dalam. Tanah mulai mengisi dan menimbun peti tersebut hingga kembali rata dengan tanah.
Damian menatap semuanya dengan lekat, walaupun matanya tergenang oleh air. Ia sadar, setelah ini hidupnya tidak akan sama lagi. Ia benar-benar tidak akan bisa melihat wajah orang tuanya yang ia cintai lagi.
Hari ini harusnya adalah hari yang membahagiakan karena mereka akan pergi berlibur, sesuai dengan janji Papanya. Namun ternyata, hari ini adalah hari paling mnyedihkan bagi mereka. Janji tersebut sudah tidak bisa terpenuhi lagi.
Beberapa hari setelahnya, Damian dan Aria masih tinggal bersama Bibi Reta di rumahnya. Namun, tidak sampai satu minggu, Bibi Reta memberitahu bahwa mereka akan dibawa ke sebuah tempat dimana mereka bisa tinggal.
Bibi Reta membawa mereka ke Panti Asuhan, tempat dimana anak-anak yang tidak memiliki orang tua ditampung. Damian dan Aria sangat sedih mengetahui hal itu.
Mereka pikir bisa tinggal bersama dengan Bibi Reta, dekat dengan rumah mereka yang penuh dengan kenangan. Namun ternyata, Bibi Reta mengaku tidak bisa merawat dan membiayai mereka disaat ia juga memiliki kehidupan sederhana bersama anak dan suaminya.
Mulai saat itulah Damian dan Aria tinggal di Panti Asuhan tersebut. Awalnya semua berjalan dengan lancar setelah mereka tinggal di sana. Bertahun-tahun berlalu hingga akhirnya Damian menginjak usia 15 tahun dan Aria 12 tahun.
Aria dan Damian tumbuh menjadi anak yang sangat cantik dan tampan diantara anak-anak lainnya. Damian juga tumbuh menjadi kakak yang begitu protekrif terhadap Aria. Ia selalu mengingat ucapan terakhir Ayahnya yang menyuruhnya untuk menjaga Aria.
Akhirnya mereka tidur di kamar berbeda, dimana anak laki-laki bersama dengan anak laki-laki dan perempuan bersama dengan perempuan.
Sore itu, Damian dan Aria kembali ke danau yang dekat dengan Panti, dimana Aria kerap kali mengunjunginya. Aria sangat menyukai danau tersebut semenjak ia mendatanginya untuk pertama kalinya.
Danau itu begitu indah dengan tanaman air serta angsa dan burung-burung yang berterbangan dengan bebas.
"Kamu tidak bosan kesini terus?" Tanya Damian menatap adiknya yang tersenyum begitu lebar sambil duduk disebuah bangku dekat danau tersebut.
"Tidak, kalau bisa, Aria ingin kesini setiap hari." Ujarnya semangat.
"Pengurus akan memarahi kita kalau ketahuan." Ujar Damian.
"Makanya itu kita harus diam-diam kak, ini rahasia antara kita berdua." Ujar Aria mengedip lucu pada kakaknya.
Damian hanya menggeleng heran dan ikut duduk disamping Aria yang masih memandangi danau di depannya dengan tatapan takjub. Sedangkan Damian menatap lekat adiknya, satu-satunya keluarga yang ia miliki dan harta berharganya yang paling ia jaga.
Damian hanya bisa bertemu Aria mulai dari pagi hingga sore hari. Setelah itu, mereka akan kembali ke kamar masing-masing dan tidak boleh lagi berkeliaran sesuai dengan peraturan Panti.
Malam itu harusnya berjalan dengan baik. Damian tidak pernah menyangka kejadian menyedihkan itu kembali lagi dihidupnya. Ia berjanji tidak akan pernah lagi kehilangan orang yang dia cintai, namun kenyataannya dunia memang sekejam itu.
Pagi itu Damian mendengar bahwa ia telah kehilangan Aria untuk selamanya, adik manis dan cantiknya yang begitu ia cintai. Tangis Damian pecah melihat tubuh Aria terbaring kaku, pucat, dan dingin dengan luka-luka lebam disekujur tubuhnya.
Damian berteriak begitu histeris disamping tubuh adiknya yang menutup matanya dengan erat. Baru saja kemarin ia dan Aria pergi dan bersenang-senang di Danau kesukaan adiknya itu.
Dia benar-benar baru saja menemuinya. Dia hanya tidak berada di sisi Aria selama malam hari, tapi ia tetap gagal menjaganya.
"Maaf Papa, aku telah gagal menjaga Aria." Batin Damian begitu kalut. Ia menangis dan berteriak menumpahkan segala emosi dan kesedihannya.
Kini Damian benar-benar tinggal seorang diri di dunia yang begitu kejam padanya. Orangtua dan adiknya sudah kembali bersama dan bersatu di surga.
Lagi-lagi Damian harus mengantarkan keluarganya ke tempat peristirahatan terakhir. Semenjak hari itu, Damian berubah menjadi anak yang pendiam. Ia tidak tau alasan mengapa adiknya meninggal.
Sampai akhirnya, setelah acara pemakaman selesai, Damian yang sedang berjalan gontai dengan wajah dingin dan lesu di area koridor, menangkap percakapan dari dalam ruang Pengurus Panti.
"Kejadian ini tidak boleh terdengar oleh orang luar atau reputasi Panti akan hancur, karena itu aku tidak menyeret kalian ke penjara."
"Terimakasih Madam."
"Tetapi jangan berpikir untuk kembali lagi kesini, kalian dipecat."
"Madam tolong maafkan kami."
"Aku tidak bisa membiarkan kalian disini atau akan ada Aria yang kedua."
Mata Damian melebar setelah mendengar nama adiknya disebut.
"Mahkluk kotor, bisa-bisanya kalian memperkosa seorang gadis kecil hingga membunuhnya."
"Madam, kami tidak bermaksud membunuhnya."
"Lalu apa? Pembelaan apalagi yang akan kalian katakan? Nyatanya dia sudah mati. Aku sudah berbaik hati, tinggalkan panti ini besok pagi, aku tidak ingin melihat wajah kalian lagi disini."
"Madam..."
"KELUAR!"
Damian begitu terkejut. Wajahnya mengeras penuh kemarahan. Ia bersembunyi dibalik tiang, menatap setiap pelaku yang keluar dari ruangan tersebut dengan mata memicing tajam.
Menanam wajah-wajah tersebut dengan lekat diotaknya. Damian mengenal wajah-wajah itu, tiga pria yang selama ini bekerja di Panti Asuhan. Damian benar-benar marah hingga hati dan kepalanya hanya terisi dengan dendam.
Ia akan membalaskan dendamnya.
Malam itu, Damian berjalan seorang diri dengan keadaan sekitarnya yang gelap. Wajahnya datar tanpa ekspresi, sedangkan tangannya mengenggam sebilah pisau yang ia ambil dari dapur.
Kakinya melangkah menuju sebuah kamar tempat para pekerja tersebut berada. Setelah sampai, ia membuka pintu tersebut yang tidak terkunci, melangkah masuk dan menatap ketiga pria yang tengah tertidur pulas.
Damian melangkah begitu pelan, hingga akhirnya tangannya terangkat ke udara dan menikam mereka satu-persatu dengan begitu brutal.
Teriakan mereka terdengar begitu keras, mereka melihat tatapan Damian yang begitu dingin dengan pisau ditangannya. Mereka mencoba menyerang Damian, namun Damian bergerak begitu membabi buta, menebas dan menikam mereka yang mendekat.
Damian tidak mengenal ampun. Ia membunuh mereka dengan begitu mengenaskan walaupun beberapa kali tubuhnya terdorong dan tersungkur. Damian tidak menyerah walaupun lawannya adalah 3 pria dewasa tanpa senjata. Nyatanya, orang memang sulit dihadapi ketika ia menjadi gila.
"MATI! PERGILAH KE NERAKA SIALAN."
Malam itu, Damian berhasil membalaskan dendamnya. Mereka bertiga mati bersimbah darah dengan luka tusukan yang membabi buta.
Setelah mengetahui kejadian itu, Pengurus Panti melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Ia menutupi semua kejadian yang sudah terjadi, namun ia telah memikirkan apa yang akan ia perbuat pada Damian.
Tepat setelah kurang lebih sebulan semenjak kematian adiknya, Damian dipanggil ke ruang pengurus dimana seorang pria asing juga berada disana.
"Ini anak yang saya ceritakan Mr. Killian, namanya Damian."
Pria tersebut menoleh ke arah Damian dan menatapnya lekat dengan pandangan menarik. Damian berdiri di tempatnya dengan wajah datar, sedangkan pria itu bangkit dari atas sofa dan berjalan mendekatinya.
"Damian, mulai hari ini kau akan tinggal bersamaku."
Saat itulah Damian jatuh ke dalam kehidupan baru yang telah dibuat oleh Desmond Killian. Dunia yang begitu gelap, yang tidak pernah ia bayangkan selama ini. Dunia yang membuatnya sadar bahwa kekuatan sangat diperlukan untuk bertahan hidup di dunia yang kejam ini.
Bersambung...
Panjang nih chapter ini. Full Damian.
Jangan Lupa Like dan Comment
See you