
Crystal melangkah dengan malas sambil sesekali meregangkan badannya yang terasa kaku dan bokongnya yang terasa panas dan pegal karena duduk terlalu lama di dalam ruangan tersebut. Ia keluar dari ruangan rapat tersebut setelah para kolega Kenzo keluar dari sana dan pamit undur diri.
Crys membuang nafas lega saat tubuhnya berhasil keluar dari pintu ruangan rapat yang sejak tadi terasa sesak untuknya. "Akhirnya keluar juga." ujar Crys senang sambil meregangkan tangannya ke atas dan mengirup udara sebanyak-banyaknya.
"Apa rapatnya semembosankan itu Nona?" Crys tersentak kaget sambil menoleh ke sumber suara, dimana terdapat seorang pria asing yang berdiri di sampingnya tepat di dekat pintu ruang rapat.
Crys mengernyit karena merasa sedikit tidak asing dengan wajah disampingnya tersebut. Crystal terdiam mencoba mengingat dan mencari jawaban, lalu tersadar setelah mengetahuinya. Crys membuka mulutnya menyadari siapa pria itu. Dia adalah salah satu kolega Kenzo yang tadi ikut rapat di dalam.
Crys tersenyum kaku sambil menundukkan kepalanya. Pria itu tampak memasang senyum manis ketika melihat ekspresi Crys yang terlihat seperti penjahat yang tertangkap basah. "Perkenalkan saya James." ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya pada Crys.
Crys tampak bimbang sebentar, lalu dengan ragu-ragu membalas uluran tangan tersebut. "Nama saya Letta." ujar Crys masih menunduk sopan, setelah itu melepas jabatan tangan mereka.
"Setahu saya Nona Karina adalah sekretaris Mr. Duanovic. Saya cukup terkejut ketika melihat ada wajah baru di ruangan rapat tadi." ujar pria bernama James itu dengan senyumnya yang tak pernah luntur. Pria di depannya ini terlihat seperti orang yang ramah senyum kepada semua orang.
"Saya bawahan pribadi Mr. Duanovic Tuan." ujar Crys menjawab seadanya.
"Oh, benarkah? Tetapi entah mengapa tidak terlihat seperti itu di mata saya. Apa saya yang berharap terlalu banyak?" ujar James yang berhasil membuat Crys meneguk ludahnya khawatir.
"Sepertinya anda berharap terlalu banyak." ujar Crys memasang senyum tipisnya yang terlihat canggung, namun ia berusaha yang terbaik untuk bersikap netral dan santai.
James terlihat terkekeh sebentar, lalu menatap Crys lekat dengan matanya yang terlihat tajam. Crys yang menerima tatapan itu terlihat bergerak tak nyaman. "Ada apa Tuan berdiri di depan pintu seperti ini? Apa anda ingin menemui Mr. Duanovic?" tanya Crys basa-basi dan ingin sekali pergi dari hadapan pria itu secepat mungkin. Entah kenapa ada sesuatu yang aneh dibalik senyumnya yang terlihat hangat.
"Tidak, aku menunggumu." Crys mencoba untuk tidak tersentak dan memasang raut kaget yang begitu kentara. Ia mencoba untuk menutup rapat mulutnya dan menulikan telinganya saat mendengar jawaban tak masuk akal pria itu.
"Kau terlihat menggemaskan ketika rapat tadi, aku tidak bisa mengalihkan mataku darimu."
'Apa lagi ini?' Crys bergidik ngeri mendengar hal frontal yang diucapkan pria di depannya. Dalam hati ia berteriak kesal dan merasa jijik seketika. Betapa mudahnya pria itu mengatakan hal tersebut dengan senyum lebarnya. Crys merasa sedang berdahapan dengan seorang pedofil.
Crystal rasanya ingin melarikan diri saat itu juga dari sana dan berjanji tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Dia menyeramkan. "Maaf Tuan, saya harus pergi dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh Mr. Duanovic pada saya." ujar Crystal menunduk kepala sebentar, lalu pergi dari sana dengan langkah cepat menuju ruangan Kenzo.
Crystal mengusap tengkuknya yang terasa dingin, bulu kuduknya juga berdiri karena merinding mengingat hal barusan. Tubuh Crystal bergidik, lalu ia menggeleng mencoba menghilangkan ekspresi wajah pria itu dari kepalanya.
Sedangkan pria bernama James itu berdiri sambil menatap punggung Crystal dengan senyum lebarnya yang terlihat menyiratkan sesuatu. Matanya tak lepas dari tubuh gadis itu sampai akhirnya ia mneghilang tertelan pintu.
Crystal menutup pintu ruangan Kenzo dan melangkah mennuju sofa dengan raut tak suka. "Dia siapa sih? Kenapa di perusahaan ini banyak sekali orang aneh. Apa sikap seperti itu normal disini? kalau begitu apa aku yang aneh?" ujar gadis itu menggerutu panjang lebar pada dirinya sendiri. Gadis itu jadi terlihat aneh karena berbicara dengan dirinya sendiri.
Crystal mendengus lalu melemparkan bokongnya ke atas sofa empuk tersebut. Bibir Crys cemberut sambil menyenderkan kepalanya ke sandaran sofa. Selama berada disini, Crystal jadi merindukan Rose. Jika sekarang dia ada di Mansion pria itu, pasti sekarang dia sedang makan siang dengan enak. Lihatlah dirinya sekarang, makan siang saja belum, padahal jam sudah menunjukkan pukul 01.45 PM.
Crystal memegang perutnya yang tiba-tiba berbunyi dengan keras. Wajah Crys memerah malu, untungnya tidak ada Kenzo di ruangan tersebut. "Dimana pria itu? kenapa dia lama sekali?" gerutu Crys.
Crystal ingat saat ia keluar dari ruangan tersebut, Kenzo masih berada di dalam bersama dengan Karina yang katanya adalah sekretaris pria itu. Kenzo menyuruh Crys untuk pergi lebih dulu ke ruangannya dan meninggalkan mereka berdua di ruangan rapat tersebut. Entah kenapa mengingat hal itu membuat Crys mengernyitkan keningnya bertanya.
"Kira-kira apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Crys berperang dengan otaknya sendiri. Pikirannnya entah kenapa melayang pada hal-hal yang harusnya tidak ia pikirkan.
Crys tersentak saat mendengar suara pintu yang terbuka tiba-tiba, membuyarkan lamunannya dan menampilkan sosok Kenzo yang masuk ke dalam ruangan dengan mulutnya yang tertutup rapat.
Crys memandang lekat tubuh Kenzo dari atas sampai ke bawah dengan pandangan menyelidik. Matanya memicing mengamati penampilan pria itu dengan cekatan.
'Bajunya rapi, rambutnya juga rapi, sama seperti saat kami datang ke kantor.' batin Crys setelah melakukan tindakan mengamatinya.
Crys pikir mereka sedang melakukan hal-hal yang tadi sempat mampir di kepala polosnya. Mengingat Kenzo itu penjahat kelamin dan Psikopat, membuat Crys memikirkan hal tersebut. Baguslah jika dia tidak melakukan hal itu, setidaknya ia tidak perlu menunggu kedatangan pria itu lebih lama lagi.
Kenzo duduk di kursi kebesarannya sambil membuka kancing jasnya. Crystal bangkit berdiri tiba-tiba dan bersiap mengangkat suaranya.
"Aku lapar." Crsytal menundukkan kepalanya dengan malu setelah mengucapkan kalimat seperti itu.
"Aku sudah menyuruh Karina untuk membawa makanan kesini." jawab Kenzo setelah memalingkan wajahnya dari Crystal dengan raut dingin.
Crystal mendongak dan tersenyum gembira, lalu duduk kembali di sofa ruangan sambil menunggu dengan tak sabar. Bagaimana ya rasa makanan kantor? pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Crys menatap ke arah Kenzo yang lagi-lagi sibuk dengan berkas dan kerjaannya. Crystal menggeleng heran. "Dia seperti robot yang tak berhenti bekerja." desis Crys pelan dengan takjub namun terbesit rasa kasihan. Tapi ternyata pria itu peka dan bergerak cepat juga seperti bisa membaca isi pikirannya.
"Apa kita masih lama pulang?" tanya Crys mulai bertanya memecahkan keheningan tersebut.
"Setelah makan siang kita pulang." jawab Kenzo.
Mata Crys melebar mendengarnya. Kenzo semakin banyak berbicara dengannya, ini sebuah perkembangan yang bagus. Pria itu biasanya sangat irit berbicara.
Tumben sekali Kenzo pulang dari kantor secepat ini. Biasanya pria itu akan kembali ke Mansion di malam hari.
Crys tak ingin ambil pusing dan duduk dengan manis di sofa. Sampai akhirnya makan siang mereka datang dan mereka menikmati makan siang tersebut tanpa membuka pembicaraan sama sekali sama lain dan hanya fokus dengan makanan mereka.
Akhirnya mereka selesai makan dan bersiap untuk pulang ke Mansion. Sampai di dalam mobil, Crys duduk diam di samping Kenzo yang sedang sibuk dengan tabnya.
Kening Crys mengernyit saat mobil tiba-tiba berhenti di sebuah bangunan yang bukanlah tempat tujuan mereka. Crys menatap bangunan tersebut dengan kening mengernyit.
"Butik?" ujar Crys sambil menoleh ke arah Kenzo dengan pandangan bertanya.
"Turun, kau akan menemaniku ke acara perusahaan malam ini." ujar Kenzo dengan nada datar dan dingin.
'What?' dalam hati Crys melongo terkejut. Apa karena hal ini mereka pulang lebih awal? batin Crys berteriak kesal.
Kenzo keluar dari dalam mobil yang mereka naiki dan Crys menyusul keluar dengan cepat. Crystal mengikuti langkah cepat Kenzo dan masuk ke dalam butik yang terlihat mewah tersebut.
Terlihat seorang pria cantik mendekati mereka dengan senyum merekah. "Tuan Kenzo, tumben sekali anda datang kemari." ujar pria tersebut sambil meliukkan badannya yang terlihat gemulai dengan senyum menggoda.
"Urus dia, kau pasti tau apa yang harus kau lakukan." ujar Kenzo dingin, lalu beranjak menjauh meninggalkan mereka berdua disana.
Crystal menatap Kenzo panik, namun pria gemulai itu langsung menahan tangan Crystal agar tidak pergi.
"Uhh, warna baru, aku suka tantangan seperti ini." ujar pria gemulai itu menatap tubuh Crys dari bawah sampai atas.
"Kau pasti akan menemani Tuan Kenzo bukan? Tugasku sekarang adalah, aku harus mengubah itik buruk rupa menjadi seekor angsa." ujarnya sambil mengusap pipi halus Crys dengan jarinya yang juga gemulai.
Crystal memasang raut wajah memelas pasrah saat melihat pria gemulai di depannya terlihat sangat bersemangat.
"Aku pasti tidak akan mengecewakan anda Tuan Kenzo." tambahnya lagi, lalu menarik Crys entah kemana.
Bersambung...
Ingat tinggalin jejak kalian dengan Vote, Like, Comment dan share ya biar aku tambah semangat ngetik karena dukungan kalian.
Next Chapter : Rabu (3/3)
Meet Kenzo ❤️