Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 37



Duanovic's Mansion | 4.36 PM


Levin duduk diam di atas sofa sambil melihat Crystal dan dua bocah kembar itu bermain di atas karpet. Crystal terlihat nyaman berbicara dengan anak kecil dan langsung akrab dengan mereka.


Tadi ia sudah menghubungi Ansell yang membawa dua bocah itu ke Mansionnya. Ansell berkata ia menitip dua bocah kembar itu sebentar karena tiba-tiba ada urusan mendadak setelah berhasil menculik bocah-bocah itu dari orang tuanya.


Alhasil Levin menghubungi Davin dan mengabari pria itu bahwa anak kembarnya berada di Mansionnya dan menyuruhnya untuk datang dan menjemput dua bocah itu pergi dari kediamannya.


"Kakak, Vano curang." protes Vian pada Crystal dengan wajah menggerutu.


"No, I'm not." ujar Vano menentang ucapan Vian tentangnya.


"Yes, you are." ujar Vian menatap Vano kesal.


"Kakak rasa Vano tidak curang." ujar Crystal angkat bicara.


Vian menoleh menatap Crystal dengan bibir cemberut. Vian memang selalu tidak ingin kalah dari kembarannya yang pendiam—Vano.


Vian diam dengan ekspresi mengerut kesal. Crystal menarik nafas sambil mencoba memikirkan sesuatu.


"Bagaimana kalau kita bermain yang lain saja?" tanya Crystal mencoba mengembalikan mood Vian yang tengah ngambek dengan wajah lucunya.


Vian tampak diam tak ingin menjawab menandakan bahwa ia masih marah dan tak ingin berbicara.


Crystal menggigit bibir bawahnya, lalu tersenyum manis sambil bangkit berdiri. Crystal berlari ke dapur, lalu kembali lagi dengan sekotak ice cream di tangannya.


"Siapa yang mau ice cream?" tanya Crystal bersemangat dengan nada menggoda.


Vano dan Vian terlihat diam, namun Vano mengangkat tangannya dengan wajah lucu sedangkan Vian masih bersikeras dengan pendiriannya.


"Ini dia untuk Vano." ujar Crystal menyerahkan sendok pada Vano, lalu membuka sekotak ice cream tersebut dan memakannya dengan lahap.


"Enakkan?" tanya Crys pada Vano.


"Enak." jawab Vano singkat sambil mengangguk dan memasukkan kembali ice cream ke dalam mulut kecilnya.


"Vian beneran tidak mau?" tanya Crystal lagi-lagi dengan nada menggoda.


Vian terlihat mengerutkan dagunya dan menatap Crystal dengan wajah marah yang terlihat menggemaskan.


Crystal tertawa renyah melihat ekspresi bocah laki-laki itu, lalu memberikan sendok pada Vian.


"Ayo kita habiskan ice creamnya sebelum uncle Ansell datang menjemput kalian." ujar Crystal menakut-nakuti mereka agar segera memakan ice cream tersebut.


Vian pun tanpa banyak bicara langsung menyendokkan ice cream itu dan membawanya masuk ke dalam mulut kecilnya. Crystal tersenyum manis sambil menatap dua anak laki-laki tersebut yang tengah memakan ice cream di depan mereka dengan lahap.


Levin memperhatikan semuanya, setiap gerak-gerik dan perbincangan mereka seperti seorang penonton tak kasat mata. Mata datar pria itu menatap lekat pada sosok Crystal yang seakan mengunci tatapannya.


"Vian, Vano." tiba-tiba terdengar suara panggilan yang menggema di Mansion besar itu.


Crystal otomatis menoleh ke sumber suara dan mendapati seorang pria yang terlihat tak asing.


"Daddy."


Pria itu adalah Davin. Dia melangkah mendekat ke arah si kembar yang masih duduk di atas karpet sambil melahap ice cream mereka.


Crystal bangkit berdiri dan membungkuk kecil untuk menyapa dengan sopan.


Davin menatap ke arah Crystal dengan wajah bingung dan heran. Pria itu menatap ke arah Levin yang masih menatap lekat pada sosok Crystal tanpa menghiraukan keberadaan Davin.


"Levin, siapa dia?" tanyanya pada Levin yang langsung menatap Davin dengan wajah santai.


"Singkatnya, dia adalah milikku." jawab Levin singkat, padat dan jelas yang berhasil membuat kening Crys berkerut setelah mendengar hal itu.


"Daddy, kakak Crystal memberikan kami ice cream setelah bermain game bersama." lapor Vian pada Davin dengan suara lantangnya sambil memamerkan ice cream yang tengah ia makan.


"Oh really? Are you having fun?" tanya Davin pada anak laki-lakinya itu.


"Yes. Daddy, bagaimana kalau kakak Crystal ikut ke Mansion kita?" tanya Vian menatap Daddynya dengan semangat.


"Dia milikku, kau tidak bisa membawanya pergi dari sini." ujar Levin yang tiba-tiba angkat bicara dengan nada tak suka menimpali perkataan Vian.


Vian terlihat menatap Levin dengan wajah cemberut. "Daddy, ayo bawa kakak pergi." ujar Vian sambil bangkit berdiri, lalu mengamit tangan Crystal dan menariknya pergi.


Crystal terlihat kaget dan tak bisa melepas tangan kecil yang tengah menggenggam tangannya tersebut. Namun Levin dengan cepat beranjak dari duduknya dan menghalang langkah Vian.


"Dia milikku, kau tidak bisa membawanya pergi! Lagipula siapa yang kau panggil kakak? dia bukan kakakmu." ujar Levin menatap Vian tajam.


Crystal terlihat membulatkan matanya mendengar hal itu, lalu menatap Levin dengan mata tajam. Vian itu masih kecil, bagaimana bisa Levin berkata kasar seperti itu.


"Uncle jahat." Vian berteriak kesal dengan wajah sedih. Crystal buru-buru berlutut dan mensejajarkan tingginya dengan bocah laki-laki itu.


"Really?" tanyanya pada Crystal dengan mata berbinar.


"Umh." gumam Crystal sambil mengangguk tegas dan yakin sambil memasang senyum manisnya.


"Okay." ujarnya pasrah, lalu memeluk Crystal dengan wajah sedih.


Crystal membalas pelukan kecil menggemaskan itu sambil terkekeh menahan keimutannya. Vian melepaskan pelukannya, lalu berjalan ke arah Davin sambil merentangkan tangannya seakan memberi kode untuk digendong.


Davin dengan sigap menggendong tubuh kecil anak laki-lakinya itu dan mengusap punggungnya naik turun. "Kapan-kapan kita bermain kemari lagi dengan Mommy juga okay." hibur Davin yang dibalas anggukan lemah oleh Vian.


Crystal membantu Vano untuk bangkit berdiri dan membawanya pada Papanya. Davin menggendong Vano di tangan satunya lagi yang bebas dengan begitu mudah.


Crystal jadi takjub dengan kegagahan papa muda tersebut. Davin terlihat melangkah menjauh setelah Vian dan Vano melambai padanya sebagai ucapan perpisahan.


Crystal membalas melambai dengan senyum manisnya yang selalu terpatri di bibirnya. Setelah papa dan anak itu menghilang dari tatapannya, Crystal langsung menatap Levin dengan pandangan tajam.


"Kau terlalu keras berbicara dengan Vian tadi." melancarkan protesnya langsung pada Levin dengan nada tak suka.


"Aku tidak suka siapapun menyentuh milikku." ujar Levin singkat.


"Tetapi Vian masih kecil, kau harusnya bisa berbicara lebih lembut seperti yang Kenzo lakukan pada mereka. Mereka melihatmu dengan pandangan aneh karena paman yang mereka kenal bersikap tidak seperti biasanya." ujar Crystal panjang lebar.


"Kenzo? Apa kau menyuruhku bersikap sama sepertinya?" tanya Levin dengan mata tajam menusuk. Crystal menggigit bibir seakan menyadari bahwa ia telah salah berbicara.


"Aku tidak menyuruhmu untuk bersikap seperti Kenzo, namun setidaknya kau tidak perlu mengatakan hal kasar seperti tadi pada mereka." ujar Crystal lagi.


"Aku tidak punya alasan untuk bersikap baik pada mereka." kata Levin dengan kekeras kepalaannya, lalu pergi dari sana menuju kamarnya.


Crystal mendesah sambil membuang nafas lelah. "Huhh, semoga saja mereka tidak membenci Kenzo karena perkataan kasar Levin." monolog Crystal yang entah kenapa jadi memikirkan nasib Kenzo setelah pria itu berganti jiwa lagi dengan Levin.


"Ngomong-ngomong dimana Damian? Sepertinya aku tidak melihatnya sejak keluar dari mobil tadi." tanya Crystal lagi-lagi pada dirinya sambil mengernyit heran melihat ke sekitarnya. Biasanya Damian akan selalu ada di dekatnya kapanpun.


Tetapi sekarang kemana pria itu?


Crystal berjalan menuju dapur guna membuang kotak ice cream si kembar yang ludes tak bersisa. Setelah itu gadis itu melangkah ke kamarnya untuk bersih-bersih sebelum makan malam tiba.


***


Damian melangkah panjang memasuki sebuah markas milik Kenzo bersama dengan para pengawal lainnya. Di tangannya terlihat sebuah pistol jenis CZ 75. Kakinya melangkah dengan santai, sampai akhirnya ia berhenti di hadapan dua orang pria yang tubuhnya berlumuran darah


Mereka adalah orang-orang yang mengejar mobil atasannya tadi pagi. Setelah berhasil melumpuhkan pergerakan mereka dan menabrak pembatas jalan, kedua orang itu dibawa ke markas ini untuk diintrogasi.


Satu mobil lain yang juga berisi dua orang didalamnya mati ditempat setelah sang supir tertembak dan mobil terbalik.


Setelah terjadi keributan seperti itu di jalan, mengapa polisi tidak membekuk Levin? Itu karena koneksi. Pria kaya seperti Levin tidak butuh banyak bertindak dan hanya duduk diam saja, maka semuanya akan beres dan tutup mulut.


Damian menginjak tangan salah satu pria yang terlihat tertutupi darah. Pria itu berteriak kesakitan saat Damian menginjak tangannya lebih kuat sambil menggesek-geseknya dengan gerakan memutar di atas lantai.


"ARGHH."


Damian mengangkat kakinya, lalu menendang kepala satu pria lagi dengan keras hingga tubuhnya yang berlumuran darah tersungkur di atas lantai.


Wajah pria itu masih datar dan dingin seakan tak berbelas kasih dan tak berjiwa. Dia sama sekali tidak menghiraukan teriakan bahkan darah di tubuh pria-pria itu.


"Siapa yang mengutus kalian?" tanya Damian dingin.


Pria yang masih meringis sambil memegang tangannya terlihat ketakutan dengan tubuh gemetar. Pria lainnya yang tersungkur di lantai terlihat melakukan hal yang sama dengan pria itu.


Damian terlihat mengangkat sebelah bibirnya ke atas dengan seringai tajam seperti singa yang siap memangsa buruannya.


"Putrimu berusia 7 tahun bukan? dia pulang sekolah pukul 2 sore. Sepertinya putrimu akan laku dengan cepat jika aku menjualnya ke perdagangan manusia. Setelah itu, istrimu yang akan menerima ajalnya." ujar Damian menatap pria yang sedang meringis memegang tangannya.


Pria itu terlihat menggeleng dengan wajah takut setelah mendengar perkataan Damian. Dia buru-buru merangkak dan berlutut di bawah kaki Damian.


"Saya mohon, jangan sentuh putri saya. Saya akan beritahu anda Tuan, saya diperintahkan oleh Thurisaz. Tolong jangan sentuh putri saya." pria itu memohon dengan wajah takut dan bersalah. 


Damian mengernyitkan keningnya ketika mendengar nama itu. Thurisaz, Damian dengan jelas mengetahui nama itu dengan baik. 'Thurisaz' adalah nama tato yang berada di leher Kenzo yang kini menjadi bosnya. lambang tato kuno itu sudah Kenzo miliki ketika ia mengikuti Davin sebagai tangan kanannya. 


"Siapa dia? Kau melihat wajahnya?" Tanya Damian. 


"Tidak Tuan, mereka mengatakan kalau mereka adalah Thurisaz. Kami hanya dibayar untuk membawa gadis yang berada di dalam mobil itu kepada mereka." ujarnya dengan mata penuh keyakinan dan tak ada niat untuk berbohong lagi demi keselamatan keluarganya.


Mereka? kalau begitu otak dari pembunuhan ini bukan hanya satu orang, namun lebih dan mungkin saja kelompok besar. Hal yang membuat Damian curiga adalah nama 'Thurisaz' yang disebutkan oleh pria itu. Kalau begitu, apa pembunuhan ini ada hubungannya dengan Kenzo? 


Memikirkan semua hal itu tanpa sadar membuat Damian menggenggam erat pistol di tangannya hingga urat-urat tangannya tercetak dengan begitu jelas.


Bersambung.....