
"Setengah dari pasukan kita telah dihabisi oleh Sergio."
Davin dan Ansell telah mengetahui dan mendengar semua kejadian yang Kenzo alami. Mereka benar-benar tidak menyangka bahwa Desmond adalah salah satu kaki tangan Sergio untuk menjerat pria itu.
"Lakukan pencarian di sekitar tempat mobil itu terjatuh!" Titah Davin.
Ansell segera memberikan perintah kepada bawahan mereka lainnya untuk melakukan pencarian secepat mungkin.
Setelah memberikan perintah, Ansell kembali menatap Davin yang ikut tertekan dan kepikiran dengan semua kejadian ini.
"Apa yang akan kita lakukan untuk menyelematkannya dari Sergio?" Tanya Ansell.
Davin mengusap pelipisnya sambil menopang kepalanya di atas sofa dengan tangan kanannya.
"Kita harus memulihkan kembali jumlah pasukan. Dari segi jumlah, kita kalah dari Sergio." Ucap Davin.
"Perekrutan akan diurus oleh Lucas!" Kata Ansell.
"Tapi, bagaimana jika wanita itu tidak bisa ditemukan? Atau ditemukan dalam keadaan tak bernyawa?" Tanya Ansell yang membuat mereka terdiam ketika membayangkan apa yang akan Kenzo dan Levin rasakan.
"Lebih baik wanita itu tidak bisa ditemukan, setidaknya itu bisa memberikan sedikit harapan palsu baginya." Kata Davin.
Ansell membuang nafas kasar ketika kepalanya sudah memikirkan semua hal buruk yang akan terjadi.
"Apa earpiece nya masih terhubung?" Tanya Davin.
Ansell menoleh sebentar ke arah komputernya dan mengangguk.
"Masih."
"Levin sudah tidak lagi memberontak." Tambahnya lagi.
"Bagus, pilihan yang tepat untuk Levin menguasai tubuh Kenzo saat ini." Kata Davin.
"Satu-satunya alat komunikasi kita adalah earpiece tersebut. Dia harus bisa menjaganya agar tidak ketahuan oleh Sergio." Tambah Davin.
"Tenang, earpiece tersebut tidak akan terdeteksi dengan metal detector maupun xray scanner." Ujar Ansell bangga.
Davin sedikit tersenyum bangga mendengarnya. "Sepertinya alat itu sudah bisa kita pasarkan." Kata Davin.
"Tentu saja."
***
Sergio's Mansion 10.00 AM
Kenzo berdiri tepat di depan cermin yang memantulkan wajahnya yang merupakan sosok Levin. Setelah mendengar segala cerita mengenai apa yang sudah terjadi, hingga kecelakaan yang disengaja oleh Sergio kepada Crystal, Kenzo benar-benar merasa terpukul.
Raut wajah Levin pun terlihat begitu dingin seakan dirinya kini hanyalah raga tanpa jiwa ketika menceritakan semuanya.
Dada mereka begitu kosong dan hanya terasa kesesakan dan kebencian disana. Kenzo menyugar rambutnya ke belakang lalu mencengkram erat pinggiran wastafel hingga buku tanganya membiru.
"Aku sudah memberitahu Ansell dan Davin untuk melakukan pencarian." Kata Levin.
"Satu-satunya alat komunikasi kita dengan dunia luar hanyalah alat ini. Sergio tidak boleh tau kalau kita menyimpannya." Tambah Levin sambil menunjuk earpiece kecil yang berada di samping meja wastafel kamar mandi.
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" Desis Kenzo serak dengan segala kerumitan yang berada di dalam kepalanya, yang membuatnya tidak bisa fokus ketika mengingat sosok Crystal.
"Sementara kita ikuti kemauan Sergio! Davin sedang memulihkan keanggotaan sambil menyusun rencana." Jawab Levin.
Kenzo hanya mengangguk dengan raut wajahnya yang terlihat gusar. Perlahan pantulan sosok Levin mulai memudar dan hanya menunjukkan pantulan diri Kenzo yang mengikuti segala pergerakan aslinya.
Tok...tok..tok
Bunyi ketukan pintu terdengar. Kenzo segera mengangkat wajahnya menatap cermin untuk melihat keadaan dirinya. Ia tidak boleh terlihat lemah karena Sergio membenci hal itu.
Tangannya dengan cepat menyalakan keran air, lalu membasuh wajahnya dengan air mengalir. Kemudian mengambil handuk kecil yang tergantung di samping wastafel untuk mengusap wajahnya yang basah.
Kenzo berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya dengan wajah dingin.
"Permisi Tuan, saya mengantarkan pakaian ganti anda untuk bisa beristirat. Tuan besar juga mengatakan untuk ikut bergabung ketika makan malam nanti." Ujar Pelayan wanita yang mengetuk pintunya, lalu menyodorkan pakaian untuknya.
Kenzo tak menjawab dan hanya mengambil kasar baju tersebut, lalu kembali menutup pintu kamarnya, membuat pelayan tersebut merinding dengan aura gelap pria itu.
Pelayan itupun membalikkan tubuhnya untuk kembali melanjutkan pekerjaanya.
Kenzo melempar asal baju tersebut ke atas ranjang, lalu masuk kembali ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Kenzo membaringkan tubuhnya di atas kasur untuk tidur dan sejenak melupakan semua kejadian yang sudah terjadi, berharap ketika ia bangun, ia berada di dalam kamarnya dengan Crystal yang berada di sampingnya sambil menyambutnya dengan senyuman manisnya.
Lengan Kenzo terangkat ke atas untuk menutup kedua matanya dengan raut wajah lelah serta kondisi tubuhnya yang juga belum pulih sepenuhnya setelah kecelakaan yang disebabkan oleh Desmond.
***
Kenzo duduk di salah satu kursi meja makan bersama dengan Sergio dan putrinya-Thalia yang senantiasa memasang senyuman manisnya ke arah Sergio dan Kenzo.
Sesuai dengan perintah Sergio, Kenzo ikut makan malam dengan kedua ayah dan anak tersebut. Semenjak tadi, raut wajah Kenzo sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan, bahkan pria itu terlihat seperti pemeran penghias ditengah-tengah makan malam tersebut.
"Jadi, kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?" Tanya Sergio.
Thalia terlihat tersenyum malu sambil menggigit bibir tebalnya yang dipoles lipstik berwarna merah cerah. Thalia menatap ke arah Kenzo dengan lekat, menunggu reaksi dari pria yang akan menjadi calon suaminya tersebut.
"Terserah." Jawab Kenzo datar, bahkan sama sekali tak mengangkat matanya untuk menatap Sergio maupun Thalia.
"Kalau begitu lebih cepat lebih baik, bagaimana kalau 1 bulan ke depan pernikahan kalian diadakan?" Tanya Sergio lagi.
Thalia hanya mengangguk dengan senyum lebarnya, sedangkan Kenzo tak membantah maupun mengiyakan dan hanya fokus untuk menghabiskan makan malamnya agar ia dapat pergi dari sana lebih cepat.
Makan malam tersebutpun berlalu dengan perbincangan kecil antara dua manusia sedarah tersebut. Kenzo sendiri tak banyak bicara. Hingga akhir ia hanya banyak diam dan mendengar.
Jam menunjukkan pukul tengah malam, dimana Kenzo berdiri di atas balkon kamarnya sambil menghembuskan asap rokok dari mulutnya.
"Satu bulan ke depan." Ujar Kenzo berbicara lewat earpiece yang ia gunakan.
"Sergio benar-benar ingin menjadikanmu sebagai penerusnya secepat mungkin." Suara Ansell terdengar dari balik earpiece tersebut.
"Bagaimana dengan pencarian?" Tanya Kenzo lagi.
Ansell terdiam beberapa saat dan hanya ada keheningan diantara mereka.
"Belum."
Kenzo membisu setelah mendengar hal itu.
"Terlebih dari itu, kita harus menyusun rencana untuk mengundur pernikahanmu selama mungkin sampai keadaan pasukan kita pulih kembali." Ujar Ansell mencoba dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan.
Tok..tok..tok
Belum sempat membalas ucapan Ansell, sudut mata Kenzo langsung melirik ke arah pintu kamarnya yang tengah diketuk oleh seseorang.
Kenzo sudah bisa menebak siapa orang dibalik pintu tersebut. Mendatangi kamar seorang pria dewasa tengah malam seperti ini, orang tersebut pasti memiliki tujuannya tersendiri.
Kenzo membalikkan tubuhnya sambil mematikan earpiece ditelinganya, lalu melepas dan menaruhnya di atas meja nakas.
Pria itu keluar dari area balkon, lalu melangkah mendekati pintu kamarnya dan membukanya.
Seketika setelah pintu tersebut terbuka, terpampanglah sosok Thalia yang berdiri di depannya dengan gaun tidur tipis dan cardigan tipisnya yang terbuat dari satin, jatuh dari atas bahunya sehingga menampilkan bahunya yang putih dan mulus.
Potongan leher dari gaun tidurnya juga terlihat rendah, sehingga belahan buah dadanya terlihat mencuat menyapa mata Kenzo.
"Aku pikir kau sudah tidur." Ujar Thalia menatap Kenzo, lalu dengan seenaknya langsung masuk ke dalam kamar pria itu.
Wajah Kenzo seketika mendingin. Benar apa yang tadi sudah ia bayangkan. Hanya Thalia yang akan mendatangi kamarnya tengah malam dengan segala tujuan kotornya.
Kenzo membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Thalia yang kini sudah duduk di atas ranjang miliknya, dengan paha polosnya yang terpampang dikarenakan ia melipatnya menyilang di atas paha kirinya.
Kenzo berdiri tepat di depan Thalia yang duduk di atas ranjangnya.
"Keluar!"
Thalia malah tersenyum semakin lebar mendengar ucapan dingin Kenzo. "Sampai sekarang kau tetap tidak berubah Kenzo, tetap saja dingin." Ujar Thalia.
"Pernikahan kita akan berlangsung sebentar lagi, setidaknya bersikaplah sedikit lebih hangat kepada calon istrimu." Tambah Thalia.
"Pernikahan hitam di atas putih, tidak ada alasan untuk membuat hubungan diantara kita semakin dekat." Kenzo menatap wanita itu tajam.
Thalia tak kesal dan marah sama sekali dengan ucapan Kenzo. Wanita itu seakan sudah kebal dengan ucapan dan sikap Kenzo. Thalia menegakkan tubuhnya, lalu membuka cardigan satinnya dengan gerakan sensual, hingga kain tersebut terjatuh ke atas ranjang.
"Setidaknya kau masih pria normal bukan?" Tanya Thalia dengan suara serak menggodanya, lalu menaikkan kaki kanannya untuk mengusap kaki Kenzo hingga ke paha bagian dalam pria itu.
Kenzo menatap Thalia tajam, sedangkan wanita itu malah bangkit berdiri dari atas ranjang, lalu mendekati Kenzo hingga dada besarnya menempel di dada bidang pria itu.
Thalia memeluk leher Kenzo sambil memajukan wajahnya, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu.
"Setidaknya berikan aku kehangatan dengan tubuhmu." Bisik Thalia tepat di depan daun telinga Kenzo dengan sedikit mendesah pelan.
Bersambung....
Next : 1/8
Comment dan like ya🥰