
Kenzo menatap ke arah Sergio yang sedang berbincang sambil menyapa para tamunya dengan senyum lebar dan bahagianya.
Thalia juga terlihat menyapa para tamu, sedangkan Kenzo hanya berdiri diam sambil meneguk Champagne di tangan kanannya dengan wajah tak berminat. Kenzolah satu-satunya orang yang trrlihat tidak menikmati pesta tersebut.
Tiba-tiba Sergio terlihat memencarkan matanya untuk mencari sosok Kenzo, hingga akhirnya tatapan mata mereka bertemu.
Sergio berjalan ke arahnya setelah pria paruh baya itu terlihat berpamitan pada para tamunya.
"Ikut aku!" Ujar Sergio ketika melewatinya dan pergi keluar dari hall hotel dimana resepsi tersebut berlangsung.
Kenzo melangkah mengikuti Sergio menuju pada sebuah ruangan dimana seorang pria asing sudah berada disana dan sedang duduk di atas sofa.
"Kau sudah membawa dokumennya?" Tanya Sergio pada pria tersebut yang langsung bangkit berdiri ketika Sergio dan Kenzo masuk ke dalam.
"Sudah Tuan." Jawabnya cepat.
Sergio dan Kenzo duduk di sofa tersebut. "Dia adalah notarisku." Ujar Sergio pada Kenzo.
"Ini dokumen pengesahan ahli waris anda Tuan, anda dan calon ahli waris hanya tinggal menandatanganinya." Ujar Pria notaris tersebut sambil mengulurkan beberapa kertas dihadapan mereka.
Sergio segera mengambil bolpoinnya dan menandatanganinya tanpa berbasa-basi.
"Setelah ini, aku akan mengumumkannya di depan para tamu yang datang." Ujar Sergio, setelah itu menyerahkan dokumen yang sudah ia tandatangani ke hadapan Kenzo.
"Thurisaz akan menjadi tanggung jawabmu." Tambah Sergio lagi.
Kenzo mengambil bolpoin di atas meja, tanpa berbasa-basi langsung menandatangi seluruh dokumen yang berada di atas meja, sedangkan Sergio tersenyum kemenangan.
Setelah selesai, Kenzo melempar kasar bolpoin tersebut ke atas meja, lalu bangkit berdiri dari sofa dan langsung keluar dari ruangan tersebut tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Pria notaris tersebut meneguk ludahnya kasar dengan wajah berkeringat dingin merasakan suasana mencekam diantara Kenzo dan Sergio.
"Dengan begini semua persyaratan dokumen ahli waris sudah selesai Tuan." Ujarnya sambil merapikan berkas dokumen di atas meja.
Sergio pun ikut bangkit berdiri dan keluar dari sana, meninggalkan pria itu yang menghela nafas lega setelah keluar dari suasana dingin tadi.
***
Sergio naik ke atas panggung sambil memegang mic di tangannya. Perhatian seluruh tamu seketika langsung tertuju ke arah Sergio yang tiba-tiba berada di atas panggung.
"Selamat malam, di acara pernikahan putri saya satu-satunya—Thalia, saya berharap putri saya bisa menjalani kehidupan pernikahannya dengan bahagia bersama menantu saya. Disini saya juga ingin membuat pengumuman bahwa menantu saya—Kenzo, hari ini sudah sah menjadi ahli waris dari seluruh harta dan bisnis saya." Ujar Sergio yang membuat para tamu shock dengan wajah terkejut.
Beberapa tamu mulai berbisik satu sama lain, sedangkan Kenzo berdiri di tempatnya dengan wajah dingin bersama dengan Thalia yang berada di sampingnya.
Sergio menatap Thalia untuk memberikan kode agar mereka ikut naik ke atas panggung.
Thalia mengangguk paham, lalu menarik tangan Kenzo yang dengan ogah-ogahan naik ke atas panggung atas suruhan Sergio. Seorang pelayan ikut naik dengan nampan berisi tiga gelas champagne yang masing-masingnya diambil oleh Sergio, Thalia, dan Kenzo.
Sergio mengangkat gelasnya ke atas udara.
"Para tamu dipersilahkan untuk menaikkan gelas minuman anda." Ujar MC yang langsung dituruti oleh seluruh tamu yang mulai mengangkat gekas mereka.
"Dengan ini, mari bersama-sama merayakan hari bahagia pernikahan putri saya serta menantu saya yang sudah sah menjadi pewaris. Cheers."
"Cheers."
Mereka saling menabrakkan gelas satu sama lain dengan senyuman manis, begitu juga para tamu hingga menimbulkan suara dentingan gelas yang saling bertubrukan.
Tepat setelah mereka meminum minuman mereka dengan penuh kebahagiaan, seketika suasana tersebut berubah menjadi penuh ketegangan dan ketakutan.
Suara tembakan tiba-tiba terdengar dari arah luar. Semuanya berjalan begitu cepat, hingga pintu hall terbuka dengan ratusan orang yang menyergap masuk dengan penutup wajah mereka serta senjata api mereka.
Para tamu seketika riuh dan mulai berlarian keluar dari sana, sedangkan Sergio tetap berdiri di atas panggung dengan wajah datar. Sampai akhirnya yang tersisa disana hanyalah Sergio, Thalia dan Kenzo.
"Ini rencanamu?" Tanya Sergio pada Kenzo dengan nada dingin.
Senyum miring Kenzo terbit. "Lebih tepatnya rencana pria itu." Ujar Kenzo melempar tatapan ke arah seorang pria yang masuk ke dalam ruangan dengan seorang pria lainnya disampingnya.
"Raveno." Desis Sergio.
"Long time no see Sergio." Ujar Davin.
" Dan kau Lewis, apa sekarang kau berteman dengan musuhmu sendiri?" Desis Sergio lagi melihat sosok Lewis yang berada di samping Davin.
"Bisa dibilang seperti itu." Ujar Lewis.
Ternyata Davin meminta bantuan dari Lewis untuk menambah jumlah pasukannya yang kekurangan tenaga profesional. Lewis pun menyetujuinya tanpa berbasa-basi.
"Ahh, anak buahmu yang melindungi hotel ini mungkin sekarang sudah tak bernyawa." Timpal Davin.
Sergio tersenyum miring. "Mana mungkin aku bisa menang jika kalian sudah menyatukan kekuatan." Ujar Sergio.
"Seharusnya kau tidak menyentuh orang-orangku Sergio." Timpal Davin.
"Kau bisa tenang, markasmu aman. Sisa-sisa anak buahmu yang berada di markas bisa menjadi anak buah Kenzo setelah kau tiada." Tambah Davin lagi.
"Baguslah." Balas Sergio.
"Sepertinya kau sudah pasrah dengan hidupmu Sergio." Ujar Davin.
Senyum miring Sergio semakin lebar. "Yang aku inginkan hanya pewaris, setelah itu, hidup maupun mati aku tidak peduli lagi." Ujar Sergio.
"Papa." Sentak Thalia.
Kenzo berjalan mendekati Davin, melewati Sergio dengan punggung dinginnya sambil turun dari atas panggung.
Kenzo mengulurkan tangannya, lalu Davin menyerahkan sebuah pistol ke atas tangan pria itu.
"Membunuhnya adalah tugasku." Ujar Kenzo, lalu mengangkat tangannya sambil berbalik badan ke arah Sergio.
Mulut senjata api itu tertodong langsung ke arah Sergio yang berada di atas panggung dengan anak perempuannya.
Sergio dan Kenzo saling menatap mata satu sama lain. Sergio menatap Kenzo dengan pandangan tak terbaca, sedangkan Kenzo menatap pria itu dengan penuh kebencian.
"Kenzo, aku tidak menyesal dengan seluruh keputusanku, bahkan keputusan untuk memanfaatkan kelemahanmu yang akhirnya membawamu kepadaku." Ujar Sergio.
Rahang Kenzo mengeras dengan matanya yang mulai memerah. "Kau tidak boleh mempunyai kelemahan, karena itu aku tidak menyesal sudah membunuh wanitamu." Tambah Sergio lagi.
"SHUT UP!" Kenzo berteriak begitu kencang dengan urat-urat lehernya yang mulai timbul.
"Kau bahkan tidak pernah mendapatkan cinta dari ibu yang melahirkanmu. Apa kau pernah berkata mencintainya walau hanya sekali sebelum dia mati?" Tanya Sergio tertawa mengejek.
"Hahaha, bahkan sebelum hari kematiannya pun kau tidak mengutarakan perasaanmu dengan benar, karena itulah kau tidak pantas untuk dicintai Kenzo."
"Sejak dulu kau benci kata 'Cinta' bukan? Bencilah kata 'itu' untuk selama-lamanya! Maka kau akan hidup tanpa kesedihan maupun kebahagiaan. Kau hanya membutuhkan kekuasaan dan kekuatan."
Dor.
Satu tembakan tersebut lepas, beriringan dengan tubuh Sergio yang jatuh ke atas lantai dengan darah yang keluar dari lubang di kepalanya.
"Aaaaaa." Thalia berteriak histeris, menunduk sambil merengkuh Ayahnya yang sudah lagi tak bernyawa.
"Hiks, bagaimana bisa? BAGAIMANA BISA KAU MELAKUKAN HAL INI? INI HARI PERNIKAHAN KITA." Thalia berteriak frustasi sambil menangis memeluk tubuh ayahnya.
"Salahkan Ayahmu yang mengantarmu langsung ke tangan pria yang salah. Dia yang membawamu ke neraka." Desis Kenzo, lalu menodongkan pistolnya ke arah wanita itu.
Thalia menangis histeris sambil menutup matanya erat saat ia mengetahui bahwa ajalnya sudah semakin dekat.
"Kita akan bertemu di neraka Kenzo." Ujar Thalia mengangkat kepalanya dan menatap Kenzo tajam dengan penuh kebencian.
"Pergilah lebih dulu!"
Setelah itu, Kenzo kembali menarik pelatuknya, menimbulkan suara tembakan yang kencang, lalu tubuh wanita itu terkulai tak bernyawa di atas tubuh Ayahnya.
Kenzo menatap kedua mayat itu dengan begitu dalam, lalu membalikkan badannya untuk keluar dari ruangan tersebut, melewati sosok Davin tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Davin juga tidak mencegah Kenzo dan membiarkan pria itu untuk menenangkan dirinya.
"Bereskan!" Ujar Davin pada bawahannya.
"Baik Tuan."
"Terimakasih sudah membantu." Ujar Davin pada Lewis.
"Sama-sama." Jawab Lewis tersenyum lembut.
Bersambung....
Next : 10/8 (Last Chapter)
Finally, selesai.
Jangan lupa like dan comment😍