
Semenjak hari dimana Crystal mengetahui kepribadian lain dari Kenzo yaitu Levin, gadis itu terlihat masih shock dan tak tau harus bagaimana ketika berhadapan dengan Levin.
Pria itu memang lebih banyak mengeluarkan ekspresi daripada Kenzo. Levin juga lebih banyak membuka mulutnya daripada Kenzo, namun Levin terlihat menyimpan sesuatu. Pria itu terlihat menyimpan misteri dibalik wajahnya yang melempar banyak ekspresi.
Crystal sama sekali tidak bisa membaca maksud dari ekspresi yang dikeluarkan pria itu saat berhadapan dengannya. Entah mengapa Crystal menjadi lebih waspada pada Levin daripada dengan Kenzo.
Crystal menatap dirinya di depan cermin dan memperhatikan sudut bibirnya dan lehernya yang sudah mulai membaik.
Setelah itu ia bangkit berdiri dari depan meja rias dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia membuka pintu kamarnya dan terkejut saat mendapati Damian sudah berdiri di sana dengan wajah datar dan pakaian rapinya. Crys memegang dadanya terkejut, lalu berjalan keluar dari kamarnya dan pergi menuju ruang makan.
Crys melangkah dengan santai diikuti oleh Damian yang berjalan tanpa membuka suara di belakangnya. Pria itu akan senantiasa mengikutinya dan berada di dekatnya kapanpun dan dimanapun.
Saat sampai di meja makan, matanya menangkap sosok pria pemilik Mansion ini yang sedang memakan sarapannya dengan tenang. Crystal mengerutkan keningnya dan duduk di kursi meja makan dengan ragu-ragu.
Rose langsung menyajikan sarapan untuknya. Crystal memegang sendoknya sambil menatap lekat ke arah pria di hadapannya dengan tatapan menyelidik. Apakah dia Kenzo atau Levin? pertanyaan itu berputar-putar-putar di kepalanya.
"Berapa lama lagi kau akan menatapku?" Crys langsung memasukkan makanannya ke dalam mulutnya dan berpura-pura tidak melakukan apa yand dikatakan pria itu.
Crystal heran. Jelas-jelas pria itu sibuk dengan sarapannya dan tak menatapnya, namun entah kenapa pria itu bisa menyadari kalau ia menatapnya sejak tadi. Apa pria itu punya indra ke enam?
Damian masih berdiri tegap di belakang Crsytal tanpa membuka mulutnya sama sekali.
"Setelah sarapan, segera ganti pakaianmu dan ikut denganku ke kantor!" ujar pria itu. Kening Crys berkerut saat melihat wajah pria di depannya yang sejak tadi datar.
Crystal terlihat melipat bibirnya ke dalam dengan perasaan bimbang, lalu akhirnya membuka mulutnya dengan penuh keberanian.
"Kenzo?" panggil Crys tak yakin dengan nada lirih.
Pria di depannya itu langsung terdiam setelah mendengar lirihan yang keluar dari mulut Crys. Matanya langsung terangkat dan menatap Crys dengan pandangan tajam dan dingin. Gadis itu langsung meneguk ludahnya kasar setelah mendapat tatapan tersebut.
Dia sudah melakukan kesalahan. Crystal terdiam dan tak berani membuka mulutnya sama sekali.
"A... aku hanya masih bingung membedakan kalian." ujar Crys gugup.
Levin terlihat masih menutup mulutnya dan menatap gadis di depannya lekat tanpa berniat melepas tatapannya. Crystal semakin gugup dan akhirnya kepalanya menunduk dengan wajah takut.
"Maaf." ujar Crys dengan nada bersalah dan berusaha menghindari tatapan pria itu.
Meja makan tersebut hening beberapa detik tanpa ada suara apapun. Setelah kesunyian itu melanda, Levin tiba-tiba bangkit berdiri dan pergi dari sana meninggalkan Crystal yang masih menunduk di tempat duduknya.
Crys mengangkat kepalanya, menoleh ke belakang dan menatap punggung Levin yang menaiki anak tangga. Ia mengetuk kepalanya sambil merutuki kebodohannya yang membuat suasana di antara mereka menjadi dingin dan canggung.
Crystal melirik pada Damian yang berdiri di dekatnya dengan wajah khawatir. "Menurutmu, apa dia akan menghukumku?" tanyanya menatap Damian dengan mata berbinar sedih.
Damian terlihat tak membuka mulutnya namun matanya menatap lekat pada mata gadis itu yang berbinar di bawah lampu. "Tidak." jawab Damian tegas, tanpa ragu-ragu seakan ia mengetahui jelas sifat Levin.
"Benarkah?" tanya Crys tak yakin, namun dibalas anggukan yakin oleh Damian. Crystal menghela nafas sedikit merasa lega, lalu memutar badannya kembali dan memakan sarapannya dengan cepat.
Ia harus buru-buru makan, setelah itu mengganti bajunya dan pergi ke kantor bersama Levin. Setelah sarapan, Crys mengganti bajunya dengan cepat, memakai riasan dengan singkat, lalu berjalan keluar dari kamar dan keluar dari Mansion dengan Damian yang senantiasa mengikutinya.
Terlihat dua mobil yang sudah terparkir di depan teras Mansion. Crys menatap mobil yang berada di depan dan mendapati supir yang sudah berdiri sambil membukakan pintu untuknya. Crys masuk ke dalam dan mendapati Levin yang sudah duduk di sana dengan wajah datar. Sedangkan Damian naik dengan mobil yang ada di belakang mereka.
Crystal duduk dengan tenang tanpa membuka suara karena tidak ingin semakin merusak mood Levin yang terlihat tidak baik pagi ini. Gadis itu sibuk memilin tangannya dan menatap ke luar jendela mobil yang menampilkan pemandangan kota yang sibuk dengan aktifitas mereka.
Ketika sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing, tiba-tiba mobil yang mereka kendarai terasa terbanting sesuatu hingga membuat tubuh Crys terhentak ke samping. Tanpa sadar Crystal sedikit berteriak dan menatap Levin dengan wajah takut. Ia belum lama ini baru saja selamat dari maut setelah kecelakaan mobil yang ia alami dengan Kenzo.
Apa sekarang ia akan merasakan hal itu lagi? perasaan takut ketika hidupmu berada diambang kematian. "Akhh." Crystal berteriak lagi saat tubrukan kedua terjadi. Mata Crystal menatap sebuah mobil yang berada di sisi Levin yang baru saja bertubrukan dengan mereka.
Mobil tersebut dengan sengaja menabrak mobil mereka seperti saling adu.
"Percepat!" ujar Levin memberi perintah pada sang supir.
Mobil yang mereka naiki langsung melaju menyusuri jalanan yang lumayan ramai oleh kendaraan. Ketika mobil yang mereka naiki melaju, begitu pula mobil yang menguntit mereka ikut melaju dan mengejar. Crystal menatap ke belakang dan melihat mobil penguntit itu juga dikejar oleh mobil yang Damian naiki.
DOR
Belum sampai di sana, ternyata muncul satu mobil lagi di sisi sebelah Crys dan menabrak sisi mobil dengan kencang. Tabrakan itu membuat mobil bergeser ke kanan dan hampir menabrak pembatas jalan.
BRUK.
Tubuh Crystal terlempar ke arah Levin dengan kencang. Levin yang mempunyai refleks yang bagus langsung menahan tubuh gadis itu agar kepalanya tidak membentur kaca.
Dilain sisi
Damian menatap ke arah mobil asing yang tiba-tiba menabrak sisi kanan mobil yang Levin dan Crys kendarai dengan tajam. '"Mendekat ke mobil itu, jangan biarkan mereka lolos!" ujar Damian pada pengawal yang mengendarai mobil.
Pengawal tersebut mengangguk dan ikut melajukan mobilnya. Damian mengambil pistol Desert eagle miliknya, lalu memasang peluru dengan cepat dan ahli.
"Ke sisi kanan!" ujar Damian saat ia melihat mobil tersebut sudah tidak lagi berada di sebelah mobil Tuannya karena mobil tiba-tiba melaju cepat.
Mobil yang Damian kendarai dengan cepat menyelip dan bergerak ke sisi kanan mobil hitam yang mengikuti mereka. Damian dengan cepat membuka kaca jendela mobil, lalu mengeluarkan pistolnya dan dengan bidikan ahlinya, ia menembak ban mobil tersebut hingga meledak.
DOR
Mobil tersebut oleng dan menabrak pembatas jalan.
Damian menyentuh earpiece di telinganya. "Urus mobil itu!" titah Damian sambil menyentuh earpiece yang berada di telinganya dan berbicara pada orang di seberang sana yang terhubung dengannya.
Setelah memberi perintah, Damian menatap pada satu mobil lagi yang ternyata berada di sisi kiri mobil Tuannya dan tengah menabrak sisi mobil dimana Crystal duduk. Damian terlihat mengeraskan rahangnya, lalu mengeluarkan tangannya yang menggengam pistol ke jendela yang terbuka.
Matanya membidik mobil yang berada di depan mereka dan bersiap untuk menembakkan timah panas tersebut. Namun belum sempat jarinya menarik pelatuk pistol tersebut, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang keras, lalu kaca mobil asing tersebut pecah dan mobil langsung kehilangan kendali, hingga berguling dan terbalik di jalan.
Dilain sisi
Crsytal menahan nafas saat tubuhnya terpelanting ke samping dan tangan Levin dengan sigap menahan tubuhnya. Tanpa Crsystal sadari, Levin mengambil pistol miliknya yang senantiasa ia bawa.
"Buka kacanya!"
Sang supir langsung menurunkan kaca jendela di samping Crystal. Levin langsung mengulurkan tangannya yang memegang pistol dan menarik pelatuk dengan perhitungan bidikan yang begitu cepat.
DOR
Timah panas itu langsung menembus kaca mobil tersebut dan hebatnya lagi, peluru tersebut juga menembus kepala sang supir. Mobil tersebut langsung hilang kendali, berguling dan terbalik di tengah jalan.
Crystal menutup mata dan telinganya ketika mendengar betapa kerasnya suara tembakan tersebut hingga membuat telinganya berdengung. Kilatan-kilatan kejadian 10 tahun lalu tiba-tiba muncul kembali dan menyerang kepalanya.
Kepala Crys berdenyut hebat saat ingatan buruk itu merasuk dan berputar tak beraturan di kepalanya. Suara teriakan, suara tembakan yang bersahutan, genangan darah di lantai, petir yang menggelegar, lalu wajah Mamanya saat menyuruhnya masuk ke dalam lemari muncul di kepalanya seperti kilat.
"AKHH." Crystal berteriak keras sambil menekan kepalanya yang seakan ingin pecah. Kepalanya rasanya seperti berdentum-dentum bersamaan dengan ingatannya yang berputar secara acak.
Levin menatap lekat Crystal yang tiba-tiba saja berteriak kencang sambil memukul-mukul kepalanya. "Hentikan!" ujar Levin sambil meraih pergelangan tangan gadis itu yang tidak berhenti memukul kepalanya sendiri
Nginggg......
"AGGHH, SAKITHH. TOLONG, BERHENTI!" Crys terlihat merintih kesakitan sambil menutup matanya erat. Telinganya berdengung, bahkan sekitarnya seketika terasa sunyi tanpa suara dan hanya terdengar suara lengkingan di telinganya.
"Shi*t." umpat Levin. Pria itu melepas sabuk pengamannya dan menatap ke arah Crystal yang masih merintih kesakitan. Ia meraih kedua bahu gadis itu dan menghentaknya kencang.
"LIHAT AKU! JANGAN MENGINGATNYA! BERHENTI MENGINGATNYA DAN BUKA MATAMU!"
Bersambung......
Jangan lupa Vote, Like, share dan Comment yang banyak ya😘