Trapped By The BEAST

Trapped By The BEAST
Chapter 20



Crys berbaring meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri. Crys menatap kosong ke arah pintu balkon yang terbuka dengan gorden yang berterbangan karena angin. Hening, tidak ada suara apapun, hanya ada suara angin yang berhembus dan gorden yang bertabrakan dengan pintu balkon.


Crys diam tak membuka suara, kaku layaknya patung. "Kakak." Tiba-tiba setetes air mata jatuh dari mata kirinya dan menetes membasahi pipinya. Matanya memerah dan ada rasa sesak dibagian dadanya, menghimpit serasa mencekiknya.


Crys menangis dalam diam. Hanya ada air mata, namun tidak ada suara yang terdengar dari mulutnya. Ia merindukan kakaknya, sangat-sangat merindukannya.


Bunyi pintu terbuka, buru-buru Crys mengusap air matanya dan menoleh ke arah pintu. Disana terlihat Rose datang sambil membawa makan siang. "Makan siang anda Nona."


Crys mengangguk singkat, lalu kembali menatap ke arah pemandangan dari balkonnya.


"Nona, Tuan menitipkan ini pada saya untuk diberikan pada Nona." ujar Rose menyerahkan sebuah kotak yang terlihat tak asing.


Crys menoleh dan menatap kotak tersebut lekat. "Letakkan saja di meja." ujar Crys singkat, padat dan jelas.


Rose mengangguk sopan. Rose sangat peka, ia tau bahwa hati Crystal sedang tidak enak.


Crystal bangkit dari tidurnya, duduk di atas ranjang, lalu menatap ke arah kotak yang diberikan oleh Kenzo melalui Rose.


Mata Crys membulat lebar saat mengenali kotak yang terlihat tak asing itu. Crys langsung mengambil kotak tersebut dengan cepat, membuka dengan tak sabar dan terdiam setelah melihat apa yang ada didalamnya.


Kalung milik Ibunya yang Kenzo dapat dari pelelangan malam itu. Crys menatap kalung tersebut lekat. Tangannya perlahan naik meraba kalung yang sejak lama tidak ia lihat.


"Mama." gumam Crys tanpa sadar sampai air mata kembali menetes di pipinya.


Crys mengusap pipinya yang dibanjiri air mata sambil menguatkan dirinya sendiri. Ia merindukan keluarga kecilnya yang bahagia. Ia merindukan Papa dan Mamanya yang sangat ia cintai.


Crys dengan perlahan membawa kalung tersebut ke arah lehernya, mengalungkan kalung tersebut di lehernya, lalu meraba kembali mata kalungnya yang terlihat indah.


Apa maksud Kenzo memberikan kalung ini padanya? Jelas sekali malam itu Kenzo tidak berniat memberikan kalung itu. Kenapa sekarang dia berubah pikiran?


Crys menggeleng pelan. Tidak penting. Yang terpenting, kalung yang dulu Mamanya miliki kini bisa ia lihat dan pakai. Barang yang mengingatkan betapa besarnya cinta Papa pada Mama dan sebaliknya.


***


Seorang pria dengan penampilan urakan masuk ke dalam bar yang akhir-akhir ini sering ia kunjungi. Dengan penampilan yang terbilang tidak rapi, namun penampilan pria tersebut malah menambah kesan dingin dan tak tersentuh, sehingga membuat para wanita disana penasaran padanya.


Dengan rambut yang menutupi sebagian matanya, hanya rahang kokoh dan bibirnya yang menggoda saja terlihat sangat menarik.


Pria tersebut duduk di salah satu kursi meja bar sambil menatap ke sekelilingnya dalam diam.


Pria itu mengedarkan matanya, namun kepalanya tidak menoleh sama sekali. Bola matanya bergerak ke kanan-kiri dengan tajam.


Mata tersebut seolah mencari-cari sesuatu.


Seorang pelayan datang menghampirinya. "Minum anda Tuan?" tanya Pelayan tersebut.


"Spirytus Rektyfikowany!"


Pelayan tersebut terdiam mendengarnya. Ia tak membuka suara dan akhirnya membuat pria tersebut sesuai dengan pesanannya.


Pelayan tersebut meletakkan sebuah gelas kaki dengan alkohol pesanan pria itu didalamnya.


Pria tersebut dengan cepat langsung menegaknya. "Lagi!"


Pelayan tersebut menunduk. "Maaf Tuan, ada peraturan baru di bar tentang minuman pesanan anda. Spirytus Rektyfikowany hanya dapat dipesan satu kali saja, karena kadar alkoholnya yang sangat tinggi." ujar pelayan tersebut dengan penuh sopan santun.


Pria tersebut terdiam tak membantah. "Dimana pelayan bernama Crystal Alterio?" tanya pria tersebut tiba-tiba.


Pria tersebut kembali diam tak membuka suara. Tiba-tiba ia bangkit berdiri, meletakkan beberapa lembar dolar diatas meja, lalu pergi begitu saja.


Dilain sisi.


Kenzo menarik nafas dalam dengan keringat bercucuran dari pelipisnya. Urat ditangannya terlihat jelas dengan kepalan tangannya yang sedang menjambak rambut seorang wanita.


Terlihat tubuh Kenzo memompa kencang dan kasar diatas seorang wanita yang terkulai lemas. Entah sudah berapa lama kedua insan tersebut menghabiskan waktu dibawah puncak gairah yang menggelora.


Si wanita sejak tadi hanya bisa mendesah dan pasrah dengan kekasaran yang dilakukan oleh Kenzo.


"****." Kenzo menggeram saat ia rasakan puncaknya akan datang.


Beberapa kali memompa kasar, lalu akhirnya menembakkannya didalam diri si wanita.


Kenzo bukan pria bodoh. Dia tidak ingin seorang wanita datang padanya dan mengatakan ia mengandung anaknya. Kenzo tidak pernah mengeluarkannya di dalam. Namun kali ini berbeda, karena sesuai kesepakatan mereka sejak awal.


Si wanita tidak memiliki rahim karena rahimnya sudah diangkat akibat melakukan aborsi berulang kali. Dengan senang hati Kenzo pun melakukannya.


Kenzo bangun dari atas ranjang, memakai jubahnya, lalu duduk di atas sofa dengan santai. Kenzo menyalakan putung rokoknya dan menyesapnya dengan penuh nikmat.


Tiba-tiba, terdengar suara deringan panggilan dari ponsel Kenzo yang tergeletak di atas meja. Kenzo meraihnya dan menatapnya dengan wajah tak berminat.


Kenzo menatap layarnya yang tertulis 'Ansell', nama sang penelepon. Kenzo mengangkatnya.


"Halo."


"Kenzo, hari ini adalah hari peringatan kematian Ibumu?" tanya Ansell dari seberang sana.


Kenzo terlihat terdiam sejenak, lalu senyum miring tertera di bibirnya. "Oh, apa hari kematian wanita itu hari ini?" tanya Kenzo mengejek.


"Iya, aku tau kau mengingatnya, oleh karena itu kau seharian ini bertemperamen buruk."


"Aku selalu seperti ini setiap hari." ujar Kenzo tak ingin kalah.


"Kau bisa berbohong padaku Kenzo, tapi tidak pada dirimu sendiri." ujar Ansell menusuk.


Kenzo langsung mematikan sambungan teleponnya dengan kasar. Kenzo melepas kembali jubahnya, berjalan kembali ke arah ranjang dimana wanita itu berbaring lemas.


Kenzo memulainya lagi. Bermain dengan sangat kasar seperti sedang kerasukan. Tidak mempedulikan wanita dibawahnya yang berteriak kesakitan dengan permainan Kenzo.


***


Ansell menghela nafas pelan. Matanya menatap layar ponselnya yang kini menunjukkan panel home. Ansell tidak bisa tidak khawatir pada Kenzo jika menyangkut hari kematian Ibu pria itu.


Kenzo selalu mengerikan di hari ini. Dia akan selalu bersikap buruk dan bahkan tidak bisa mengontrol emosinya. Pria itu seperti api membara yang disiram lagi dengan minyak, yang hasilnya meledak.


Ansell bisa melihat posisi Kenzo saat ini sedang berada di sebuah hotel. Ansell yakin pria itu kini menghabiskan waktu dengan jalangnya.


Ansell mengantongi ponselnya, lalu mulai melangkah pergi dari rumah Kenzo. Masih beberapa langkah, terdengar suara derap kaki cepat yang menuruni anak tangga.


Ansell menatap ke arah Pelayan yang melayani Crys dengan wajah heran. Rose melangkah cepat dengan wajah panik untuk menghampiri Ansell.


"Tuan Ansell, tolong, Nona ingin bunuh diri."


Bersambung....