
Damian membuka pintu di depannya, lalu masuk ke dalam dengan kepala menunduk. Desmond yang berada di dalam ruangan tersebut langsung menoleh ke arah Damian sambil menghisap cerutu miliknya.
"Kau sudah dengar berita peledakkan itu?" Tanya Desmond tanpa berbasa-basi.
"Sudah Tuan." Jawab Damian.
"Kau sudah tau kemana dia pergi?" Tanya Desmond lagi.
"Saya baru mendapatkan informasi bahwa dia pergi ke Barcelona." Jawab Damian lagi.
Damian menatap Desmond yang kini terlihat menahan emosi dengan tangan terkepal dan wajahnya yang terlihat mengeras. Ia tidak punya pilihan lain selain memberitahu kebenaran bahwa Kenzo memang pergi ke Barcelona. Hal itu semata-mata ia lakukan hanya untuk menyelamatkan nyawanya dari Desmond yang sangat membenci ketidakbecusan dari bawahannya.
Setidaknya Damian sudah memberikan jalan kepada Kenzo untuk membuat rencana pria itu di Barcelona berhasil.
"Dari mana kau mendapatkan informasi itu?" Tanya Desmond menatap Damian tajam, memastikan bahwa pria itu tidak asal menjawab hanya untuk menyelamatkan nyawanya.
"Dari peretas yang saya bayar. Peretas itu adalah adik dari salah satu bawahan Davin Raveno yang ikut pergi ke Barcelona bersama dengan Kenzo Duanovic." Jawab Damian tenang.
"Ternyata memang benar dia pelakunya." Desis Desmond dengan tatapan membunuh.
"Bersiaplah untuk melakukan rencana selanjutnya. Pria itu harus tau bahwa dia sudah salah memilih lawan." Damian terdiam. Nada Desmond terdengar begitu serius bahwa ia akan membalaskan dendamnya dan merebut milik Kenzo yang paling berharga.
"Tetapi Allaric sepertinya sudah tidak bisa diharapkan lag." Tambah Damian.
"Lakukan tanpa melibatkannya, pria bodoh itu sudah tidak berguna." Ujar Desmond setelah menghembuskan asap cerutunya.
"Bawa Nathalie kembali, dia juga sudah tidak berguna. Pria itu sudah tidak lagi tunduk di bawah kakinya." Tambah Desmond lagi.
"Baik Tuan." Damian menunduk paham, lalu pergi dari ruangan Desmond dengan wajah dingin.
***
Mata Crystal perlahan mulai mengerjab pelan sambil menguap begitu lebar. Ia merenggangkan tangannya ke atas udara sambil beranjak duduk di atas ranjangnya.
Hari ini adalah hari kelima tanpa sosok Kenzo di Mansion. Crystal menatap ke arah pintu balkonnya yang terbuka, hingga membuat gorden balkonnya berterbangan oleh angin pagi.
Senyum Crys terbit merasakan betapa hangat dan cerahnya pagi ini, namun beberapa detik kemudian, ia mulai menyadari ada sesuatu yang aneh.
Mata Crys memicing tajam ke arah balkon. "Kenapa pintu balkonnya terbuka? Siapa yang buka?" Monolog Crys dengan kening mengernyit.
Masih sibuk dengan pikirannya yang kebingungan, tiba-tiba telinganya menangkap suara gemericik air dari dalam kamar mandinya.
Mata Crys membulat kaget. Siapa yang masuk ke dalam kamar mandinya? Crystal dengan cepat beranjak dari atas ranjang dan langsung meraih vas bunga di atas nakasnya.
Dengan langkah perlahan, ia berjalan mendekati pintu kamar mandinya yang tertutup. Telinganya menajam mencoba memastikan bahwa memang benar, suara gemericik itu berasal dari kamar mandinya.
Crys berdiri di depan pintu kamar mandi sambil menggenggam erat vas di tangannya ke atas udara. Ia mendekatkan telinganya ke daun pintu, namun tiba-tiba suara gemericik tersebut malah menghilang.
Kening Crys berkerut. Ia semakin menempelkan telinganya ke daun pintu untuk memastikan, namun tiba-tiba pintu kamar mandinya terbuka, membuat Crys terlonjak kaget.
"Akhhh." Crys berteriak nyaring dengan menutup matanya sambil melempar vasnya ke arah pintu kamar mandinya yang terbuka.
Orang tersebut refleks mencengkram pergelangan tangan Crys yang hendak melempar vas tersebut kepadanya.
"Sambutan yang sangat ramah."
Crystal terdiam mendengar suara familiar tersebut. Raut wajahnya yang tadi ketakutan, mulai berubah menjadi terkejut.
Crys dengan cepat membuka matanya dan mendapati sosok Kenzo yang kini sudah berada di hadapannya.
Pria yang sudah beberapa hari ini tidak terlihat, tiba-tiba muncul begitu saja dari balik pintu kamar mandinya dengan hanya menggunakan handuk yang membelit pinggulnya.
Crys terdiam kaku. Ia benar-benar berubah menjadi patung, tak percaya, seakan sosok Kenzo yang berada di depannya adalah ilusi.
"Pertama, letakkan vas ini dulu." Ujar Kenzo meraih vas ditangan Crys, lalu meletakkannya di atas meja yang berada di kamar wanita itu. Untung saja vas itu tidak jadi menghantam kepala Kenzo.
Crys masih saja diam mencoba memproses segala sesuatu yang terjadi tepat di depan matanya.
Kenzo menatap Crys yang sudah sepenuhnya berubah menjadi patung dikarenakan shock. Senyum tipisnya terbit melihat wajah terkejut Crys yang terlihat lucu dan polos.
Crys langsung menabrak tubuh depan Kenzo dan memeluknya begitu erat. Kenzo tersenyum begitu hangat merasakan perasaan rindunya yang membuncah akhirnya sudah terbayar lunas.
Tangan kekar Kenzo melingkari tubuh Crystal.
"How? Bukankah harusnya satu minggu?" Ujar Crys masih memeluk Kenzo erat seakan tidak ingin melepasnya lagi.
Kenzo mengusap punggung Crystal naik turun. "Karena Ansell sudah tidak tahan lagi dengan celotehanmu." Jawab Kenzo yang berhasil membuat pipi Crys memerah.
"Itu karena kau tidak pernah menghubungiku." Bela Crys dengan wajah cemberut.
"Tapi, sejak kapan kau pulang?" Tanya Crys masih tak percaya.
Flashback on
Cklek
Tangan Kenzo membuka dan mendorong pintu kamar Crystal dengan begitu perlahan, tak ingin menganggu sang pemilik kamar yang ia yakini sudah tertidur begitu pulas. Terlihat bingkai seorang wanita yang tertidur di atas ranjang dengan ditutupi oleh selimut.
Kenzo menutup pintunya, lalu mendekat ke arah ranjang. Ditengah minimnya penerangan, ia dapat melihat wajah Crystal yang tertidur dengan begitu nyaman dan damai. Senyum di bibirnya seketika terbit, beriringan dengan wajahnya yang mulai mendekat dan mengecup kening Crystal cukup lama.
"I miss you." Bisiknya pelan, lalu masuk ke dalam selimut untuk ikut bergabung dengan wanita itu.
Kenzo menarik Crys ke dalam pelukannya dan tanpa sadar Crystal menggeliat kecil di depan dada bidang Kenzo sambil ikut memeluk pria itu erat. Tak butuh waktu lama, Kenzo pun ikut menyusul dan bergabung ke alam mimpinya.
Flashback off.
"Semalam." Jawab Kenzo singkat.
Crystal menatap Kenzo lekat. "Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Crys lagi.
"Cause you look so pretty when you sleep." Jawab Kenzo yang membuat Crys mendengus mendengar rayuan konyol Kenzo di pagi hari.
"So Cheesy." ujar Crys jengah sambil memutar matanya mendengar jawaban Kenzo yang terkesan sengaja menggodanya.
Kenzo tertawa kecil. "So, can I change my clothes now?" Tanya Kenzo.
"Sarapan bersama?" Tanya Crys semangat sambil mengangkat kepalanya menatap Kenzo yang mengangguk.
Crys melepas pelukannya dengan penuh semangat. "Aku juga akan bersiap." Ujarnya sambil tersenyum lembut, lalu melangkah menuju kamar mandi.
Setelah Crys pergi, Kenzopun melanjutkan kegiatannya untuk mengganti bajunya dengan baju kerja yang berada di dalam kamar wanita itu.
Bersambung...
Kok sedih ya ngelihat kemesraan mereka🥲