
Crystal menggeliat kecil ketika ia merasakan sesuatu mengganggu tidur nyenyaknya. Matanya mengerjab sambil menggumam kecil ketika seluruh wajahnya terasa dikecup oleh seseorang. Saat matanya mulai terbuka, ia mendapati sosok Kenzo yang berada di atas tubuhnya dan menjadi tersangka utama yang mengganggu tidurnya.
"Aku membangunkanmu?" Tanyanya dengan wajah tak bersalah.
Crystal menatap mata Kenzo yang begitu dekat dengannya, sedangkan Kenzo mulai melancarkan kembali aksi bibir nakalnya itu.
"Bukankah kau memang sengaja membangunkanku?" Ujar Crys mencibir.
Kenzo tersenyum. "Itu karena kau tidur terlalu cepat." Jawabnya.
Crystal menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 1 pagi. "Ini sudah jam 1 pagi Tuan Kenzo." Ujar Crys dengan nada mengejek.
"Hanya bayi yang tidur jam segini." balas Kenzo.
"Tidak ada bayi yang tidur jam segini." Ujar Crys memutar bolanya heran.
"Dulu Davin selalu begadang karena bayinya." Jawab Kenzo.
"Tidak ada orang dewasa yang tidur di bawah jam 3 pagi." balas Kenzo tak mau kalah.
"Ada, aku selalu tidur dibawah jam 12 malam." Jawab Crys yang juga tak mau kalah.
"Kalau begitu kau lebih buruk dari bayi." Crys menganga mendengar ucapan Kenzo padanya.
"Apa kau membangunkanku hanya untuk berdebat?" Ujar Crys kesal.
Kenzo menggeleng. "Tentu saja tidak." Jawabnya.
"Lalu?"
"Menurutmu?" Crystal merasakan tangan Kenzo mulai merayap masuk ke dalam gaun tidurnya untuk mengusap paha polosnya. Tangan pria itu perlahan mulai naik untuk menyentuh titik sensitif tubuhnya dengan seringaian nakal.
"Kenzo, aku rasa tubuhku akan remuk jika kau terus melakukannya." Ujar Crys menahan tangan pria itu.
Kenzo menyusupkan kepalanya ke dalam ceruk leher Crystal, menghisapnya beberapa detik sambil menghirup aroma wangi wanita itu yang selalu menggoda kewarasannya.
"Kau harus menyeimbangiku Crystal." Desis Kenzo yang begitu dekat dengan telinganya. Suara berat Kenzo saja berhasil menghantarkan getaran listrik yang menyebar kesuluruh tubuhnya.
"Mustahil, mana mungkin aku bisa menyeimbangi predator sepertimu." Cibir Crystal, sedangkan Kenzo terkekeh mendengarnya.
"Benar juga. Mana mungkin anak kecil sepertimu bisa menyeimbangiku. Setidaknya kita butuh beberapa bulan untuk membuatmu bergerak di atasku dengan begitu liar." Ujar Kenzo begitu frontal sambil menatap Crys sensual.
"Mesum." Pipi Crys memerah karena tanpa sadar, ia malah membayangkan ucapan pria itu di dalam imaginasinya walau cuman sekejab.
Kenzo mengecup pipi Crys yang memerah. "Kita harus banyak berlatih sayang." Pipi Crys semakin memerah layaknya kepiting rebus.
Dengan gerakan kilat, Kenzo menarik tengkuk Crys untuk mempertemukan bibir mereka yang saling mengait satu sama lain. Crystal benar-benar berusaha semaksimal mungkin mengimbangi permainan Kenzo yang begitu liar dan ganas.
Sentuhan Kenzo terasa melumpuhkan seluruh indra dan akalnya. Yang ia rasakan hanya kenikmatan yang menggetarkan seluruh tubuh dan jiwanya. Bibir yang menjelajah kulitnya, tangan yang membelai seluruh titik sensitifnya, hingga hentakan pinggul pria itu yang terasa ingin menghancurkannya sepanjang malam.
Crystal bersandar lelah di tepian bathup, sedangkan Kenzo yang berada di belakangnya, dengan penuh kelembutan mencuci rambut dan menyabuninya yang terlihat akan tidur di dalam Bathup.
"Jangan tertidur, kita masih harus membasuh diri." Ujar Kenzo mengingatkan Crys yang mulai berkedip-kedip lucu dengan wajah mengantuknya.
Crystal menegakkan badannya, lalu beralih menyandarkan punggungnya di dada bidang Kenzo sambil mengucek matanya.
"Kau harus bertanggung jawab." Desisnya.
"Kau pikir apa yang sedang aku lakukan sekarang hmm?" Tanya Kenzo.
Crys menoleh menghadap Kenzo dengan wajah tertekuk. "Kalau begitu berapa lama lagi kita akan berendam, aku mengantuk Kenzo." Ujarnya merengek kesal.
Kenzo tersenyum geli melihat tingkah Crystal. Karena tidak tega, ia pun beranjak dari dalam bathup sambil menggendong tubuh wanita itu menuju shower. Setelah itu membasuh tubuh mereka dari sabun dan shampo di bawah guyuran shower tersebut.
Setelah itupun Kenzo benar-benar bertanggung jawab dengan memakaikan gaun tidur hingga mengeringkan rambutnya yang basah, sedangkan wanitu itu malah tertidur pulas di atas ranjang karena sudah ngantuk berat dan tubuhnya yang juga benar-benar sudah tidak bertenaga.
Setelah selesai, Kenzo pun ikut berbaring di samping Crystal. Ia menarik tubuh Crys ke dalam dekapannya, lalu mengecup puncak kepala wanita itu sebelum bergabung ke dalam alam mimpi mereka masing-masing.
***
Raveno's Mansion | 02.00 PM.
Crystal menatap Mansion besar di depannya dengan senyum lebar. Siang ini, Kenzo tiba-tiba mengajaknya menuju kediamaan Raveno, karena ia ingat janjinya pada si kembar di malam pesta waktu itu.
Dengan gerakan spontan, Kenzo menggenggam tangan Crys untuk masuk ke dalam Mansion tersebut. Crystal semakin tersenyum lembut ketika menangkap sosok Vania yang sudah menyambut mereka dengan senyuman hangat.
Crys mendekat, lalu memeluk Vania beberapa saat. "Halo Crys, si kembar semangat sekali bertemu denganmu setelah Kenzo mengabari bahwa kalian akan datang." Ujar Vania setelah pelukan singkat mereka terlepas.
Vania mengangguk. "Mereka belum tau kalian sudah datang." Ujar Vania.
"Aku akan bertemu dengan Davin, kau bisa bermain dengan mereka." Ucap Kenzo yang dibalas anggukan oleh Crys.
"Kalau begitu, ayo kita bertemu mereka di ruang bermain." ajak Vania yang lagi-lagi dibalas anggukan ceria oleh Crystal.
Kenzo dan Crys pun berpisah untuk melakukan kegiatan mereka masing-masing. Kenzo melangkah menuju ruang kerja Davin yang begitu ia hapal dimana letaknya. Setelah sampai, Kenzo membuka pintu ruangan tersebut dengan begitu santai, lalu mendapati sang pemilik ruangan yang duduk di kursi kerjanya dengan pakaian rumahannya yang terlihat begitu rapi.
Davin menatap ke arah pintu untuk melihat orang yang memasuki ruangannya.
"Ansell sudah memberitahumu?" Tanya Kenzo tanpa berbasa-basi sambil melangkah masuk dan duduk di atas sofa dengan menjulangkan kakinya.
"Iya." Jawab Davin terlihat masa bodoh sambil melanjutkan pekerjaannya.
"Apa kau tau mengenai investasi yang dilakukan Desmond 7 tahun yang lalu?" Tanya Kenzo lagi.
"Untuk apa aku tau." Jawab Davin benar-benar terlihat masa bodoh.
"Kau ingin aku mengirimkan bukti pada istrimu kalau kau masih melanjutkan pekerjaan gelapmu." Ujar Kenzo dingin sambil merenggangkan tangannya di atas kepala sofa.
"Sialan." Rutuk Davin melempar tatapan membunuh pada Kenzo yang terlihat tak takut sama sekali.
"Jadi, apa kau tau?" Tanya Kenzo lagi.
"Perusahaan kecil itu dulu memintaku untuk berinvestasi, tapi aku menolak karena tidak melihat peluang keberhasilan pada proyeknya. Aku dengar mereka akhirnya bangkrut." Ujar Davin panjang lebar.
Kenzo terlihat terpaku pada pikirannya sendiri.
"Mereka mengembangkan proyek Microchip manusia yang diujikan oleh Profesor Adam Alterio setelah mereka bangkrut." Ujar Kenzo.
Wajah Davin mulai berubah serius. "Perusahaan kecil itu?"
"Desmond menyuruh mereka untuk mewujudkan proyek Adam dan akan mendanainya." Jawab Kenzo.
"Profesor Adam sudah menciptakan banyak kemajuan dalam bidang kesehatan. Siapa sangka otak pintarnya bisa memikirkan Microchip yang dapat menjadi kemajuan dan kehancuran dunia dalam sekaligus." Kata Davin.
"Karena itu Desmond terlalu berambisi dengan penelitiannya." Lanjut Kenzo.
"13 tahun yang lalu aku menyuruhmu untuk terjun ke dunia bisnis untuk pertama kalinya, tapi ternyata investasi pertamamu malah berujung sial seperti ini." Ujar Davin mengejek Kenzondengan senyuman miringnya.
"Benar, tapi tidak sepenuhnya sesial itu." Ujar Kenzo membenarkan dengan wajah santai.
"Karena kau mendapatkan anak perempuan Adam Alterio." Balas Davin.
Kenzo tak menjawab, namun ia malah menatap Davin dengan senyuman miring.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya?" Tanya Davin.
"Barcelona. Aku akan turun langsung untuk menemuinya." Ujar Kenzo.
"Kapan?"
"Malam ini, karena itu aku memintamu untuk mengawasinya selagi aku pergi." Ucap Kenzo sambil menegakkan tubuhnya.
"Bawa Lucas dan tinggalkan Ansell." Ujar Davin.
"Aku tidak memerlukannya." Balas Kenzo.
"Kau pikir aku ada waktu untuk mengawasi wanitamu? Ansell yang akan mengawasinya dan Lucas akan membantumu di sana." Ujar Davin.
"Jika terjadi sesuatu padanya selagi aku pergi, aku benar-benar akan membuat istrimu membencimu Davin." Kenzo menatap Davin yang menggeram kesal mendengar ancamannya.
"Kau maupun aku selalu menyusahkan jika mempunyai kelemahan." Tambah Kenzo sambil bangkit berdiri dari sofa.
"Seharusnya dulu aku tidak memungutmu." Ujar Davin geram.
Kenzo tertawa sumbang. "Sudah terlambat untuk menyesal." Ujarnya sambil melangkah pergi dari ruangan tersebut, meninggalkan sosok Davin di dalam sana.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Vote, dan Comment
Yang belum tau Lucas, dia ada di story aku yang lain ya, silahkan mampir akan aku cantumin di bawah.